
...—Kota Hauzen, Kekaisaran Arestia—...
...—16 Februari 1239—...
Langit cerah menaungi, aktivitas kota yang menjadi tempat dimana pajak dibebaskan berjalan sibuk seperti biasanya. Berada di dekat garis khatulistiwa dimana matahari akan selalu menyinari, Kota Hauzen menjadi tempat yang sangat cocok untuk kegiatan industri skala besar dimana tidak terdapat musim dingin yang melumpuhkan segala aktivitas perekonomian.
Beberapa hari telah berlalu semenjak Putri Kerajaan Gardom beserta walinya, Leticia el Rodomea, tiba di Ibukota Excelia untuk menerima suaka dari Ares karena kondisi politik dalam negeri Gardom yang kacau.
Tidak berbeda dengan Leticia, dua penerima suaka lainnya, Andres dan Eleanor juga sebenarnya mengalami tekanan pikiran dan mental, meski mereka tidaklah mengatakannya. Ares mengerti bila para penerima suaka—termasuk para bangsawan pengikut mereka—juga memikirkan bagaimana harus membalas budi pada masa yang akan datang.
Berniat untuk meringankan beban mereka, Ares hanya dapat tersenyum ringan dan mengajak para penerima suaka untuk berlibur di kota perdagangan yang kini menjadi pusat hiburan dan komoditas terbesar di seluruh benua barat. Tak hanya itu, sebagai itikad baik, sebenarnya Ares telah mengatakan kepada penerima suaka untuk tidak perlu memikirkan balas budi mengingat kekacauan negara mereka, meski para penerima suaka tidaklah terlalu mempercayai perkataan Ares tersebut.
Cahaya kini telah tampak, perlahan beberapa perahu yang mereka tumpangi terarung keluar dari terowongan kanal. Tidak berbeda dengan ekspresi ceria yang Raze dan Orcian tampakkan, Putri Kerajaan Gardom, Merlin.
Gadis kecil berambut ungu panjang bergelombang tersenyum lebar menunjukkan lesung pipi kecilnya. Ketiganya terlihat seperti anak-anak yang baru merasakan pengalaman pertamanya saat menaiki perahu. Pada awalnya, ketakutan tetap ada. Karena Orcian secara paksa menarik lengan Merlin, dia menangis karena perahu yang bergoyang walau kini Merlin telah terbiasa hingga ketakutannya mereda.
"Aku sempat terpikirkan suatu hal." Memandang punggung tiga anak kecil, Eleanor bertanya lirih. Nadanya tajam, merasa jika perekonomian di kota ini tidaklah berjalan sebagaimana mestinya.
"Apa itu?" tanya Ares kembali, perhatiannya tetap tertuju kepada anak-anaknya sembari memasang senyuman cerah.
"Apa yang kamu gunakan untuk membayar tur ini beberapa saat yang lalu?" Mendengar ucapan Eleanor, Leticia serta Andres segera memalingkan pandangannya.
"Itu benar." Leticia menatap penuh rasa penasaran kepada Ares, "Bukankah itu juga merupakan kertas yang kamu perkenalkan saat itu?"
Sikap manusia itu selalu seperti ini, bukan?
Ares sedikit terperangah. Karena perbedaan posisi yang sangat besar, Leticia kini bertindak merendah, berbeda dengan beberapa bulan lalu saat dirinya bertindak sebagai utusan Ratu Gardom, Florentia. Tidak hanya mendapat suaka, namun bersama dengan Merlin, Leticia juga mendapat pengawalan ksatria elit demi terjaganya keamanan diri mereka dari para pembunuh yang dikirim oleh beberapa faksi politik Gardom yang masih bertikai.
"Itu adalah uang kartal." Ares sejenak menampakkan senyuman penuh arti, "Sebuah sertifikat yang mampu menjadi pengganti koin emas dan perak."
"Hah?!" Andres menjadi sangat terkejut, "Ka—kamu..."
"Ya?" Menatap aneh pada Andres yang segera menutup mulutnya, Ares sedikit mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang ingin dia katakan.
Andres sejenak melirik kepada wanita yang berada tepat di sampingnya dengan sedikit ragu, membuat Eleanor sedikit tidak nyaman.
Eleanor menutup kedua matanya sembari menghela napas kecil, "Sebenarnya, kami sudah memiliki rencana untuk menerbitkan mata uang kami sendiri. Namun, karena kami terbentur beberapa kendala seperti media sertifikat dan penanggungjawab, kami urung untuk merealisasikan hal itu dan menundanya hingga semua kendala dapat terpecahkan."
"Eh? Benarkah?" Ada sedikit ketidakpercayaan dalam balasan Ares karena dia menilai bahwa penerbitan mata uang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, "Terlebih lagi, apakah kamu tidak khawatir mengatakan rencana politikmu kepadaku?"
"Tidak." Eleanor menggeleng ringan, "Setelah kakak dan kedua orang tuaku meninggal, kini aku menggenggam seluruh kekuatan yang dimiliki Lourentz. Lagipula... nyawa kami kini berada dalam genggamanmu. Jika kamu menjual kita, semua rencana kita hanya akan menjadi sampah, bukankah begitu?"
Eleanor menanggapi dengan senyuman ramah, Ares mau tidak mau diharuskan untuk mengubah topik agar suasana kembali menghangat. Namun, keberuntungan tiba kepadanya, seorang anak kecil yang berada di bagian depan kano menunjuk, memberikan wajah senang karena perjalanan mereka akan segera berakhir.
"Ayah! Ada banyak perahu di sana!" ujar Raze dengan mata yang berbinar.
Ares hanya tersenyum menanggapi. Bahkan pada saat orang-orang dewasa membicarakan berbagai topik atau hanya sekedar menikmati pemandangan kota saat berwisata kano, tiga anak tersebut seolah telah berada di dalam dunianya sendiri.
Bukan hanya Ares, bahkan Leticia sangat mengerti apabila Merlin membutuhkan sebuah hiburan. Selama beberapa bulan terakhir hingga untuk masa depannya, dia tidak lagi memiliki orang tua. Leticia harus terus berbohong kepadanya hingga dia mencapai usia dimana setidaknya Merlin dapat sedikit mengontrol emosinya yang masih labil.
Kano mulai merapat, rombongan eksekutif serta tamu negara—yang tentunya berada dalam penyamaran—satu persatu turun dari perahu.
Memandang wanita yang hanya berdiri terdiam dikelilingi beberapa ksatria di sudut dermaga kecil kanal, Ares menghela napas ringan setelah kembali meletakkan Orcian dalam pelukannya.
"Apakah kamu ingin melakukan tur kanal, Sayang?" ujar Ares.
"Hmph." Excel membuang wajah, rasa sebal meliputi benaknya setelah tahu jika Ares meninggalkannya berkeliling kota dengan kano, "Siapa yang ingin?"
Sekali lagi, Ares menghela napas ringan, "Eleanor, Andres, Nona Leticia. Mohon maafkan kami, apakah Anda sekalian berkenan melanjutkan tur kota tanpa adanya kami?" Ares sejenak melirik kepada Merlin dengan Raze yang masih menatap beberapa kano yang terapung. "Kukira, anak-anak juga masih menginginkan untuk melakukannya sekali lagi."
"Baiklah," balas Eleanor.
"Aku tidak keberatan," balas Andres.
"Terima kasih." Ares sejenak menunduk ringan, mengungkapkan rasa syukurnya, "Jika terdapat pertanyaan, tanyakan saja kepada pengawal yang kukirim untuk menyertai kalian. Dan juga... tolong kembalilah ke kastil saat sore hari."
"Oke," balas Andres.
Sedikit rasa iri tercermin dalam pandangan. Setelah menetap di ibukota dan mengetahui bagaimana hubungan dalam keseharian Ares dengan Excel, Eleanor berpikir jika Ares sangatlah berbeda dengan bangsawan pada umumnya.
Menurut kabar yang terdengar, Ares mempersunting Excel agar dia dapat mewarisi tahta Kerajaan Rowling pada masa lampau. Berbanding terbalik, bahkan dapat dikatakan harmonis, keduanya sering melakukan candaan atau sesuatu yang romantis, tidak seperti dua orang yang menikah hanya karena faktor politis semata.
Eleanor dan Andres ditinggalkan dengan beberapa ksatria pengawal serta seorang bangsawan berperingkat rendah sebagai pemandu mereka. Bergerak kembali menyusuri kota di bawah cerahnya sinar mentari, orang-orang di sekitar hanya dapat melihat Andres serta Eleanor sebagai seorang pedagang kaya yang mendapat prioritas dari para ksatria.
Jalanan tampak lengang, meski dapat dikatakan ramai bila dibandingkan dengan sebuah kota kecil.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Eleanor, melihat-lihat suasana kota yang tampak hidup.
"Apa maksudmu?" tanya Andres.
Tepat saat Eleanor hendak menjawab, suara tabuhan disertai alunan violin masuk ke dalam lubang telinga mereka. Langkah keduanya berpaling, menuju dimana sumber suara yang terdengar sangat menyenangkan tersebut berada.
"Apa itu?" tanya Eleanor.
"Jika saya dapat mengungkapkannya... mungkin seperti hiburan untuk umum, Nona." Seorang ksatria tua Arestia yang sedikit berada di belakang Eleanor menjawab sopan.
"Hiburan umum?" ujar Andres.
"Benar..." Tidak lama, rombongan mereka bertemu dengan banyak orang yang berkumpul, seolah mengelilingi sumber suara yang berada di sudut persimpangan jalan.
Tidak hanya para orang-orang kaya, beberapa pekerja juga terlihat menikmati alunan nada. Dengan letak yang sesuai, beberapa orang yang menikmati santapan mereka di kedai-kedai luar ruangan juga menggerakkan ringan kepala mereka, seolah menyesuaikan perubahan ritme musik.
"Ini..." ujar Andres yang sedikit takjub.
"Itu benar, Tuan. Mereka adalah salah satu dari beberapa kelompok musik yang menjadi murid para musikus istana," timpal ksatria penjaga tua.
"Musikus istana? Mengapa Yang Mulia melangkah sejauh itu?" Andres melihat sedikit kebanggaan di atas wajah ksatria tersebut setelah dia bertanya hal tersebut.
"Tentu, karena hal tersebut selaras dengan apa yang diinginkan oleh Yang Mulia. Beliau sangat menginginkan untuk mendirikan kota dimana jarak antar masyarakatnya sangatlah pendek. Baik pemilik usaha besar dan bahkan Tuan Loic yang menjadi Kepala Bank, hingga para pekerja buruh, semua dapat menikmati hal tersebut tanpa terkecuali," timpal ksatria tua.
Eleanor tetap terdiam, sejenak merenung sembari melihat punggung-punggung manusia yang mengelilingi para musikus. Pandangan hidupnya perlahan berubah semenjak dia tinggal sebagai penerima suaka.
Di sisi lain, Ares adalah seorang bangsawan tulen yang memiliki rencana besar yang bahkan dapat dikatakan melibatkan dunia, namun dia juga sangat memikirkan bagaimana orang-orang kecil dapat bertahan hidup. Sebuah sifat yang saling bertolak belakang, tidak hanya untuk Eleanor, namun Andres juga dapat merasakan hal tersebut.
Aku... benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya dia pikirkan.
...----------------...
Note :
Maaf lama tidak update. Sejujurnya, lebih dari 10 hari kemarin aku buntu dengan idenya, masalah klasik saat menulis. Ide besar/jalan cerita sudah ada, namun untuk eksekusi menulis bab & agar tidak keluar jalur itu yang sulit.
Mohon maaf, eps berikutnya aku akan langsung melompat pada sub arc ibukota yang mempertemukan Jeanne dan para petinggi negara, setelah itu invasi ke Kepulauan Selatan yang melibatkan beberapa armada negara besar lainnya.
...----------------...