Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 22 : Masa Lalu



...—Ibukota Kekaisaran Arestia, Excelia—...


...—14 Agustus 1238—...


"Jika saja saya tidak mengingat julukan yang dimiliki Yang Mulia, beliau pasti telah lepas kendali dan akan menyatakan perang melawan Gardom."


Di dalam sebuah ruangan yang sangat terang karena terdapat banyak pencahayaan lentera, Warren menjelaskan sebab kekesalan Excel tepat setelah membaca surat yang dikirimkan oleh Ratu Florentia.


Di hadapannya terduduk melingkar pada meja bundar beberapa orang yang memiliki kursi tinggi di dalam House of Lords. Secara berurutan Ann, sebagai istrinya; Claire, Sekertaris Negara; Joergen, Menteri Pendidikan; Victor, Menteri Keuangan; hingga ayahnya sendiri yang saat ini berada di ibukota karena mengantar Leticia, Elfet, Sang Gubernur Selatan.


Warren menghela napas berat, tidak menyangka jika Excel hendak mengungkapkan kemarahannya pada saat audiensi kepada utusan ratu negara tetangga.


Tepat setelah Excel menunjukkan tabiat aneh, dimana ia akan bangkit dari kursinya dan terlihat berniat hendak melompat, Warren membisikkan sesuatu yang membuat Excel tersadar jika ia sedang berada dalam suatu acara kenegaraan resmi.


Tentu, pernyataan surat balasan akan diberikan dalam kurun waktu tiga hingga lima hari ke depan, menyebabkan para bangsawan tingkat tinggi dapat memiliki waktu lebih untuk memberikan sebuah keputusan terbaik yang dapat mereka pikirkan sebagai balasannya.


Terlebih, dengan para anggota House of Lords yang tidak mendapatkan kerjasama dari Excel sekaligus disertai sebuah limpahan tanggung jawab darinya secara penuh, seolah Excel tidak lagi mengacuhkan Leticia dan Gardom, para anggota House of Lords menjadi sedikit bingung bagaimana harus membuat surat balasan kepada Sang Ratu.


"Um... Maaf," Claire menyela, raut wajahnya menunjukkan sebuah kebingungan.


"Ya, silakan, Putri Claire." Sebagai moderator, Joergen mempersilakan, menunjukkan sebuah senyuman lembut.


"Sejak tadi... Anda sekalian mengatakan sesuatu mengenai julukan yang dimiliki oleh Yang Mulia Permaisuri..." Claire sedikit sulit untuk melanjutkan kata-katanya, merasa tidak sopan dan memohon kepada beberapa orang di hadapannya agar mengerti apa yang ia hendak ucapkan.


"Apakah Anda belum mengetahuinya?" tanya Warren, nadanya terdengar sedikit heran.


"Maaf..." sesal Claire.


"Apakah Anda mengetahui peperangan antara Kerajaan Rowling melawan Kerajaan Natrehn... mungkin sekitar 7 tahun yang lalu?" Dengan wajah lelah karena baru saja menyelesaikan lemburnya, Victor mendapati dirinya diundang dalam sebuah pertemuan darurat, menyebabkan dirinya memiliki kantung mata besar di bawah matanya.


"Ah..." Claire kembali teringat.


"Benar." Victor menampilkan ekspresi serius, "Jika Anda pernah mendengar sosok berpenampilan putih yang membantai ribuan prajurit Natrehn serta memutilasi mayat mereka di tengah medan perang, yang konon dikatakan lebih dari 10.000 orang, hal tersebut adalah perbuatan Yang Mulia, hingga menyebabkan beliau mendapat sebuah nama kedua 'White Demon.'"


Ketakutan sedikit menggerayangi Claire. Walau Claire telah mendengar julukan tersebut, ia tidak pernah menyangka jika sosok yang dimaksudkan adalah seorang wanita yang telah dilayaninya selama lebih dari satu tahun terakhir.


Bagi Claire, mengetahui sosok wanita yang sangat penyayang kepada kedua anaknya tersebut yang bahkan menyuapi mereka tanpa mengandalkan seorang pelayan, sangat membuatnya terkejut.


Karena Excel yang tidak lagi aktif dalam berperang disertai telah melahirkan dua anak, julukan tersebut seolah meredup, tidak seorangpun akan menjuluki Excel sebagai "White Demon" saat mereka melihat dia merawat kedua anaknya dengan penuh kelembutan.


Terkecuali Ares, Milly, serta para gundiknya yang lain, tidak seorangpun dari kalangan aristokrat mengetahui masa lalu kelam Excel, yang menyebabkan ia sangat marah setelah mengetahui jika putranya akan menjadi alat politik.


Karenanya, para bangsawan hanya dapat bingung, menatap aneh kepadanya saat Excel mengungkapkan kekesalannya hanya karena poin "pertunangan politik" yang ditujukan kepada putranya.


Bagi Excel, yang telah kehilangan ibu—mendiang Ratu Ketiga Kerajaan Rowling—tepat di depan kedua matanya sendiri dan hanya mendapatkan ketidakpedulian dari semua orang di sekelilingnya pada masa lampau, tentu mengetahui isi dari surat tersebut sangat membuatnya marah dan kesal.


Berniat menghentikan topik, Joergen mempertanyakan masa depan yang harus mereka putuskan, "Jadi... haruskah kita menunda jawaban tersebut?"


"Apa yang hendak Anda lakukan, Kepala Akademi?" Warren kembali merebahkan dirinya di kursi empuk dengan lelah, secara tidak sadar ia kembali memanggil Joergen seperti pada masa sekolahnya.


Joergen memberikan senyuman masam sebagai tanggapan atas perilaku Warren, "Meminta dilangsungkannya pertemuan kedua pemimpin negara sebelum musim dingin melanda belahan utara."


"Tapi... kurasa akan sangat berbahaya jika Yang Mulia Kaisar pergi menuju negara yang masih belum memiliki hubungan jelas dengan kita." Victor memberikan keengganannya.


Tok.


Tok.


Suara ketukan pintu terdengar memenuhi ruangan, seorang ksatria yang berjaga di dekat pintu menunduk, meminta izin untuk mengetahui sosok pengetuk.


Mengetahui Lucy—yang sebelumnya diminta untuk mengikuti pertemuan dengan sebagian anggota House of Lords dan meminta izin meninggalkan pertemuan tersebut untuk sementara—telah berada di balik pintu, ksatria tersebut mempersilakannya untuk masuk.


"Apakah Yang Mulia baik-baik saja?" Ann mengungkapkan kekhawatirannya pada Lucy yang berjalan mendekat.


Lucy menampilkan senyuman sedih, "Ya... Saat ini, beliau telah tertidur."


"Begitu, itu bagus," timpal Ann.


Setelah menunggu Lucy duduk kembali di tempat sebelumnya ia telah duduk, Joergen membuka kembali percakapan, "Tidak perlu mengirim Yang Mulia ke negara tetangga, mungkin sebuah kota atau desa di perbatasan sudah cukup."


"Apa yang akan kamu lakukan jika mereka menolak, Marquis Kolvich?" Victor sedikit menjawab sebal, merasa Joergen menyia-nyiakan waktu.


"Jika menilik kembali perjanjian tersebut, saya merasa jika mereka tidak mungkin menolaknya," jawab Joergen.


Percakapan semakin berkembang, namun pada akhirnya House of Lords memberikan persetujuan kepada usulan Joergen dan melimpahkan keputusan tersebut untuk didiskusikan Ares bersama Florentia secara langsung.


Menapaki lorong gelap yang berada di salah satu sudut istana, pelayan wanita berambut merah panjang, bertubuh cukup sensual, bergerak mendekati pintu kamar pribadi Excel dengan mengendap-endap, salah satu tangannya membawa nampan dengan dua mangkuk sup di atasnya.


Tok.


Tok.


"Yang Mulia, saya membawa beberapa mangkuk sup untuk makan malam Anda." Mengetuk, pelayan tersebut mengatakan sesuatu dengan cukup lirih.


Excel membuka pintu, kedua bibirnya membentuk senyuman cerah, sangat bersemangat walau ia tidak melontarkan suara yang keras, "Akhirnya kamu datang, Lydia! Ayo cepat masuk!"


Lydia hanya tersenyum, memandang Excel yang kembali berlari masuk dengan hangat dan berjalan mengikutinya.


"Terima kasih karena selalu melakukan ini untuk kami, Lydia." Seorang wanita bertubuh kurus yang terbaring di atas kasur tersenyum hangat.


Kulitnya pucat, sangat selaras dengan rambut putih panjangnya yang tergerai kusut, tubuhnya terlihat sangat lemah, namun hal yang terpancar jelas adalah warna kedua matanya yang sangat kontras.


"Tidak, Yang Mulia. Itu sudah merupakan tugas saya." Lydia menggeleng ringan, meletakkan kedua mangkuk sup tersebut di atas meja yang berada tepat di samping ranjang.


Lydia menyajikan kedua mangkuk sup tersebut dengan lembut, satu kepada Excel dengan menempatkan kain di bawahnya, serta satu yang lain di dalam kedua genggamannya.


Seperti yang selalu ia lakukan, Lydia akan menyuapi Tuannya karena kondisinya yang hanya dapat terbaring lemah. Tidak memiliki sedikitpun tenaga, walau umurnya masih berkisar pada usia 25 tahun.


Setelah menyelesaikan santapannya, Excel memberikan mangkuknya kembali kepada Lydia, "Hei, Lydia, bagaimana jika kamu tidur bersama kami malam ini?!"


"Tapi, saya hanya—"


"Aku pikir tidak apa-apa, Lydia." Mendengar selaan lirih wanita yang terbaring tersebut, Lydia memutus perkataannya, "Aku juga menginginkan agar setidaknya putriku dapat memiliki seorang teman."


Wanita tersebut dengan lemah membelai rambut Excel, terasa penuh kasih sayang, sembari menatap penuh harap kepada Lydia untuk menerima permintaan Excel.


Lydia menghela napas ringan, segera menunjukkan sebuah senyuman lembut, "Baik, Yang Mulia."


"Yeay! Terima kasih, Lydia!" Excel berkata dengan riang.


Lydia mempersiapkan sebuah ranjang di sisi lain ranjang yang digunakan Excel tidur bersama wanita tersebut.


Hingga larut tiba, memastikan keduanya yang telah tertidur dan berada dalam posisi berpelukan, Lydia mengendap-endap keluar dari ruangan.


"Hngghh!" Excel terbangun, meski ia masih belum sadar secara utuh. Mengalihkan pandangannya kepada sekitar dengan linglung, ia menemukan ranjang yang digunakan Lydia sebelumnya berada dalam posisi kosong, "Lydia?"


Excel turun dari ranjang, keluar menuju pintu dan mengintip lorong di luar ruangan. Hanya kegelapan tanpa suara yang ditemukannya, Excel melangkah, menyusuri gelapnya lorong untuk mencari sosok Lydia yang menghilang dari tempat tidurnya.


Menuju hingga sedikit jauh, hingga Excel merasakan ketakutan berlebih akibat berjalan di tengah kegelapan, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Pintu yang seharusnya tertutup, entah mengapa sedikit terbuka, sedikit menampakkan keremangan cahaya lilin yang menerangi ruangan. Dengan sedikit takut, Excel memaksakan kakinya melangkah dan mengintip celah kecil pintu yang sedikit terbuka.


Kedua mata Excel terbuka lebar, sesuatu yang seharusnya tidak diinginkannya menjadi kenyataan. Di balik pintu, Excel dengan sangat jelas melihat sosok berjubah gelap yang menghunuskan belati dan mengarahkannya langsung menuju dada wanita yang sangat disayangi olehnya.


"Jangaan!" Dengan keras, Excel mendorong pintu, memaksa masuk dan melompat menuju sang pembunuh untuk menghentikan apa yang ia lakukan.


JRASH!


Excel terlambat. Belati yang bilahnya terlumur cairan tersebut telah menusuk dada ibunya, menyebabkan amarahnya seketika memuncak.


Sosok berjubah itu berbalik, menatap Excel dengan senyuman dan tatapan meremehkan, "Anak terkutuk harus dihapuskan."


"Lydiaaa—"


"Aah?!" Excel terbangun, seketika terduduk di atas ranjangnya dengan kaget.


Bermimpi buruk, Excel teringat kembali akan masa lalu kelamnya. Tanpa sadar, air mata segera bercucuran deras dari keempat sudut matanya.


Ibu...


Kedua tangannya terulur, mengusap wajah yang kini sangat basah oleh uraian air mata. Hanya sejenak, sebuah tangan kecil menggerayangi lengan hingga sikunya, Excel menemukan putranya, Raze Blanc Aubert, menatap padanya, terasa bingung karena ibunya yang menangis secara tiba-tiba, meski saudara kembarnya, Orcian Blanc Aubert, tetap tertidur pulas.


"Apakah... kamu sudah bangun?" Dengan sedikit terisak, dengan tatapan mata yang telah berkaca-kaca, Excel memaksakan dirinya untuk tersenyum, mendekatkan bibirnya untuk mencium wajah putranya.


"Bu... enapa?" Pertanyaan lirih, terdengar sedikit tidak jelas, sangat membuat sakit perasaan Excel karena membuat putranya khawatir.


"Hmm." Excel menggeleng ringan, mengeluarkan suara lembut sebagai tanggapan atas keadaannya yang baik-baik saja, "Ayo tidur lagi."


Excel memeluk putranya, membaringkan kembali Raze untuk tidur berdampingan dengan Orcian.


"Hmm~ hmm~" Menyanyikan sebuah lagu, namun hanya berupa nada, tangan kanan Excel menepuk-nepuk lembut pantat putranya.


Desiran suara lembut yang terasa penuh kasih sayang kembali membuat Raze mengantuk, hanya beberapa saat ia kembali tertidur.


Sejenak, Excel tetap menepuk-nepukkan pantatnya. Meski tidak sederas sebelumnya, air mata Excel tetaplah menetes. Ingatan masa lalu kelamnya tidak kunjung ia lupakan, Excel hanya dapat memeluk sedih kedua anaknya disertai dengan isak tangis. Wajahnya kembali mendekat, mengecup penuh kasih pada kening putra dan putrinya.


Memandang keduanya, hati kecil Excel benar-benar berharap, agar suami serta kedua anaknya memiliki kehidupan yang bahagia bersamanya.


Meskipun keselamatan kalian mulai saat ini akan terancam... meskipun banyak orang akan menyudutkan dan memanfaatkan kalian...


Jangan khawatir...


Ayah dan ibu pasti akan selalu melindungi kalian.


...----------------...