
...—Kota Pos Koenz, Kerajaan Mana—...
...—8 Agustus 1238—...
"Hangat."
Gumaman lirih segera terlontar setelah perlahan membuka kembali kedua matanya, Ares menemukan dirinya berada di dalam ruang yang gelap. Dadanya merasakan beban berat, kehangatan juga menyelimuti sekujur tubuhnya.
Melirikkan kedua matanya menuju seorang wanita yang tertidur dengan pipi yang menempel erat di atas dadanya, Ares menemukan Milly sedang tertidur nyenyak dengan memeluk dirinya.
Keduanya hanya tertutupi oleh hangatnya selimut. Kehangatan juga dapat Ares rasakan dari burung perkututnya yang masih berada di dalam sarang selirnya.
Membelai lembut punggung Milly, Ares menampakkan sebuah senyuman yang terasa penuh kasih sayang.
Tujuh hari telah berlalu semenjak Ruon diangkat menjadi raja. Setelah menyelesaikan kekacauan di Ibukota Latva serta membagikan persediaan makanan para tentara untuk penduduk, Ares mempercayakan sebagian tentara kepada seorang bangsawan militer yang ia cukup percaya dan bertolak menuju salah satu negara bawahannya, Kerajaan Lethiel, untuk melihat perkembangan penambangan emas dan berbagai logam lain di wilayah tersebut.
Kini, dengan 5.000 prajurit elit yang menyertai kepergiannya, Ares bersama Milly, Kristin, serta beberapa atase militer tingkat tinggi lainnya bermalam di sebuah kota pos yang menghubungkan Ibukota Kerajaan Mana serta Ibukota Latva.
Sembari memandangi rambut kuning panjang Milly, Ares sejenak termenung, memikirkan perbedaan hidupnya di dunia ini serta di bumi.
Jika kupikirkan kembali... bukankah hidupku saat ini adalah hidup yang diimpikan oleh seluruh pria di era modern?
Menjadi seorang kaisar yang dapat melakukan apa saja, memiliki harta kekayaan yang luar biasa berlimpah, memiliki istri serta beberapa wanita yang akur, tidak dihantui oleh adanya masalah besar seperti perebutan kekuasaan, serta dikelilingi oleh banyak anak yang sangat menggemaskan...
Sekali lagi, bukankah sosokku adalah impian semua pria di dunia ini?
Terlebih... aku mengakui jika aku tidaklah serakah seperti bangsawan pada umumnya di dunia ini.
Tersenyum masam, Ares mengarahkan bibirnya untuk mengecup kening selir yang juga merupakan sepupunya tersebut.
Ares kembali merebahkan kepalanya, menatap langit-langit yang diliputi kegelapan. Merentangkan tangannya dan menoleh ke samping, Ares mengambil sebuah lembar perkamen yang berada di atas meja yang berada tepat di samping ranjangnya.
Sejenak, Ares memfokuskan pandangannya menuju bulan yang memancarkan sinar di balik jendela.
Tetap saja, aku tidak ingin kehidupan keluargaku menjadi berantakan.
Aku juga harus menyiapkan banyak tindakan antisipasi untuk melawan Alven dan Renacles di masa depan.
Ares membaca lembar perkamen tersebut dalam gelap. Laporan atas kembalinya Connor Cornwall—Kepala Klan Cornwall—setelah merawat luka fisik dan mental Loic Coulent—penerus dari perusahaan perdagangan terbesar di dunia—yang ditangkap dan disiksa oleh bagian gelap Kekaisaran Renacles disertai dengan kondisi politik negara tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Terbesit ingatan Ares sekitar dua tahun yang lalu, saat dimana dirinya mengadakan pertemuan dengan para pedagang besar di seluruh dunia.
Tidak terpikirkan sekalipun oleh Ares bila Kaisar Renacles akan membekukan seluruh aset perusahaan-perusahaan yang berakar di negaranya dengan menasionalisasi perusahaan-perusahaan tersebut, termasuk juga dengan Firma Coulent.
Karenanya, uang yang ia terima dan tersimpan di dalam bank telah berkurang hingga setengahnya, meleset dari apa yang ia telah harapkan.
Tidak hanya itu, karena pertentangan Loic terhadap keputusan Kaisar yang menyebabkan kakek dan neneknya—yang merupakan pimpinan Firma pada saat itu—dieksekusi akibat tidak bersikap kooperatif, Loic telah ditangkap, seolah kabarnya hilang di tengah masyarakat karena tidak ada yang berani membicarakannya.
Firasat buruknya pada saat itu merupakan kebenaran, Ares mengirim Connor—Kepala Klan Cornwall—untuk menyelamatkan Loic, yang ditemukan dalam kondisi sangat mengenaskan dan diperkirakan juga akan menjadi obyek percobaan manusia.
Tidak ada seorangpun yang dapat mempertahankan kewarasannya setelah mendapatkan siksaan serta serangan psikologis yang sangat keras.
Kini, setelah lebih dari setahun melakukan pemulihan, mental Loic telah kembali menuju sedia kala, menyebabkan perasaan Ares sangat lega setelah mendengar kabar tersebut.
Tapi... percobaan manusia, kah?
Apakah mereka akan serius berperang dengan Alven?
Mengetahui kabar Renacles melakukan penelitian yang melibatkan manusia, kerutan besar pun muncul di atas kening Ares. Bahkan di dalam game sekalipun, tidak pernah terdapat kabar mengenai Renacles yang melakukan perbuatan keji tersebut.
Meskipun begitu, informasi tersebut menjelaskan semuanya, alasan di balik teknologi kedokteran serta militer Renacles yang sangat tinggi di dalam game telah Ares ketahui.
Perasaan tidak nyaman menyerang benak Milly, membuatnya perlahan membuka kedua matanya dan mengencangkan pelukannya karena merasakan Ares yang sesekali bergerak kecil, "Apakah kamu telah terbangun?"
"Um... maaf telah membangunkanmu," sesal Ares, bernada meminta maaf dan membelai rambut kuning panjang sepupunya tersebut.
"Tapi... kenapa kamu membaca di tempat gelap? Padahal, kamu sendiri melarangku untuk melakukannya." Milly membalas sebal, walau Ares mengetahui jika kata-kata tersebut hanyalah sebuah candaan.
Berbeda dengan hubungan keduanya di depan umum serta dalam acara kenegaraan, Ares dan Milly kini cukup intim, meski tidaklah melebihi kedekatan Ares dengan Excel.
"Itu..." Ares berpura-pura membalas sulit, ia meletakkan kembali lembar perkamen tersebut di atas meja dan sekali lagi memeluk lembut Milly, "Karena aku tidak ingin berpindah dari posisi ini."
Seketika, rona merah samar muncul di atas wajah. Kata-kata Ares sangat membuat Milly malu karena menjurus pada bagian bawah tubuhnya, menyebabkan Milly berpaling agar dapat menyembunyikan wajahnya.
Ares terkikik, namun ia tahan agar tidak menimbulkan suara. Meskipun begitu, tubuhnya bergerak kecil menandakan bahwa ia tertawa dengan sikap yang Milly tunjukkan.
"Tolong jangan menggodaku seperti itu." Milly membalas sebal.
"Maaf." Ares menyesal, yang segera diikuti oleh senyuman bahagia Milly dan kembali meletakkan pipinya di atas dada Ares.
Sejenak hening, Ares hanya mengusap lembut punggung selirnya tersebut.
"Um..." Ares memanggil, memecahkan keheningan diantara keduanya.
"Ya?" Milly sekali lagi menatap Ares dengan senyuman lembut.
"Apakah kamu... bahagia bersamaku?" tanya Ares, sedikit rasa bersalah terpancar dari nadanya.
Mendengar pertanyaan tersebut, terbesit kembali kenangan dimana Ares memperkosanya beberapa kali hingga mengandung Wilma di masa lampau.
Luka tetaplah terukir di dalam hati. Meskipun begitu, Milly dapat mencintai sepupunya dengan tulus, luluh atas perbuatannya selama dua tahun terakhir.
Terlebih, Milly merupakan seorang ksatria Keluarga Rueter—keluarga asal Ares—hingga menyebabkan dia tidak sedikitpun mempermasalahkannya.
Milly tersenyum, membelai dada Ares dengan lembut, "Jika kamu bertanya seperti itu... tentu aku bahagia. Kamu sangat berbeda dengan para bangsawan lain, kamu merawat Wilma dengan penuh kasih sayang, juga kepada anak-anak dari gundikmu yang lain... Kamu bahkan juga mengangkat keluargaku menjadi keluarga baron dan menjanjikan gelar viscount di masa depan..."
"Sejujurnya, bahkan tanpa memperhitungkan materi, aku sangat bersyukur. Aku tidak lagi merasakan kekhawatiran dimana aku bisa saja menikah dengan seorang pria yang buruk." Milly membenamkan wajahnya di dada Ares, bergumam sangat lirih, "Meski aku juga sangat cemburu terhadap interaksimu dengan Yang Mulia Excel."
"Maaf," sesal Ares bernada lirih, memeluk Milly kembali dengan lembut.
"Um... tidak." Milly menggeleng ringan, tersenyum atas jawaban yang terlontar dari mulut Ares, "Aku tidak keberatan, aku juga sangat sedih setelah mengetahui masa lalu kelam Yang Mulia."
"Begitu... tetap saja, aku minta maaf." Ares menegaskan penyesalannya.
"Ya..." timpal Milly, menerima penyesalan Ares.
Sekali lagi, keduanya berada dalam keheningan, hanya hembusan angin di luar jendela yang samar terdengar menyelimuti suasana ruangan.
"Bolehkah aku... bertanya tentang sesuatu?" tanya Milly, walau ia sejenak menghentikan kata-katanya karena ragu.
"Ya." Ares tersenyum lembut, "Katakan saja."
"Mengapa kita tidak pulang terlebih dahulu ke ibukota?" tanya Milly, sedikit bingung dengan keputusan Ares.
"Sejujurnya... aku ingin melatih para bangsawan istana terlebih dahulu, khususnya para bangsawan muda termasuk Excel dan Warren," jawab Ares.
"Melatih?" tanya Milly kembali, sedikit memiringkan kepalanya.
"Ya, perwakilan Gardom akan datang untuk melakukan pertemuan denganku. Dengan ketidakhadiranku, Warren dan Excel dapat mengetahui bagaimana sulitnya bernegosiasi antar negara. Yah, singkatnya, aku hanya ingin menambah pengalaman mereka," jawab Ares.
"Um... kuharap... Yang Mulia dan Tuan Warren dapat melakukannya dengan baik." Milly berharap, terkesan sangat tulus bagi Ares.
"Daripada itu..." Ares melirik kecil tubuh bagian bawahnya yang masih terhubung dengan Milly, walau masih tertutupi hingga menyebabkannya hanya dapat menatap dada selirnya tersebut.
Mengetahui tatapan Ares berpindah, disertai dengan rasa benda asing yang perlahan membesar di dalam tubuhnya, Milly mengalihkan wajahnya yang merah merona dengan malu, "Um... aku lebih menyukai permainanmu yang lembut."
Ares mengangguk kecil, tanda menerima permintaan Milly. Keduanya perlahan saling mendekatkan wajah, sekali lagi melakukan permainan panas di dalam gelapnya kamar penginapan hingga fajar menyingsing.
...----------------...