Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 51 : Pijakan



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—16 Januari 1239—...


"Elaina."


Udara terasa sengit, nama gadis yang baru saja Ares lontarkan membuat Duke Alein dan Nevia mengubah tajam wajah mereka.


"Mengapa kalian menyembunyikannya?" Begitu pula dengan Ares, terlihat tajam karena merasa kesal dengan dua orang yang duduk tepat berhadapan dengannya.


Sebenarnya, Ares telah mengerti, laporan badan intelejen kekaisaran telah dia cermati. Namun, Ares tetap menunggu, berusaha agar tidak menggores kebanggaan intelejen House of Alein dengan bertanya alasan Duke dan Nevia menyembunyikan putri kandung mereka.


Dua tahun telah berlalu semenjak Nevia, mantan Ratu Kedua Kerajaan Rowling, telah melahirkan bayi perempuan hasil hubungannya dengan saudara tirinya, Duke Alein.


Takdir berkata lain, anak yang seharusnya terlahir sehat, harus memiliki kelainan fisik berupa kaki kiri yang tidak tumbuh memanjang, namun bengkok ke arah lain, selain dari bobot kelahiran Elaina yang terbilang sangat rendah, hanya 1800 gram.


Seharusnya, para bangsawan mengumumkan kelahiran anak-anak mereka kepada istana serta para bangsawan lain, selain dari pesta perkenalan mereka pada saat usia 5 tahun dan pesta kedewasaan mereka pada usia 15 tahun, yang ditujukan agar para bangsawan mengerti bila keluarga tersebut telah memiliki seorang pewaris.


Namun, Duke dan mantan ratu tidaklah melakukannya. Mereka takut jika Elaina menjadi bahan gunjingan di tengah kalangan bangsawan. Keduanya tentu telah mengerti bagaimana beracunnya kehidupan sosial seorang bangsawan, baik di negara manapun.


Berbagai praktik pengobatan telah mereka lakukan, begitupun dengan obat-obatan juga telah keduanya cari. Dari Republik Ecasia yang terkenal dengan tanaman obatnya yang lengkap serta ilmu kedokterannya yang tinggi, hingga menuju kepulauan selatan yang dikenal sebagai surganya barang-barang ilegal.


Harapan itu harus sirna, tidak ada satupun diantara semua usaha mereka yang memberi efek kepada kelainan fisik sejak lahir. Akibatnya, Duke serta Nevia memutuskan untuk diam, perlahan bergerak mundur dan tidak menunjukkan diri di tengah persaingan politik ibukota, walau negara secara mutlak masih berada di bawah pengaruh Ares.


Tentu, Ares telah merasakan keanehan pasangan di hadapannya sejak lama. Dia memerintahkan Lean dan Kepala Biro Intelejen Eina untuk mencari berbagai informasi mengenai Duke Alein dan istrinya. Meskipun begitu, demi menjaga kehormatan dan kebanggaan rumah Alein, Ares hanya meminta informasi mengenai nama serta jenis kelamin dari anak Sang Duke.


Jika Ares berkehendak, dia dapat mengetahui garis besar dari semua problematika yang sedang menimpa pasangan di hadapannya.


Hanya suasana hening yang Ares terima sebagai balasan. Duke Alein dan Nevia menunjukkan wajah sulit, salah satu tangan Nevia juga terlihat mengepal.


Kejengkelan karena Ares telah mengintip informasi tersembunyi tentulah ada, namun kesedihan jika rahasia keduanya bocor lebih mengena di dalam benak Duke. Dia benar-benar tidak menginginkan apabila putrinya, Elaina, menjalani kehidupan sosial yang pahit.


"Aku, Ares I, Kaisar Arestia saat ini, mengeluarkan dekrit untuk Redelion von Alein, Nevia von Alein, dan diriku sendiri, Ares Aubert, agar bungkam mengenai apapun yang terjadi di dalam ruangan ini." Ares memberi ketentraman hati kepada keduanya.


Duke Alein merasa lega, namun dengan segera, dia kembali tertunduk, menyesali sesuatu yang pernah Ares katakan kepadanya, "Apakah Anda telah meramalkan ini sebelumnya?"


"Lebih tepatnya, memprediksikan, karena peluang anak kalian terlahir cacat sangatlah tinggi. Meskipun aku sangat bersyukur karena dalam dua tahun ini, putri kalian dapat bertahan," jawab Ares, merebahkan punggungnya di atas sandaran sofa mewahnya.


"Apakah ini... karena faktor orang tua seperti yang tabib itu katakan?" Nevia tertunduk, nadanya terdengar lirih, namun Ares dapat mendengarnya dengan seksama.


Tabib?


Siapa?


"Tepat," ujar Ares cepat, meski di dalam benak dia bertanya-tanya mengenai arti dari kata-kata Nevia.


"La—lalu, apakah Anda mengetahui bagaimana cara agar kami—"


"Tidak ada obatnya, dia akan berada dalam kondisi itu seumur hidupnya." Ares menyela kata-kata Duke Alein dengan tegas, mematahkan harapannya agar Duke dan Nevia tidak menyia-nyiakan diri mereka sendiri.


"Nevia!" Duke mencoba memperingatkan gerakan yang secara tiba-tiba dilakukan oleh istrinya, namun tidak sedikitpun diindahkan.


Nevia bangkit, tanpa sadar menodongkan telunjuk tangan kanannya kepada Area dengan penuh amarah, "Jika kamu sudah mengetahui ini, kenapa kamu tidak bisa melakukan apapun?! Bukankah kamu adalah seorang kaisar?!"


Perlahan, bulir air mata menetes dari salah satu sudut mata Nevia. Teringat kembali dengan permohonan putrinya yang benar-benar menginginkan kesembuhan, "Aku—aku—aku sudah mencari kemanapun! Tapi mereka berbohong dan mengatakan bahwa itu mustahil!"


Ares hanya dapat terdiam, memejamkan kedua matanya saat dia terbaring pada sandaran sofa. Ada keinginan untuk mengatakan, "Kenapa kau menyeret orang lain ke dalam masalah kalian sendiri?" namun Ares memilih untuk tidak melakukannya.


Dia merasa bahwa hal itu seperti menuang minyak ke dalam bara api, sesuatu yang sia-sia untuk dilakukan.


Dari reaksi keras Nevia, Ares menilai bahwa kecacatan fisik bukanlah sesuatu yang hanya dialami oleh putri mereka. Jika itu hanya sesuatu yang tidak membuat anak mereka berbeda dari anak-anak lain, Nevia tidak akan bereaksi sekeras itu.


Bahkan jika kita berada di era modern, tidak ada hal yang dapat kamu lakukan, tahu.


Nevia terjatuh, terduduk kembali di atas kursinya dengan lelah sembari menutup kedua matanya dengan lengan kanannya.


"Aku hanya dapat memberi perlindungan dan tabib eksklusif kepada Elaina von Alein, serta pengurangan pajak atas Wilayah Alein untuk pengobatannya, tidak ada yang bisa kulakukan selain dari itu." Penyesalan Ares terlukis dalam lontaran nadanya.


"Mengapa..." Nevia menunjukkan reaksi lemah, impian dimana putrinya tumbuh normal seolah sirna.


"Karena aku adalah seorang penguasa, aku sama sekali tidak memiliki kapasitas untuk berbicara mengenai sesuatu yang bahkan tabib telah memvonis hal itu." Kata-kata Ares semakin membuat Nevia tertunduk lemah.


Situasi semakin bergerak ke arah yang tidak ia inginkan, Ares berniat untuk memutus topik, "Selain itu, Duke, aku sangat yakin kamu mengetahui alasan mengapa aku memanggil kalian berdua ke istana."


"Apakah itu adalah informasi mengenai perjalanan kami?" tanya Duke Alein.


"Ya, aku hanya dapat membayar harga informasi tersebut dengan apa yang aku janjikan kepada kalian," jawab Ares.


Mengheningkan Nevia yang terisak, Duke menutup kedua matanya, mempertimbangkan apa yang baik untuk putrinya, "Keadaan politik kepulauan selatan sedang bersitegang. Jika Anda belum mengetahuinya, masing-masing pulau dipimpin oleh seorang patriak. Meskipun dari luar, angkatan laut mereka terlihat sangat kuat dan kokoh, namun tidak demikian bila Anda melihat kedalamannya."


Sesuai dengan perkiraanku, perang dunia semakin dekat.


Tapi, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kepulauan selatan karena saat aku masih bermain, mereka sudah dihancurkan oleh Alven saat aku menyerang Kerajaan Gardom...


"Apa yang terjadi?" Ares bertanya, menekankan nadanya hingga terdengar serius.


"Renacles dan Alven telah memasukkan tangannya ke dalam. Saya yakin, Anda telah mengetahuinya, pasukan gabungan kepulauan selatan hanya akan terbentuk bila keamanan negara mereka terintervensi. Namun, Renacles dan Alven telah hadir sejak ratusan tahun lalu, mereka telah mengikat perjanjian dengan para penguasa lokal melalui perdagangan..."


Duke sejenak menghentikan kata-katanya, memincingkan kedua matanya kepada Ares, "Kukira, Anda tahu bagaimana politik adu domba dijalankan, bukan?"


Duke menjadi sedikit sebal, teringat kembali dengan kehancuran Kerajaan Rowling yang disebabkan oleh politik adu domba Ares kepada para pangeran, yang tentu saja Duke Alein dan Nevia juga tidak luput menjadi korban dari kejadian tersebut.


"Begitu," timpal Ares ringan, salah satu sudut mulutnya terangkat.


"Satu pertanyaan." Duke membuat wajah serius.


"Apa itu?" tanya Ares.


"Saat ini, saya telah mengetahui bagaimana rasa sakitnya saat melihat putri yang benar-benar saya cintai menderita," ujar Duke Alein, memperhatikan setiap reaksi yang Ares tunjukkan.


"Lalu?" Ares terlihat tidak acuh, meski Duke sangat sadar apabila Ares bukanlah seperti bangsawan pada umumnya yang menelantarkan anak-anaknya, Duke benar-benar terkagum dengan pemuda di hadapannya yang menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik.


"Saya juga telah mengetahui kabar mengenai anak-anak serta para gundik dan selir Anda yang telah tewas terbunuh..." Duke sejenak menahan, namun Ares tetap berekspresi datar, membuat Duke Alein kembali melanjutkan kata-katanya, "Kemana Anda akan membawa negara ini dalam satu tahun ke depan?"


"Kepulauan selatan." Tidak hanya Duke, bahkan Nevia juga terlihat bingung. Keduanya menilai bila urgensi Gardom-Ecasia dan pembalasan pembunuhan Renacles haruslah diprioritaskan terlebih dahulu.


"Mengapa?" Dengan wajah yang berbekas air mata, Nevia mengungkap kebingungannya.


Ares memberi tatapan kuat kepada dua orang di hadapannya, memunculkan aura kebesaran yang hanya dimiliki oleh seorang kepala negara, "Karena aku membutuhkan pijakan, basis yang akan menjadi pangkalan militer terbesarku di masa depan."


Duke mengingat kembali kondisi geografis Republik Ecasia. Sebelum tiba di kepulauan selatan, semua rute pelayaran akan mengarah kepada Ecasia terlebih dahulu. Namun, dengan Keluarga Lourentz serta Levene yang berada di pihak Ares—karena wilayah mereka yang berada di sisi selatan pulau—Ares dapat dengan mudah mengirimkan ratusan armadanya.


"Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, Duke, semua rencana yang akan kulakukan telah kususun dengan rapi." Ares menunjukkan senyuman, terasa lembut dan hangat.


Akan tetapi, Duke tidaklah mempercayai figur yang Ares tunjukkan. Dendam sedikit terasa dari nada yang terlontar, tidak mungkin Ares—yang hanyalah seorang manusia biasa—akan diam saat mengetahui anak yang benar-benar dia cintai tewas terbunuh.


"Jika begitu, kami akan memberikan semua detail informasi mengenai perjalanan yang telah kami lalui." Duke memberikan persetujuannya.


Tidak hanya Duke Alein, bahkan Nevia merasa takut dengan kegelapan yang samar terpancar dari senyuman Ares. Keduanya hanya dapat mengharap agar kata-kata yang Ares lontarkan tidak meleset dari apa yang telah dia perkirakan sebelumnya.


...----------------...