
...—Kota Perbatasan Heine, Kerajaan Lethiel—...
...—15 Agustus 1238—...
"Selamat datang, Yang Mulia."
Raja Kerajaan Lethiel, Sieg vi Lethiel, menunduk dalam diikuti oleh banyak bangsawan serta ksatria di belakangnya.
Rambut hitam pendek yang terkesan sangat rapi, jubah merah serta pakaian kebesaran raja berwarna putih, sangat mencirikan bahwa dia merupakan seorang pembesar negara, meski wajahnya masih sangat berkesan seperti seorang remaja seusianya, 20 tahun.
Di bawah cahaya mentari pagi, dengan udara sebuah kota kecil yang terasa sangat sejuk karena berada di dataran tinggi, Ares mengerutkan keningnya setelah kedua kakinya menapak di atas tanah, merasa jika sesuatu yang dilakukan Sieg sangatlah berlebihan, "Mengapa kamu menyambutku di tempat ini, Sieg?"
"Kami merasa jika kami harus menyambut Yang Mulia dengan seluruh upaya terbaik kami," jawab Sieg, setelah menegakkan kembali tubuhnya.
Ares menghela napas ringan, tatapannya teralihkan kepada seorang gadis berambut merah gelap panjang ikal yang berdiri tepat di samping Sieg, wajah dewasanya sangat menunjukkan bila dirinya merupakan orang yang dapat diandalkan.
"Lama tidak berjumpa, Putri Charlotte... haruskah kukatakan 'selamat' karena telah menjadi tunangan Raja Sieg?" Ares sedikit mengangkat salah satu sudut bibirnya, mencoba mengatakan sesuatu candaan kepada Putri Kerajaan Mana yang berhasil terpilih menjadi calon istri raja muda tersebut.
Mengingat kembali posisi Sieg yang dahulu tidak memiliki satupun proposal pertunangan yang ditujukan untuknya karena kala itu Kerajaan Lethiel yang dipastikan akan hancur, Ares sedikit merasa lucu setelah mengetahui ratusan proposal pernikahan ditujukan kepada Sieg akibat pengaruh Keluarga Kerajaan Lethiel yang meningkat tajam.
Bukan hanya karena sebagai salah satu keluarga pilar yang mendukung Keluarga Aubert, namun juga karena banyaknya industri baru yang dikembangkan di Wilayah Lethiel seperti kayu dan pertanian hingga pertambangan emas.
"Terima kasih banyak, Yang Mulia. Selain demi kedekatan darah kedua keluarga kami, saya juga merasa beruntung karena telah mendapat pria yang lembut sepertinya." Charlotte sedikit menunduk, melirik Sieg yang tanpa sadar menggaruk belakang kepalanya.
"Ahaha..." Sieg tertawa paksa, merasa canggung dengan topik yang sedang mereka bahas.
Sieg tidak dapat menolak proposal yang diajukan oleh Charlotte. Selain alasan berupa gadis tersebut yang belum sekalipun tersentuh oleh pertunangan, Charlotte adalah putri dari keluarga negara tetangganya, yang juga akan menjadi salah satu titik penting distribusi barang-barang dari Wilayah Lethiel pada masa yang akan datang, selain dari Keluarga Kerajaan Mana yang berkeinginan kuat untuk memiliki pengaruh atas pertambangan emas dengan upaya mereka menikahkan putrinya dengan Sieg.
Mendengar percakapan Kristin dengan beberapa bangsawan yang terdengar semakin keras, menandakan mereka semakin mendekat, Ares menatap Sieg dengan seksama, dari ujung kaki hingga memeriksa ujung rambut hitamnya.
"A—ada apa... Yang Mulia?" Mendapat perhatian Ares, Sieg sangat gugup. Bahkan baginya, jika ditatap oleh Charlotte sangat membuatnya malu. Perasaan Sieg bercampur rasa keanehan jika seorang lelaki seperti Ares menatap penuh penilaian kepadanya.
"Hei, kapan kalian akan menikah?" tanya Ares.
"Um... Sekitar 2 bulan ke depan, Yang Mulia." Charlotte menjawab sopan.
"Ares! Kapan kamu akan kembali ke ibukota?!" Pertanyaan Kristin menyela percakapan Ares dengan Sieg dan Charlotte.
Berbeda dengan Ares yang hanya bersikap biasa, kening Sieg dan Charlotte seketika berkerut. Keduanya menatap tajam kepada Kristin yang mengatakan sesuatu yang bagi mereka sangat tidak pada tempatnya, sangat berkesan tidak hormat.
Tentu, hal tersebut disebabkan keduanya yang tinggal jauh dari Ibukota Excelia, menyebabkan mereka tidak terbiasa dengan sikap yang Kristin tunjukkan kepada Ares.
"Margrave, bukankah seharusnya Anda berbicara dengan lebih sopan kepada Yang Mulia?" Sieg mengungkap keberatannya.
Selain dari hutang budi yang begitu besar kepada Ares di masa lampau, Sieg juga sangat mengidolakannya, yang mana teknik persuasi Ares sangatlah berkesan baginya.
"Hm? Ah." Kristin seolah tersadar terhadap kelalaiannya, tanpa sadar segera menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya.
Tidak mengira bila ia akan bertemu dan disambut secara langsung oleh Sang Raja Lethiel.
"Tidak apa-apa, aku sudah malas meladeninya." Ares berkata malas, "Daripada itu..."
Ares melirik kecil Charlotte. Menilai bahwa gadis tersebut tidak akan mempermasalahkan perkataannya lebih lanjut karena merupakan pernikahan yang didasari oleh politik, Ares memutuskan untuk mengungkap sesuatu yang telah mengganjal di dalam hatinya, "Apakah kamu akan menerima satu atau dua istri lagi di masa depan?"
"Um..." Sieg melirik Charlotte, menemukan gadis tersebut tersenyum penuh arti.
Telah hidup dan tinggal bersama lebih dari setengah tahun terakhir, Sieg mengetahui arti senyuman tersebut. Charlotte tidak akan mempermasalahkan jika Sieg memiliki seorang istri jika memang diperlukan bagi kepentingan rumah dan negaranya di masa depan.
Meskipun begitu, Charlotte tidak akan pernah menyetujui jika alasan tersebut hanyalah untuk bermain-main semata, hingga menyebabkan rumah bangsawan asal dari wanita yang dinikahi Sieg berperilaku seperti "lintah" kepada Keluarga Kerajaan Lethiel, terkhusus kepada Sieg dan Charlotte di masa depan.
Memahami senyuman Charlotte, Ares melangkah lebih jauh, memasuki topik utama, "Menikahlah dengan wanita ini."
Ares menunjuk dengan ibu jari tangan kanannya tepat kepada Kristin, yang kini telah berdiri beberapa langkah dari tempatnya berpijak.
"Eh?!" Tidak hanya Kristin, bahkan Sieg, Charlotte, hingga beberapa bangsawan cukup terkejut dengan kata-kata tersebut.
"Satu, kudengar, kau selalu menolak semua proposal yang tertuju kepadamu." Ares mengangkat jari telunjuknya, menggambarkan angka satu kepada Kristin agar ia dapat melihatnya dengan jelas.
"Ta—tapi—" Kristin berusaha mengelak, namun Ares tetap melanjutkan perkataannya dengan mengangkat jari tengahnya.
"Dua, bukankah kamu ingin menikahi seorang pria yang lebih baik dariku?" ungkap Ares.
"Guh!" Kristin merasa kalah.
"Eh?!"
"Mustahil!"
"Luar biasa..."
Suara-suara kagum, terkejut, hingga tidak percaya segera terdengar dari para bangsawan.
"Margrave, apakah itu benar?!" Tidak hanya mereka, bahkan Charlotte mempertanyakan kewarasan Kristin.
Kristin hanya dapat menunduk malu dengan wajah merah, terdiam tidak dapat menjawab.
Ares mengangkat jari manis, sebuah senyuman masam pun terukir di atas wajahnya, "Tiga, usiamu hampir mencapai dua pulu—"
"Stop! Stop! Ak—aku menyerah! Tolong jangan katakan itu, Yang Muliaaa!" Kristin merasa sangat malu. Mendengar kata-kata Ares, Kristin segera menyela dan memandang Sang Kaisar dengan wajah hendak menangis.
Sebagai tanggapan, Ares melukiskan senyuman masam, ia bertanya-tanya apa yang akan terjadi bila julukan "perawan tua" terucap dari mulutnya.
"Ak—aku pasti akan memikirkannya dengan baik, jadi tolong jangan mendesakku lagi!" Kristin membungkuk dalam kepada Ares serta Sieg dan Charlotte yang menatap heran kepadanya, "Mohon maaf! Permisi!"
Berlari panik, Kristin kembali memasuki gerbong pribadinya dan menutup pintunya dengan kencang, tidak mengizinkan siapapun berinteraksi dengannya karena sangat malu.
Memandang Kristin yang baru saja menutup pintu gerbong kereta kudanya dengan kencang, Ares kembali memberi perhatian kepada Sieg, "Bagaimana menurutmu?"
"Um..." Sieg kesulitan menjawab.
"Permintaan maaf terdalam saya, Yang Mulia. Izinkan saya untuk memberi sedikit pertimbangan mengenai sesuatu yang saya khawatirkan," ungkap Charlotte, sedikit merasa tidak setuju apabila Kristin menjadi istri kedua Sieg.
"Ya, silakan." Ares mempersilakan.
"Mengingat pengaruh yang dimiliki beliau, jika Margrave menjadi istri kedua calon suami saya, mungkin saja terjadi perebutan tahta yang sangat tidak diinginkan di kemudian hari," timpal Charlotte.
"Oh, benar..." Ares berpura-pura teringat akan ancaman tersebut. Segera, sebuah senyuman penuh arti pun terukir di atas wajahnya, "Tapi... mungkin saja... sesuatu yang tidak diinginkan juga dapat terjadi di Kota Ernee dan Ugwien, kamu tahu?"
"Eh?!" Tersadar, sejenak ekspresi Charlotte menunjukkan kekosongan.
Kota Ernee serta Kota Ugwien, dua kota di pesisir pantai Kerajaan Mana yang di dalamnya sedang terjadi pembangunan pelabuhan besar.
Mengingat lokasinya yang strategis, Ares memberikan dana demi peningkatan ekonomi Kerajaan Mana untuk membangun infrastruktur dan memperluas lahan pertanian di negara tersebut.
Tentu, suntikan dana berasal dari kantung Ares yang bersumber dari dana para pedagang. Besar kemungkinan apabila Ares akan mencabut dana tersebut jika Charlotte mengatakan sesuatu yang dapat menyinggungnya.
"Um... baik... Mohon maaf... Yang Mulia." Charlotte tertunduk lemas. Sieg hanya dapat melirik khawatir kepadanya karena ia tidak mungkin membela tunangannya dan melawan Sang Kaisar.
Sejenak, Ares terkikik, melanjutkan perkataannya dengan menenangkan Charlotte, "Tidak perlu khawatir. Jika kamu tahu, rumah Kristin, House of Ginnes, hanya tersisa satu orang saja. Karenanya, setidaknya aku ingin dia memiliki empat pewaris demi keamanan rumahnya."
"Um... Mohon maaf... Yang Mulia." Rasa bersalah menyelimuti benak Sieg dan Charlotte, menyebabkan keduanya sekali lagi menunduk, mengungkapkan penyesalannya.
Ares hanya mengangguk kecil, senyuman lembut terukir sebagai tanda ia memaafkan keduanya. Sekali lagi, wajah Ares kembali terarah kepada gerbong Kristin, yang masih terkunci rapat dengan beberapa ksatria wanita yang telah berdiri di sekitar, mengetuk penuh kekhawatiran kepadanya.
Berubah menjadi lesu, Ares berharap setidaknya Kristin dapat segera menemukan pasangan hidupnya agar keamanan Arestia dapat terjamin hingga puluhan tahun ke depan.
Cepatlah menikah, gadis merepotkan.
...----------------...