
...—Ibukota Latva, Kerajaan Forbrenne—...
...—27 Juli 1238—...
Mengapa?!
Mengapa ini bisa terjadi?!
Kukira, dengan menembakkan batu-batu raksasa itu, agen Gardom yang berada di dalam pasukan pemberontak setidaknya akan kabur!
Aku tidak pernah menyangka jika pembunuh itu juga merupakan mata-mata!
Sialan!
Mengarungi gelapnya ruangan, Ruon melangkah, menuju satu titik dan segera kembali ke titik awal, terlihat sangat gelisah.
Dengan terbunuhnya Felipe dengan indikasi keracunan, walau tidak menunjukkan satupun gejala yang terlihat pada sekujur tubuhnya, Ruon tidak pernah menyangka bila dia akan sekali lagi terkecoh.
Sebelumnya, Ruon mengira bila pembunuh Pangeran Ketiga adalah seorang penyusup, yang akan segera kabur tepat setelah misinya terselesaikan karena melihat jasad adiknya tersebut yang memiliki luka tusukan serta belati yang menancap di atas dadanya.
Namun, Ruon tidak menyangka bila pembunuh tersebut—Gale—akan menyamar sebagai seorang pelayan atau ksatria dan melanjutkan misinya untuk membunuh Felipe.
Tepat setelah mendengar kabar bahwa Felipe tewas keracunan, ia memeriksa dan segera mengeksekusi setiap pelayan dan ksatria yang terlihat mencurigakan.
Penyelidikan kini semakin ketat. Bahkan, Ruon kini bersikap sangat waspada meski kepada ksatria kepercayaannya yang telah melayaninya semenjak kecil.
Terlebih, dengan tidak terbalasnya surat burung yang ia kirimkan kepada Pangeran Pertama, entah dia masih hidup ataupun tidak, Ruon mengambil kesimpulan bahwa ia telah tewas, di samping Ruon yang beranggapan bila kakak tirinya tersebut tidak pantas menyandang gelar "Raja" karena telah meninggalkan ibukota hanya untuk menyelamatkan dirinya semata.
Kini, meskipun bersikap sangat waspada, Ruon tidak memiliki pilihan lain selain mempercayai 10 ksatria dan 2 pelayan wanita yang telah membersamainya sejak kecil, demi terjaganya kerahasiaan keberadaan dirinya sebagai satu-satunya anggota Keluarga Kerajaan Forbrenne yang tersisa.
Tentu, demi menjaga tingginya moral penduduk ibukota yang baru saja memenangkan perang pengepungan, Ruon tetap diam tentang kabar larinya Pangeran Pertama serta tewasnya kedua adik tirinya. Bahkan, Ruon akan mengeksekusi di tempat seorang bawahannya yang tanpa sengaja menyebarkan kabar tersebut.
"Yang Mulia." Salah satu ksatria yang sebelumnya menjaga pintu memanggil, raut wajahnya terlihat khawatir.
"Jika kau menyarankan agar aku beristirahat, aku telah menjadwalkan untuk itu. Jangan khawatir." Ruon memperingatkan, kakinya tetap melangkah, bertolak-balik dari tempat sebelumnya karena perasaannya yang kian gelisah.
Ksatria tersebut memutuskan untuk menutup rapat kedua bibirnya. Menilai bahwa Ruon tidak memiliki ketenangan pikiran, berbicara dengannya hanya akan berakhir dengan sebuah perdebatan yang sia-sia.
"Saya akan menghidangkan makanan hangat untuk An—" Seorang pelayan wanita tua berambut bob hitam membuat wajah sangat khawatir, berusaha menenangkan Ruon dengan segala sesuatu yang dia dapat lakukan.
"Tidak." Ruon kini tidak lagi mempercayai siapapun, walau pelayan tua tersebut telah merawatnya semenjak ia dilahirkan.
Mengalihkan wajah, Ruon menemukan Lara—pelayan wanita tua tersebut—sangat khawatir. Penyesalan karena telah menolaknya timbul di dalam hati.
Meskipun begitu, Ruon juga tidak ingin mati seperti halnya adik tirinya, "Maaf... Aku akan memasak sendiri nanti, meskipun aku tahu rasa masakanku tidak enak."
"Baik..." Lara kembali melukiskan senyuman, mengerti kekhawatiran Ruon atas keselamatan dirinya, "Saya mengerti."
Akibat interaksi dengan Lara, entah mengapa perasaan Ruon telah menjadi sedikit lebih tenang.
Mendekati jendela yang menampilkan gelapnya langit yang perlahan membiru, Ruon tersadar apabila dirinya telah terjaga sepanjang malam.
"Sebenarnya... aku telah memikirkannya sejak beberapa hari terakhir..." Ruon mengungkapkan kekhawatirannya.
"Bolehkah kami mengetahuinya, Yang Mulia?" Pertanyaan seluruh pendengar terwakilkan oleh Lara.
"Memikirkan kembali pendapat Felipe... aku merasa... pihak yang berada di balik kejadian ini bukanlah Ratu Florentia." Kata-kata Ruon menyebabkan kening hampir setiap orang yang mendengarnya berkerut.
"Apakah yang Anda maksud adalah kekaisaran?" Merujuk pada Arestia, pertanyaan Lara segera ditanggapi dengan anggukan ringan Ruon.
"Jika kamu memikirkannya dengan seksama, untuk mengontrol kestabilan negara, kekaisaran diharuskan untuk menaklukkan Forbrenne secara keseluruhan yang merupakan wilayah benalu bagi mereka." Ruon berbalik, kembali menatap para bawahannya dengan serius.
"Secara geografis, wilayah kita secara keseluruhan berbatasan langsung dengan kekaisaran serta Kerajaan Mana yang telah bergabung dengan mereka," sambung Ruon.
"Bolehkah saya mengetahui sesuatu yang Anda maksud, Yang Mulia? Mohon maaf, kami tidaklah memahami sesuatu yang Anda utarakan." Lara hanya dapat menunduk, menyesal karena tidak dapat mencerna kata-kata Ruon.
"Sesuatu yang aku maksud adalah... besar kemungkinan Wilayah Forbrenne akan menjadi tempat berkumpulnya intelejen Alven dan Renacles." Ruon mengutarakan pendapatnya dengan wajah sangat serius, "Aku tidak akan menampik kemungkinan bila para 'Inquisitor' gereja juga akan membuat negara kita sebagai basis operasi bagi mereka."
Hening.
Para ksatria serta kedua pelayan tidak dapat membalas. Perkataan Ruon merupakan gambaran yang sangat mungkin terjadi bagi Kerajaan Forbrenne di masa depan.
Terhadap reaksi para bawahannya, Ruon melukiskan senyuman lemah, "Jika itu merupakan kebenaran alasan dari peristiwa ini... bukankah itu berarti aku sudah tamat?"
"Aku tidak mungkin melarikan diri, aku memiliki tanggung jawab dan beban nama keluarga kerajaan di atas kedua pundakku... Meskipun aku hidup, aku akan hidup di balik bayang-bayang intelejen negara lain. Jika aku hanya berdiam diri, aku juga pasti akan mati..." sambung Ruon dengan kembali tersenyum lemah, tanpa sadar meneteskan setetes air mata.
"Aku tidak lagi memiliki saudara. Bahkan... ibuku serta para ratu yang lain tidak lagi memiliki keberadaan yang jelas setelah memutuskan untuk kembali ke wilayah keluarga asal mereka..." Sejenak, Ruon menghentikan suaranya.
Meskipun dia tidak ingin mengakuinya, meskipun dia menganggap jika salah satu diantara mereka mungkin saja seseorang yang kelak akan membunuhnya, Ruon tidaklah menampik, dua belas orang yang berada di hadapannya adalah kelompok terakhir yang pasti akan mengulurkan tangan kepadanya, "Aku... tidak memiliki siapapun yang tersisa kecuali hanya kalian..."
Pelukan hangat menyelimuti Ruon yang kini telah menangis tersengguk-sengguk. Tidak ada yang mengira sosok pemuda berusia 21 tahun tersebut akan memiliki beban yang teramat berat di atas kedua bahunya.
Memeluk Ruon, yang ia rawat semenjak kecil, Lara hanya terdiam, meskipun ia melanggar kode etik serta norma kesopanan, Lara tidaklah benar-benar mempedulikannya.
Jika Ruon akan menghukumnya atas perbuatannya, Lara telah dengan rela untuk menerimanya.
"Apakah kalian tahu... apa yang harus aku lakukan?" Pertanyaan Ruon membuat para bawahannya saling melirik, membuat kesepakatan dalam diam, bersumpah untuk terus mengikutinya apapun jalan yang ia akan pilih.
"Kamu adalah dirimu sendiri. Lakukanlah apapun yang menurutmu terbaik bagi negara ini. Jika kamu memutuskan untuk melawan, jika kamu memutuskan untuk menyerah... atau bahkan hanya berdiam diri di tempat ini... janganlah khawatir..." Kata-kata Lara yang meninggalkan norma kesopanan menghangatkan suasana ruangan, "Karena kami... tidak akan pernah meninggalkan Anda."
Para ksatria dan seorang pelayan laki-laki tua yang lain hanya dapat terdiam, menunjukkan sikap serupa dengan perkataan pelayan wanita tua tersebut.
Tersenyum lemah, rasa syukur serta kebahagiaan yang teramat besar seketika memenuhi perasaan Ruon, yang sejenak menundukkan sedikit kepalanya setelah Lara melepaskan pelukannya, "Terima kasih banyak..."
Para bawahan Ruon seketika berekspresi sulit, merasa tidak pantas untuk diberikan ungkapan terima kasih karena hal tersebut telah menjadi janji mereka ketika diangkat menjadi seorang ksatria.
Meskipun begitu, mereka hanya terdiam, mereka tahu jika hal tersebut adalah bentuk ungkapan Ruon dan untuk kepuasan hatinya. Ruon kembali berbalik, menatap pemandangan yang menampilkan seekor burung yang terbang padanya.
Memandang penuh harap kepada burung tersebut, Ruon hanya dapat bergumam, "Meski aku tahu jika ini adalah hal yang mustahil, tapi... aku benar-benar ingin menjadi seperti dirimu... walau itu hanya sebentar."
...----------------...