
...—Kota Rodez, Kerajaan Forbrenne—...
...—26 Juli 1238—...
Di bawah terik mentari, Ares beserta beberapa bangsawan militer tingkat tinggi menatap pada tembok kota yang menjadi titik terakhir sebelum melintasi perbatasan Kerajaan Forbrenne dengan Wilayah Natrehn.
Beberapa meriam besar berada tak jauh dari mereka berpijak, sedang dalam posisi dipersiapkan, menyebabkan banyak dari para bangsawan dan ksatria penasaran dengan jangkauan serta daya ledaknya.
"Jadi... apakah kamu akan menghancurkan dinding kota ini, Yang Mulia?" tanya Kristin.
Para bangsawan serta ksatria telah menyerah untuk memperingatkan perkataannya yang tidak memiliki sedikitpun kesopanan kepada Ares, seseorang yang telah ia ucapkan sumpah untuk setia.
Terlebih, dengan Ares yang memutuskan mengabaikannya, suara-suara keberatan untuk menghukum Kristin secara disiplin telah menghilang, walau Kristin tentu tidak akan melakukan hal tersebut dalam acara kenegaraan resmi seperti audiensi di ruang tahta.
"Hah?" Penilaian Kristin membuat Ares sedikit terkejut, "Kenapa kamu bisa menilai seperti itu?"
"Eh? Bukan?" timpal Kristin, sedikit memiringkan kepalanya karena bingung.
"Itu adalah hal yang sia-sia, kamu tahu?" Ares menghela napas ringan, "Mengapa aku harus menghancurkan tembok kota yang pasti akan jatuh ke tanganku?"
"Apakah kamu tidak memiliki kebanggaan?!" Nada Kristin sedikit sebal, menilai bahwa Ares tidak akan menunjukkan kekuatannya, "Jika kamu menghancurkan dinding, para penduduk akan segera membuka pintu untukmu dan menyerah tanpa syarat!"
Pat.
"Aduh!" Mendapat pukulan dari sisi luar salah satu tangan Ares, Kristin memegangi kepalanya.
"Lalu, aku akan memperbaiki tembok itu dan kehilangan 2 juta G dengan sia-sia." Ares sedikit menutup matanya karena merasa lelah dengan perkataan Kristin, "Dan juga, jika kau tahu, satu tembakan meriam harganya mencapai 10.000 G."
Seolah telah disudutkan dengan alasan yang sangat logis, Kristin tetap tidak ingin mengalah, merasa prinsip hidupnya telah disalahkan, "Ta—tapi, kehormatan dan kekuatanmu sebagai Kaisar akan dipandang tinggi! Lagipula, seorang bangsawan seharusnya membebankan hal-hal remeh seperti itu kepada penduduknya!"
Ares menghela napas. Tidak ingin beradu argumen lebih lanjut dengan Kristin, membuatnya mengucapkan kalimat yang sangat menohok, "Seekor singa tidak akan mengerahkan kekuatan penuhnya hanya untuk melawan tikus."
"Guh." Kristin kalah, tanpa sadar kepalanya tertunduk, merasa prinsip hidupnya seolah telah terinjak-injak.
"Yah, bukannya aku tidak setuju denganmu. Hanya saja... aku akan melakukan itu jika musuhku adalah Ecasia atau Gardom." Sedikit kasihan dengan Kristin, Ares mengutarakan pendapat pribadinya.
"Oh?" Kepala Kristin kembali terangkat, senyuman kecut pun terukir di atas wajahnya, "Kau akan melawan Gardom?"
"Kurasa, Excel telah meracuni pikiranmu." Malas untuk meladeninya, Ares melangkah, mendekati beberapa meriam yang sedang dipersiapkan diikuti oleh para ksatria pengawalnya, meninggalkan Kristin dengan acuh tak acuh.
"B—bukan seperti itu! Kami tidak membicarakan hal itu saat pesta teh!" Berusaha mengejar Ares, kedua lengan Kristin tertahan oleh dua ksatria pengawal Ares, "Le—lepaskan aku!"
"Maaf." Penyesalan diungkapkan oleh salah satu ksatria wanita yang menahan lengan Kristin.
Segera, Kristin ditarik menjauh, sebagai tindakan agar dia dapat menjernihkan pikirannya.
"Yang Mulia, saya merasa... sejak Margrave Ginnes diangkat sebagai Menteri Pertahanan dan Perang, beliau menjadi sedikit aneh." Seorang bangsawan pria muda berbisik, mengutarakan pendapat pribadinya.
"Tidak, dia telah menjadi seperti itu sejak berpesta teh dengan istriku. Hanya saja... Kristin tidak memperlihatkan tabiat aslinya karena dia tidak memiliki jabatan untuk menunjukkannya," timpal Ares.
"Oh..." Bangsawan tersebut sejenak terdiam, "Lalu... mengapa Anda membuatnya menjadi menteri pada bidang tersebut?"
"Yah, aku hanya ingin memastikan hal itu," timpal Ares.
"Begitu..." Kata-kata bangsawan tersebut sedikit berat.
Mendengar pengangkatan seorang menteri dikarenakan alasan "hanya ingin memastikan," sedikit membuat bangsawan tersebut tercengang, walau ia mengerti jika pangkat kebangsawanan serta latar belakang Kristin menyebabkan Ares tetap harus mengangkatnya menjadi seorang menteri.
Melihat meriam hingga selesai dipersiapkan, Ares mengerutkan keningnya, merasa bila senjata meriamnya membutuhkan waktu persiapan yang lebih lama daripada yang dia bayangkan.
Dia menilai bila masih membutuhkan banyak pengembangan serta penyesuaian pada meriamnya agar dapat digunakan lebih praktis dalam berperang.
"Tembak tanah di dekat tembok kota. Lakukan serentak." Ares memberi perintah lugas.
"Ya, Yang Mulia!" Para prajurit masing-masing bergerak menuju posisi yang telah ditentukan.
"Tembak!" Komandan kompi pasukan meriam berteriak keras. Gesekan logam menimbulkan percikan api, yang digunakan sebagai pemicu tembakan meriam.
Kelima prajurit yang berjaga pada masing-masing meriam menjauh, melarikan diri dengan memancarkan ketakutan.
BOOM!
Di waktu yang hampir bersamaan, lebih dari sepuluh meriam ditembakkan secara serentak, sangat membuat Ares serta para bangsawan melihatnya terkagum.
BLAR!
BLAR!
BLAR!
Dentuman akibat dampak meriam terdengar sangat keras, menyebabkan orang-orang yang mendengarnya secara naluriah menutup kedua telinga dan mata mereka.
Tanah-tanah di sekeliling tembok kota hancur. Kepulan asap kehitaman menyebar, begitu juga keadaan debu-debu yang berterbangan ke segala arah dengan ganas.
Sinyal ancaman.
Ares tidak ingin bersusah payah melakukan pertempuran yang sia-sia dan waktu yang terlalu lama. Perang psikologis adalah sesuatu hal yang selalu ia gunakan pertama kali sebelum melakukan pertempuran berskala penuh.
Sesuai dengan prediksi, jalanan kota tampak sepi, para penduduk kota berlindung di dalam rumah. Beberapa diantara mereka berpelukan, menangis, berharap agar pasukan pengepung dapat pergi meninggalkan mereka, meski mereka mengetahui bila hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat mustahil.
Harapan mereka sirna. Tidak ada yang menyangka bila Tentara Kekaisaran Arestia akan datang menyerang setelah satu pekan mereka memberontak kepada bangsawan yang memerintah.
Kini, tidak lagi terdapat sosok pelindung. Beberapa tatapan penduduk terlihat kosong. Meskipun benar-benar ingin menolak, mereka tahu, Kota Rodez telah dipastikan hancur.
Para penduduk kini sadar. Meskipun para bangsawan berperilaku sewenang-wenang dan mengumpulkan pajak berat, mereka tetaplah terlindungi.
Penyesalan kuat telah terukir dalam benak masing-masing penduduk. Jika waktu dapat berputar kembali, para penduduk akan menghentikan pemberontakan yang telah mereka rencanakan.
Pun demikian dengan golongan bangsawan. Mereka mengetahui arti penting dari perbuatan Ares.
Tidak hanya kepada para penduduk, Ares juga secara implisit memberikan ancaman kepada para bangsawan. Peringatan bagi para bangsawan untuk tidak merencanakan pemberontakan jika mereka tidak ingin wilayah mereka luluh lantak.
Semua pemilik mata memandang membentuk kesepakatan dalam diam, sangat yakin apabila dua tembakan meriam tersebut pada titik yang sama dapat menghancurkan tembok kota secara instan.
Begitu... Karena absennya sosok pemimpin, para penduduk ketakutan dan hanya dapat berlindung di dalam rumah mereka.
Kukira, feodalisme benar-benar telah merasuk ke dalam jiwa orang-orang di dunia ini.
"Kirim 10 orang untuk mengetuk gerbang kota! Jika mereka menolak, hancurkan gerbang!" Ares memberikan perintah tegas.
"Ya, Yang Mulia!" Para prajurit menjawab tegas.
Dengan seorang bangsawan baron sebagai pemimpin, sembilan ksatria bergerak untuk melaksanakan perintah yang Ares titahkan.
Sejenak, Ares mengadah, menemukan seekor elang hitam yang terbang memutar di atas kepalanya.
Tangan kanannya terangkat, tanda agar elang pembawa pesan tersebut menukik tajam dan hinggap di bahu kirinya.
Ares mengambil sebuah lembar perkamen kecil dan tipis dari silinder yang berada di punggung elang. Membaca isinya tanpa sedikitpun memperlihatkannya kepada orang-orang di sekitarnya.
Lebih awal dibandingkan dengan apa yang telah aku prediksi.
Merasakan pendekatan Kristin dari balik punggungnya, Ares hanya dapat tersenyum kecut, "Perubahan rencana. Sebarkan 50.000 prajurit ke seluruh penjuru kerajaan dan taklukkan kota-kota tanpa tuan, tinggalkan 10.000 prajurit untuk menjaga kota ini."
"Eh?! Ap—apa yang akan kamu lakukan, Yang Mulia?!" Kristin sangat terkejut, tidak berbeda dengan reaksi para bangsawan lain yang mendengar kata-kata Ares.
Ares mengalihkan wajahnya ke belakang, menatap Kristin dengan melukiskan senyuman masam, "Menghancurkan moral penduduk kota yang merasa telah memenangkan peperangan."
...----------------...