Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 49 : Permulaan, part 2



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—16 Januari 1239—...


"Otoritas gereja."


Udara berhembus, timeline kejadian telah sangat jauh berbeda dengan apa yang seharusnya terjadi. Mendengar sesuatu yang diungkapkan Claire, Ares sejenak terdiam, dahinya sedikit mengernyit, satu pihak sekali lagi menginterupsi apa yang kini menjadi prioritas utamanya, kepulauan selatan.


"Aku akan menerimanya." Ares memberi jawaban lugas, "Dan buanglah surat yang Menteri Keuangan Holenstadt kirimkan."


"Eh? Me—mengapa, Yang Mulia?" Claire sedikit tergagap karena mendapat jawaban yang tidak pernah ia kira sebelumnya.


Menerima empat surat dari Claire, Ares membuat ekspresi acuh tak acuh, "Buka saja."


"Ta—tapi—" timpal Claire gugup.


"Aku memberimu izin," balas Ares.


Dengan sedikit takut, Claire merobek segel yang mengikat lembaran perkamen, kedua pupil matanya perlahan bergerak, hingga terbuka lebar saat mencapai bagian akhir surat.


"Apa yang dia katakan?" Menerima reaksi sulit dari Claire, Ares dengan tegas memberi perintah, "Jawablah."


"Ma—Marquis Honzermus... merasa sangat menyesal atas kepergian selir serta dua gundik Anda..." timpal Claire gugup.


"Lalu? Tidak mungkin isinya hanya seperti itu," balas Ares, memincingkan matanya untuk mengintimidasi Claire.


"Dan... beliau menawarkan putrinya sebagai pengganti selir serta ibu dari anak-anak Anda..." balas Claire.


Ares tersenyum lebar, "Jadi, bukankah hal itu sudah cukup memberikan alasan mengapa aku menyuruhmu untuk membuang surat itu?"


"Tapi... apakah..." Claire berusaha mengungkapkan keraguannya.


"Menjadi masalah? Tidak mungkin, buang saja, tidak perlu kamu pedulikan," balas Ares.


Claire sejenak terdiam, kesulitan untuk menjawab, "Baik..."


Mengetahui adanya corak kehitaman yang ada di sekitaran kedua mata wanita di depannya, Ares menghela napas ringan, "Dan juga, ambillah dua hari untuk beristirahat setelah rapat berakhir."


"B—bo—bolehkah, Yang Mulia?!" Keterkejutan kuat, Claire tanpa sadar mendorong tubuhnya mendekat kepada Ares.


"Ya..." timpal Ares sulit.


"Asi—uhm!" Hendak melompat, mengekspresikan kegirangannya, Claire tersadar jika pria di depannya adalah seorang kepala negara, membuatnya berdehem sembari menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang mengepal, "Terima kasih, saya akan membimbing Anda, Yang Mulia."


Claire membungkuk dalam, pergi mendahului Ares dengan langkah bahagia. Memandangnya, Ares sekali lagi hanya dapat menghela napas karena sikap yang dia tunjukkan.


Sekarang...


Diikuti oleh beberapa ksatria pengawal, langkah Ares tertuju kepada bangunan megah yang berdiri di sudut komplek istana kekaisaran, dimana menjadi tempat diberlangsungkannya dewan militer dan strategis yang akan menentukan arah serta masa depan negara.


Namun, Claire segera menghentikan langkah, Ares juga demikian saat melihat keributan telah terjadi tepat di depan pintu kembar megah bercorak putih bangunan tersebut.


Sosok-sosok kekar dengan jenggot lebat, pakaian kulit dengan bulu tebal yang membalut masing-masing tubuh mereka, Ares mengerti, ia benar-benar berharap agar tidak terkejut, meskipun hal itu sangatlah mustahil.


Mengapa ada banyak barbarian di sini?!


Siapa yang mengundang mereka?!


Apa sih yang sebenarnya Astrid sedang lakukan di sini?!


Melihat seorang wanita berambut putih serta puluhan pria kekar yang memaksa masuk, Ares mendapat firasat buruk jika dia tetap memaksa untuk melewati pintu utama.


"Claire, ayo masuk melalui pintu lain." Ares memberi perintah bernada rendah.


"Baik, Yang Mulia." Segera memberikan persetujuan, Claire dengan cepat melangkah mengendap-endap, diikuti oleh Ares dan para ksatria pengawal lainnya.


"Dia, mengapa kamu tidak memberi laporan kepadaku?" tanya Ares, sembari tetap berjalan mengikuti Claire.


"Permintaan maaf terdalam saya, Yang Mulia. Akan tetapi, setiap laporan yang disampaikan kepada saya hanya sampai pada saat matahari terbit. Saya kira, sesampainya di ibukota, orang-orang dari suku utara tersebut segera menerobos gerbang istana dan menuju kemari... hingga laporan para penjaga belum sampai kepada saya." Sebagai kepala pengawal keponakannya, Dia merasa menyesal tidak mengetahui hal-hal yang terjadi di sekitaran istana.


Apakah dia juga tidak ingin kehilangan keponakannya?


Tidak, aku terlalu percaya diri jika menganggap itu benar. Sudah sepatutnya sebagai kepala pengawalku, Dia akan selalu mendampingiku.


Sebenarnya, anggapan Ares tersebut adalah sesuatu yang benar. Dia serta suaminya, Albert—paman Ares yang terlahir dari selir kakeknya—sangat tidak menginginkan apabila darah murni Keluarga Rueter menghilang, terlebih dengan Ares yang juga merupakan menantu mereka.


Melalui pintu kecil yang menembus hingga lorong para pelayan, Ares serta para ksatria bergerak dengan langkah wajar, berniat untuk tidak mengintimidasi para pelayan yang berasal dari kalangan jelata, meski masih banyak diantara mereka yang berpapasan akan bertingkah ketakutan hingga membungkuk dalam.


Usaha Ares harus berakhir dengan kesia-siaan. Pintu yang menjadi ruang konferensi dimana rapat besar akan diadakan telah terbuka lebar, para ksatria penjaga juga terlihat kesulitan menahan para petinggi barbarian yang telah menerobos masuk.


Perbedaan postur tubuh yang luar biasa serta gerakan kasar mereka menjadi penyebab para ksatria tidak mampu untuk menghalau masuk.


Ayo hadapi saja.


Ares menghela napas, secara acuh tak acuh mendekati pintu. Namun, teriakan-teriakan yang memprovokasi disertai perdebatan panas kian terdengar keras.


"Apa yang kau takutkan dari lalat kecil seperti Renacles?!"


"Inilah mengapa para bangsawan hanyalah seekor ikan kecil!"


"Tahan di sana, Idiot! Persiapan untuk melawan mereka butuh waktu yang sangat lama! Apakah kau adalah orang bodoh yang menyerang secara membabi buta saat akan melawan negara terkuat di dunia ini?!"


"Terkuat katamu?! Omong kosong!"


Mengintip dengan menyembunyikan sebagian besar tubuh, Ares menemukan Warren dengan lingkar mata hitam yang terlihat sangat kelelahan sedang berdebat panas dengan Astrid, Thorgils, dan para petinggi perwakilan suku-suku utara yang lain.


Meskipun begitu, Ares menemukan keanehan. Alfr, yang seharusnya menjabat sebagai kepala negara bagian dimana membawahi para barbarian sekaligus merupakan suami Astrid, memihak argumen Warren dan bahkan sesekali mengutuk ucapan istrinya sendiri.


Perlahan namun pasti, Ares kembali menarik dirinya, bersandar ringan pada dinding tepat di samping pintu. Dia merasa bahwa dirinya hanya akan berakhir sia-sia jika dia memutuskan untuk memasuki ruangan.


Mengambil surat dari sakunya, Ares membaca balasan yang dia terima dari Sieg mengenai kemajuan tambang dan pengusutan para koruptor, serta Guild Pedagang yang berisi keputusan atas permintaan Ares.


Jika ini adalah jawaban mereka...


"Dia, dimana Elsa dan Loic?" Ares bertanya lelah.


"Saat ini, keduanya telah berada di ibukota dan sedang beristirahat di mansion mereka, Yang Mulia," jawab Dia lugas.


"Duke Alein dan Mantan Ratu Nevia?" tanya Ares kembali.


"Saya telah menerima laporan bahwa mereka berkeinginan untuk menikmati festival di pagi hari. Namun, saya kira keduanya tidak keberatan untuk hadir setelah matahari meninggi, Yang Mulia," jawab Dia.


Begitu, aku akan meminta maaf kepada mereka nanti.


"Bawa mereka ke ruang pribadiku di istana bagian dalam setelah matahari berada di puncak. Bawa juga Menteri Keuangan yang tertidur di dalam," perintah Ares.


"Ya, Yang Mulia." Meskipun Dia memberi jawaban lugas, wajahnya mengernyit, seperti mengkhawatirkan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Ares.


"Mohon maaf, Yang Mulia. Apa yang akan Anda lakukan dengan surat dari Otoritas Gereja Arafant?" tanya Dia kembali, terdengar sedikit ragu karena seharusnya dia tidak berhak untuk mengetahuinya.


Namun, Dia memahami karakter Ares dengan baik. Ares tidaklah terlalu mempermasalahkan apabila Dia—yang bertindak sebagai kepala pengawal serta bibinya sendiri—mengetahui sedikit tindakan strategis yang akan ditempuh pada masa yang akan datang.


Tentu, hal ini dikarenakan Ares belum mengangkat Keluarga Vienna—keluarga Albert, Dia, serta Milly—menjadi bangsawan. Hanya karena jabatan mereka yang tinggi mengakibatkan Albert dan Dia diperlakukan sebagai bangsawan yang setara dengan peringkat Viscount.


"Aku harus memutuskan langkah politik negara ini terlebih dahulu." Ares memberi sinyal jika dia saat ini tidak dapat untuk menjawab, menunggu pertemuannya dengan Loic, Duke Alein dan mantan ratu sebagai mantan petinggi negara, serta Menteri Keuangan Victor terselesaikan.


"Begitu, permintaan maaf terdalam saya, Yang Mulia." Dia menyesal, membungkuk dalam untuk menghormati Ares sebelum melangkah pergi, "Mohon permisi."


"Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku, Bibi." Sesaat sebelum Dia berbalik, ia mendengar suara lirih dari keponakannya, yang mana hanya dapat dirinya sendiri dengarkan.


Penghargaan serta rasa terima kasih, kepuasan seketika muncul di dalam benak Dia. Dalam harap, Dia memiliki keinginan besar, agar keponakannya tersebut dapat melepaskan rantai yang membelenggu hatinya, beban seorang ibu yang telah kehilangan anak semata wayangnya.


...----------------...