Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 28 : Kekhawatiran, part 1



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—26 Agustus 1238—...


"Pantas."


Hanya satu kata yang dapat terucap dari kedua bibir Ares saat memandang gulungan perkamen yang merupakan pesan Ratu Kerajaan Gardom, Florentia.


Ares mengerti ketidakstabilan mental Excel jika menyangkut anak-anaknya, akibat dari masa lalu kelamnya. Bahkan, Ares sedikit bingung bagaimana dia harus meyakinkan Excel jika pernikahan politik merupakan sebuah kewajaran.


Ares tentu tidaklah menganggap anak-anaknya hanya sebagai alat semata. Keinginan kuat agar semua anak-anaknya dapat menempuh hidup seperti apa yang mereka sendiri inginkan merupakan harapan besar bagi Ares, yang merupakan seseorang yang telah hidup di era modern.


Sebagai anggota royalti, pasti ada saat-saat dimana dia diharuskan memilih sebuah pilihan yang menyangkut masa depan negaranya.


Namun, setelah mencermati isi surat yang dikirimkan oleh Florentia, pihak lain dalam tulisannya sangatlah menganggap jika "anak" hanyalah alat.


Tercermin dari beberapa poin penawaran kerjasama sebelum poin "pertunangan." Kerjasama membangun pos-pos militer di sepanjang selat yang membatasi antara Kerajaan Gardom dan Kekaisaran Arestia dengan Republik Ecasia, lintas perdagangan dimana menjadikan Gardom sebagai titik utama distribusi dengan timbal balik bea cukai yang murah, hingga sebuah kesepakatan militer dimana kedua negara saling memberikan bantuan apabila peperangan yang melibatkan salah satu negara tersebut terjadi.


"Bagaimana tanggapan Anda, Yang Mulia?" Duduk berhadap-hadapan dengannya, Warren menampilkan raut wajah serius, tidak sekalipun menganggap jika permasalahan yang menimpanya hanyalah sebuah masalah sepele.


Ares meletakkan kembali gulungan perkamen di atas meja sembari merebahkan tubuhnya. Sejenak memejamkan kedua matanya, Ares menghela napas berat.


"Bukankah kalian membuat jadwalku semakin padat?" Ares tersenyum masam, namun tatapannya terasa menusuk.


"Ini ulah Pak Tua Joergen! Bukan salahku!" Warren membela diri, raut wajahnya terlihat panik.


"Tidak apa-apa. Pilihan Marquis Kolvich kurasa sudah tepat." Ares beranjak dari kursinya, melangkah menuju jendela yang menampilkan pemandangan luas Ibukota Excelia dari tempat tinggi.


Suasana langit cerah, terasa sedikit panas akibat sinar terik mentari. Aktivitas-aktivitas perekonomian serta banyak orang yang berlalu lalang juga dapat Ares lihat dari tempatnya berpijak.


"Hei, Warren." Ares memanggil, nadanya terdengar sepi.


"Ada apa, Yang Mulia?" timpal Warren, merasa heran dengan alasan teman sekelasnya dahulu yang secara tiba-tiba mengubah suasana percakapan mereka.


"Apa arti Clarice bagimu secara pribadi?" Ares bergumam, tatapannya yang memandang ibukota terasa sepi.


"Mengapa Anda bertanya kepadaku tentang hal itu?" Warren mencoba berkelit.


"Jawab saja," timpal Ares cepat.


"Mungkin..." Warren merebahkan dirinya di atas sandaran kursi, tatapannya tertuju kepada langit-langit kantor pribadi Ares yang tidak terdapat siapapun selain mereka berdua di dalamnya, "Penerus?"


Senyuman masam terukir. Ares mengerti jika Warren tidaklah memahami arti dari pertanyaannya. Meskipun begitu, Ares tidak melanjutkan arah percakapannya.


"Sejujurnya, aku bingung bagaimana harus menghadapi Excel di masa depan. Bukannya aku menganggap anak-anakku sebagai alat politik, namun aku juga memahami jika para penerusku kemungkinan besar dapat memiliki sebuah pernikahan politik..." ungkap Ares.


Warren sejenak termenung. Bahkan bagi Warren, setelah melihat perilaku Excel beberapa hari yang lalu, dia merasa sulit untuk mengutarakan niatnya yang juga ingin menikahkan putrinya, Clarice, dengan Pangeran Pertama, Raze.


Terlebih, terdapat sebuah janji tak tertulis dimana Kaisar dan keturunannya pasti akan mengangkat House of Francois menjadi keluarga berpangkat Duke atau Archduke pada masa yang akan datang.


"Mengapa tidak mencoba mendekatkan pasangan anakmu secara natural sehingga mereka dapat saling menyukai?" Warren mencoba memberikan saran, yang segera dibalas dengan jawaban yang sangat menohok.


"Oh, sesuatu seperti halnya yang dilakukan Clarice yang sering bermain dengan Raze?" Menatap kembali kepada Warren, Ares menampilkan sebuah senyuman masam.


"Ba—bagaimana bisa—"


"Aku mengetahuinya?" Ares menyela kata-kata Warren dengan melengkapi kalimatnya, "Mudah saja, gerak-gerikmu dan Ann yang sangat cepat cukup mudah terbaca, kamu tahu?"


Kedutan pun tampak pada salah satu kelopak mata Warren. Dia tidak pernah menyangka bila Ares—yang diketahui hampir tidak pernah keluar dari kantornya dan bermain serta mencermati tindakan anak-anaknya, dapat mengetahuinya.


"Yah, aku tidak keberatan jika kamu melakukannya bahkan saat anakku masih berumur 2 tahun." Ares meringankan suasana, "Lagipula, kita sudah berniat untuk mengangkat peringkat rumahmu."


"Ah, sebentar. Apa kamu ingin menemaniku ke Kota Hauzen untuk meresmikan Guild Pedagang?" tanya Ares, wajahnya terlihat memohon.


"Tidak. Pekerjaanku sangat banyak." Warren membalas cepat, nadanya terdengar sangat malas, "Dan juga, bukankah Anda memerintahkanku untuk menyederhanakan mekanisme belanja negara?"


"Hehe."


"Jangan malah berkata 'hehe.'" Dengan malas, Warren membalas sebal sembari bangkit, sejenak menunduk dalam sebagai penghormatan kepada Ares, "Ah, benar. Ann ingin bertemu secara pribadi."


"Hm? Ada apa?" timpal Ares, sedikit merasa bingung.


"Tidak tahu." Warren mengangkat kedua bahunya.


"Begitukah? Yah, katakan padanya jika aku akan menunggunya di sini," timpal Ares.


"Terima kasih." Warren sekali lagi menunduk, meninggalkan ruangan dan kembali menuju kantornya yang memiliki banyak tumpukan perkamen.


Memandang pintu di hadapannya yang baru saja tertutup, Ares menghela napas ringan, "Anak muda memang harus dimanfaatkan."


Terbesit pikiran-pikiran yang sangat kental akan praktik kolonialisme di dalam pikirannya membuat Ares sejenak termenung, "Hmm... Haruskah aku membuka rekrutmen magang di istana bagi para siswa akademi? Jika tidak salah... Joergen mengatakan sesuatu untuk menambah pengalaman untuk para siswa kemarin..."


Jika dipikirkan kembali, bukankah era modern lebih kental praktik kolonialisme dibandingkan dengan era abad pertengahan?


Jika itu berada pada abad ini, aku hanya dapat mengambil anak-anak para bangsawan dan ksatria karena mereka memiliki kedudukan sosial yang tinggi.


Jika itu di era modern, itu sudah tidak dapat terbendung lagi.


Memikirkan berbagai hal aneh sembari menyelesaikan pekerjaannya, matahari semakin meninggi, tanda bila pekerjaan Ares sangatlah banyak, terlebih ia baru saja meninggalkannya dalam waktu beberapa pekan hingga terdapat banyak perkamen yang menggunung saat Ares memasuki kantor pribadinya.


Tok.


Tok.


"Yang Mulia, Nyonya Ann telah berada di sini." Salah satu ksatria pengawal Ares—yang bertugas untuk menjaga pintu di luar ruangan—mengetuk, melaporkan keberadaan Ann.


"Masuk," timpal Ares.


Cklik.


Pintu terbuka, tatapan mata Ares tertuju kepada sosok wanita berpenampilan dewasa berambut coklat panjang yang sangat mencirikan sosok ibu.


Namun, kerutan besar tampak di atas kening Ares karena adanya keberadaan gadis berwajah bulat berusia sekitar 15 tahun yang memiliki rambut coklat gelap pendek yang berada tepat di belakang Ann.


"Terima kasih karena telah menerima permintaan kami, Yang Mulia." Diikuti oleh gadis di belakangnya, Ann menunduk dalam.


"Duduklah di situ." Sembari menunjuk, Ares bangkit, menuju dua sofa yang saling berhadap-hadapan dengan sebuah meja yang berada diantaranya.


"Terima kasih, Yang Mulia," timpal Ann, mengikuti Ares.


Ares duduk berhadap-hadapan dengan Ann serta gadis yang sebelumnya berada di belakangnya setelah menyelesaikan sapaan formal.


"Yang Mulia, perkenalkan, dia adalah adik kandung saya yang masih berada di rumah Count, Fiona von Reckless." Mengikuti kata-kata Ann yang memperkenalkan dirinya, Fiona sekali lagi menunduk.


Berwajah keruh, Ares tidak mengerti apa yang diinginkan oleh istri Warren sekaligus teman dekatnya di Akademi dahulu. Terlebih, dengan banyak pekerjaannya yang masih menumpuk, Ares berniat untuk menyelesaikan pembicaraan ini dengan cepat.


Jika Ann ingin membuat saudara perempuannya menjadi istriku, ayo tolak secara langsung.


...----------------...