
...—Ibukota Argen, Kekaisaran Renacles—...
...—11 Oktober 1238—...
"Putra Jenderal Terbaik dari Benua Barat, Val von Renus."
"Siapa?" Sophia menatap bingung, tidak mengenal siapapun yang kepalanya sangat berharga dari benua barat.
Apakah orang-orang di timur sama sekali tidak mengetahui nama-nama besar orang-orang dari benua barat?
Val sejenak terdiam, perasaan diremehkan melekat di dalam hatinya. Meskipun begitu, dia tetap memperlihatkan senyuman cerah, tidak sekalipun memperlihatkan harga diri dan kehormatannya yang telah terinjak-injak.
"Apakah Anda mengenal salah satu dari tiga jenderal terbaik Kerajaan Natrehn, Barlock von Renus, Yang Mulia?"
"Oh? Apa yang kau maksud adalah negara yang telah hancur itu?" Sophia tersenyum mengejek, memandang rendah kepada Val, "Kupikir, 'Nameless General' dan 'Destroyer' Gnery memiliki nilai kepala yang lebih berharga jika dibandingkan Bar—siapa itu di dunia bawah."
Samar, Val menggigit bibirnya, telapak tangannya yang terhalang oleh meja juga mengepal erat, merasa sangat direndahkan oleh Sophia.
Merasakan situasi yang menjadi tidak nyaman, Alexander berniat untuk mengalihkan topik pembicaraan, "Dibandingkan dengan itu... silakan duduk terlebih dahulu, Kakak."
Meski memiliki sifat dengan keadilan tinggi, Alexander mengerti jika dia tidak dapat memenangkan suatu persengketaan dengan saudara-saudaranya jika dia melawan mereka dari depan. Ia tahu hampir setiap pelayan serta ksatria yang melayaninya adalah seorang mata-mata para saudara-saudaranya.
Jika ia berhadapan dengan saudara-saudaranya, terlebih dengan Sophia serta Pangeran Pertama, Alexander akan selalu membungkukkan badan, bersikap merendah dan tidak mencari masalah.
Bahkan apabila bukti kuat mengenai kejahatan yang telah dilakukan saudara-saudaranya telah berada di telapak tangan, Alexander tetap akan berpikir dua kali, ia lebih mengutamakan keselamatan nyawanya dibandingkan dengan bersikap bodoh dan melempar bukti-bukti tersebut ke hadapan ayahnya, Sang Kaisar.
Karena ia tahu, Alexander saat ini tidaklah memiliki kekuatan serta pengaruh politik yang nyata. Secara sikap, Alexander lebih memilih untuk mengubah kekaisaran dari dalam, walau itu membutuhkan waktu bahkan hingga ratusan tahun lamanya.
"Ah, benar. Terima kasih, Adikku." Sophia tersenyum penuh arti, sedikit memejamkan kedua matanya dan segera berjalan untuk duduk di sofa panjang yang baru saja Alexander menyingkir darinya, duduk di sofa untuk satu orang yang berada di sisi lain dari tempat Val duduk.
Tidak berbeda dengan apa yang telah dia lakukan di masa lalu, Alexander tidak berani mempermasalahkan sikap tidak sopan Sophia yang memasuki ruangan pribadi Alexander, yang mana bahkan para pelayan tidak lagi yakin apabila setiap ruangan pribadi Alexander merupakan ruangan pribadinya.
Val salah mengira. Tidak menyangka jika martabat Alexander sangatlah rendah di depan para saudaranya. Meskipun begitu, Alexander adalah satu-satunya royalti Kekaisaran Renacles yang menerima permintaan untuk melakukan sebuah pertemuan dengannya, membuat Val hanya dapat menerima apa adanya.
"Jadi, apa alasanmu mengganggu saudaraku?" Kata-kata penuh kepedulian yang sarat akan kebohongan terlontar dari mulut Sophia.
"Saya..." Val sedikit tertunduk, sejenak berpikir sembari mengepalkan erat kedua telapak tangannya.
Kebingungan melanda, Val tidak mengerti apakah dia harus mengorbankan kehormatan pribadinya demi tercapainya balas dendam serta kembalinya kejayaan House of Renus, atau harus bersikap pasif dan membiarkan kesempatan di hadapannya pergi begitu saja.
"Adikku, mengapa kamu menerima permintaan bangsawan jatuh sepertinya?" Sophia menoleh, senyuman mengejek terlukis pada ekspresi wajahnya.
Merasa keadaan semakin menjadi pelik, Alexander memutuskan untuk mengusir Val dan memintanya untuk menemuinya kembali di masa yang akan datang.
Dia tahu segala macam pembicaraan yang akan dia lakukan bersama Val pasti akan diketahui oleh para saudara-saudaranya melalui mulut para mata-mata yang menyamar sebagai ksatria dan pelayan, membuat Alexander sangat mengasihani Val yang mungkin saja akan digunakan sebagai bidak oleh mereka karena dendamnya yang sangat besar.
"Mohon maaf, Yang Mulia Putri." Jawaban Val membuat Alexander memasukkan kembali kata-kata yang akan dia lontarkan.
"Oh, apa itu?" Sophia kembali menoleh, tetap memandang rendah kepada Val.
"Saya... mengunjungi Yang Mulia Pangeran Keempat Alexander karena merasa apabila keadaan di benua barat tidak lagi dapat dibiarkan lebih lama, terkhusus untuk Kekaisaran Renacles sebagai salah satu negara yang menggenggam kekuatan militer terbesar di dunia," timpal Val.
"Lalu, mengapa harus Renacles?" tanya Sophia, tetap mempertahankan ekspresi yang bagi Val sangatlah menjengkelkan.
"Bukankah Yang Mulia akan merasakan kecemasan apabila terdapat sebuah kekuatan yang baru saja bangkit—"
"Oh, bukankah kamu sangat meremehkan kami, negara terkuat di dunia ini, Tuan Val?" Selaan Sophia yang telah mengubah ekspresinya menjadi menghinakan membuat Val tersadar.
Blunder.
Val tidaklah berpikir sejauh itu, kekurangan pengalaman berdiplomasi membuatnya demikian. Seketika, hampir seluruh anggota tubuhnya terlihat gemetaran kecil, perasaannya dipenuhi rasa takut akan kematian yang memiliki kemungkinan besar menghampiri dirinya.
"Kakak." Panggilan Alexander terdengar sedikit keras, berniat untuk menyelamatkan Val yang memiliki kemungkinan besar menjadi boneka kakak tirinya tersebut.
"Ada apa, Adikku Tersayang?" Sophia tersenyum lembut, meski tatapannya tetap tertuju kepada Val yang telah dianggapnya sebagai mangsa yang empuk.
"Kurasa, Tuan Val benar-benar menginginkan agar kekuatan dan pengaruh negara ini tetap tidak tergoyahkan. Mohon untuk tidak menekan Tuan Val hingga seperti itu, Kakak," jawab Alexander, salah satu tangannya yang hanya dapat dilihat oleh Val memberi tanda agar menemuinya kembali pada masa yang akan datang, secara pribadi di luar istana kekaisaran.
"Apakah itu benar, Tuan Val?" Sophia kembali bertanya, menatap penuh penilaian kepada setiap gelagat yang Val tunjukkan.
"Tentu saja... Yang Mulia. Niat tulus saya hanya semata-mata demi keberlangsungan hegemoni Kekaisaran Renacles," jawab Val, berusaha menyembunyikan kegelisahan serta ketakutan dirinya meski tetap terlihat jelas.
"Begitu... Mohon maaf, Tuan Val. Saya turut menyesal telah begitu menekan Anda." Sophia menunduk ringan, menyesali perbuatannya, meski salah satu sudut bibirnya samar terangkat.
"Mohon angkat kepala Anda, Yang Mulia Putri! Penyesalan Anda tidaklah pantas untuk diberikan kepada saya!" Val menjawab panik, berusaha menjaga nyawanya tetap utuh di dalam badan. Dia benar-benar merasa was-was terhadap keselamatannya karena bisa saja keluar dari istana dalam keadaan hanya berupa potongan kepala.
Kepala Sophia kembali terangkat, menampilkan senyuman kepada Val.
"Jika begitu, Tuan Val. Mohon untuk melanjutkan pembicaraan ini di lain waktu," sesal Alexander.
"Baik... terima kasih atas waktu dan kesempatan yang telah Anda berikan kepada saya, Yang Mulia Pangeran Alexander." Val menunduk dalam, "Begitu pula dengan Anda, Yang Mulia Putri Sophia."
"Sampai jumpa di lain waktu, Tuan Val." Sophia memberikan pembebasannya kepada Val, membuat Val menghela napas berat, lega telah dibebaskan dari kandang seekor singa.
Val bangkit, sekali lagi membungkuk dan berpamitan kepada keduanya. Namun, kata-kata Sophia sejenak menghentikan langkah kaki Val, yang telah berada tepat di depan pintu keluar hingga membuatnya sekali lagi merasa takut.
Takut terhadap kemampuan Sophia sebagai seseorang yang memiliki pengaruh serta kekuatan politik yang sangat besar, dan juga terhadap kepribadiannya yang serupa dengan Ares.
"Jangan begitu khawatir, Tuan Val. Karena... nyawa Kaisar Ares telah berada dalam genggaman kami."
...----------------...
Note :
Maaf, selain kesibukanku yang meningkat, moodku menulis juga turun. Lebih dari 15 hari update 2 chapter/hari juga level karya masih tetep sama. Jadi, aku memutuskan untuk update 2/3 chapter per pekan seperti dulu, selain menunggu jumlah pembaca meningkat.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya.
...----------------...