
...—Ibukota Latva, Kerajaan Forbrenne—...
...—1 Agustus 1238—...
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Derap langkah puluhan ribu prajurit Kekaisaran Arestia terdengar keras. Suara gerak berbagai persenjataan berat serta kuda perang juga menyertai pasukan yang berbaris di bawah sinar mentari pagi.
Prediksi di dalam benak beberapa hari lalu telah menjadi kenyataan. Memandang puluhan ribu tentara musuh dari atas dinding pertahanan ibukota, Ruon telah memantapkan hatinya, untuk mengibarkan bendera putih di atas gedung tertinggi serta tembok pertahanan.
Keputusannya telah bulat. Setelah berdiskusi dengan para bangsawan serta ksatrianya yang masih tersisa di ibukota, dengan berat hati, menyerah adalah satu-satunya pilihan yang paling masuk akal untuk diambil.
Bagaimana tidak?
Dalam jangka pendek, permasalahan kekeringan menyebabkan hasil panen menjadi memburuk. Terlebih, dengan adanya embargo Arestia, Ruon tidak lagi dapat berkutik untuk menyelamatkan negaranya dari kelaparan.
Tidak hanya itu, Ruon juga diharuskan merebut kembali kota-kota yang berada di tangan para pemberontak. Kekuatan militer serta finansial yang sangat besar harus dikorbankan untuk menstabilkan kembali politik serta legitimasi kekuasaan Keluarga Kerajaan Forbrenne, yang tentu Ruon tidaklah miliki.
Berbanding lurus, dalam jangka panjang jika saja Ruon dapat melakukan kedua hal yang mustahil tersebut, sebagai satu-satunya royalti yang tersisa dan pasti akan dinobatkan sebagai Raja, Ruon diharuskan menjaga keamanan negaranya dari para intelejen yang membuat Forbrenne menjadi basis bagi mereka.
Sengketa, kerusuhan, harga pokok yang melambung tinggi, hingga ancaman sabotase adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi pada negaranya di masa depan.
Penyerahan tanpa syarat.
Sesuatu yang Ruon pasti tawarkan kepada pemimpin tertinggi pasukan musuh.
Walau mungkin saja musuh akan meminta kepalanya, namun Ruon memiliki dukungan rakyat. Tidak mungkin musuh akan membiarkannya tewas begitu saja demi kestabilan Ibukota Latva.
Meski akan menempati penjara bawah tanah yang gelap dan dingin, meski mungkin saja akan dibuang ke pengasingan dan hidup di sebuah desa terpencil, bagi Ruon, kedua hal tersebut terasa lebih baik dan dapat menenangkan hatinya dibandingkan hidup di bawah tekanan politik negara-negara yang berseteru.
Tatapan Ruon terfokus kepada seorang pria yang menunggang kuda perang putih di barisan terdepan.
Rambut biru pendek, tidak sedikitpun terkesan rapi. Wajah yang ia miliki sangat mulus, tidak terasa seperti seseorang yang telah melalui banyak medan pertempuran. Jubah serta seragam militer hitamnya hanya berkesan seperti seorang komandan militer biasa.
Meskipun begitu, kewibawaan, kehormatan, hingga aura seorang pemimpin terasa kuat terpancar dari dirinya.
Beberapa bangsawan di sekitarnya juga bukanlah merupakan individu biasa. Ruon sangat yakin karena aura yang mereka pancarkan hampir serupa dengannya.
Siapa dia?
Ruon tidak yakin dengan identitas pria tersebut—karena tidak pernah bertemu dengan Ares sebelumnya. Namun, hal tersebut tidaklah masalah bagi Ruon, yang akan melakukan penyerahan tanpa syarat kepadanya.
"Sekarang!" Tangan kanan Ruon terangkat tinggi, memberikan tanda bagi seorang prajurit pemanah untuk menembak. Hanya berselang beberapa saat, sebuah anak panah meluncur, mengenai barak ksatria yang tidak jauh dari dinding ibukota.
Memahami perintah Ruon, seorang prajurit segera bergegas, menunggang kuda perang menuju istana kerajaan untuk mengibarkan bendera putih sebagai tanda penyerahan diri.
Para penduduk hanya menatap bingung kepada ksatria tersebut. Bagi mereka, meski berada dalam masa sulit karena harga komoditas pokok yang mahal, para penduduk tetap berada pada moral yang tinggi akibat baru saja memenangkan peperangan.
Hingga beberapa saat, bendera yang menunjukkan kebesaran Keluarga Kerajaan Forbrenne perlahan turun, tergantikan oleh sebuah bendera berwarna putih, bersamaan dengan naiknya bendera putih di atas gerbang utama Ibukota Latva.
Kenaikan bendera putih menyebabkan kegelisahan di tengah masyarakat. Teriakan protes, umpatan serta ejekan pengecut terlontar dari mulut para penduduk, mereka benar-benar menyayangkan tindakan Pangeran Kedua Forbrenne yang menjadi pengecut setelah dengan gagah berani kembali dari medan perang.
Ruon bisa saja memerintahkan para ksatrianya untuk menghukum di tempat para rakyat jelata yang mengoloknya. Namun, dia tidak akan memutuskan hal tersebut.
Ruon berniat membiarkan para penduduk menilai secara pribadi bagaimana musuh yang telah mengadu domba rakyat serta para bangsawan Forbrenne.
"Apa... yang sebenarnya mereka lakukan?" Tidak hanya Ares, Kristin, Milly, serta para bangsawan, ksatria, hingga para prajurit hanya dapat menatap aneh pada bendera putih yang telah berkibar di atas gerbang ibukota.
Kebingungan melanda, langkah prajurit secara keseluruhan pun terhenti. Ares tidak pernah berpikir bila Ruon—satu-satunya Pangeran Kerajaan Forbrenne yang masih tersisa karena Rea telah membunuh Pangeran Pertama—akan menyerah begitu cepat, bahkan sebelum mereka mulai berperang.
"Apakah mereka telah menyerah?" Kristin menatap heran, tidak sekalipun ia pernah berjumpa dengan musuh yang menyerah tanpa berperang sebelumnya.
Sangat berbeda dengan apa yang ia harapkan. Ares sangat menyesalkan keputusannya membawa setengah kekuatan yang ia kerahkan untuk menaklukkan Forbrenne hanya demi sebuah kota yang menyerah tanpa sekalipun berjuang.
"Kirimkan utusan. Jika mereka benar-benar menyerah dan membuka gerbang, aku akan mengampuni para bangsawan dan penduduknya." Ares memberikan perintah.
"Hah?!" Kristin cukup terkejut, memberikan keberatannya dengan nada kesal, "Bagaimana dengan budak dan rampasan pera—"
Pat.
"Aduh!" Mendapat pukulan tangan bagian luar Ares dengan cukup keras, Kristin mengarahkan kedua tangannya untuk menutupi kepalanya yang baru saja dipukul, sangat terlihat kesakitan.
Menghela napas, Ares menatap lelah pada Kristin, "Apa yang kau harapkan dari sebuah kota dengan penduduk yang kelaparan?"
Kristin merasa malu, walau ia tetap berusaha membenarkan diri, "Ta—tapi, itu adalah urusan mereka, Yang Mulia!"
Secara tiba-tiba, Ares mengubah wajahnya menjadi serius, menyebabkan beberapa bangsawan dan ksatria di sekitarnya cukup terkejut, termasuk juga dengan Kristin.
"Di masa depan, Forbrenne juga akan menjadi wilayah vital selain dari Kerajaan Lethiel. Aku tidak ingin kedua wilayah ini jatuh ke tangan negara lain di balik layar." Kata-kata Ares membuat Kristin tersadar, "Kukira, kamu pasti mengetahui apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi para penduduk."
"Baik, Yang Mulia." Kristin sedikit menunduk, mengubah sikapnya menjadi seorang bangsawan militer di bawah Ares.
Segera, Kristin, beberapa bangsawan bawahannya, serta beberapa ksatria pengawal pergi menjauh dengan menunggang kuda mereka, memilih serta mempersiapkan utusan yang akan berinteraksi dengan Ibukota Latva untuk pertama kalinya.
Memandang kepergian Kristin dan kelompoknya, Ares kembali mengalihkan tatapannya kepada bendera putih yang berkibar di atas gerbang dinding ibukota, sangat tidak menyangka bila karakter game di dunia ini juga dapat berkembang, mengubah sikap politik yang telah mereka anut sebelumnya.
Ruon Elsac von Kreat, karakter dengan kekuatan rata-rata yang memiliki otak.
Aku tidak menyangka, menghadapi karakter yang memiliki kebimbangan emosi dapat mengejutkanku.
Kurasa, Ruon adalah satu-satunya karakter yang masa depannya mungkin tidak dapat sedikitpun kuprediksi.
Memandang langit, Ares tersenyum masam dan bergumam, sangat lirih hingga tidak terdengar oleh seorangpun, "Aku benar-benar ingin bertemu denganmu, Ruon."
...----------------...