
...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...
...—24 Januari 1239—...
Crunch.
Crunch.
Suara mengunyah yang sengaja dikeraskan memenuhi kantor pribadi Ares di salah satu sudut istana bagian dalam. Dari balik tirai yang terbuka, cahaya mentari menghujam masuk, sangat menggambarkan cerahnya suasana dalam ruangan.
Siapa yang akan menyangka jika Claude membuat ayam tepung?
Bagaimana dia dapat menemukan ide ini setelah Mehera memperkenalkan ayam kepadanya?
Dan juga, bagaimana dia dapat menggorengnya?
Bahkan, di dunia sebelumnya, aku selalu memiliki bagian yang tidak matang saat menggorengnya.
"Enak..." Ares sedikit termenung, memikirkan potensi Claude menjadi koki elit pada masa yang akan datang.
Crunch.
Crunch.
Kerutan pun tampak, Ares melirik sebal kepada Excel yang terduduk senang di sofa yang berada tak jauh darinya. Tidak hanya Raze dan Orcian, anak-anaknya yang lain seperti Wilma, Zack, dan Nina dapat ditemukan bermain bersama di ruang kantornya.
Beberapa terlihat berlarian bersama, seolah saling mengejar. Beberapa yang lain sibuk dengan bonekanya. Meskipun begitu, saat melihat Orcian, Ares hanya dapat menahan kepalanya karena perbuatan putrinya yang sedang mencoret-coret puluhan kertas putih yang seharusnya disiapkan untuk Ares—akibat biaya pembuatan kertas yang masih sangat mahal, meski masih lebih rendah bila dibandingkan dengan perkamen.
Jika kuingat kembali... Excel mengatakan jika Orcian membunuh para penyusup karena kemampuannya telah terbangkitkan...
Masalahnya, apa kondisi untuk membangkitkan kemampuannya?
Jika itu Esther, seseorang harus mempengaruhi pikirannya, meski itu akan membuat tubuhnya melemah setelah beberapa jam berada dalam kondisi terbangkitkan.
Kupikir... aku harus mengawasi keduanya lebih seksama.
Crunch.
Crunch.
"Sayang, diamlah saat makan." Kesabaran Ares telah berada di ambang batas. Bahkan melirik empat wanita yang juga terduduk di sofa lain—Esther, Mia, Sena, serta Lucy—tidak ada seorangpun yang berani untuk mengecap, ketenangan serta sikap elegan adalah hal yang selalu menjadi prioritas saat mereka memakan sesuatu, "Dan juga, makan dagingnya."
"Eh? Aku tidak akan menyisakan...." Mendapat tatapan memohon dari Raze dan Zack, ekspresi Excel berubah sulit, dengan berat hati, dia mengulurkan tangannya yang menggenggam kulit renyah ke arah mulut mereka.
"Hah..." Ares menghela napas berat, sejenak menutup kedua matanya, "Haruskah aku membuka Day Care di istana ini?"
"Um..." Lucy kebingungan, sedikit memiringkan kepalanya. Demikian dengan dua orang lainnya yang juga tidak mengerti arti dari kata-kata yang Ares lontarkan.
"Apa itu?" timpal Ares, menoleh kepada Lucy.
"Apa yang kamu maksud dengan 'Day Care'?" tanya Lucy.
"Yah... kamu dapat menganggapnya sebagai tempat bermain dan penitipan anak-anak. Kurasa, para pelayan dan ksatria juga memiliki masalah yang sama," jawab Ares.
Lucy membuat wajah khawatir, "Apakah tidak apa-apa bagi kalian jika Pangeran Raze dan adiknya bergaul dengan anak-anak dari kalangan jelata?"
Kekhawatiran Lucy adalah hal yang wajar, terkesan terikat erat dengan kebiasaan para bangsawan yang mengambil jarak karena perbedaan kasta sosial yang sangat lebar.
Meskipun begitu, Excel menampakkan sebuah senyuman kepadanya, "Tentu, mengapa tidak? Jika kamu membiasakannya seperti itu, Raze dan Orcian tidak akan dapat melihat bagaimana kehancuran yang akan menanti mereka hanya karena mereka tidak mengerti bagaimana harus bersikap kepada para bawahannya dengan baik."
"Anda... benar-benar telah berubah, Yang Mulia." Lucy sedikit terkejut, kelegaan menghampiri hatinya.
"Tidak seperti itu." Excel menggeleng ringan, segera menolehkan pandangannya kepada Ares yang duduk di meja kerjanya, "Cobalah untuk melihat pria yang duduk di sana."
Mengikuti pandangan Excel, Lucy seketika memahami. Bagi Lucy, karena Ares telah mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan serta dikucilkan karena kala itu memiliki hubungan baik dengan Margrave Francois—Warren dan Ann—para bangsawan pusat selalu meremehkannya dan menganggapnya sepele.
Tidak ada yang menyangka sebelumnya bila Ares akan melancarkan pemberontakan setelah menikahi Sang Putri, Excel, jika menurut penilaian Lucy, "Begitu... aku memahaminya."
"Apa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan?" Ares memberi wajah aneh, kebingungan karena pikirannya sedang berjalan lambat akibat pekerjaannya yang menumpuk.
"Aku—"
Tok.
Tok.
"Yang Mulia, sudah saatnya." Dari balik pintu kembar putih berhias emas, Claire—Sekertaris Negara sekaligus adik Raja Lethiel, Sieg—memanggil setelah mengetuk, menyela kata-kata Ares.
"Hah..." Ares menguap, lelah dengan beban pekerjaannya dan segera memaksakan diri untuk bangkit, "Aku pergi dulu."
"Ayah! Kemana?!" Raze mendekati ayahnya dengan cepat, demikian dengan anak-anak lain yang juga bergegas mendekatinya.
"Ayah pergi sebentar, menurutlah dengan ibu dan jangan pergi kemana-mana," timpal Ares, berjongkok ringan sembari mengusap kepala Raze dan Wilma.
"Ayah akan kembali, 'kan?" tanya Zack sedih.
"Ayah berjanji." Tersenyum lembut sembari membelai kepala Zack, Ares bangkit, melirik kepada Orcian yang masih tidak bergerak dari tempatnya dan tetap terfokus pada kertas yang dicoretnya—meski Wilma yang bermain bersamanya telah pergi meninggalkannya.
Gadis kecil ini... merepotkan sekali.
Teringat kembali kejadian beberapa hari yang lalu, Orcian tetap abai dan berada di dalam dunianya sendiri disaat Ares pergi meninggalkannya. Namun, disaat dia telah sadar bila Ares telah pergi, Orcian akan menangis sejadinya dan hanya akan berhenti jika Ares menemuinya atau ditidurkan oleh ibunya.
"Jaga dirimu, Sayang." Dengan mulut yang penuh makanan, Excel membawa kepergian suaminya dengan nada yang tidak jelas, seolah tidak sedikitpun mempedulikannya.
Hanya penyesalan yang dapat Ares rasakan saat melihat wajah sedih anak-anaknya. Berbeda dengan Orcian yang masih bersikap sangat manja, semua anak-anak Ares yang lain telah mengerti apabila mereka tidak diizinkan untuk mengganggu pekerjaan ayahnya.
"Ya..." Meninggalkan ruangan dengan cepat, tanpa sedikitpun menimbulkan suara agar kepergiannya tidak disadari Orcian, Ares menemukan Claire berdiri tepat di balik pintu kantornya.
Gadis berambut hitam panjang dengan mata panda di atas wajah, gaun putih glamor yang terkesan kusut, Claire memberikan kesan seorang laborat wanita yang tidak pernah keluar dari ruangannya setelah berhari-hari melakukan penelitian.
"Ada apa denganmu? Setidaknya, mandilah sebelum berangkat ke ist—"
"Yang Mulia." Dengan nada dendam, Claire bernada rendah membalas Ares, membuat Ares mengurungkan diri untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ada... apa?" Dengan sedikit perasaan takut, Ares bertanya.
"Semua koruptor harus dihukum dalam 7 generasi." Claire membuat ekspresi tidak menerima penolakan.
Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya?
Mengapa dia sangat den—ahh... aku ingat.
Teringat kembali, para bangsawan yang diduga mengkorupsi pendanaan pusat untuk keperluan pertambangan serta mega proyek lain mayoritas berasal dari Kerajaan Mana serta sebagian kecil bangsawan Lethiel serta bekas Kerajaan Rowling.
Karena dendam pribadinya dimana pekerjaannya yang kian menumpuk, Claire benar-benar mengutuk tindakan tersebut, terkhusus kepada Ares yang meminta pengusutan dilakukan secara terperinci hingga membuat dirinya hampir tidak dapat beristirahat, meski itu tidaklah diketahui oleh Ares.
"Ya..." Entah mengapa merasa kalah, Ares memutuskan untuk mengiyakan. Terlebih dimana zaman sedang bergejolak, memiliki bawahan yang melakukan korupsi berskala besar merupakan situasi yang beracun bagi Ares, membuatnya tidak masalah untuk sekedar membuang beberapa keluarga bangsawan yang bersalah.
"Bagus!" Claire menampakkan senyuman cerah, sedikit membuat Ares takut, "Dan juga, Anda memiliki surat dari beberapa pihak. Apakah Anda ingin menerimanya sekarang?"
"Siapa?" tanya Ares, sedikit memincingkan kedua matanya.
"Dukacita Menteri Keuangan Kerajaan Holenstadt, surat balasan dari Yang Mulia Raja Lethiel, surat balasan dari Guild Pedagang serta Bank Sentral, dan..." Claire sejenak menghentikan kata-katanya, melihat reaksi Ares terlebih dahulu.
"Katakan." Lampu hijau diberikan, Claire menghirup napas, mempersiapkan dirinya karena masalah besar telah dipastikan datang kepada negara dimana ia mengabdi.
"Otoritas gereja."
...----------------...
Note :
Maaf baru bisa update, kemarin sibuk urusan kampus dan... habis ganti hp hehe, sibuk mindahin data.
...----------------...