Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 48 : Rage – Arc 3 <End>



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—1 Januari 1239—...


"Ayah, sampai kapan mama akan pergi?"


Sekali lagi, suara polos seorang gadis kecil yang kini berada dalam pelukan Ares menusuk kedua gendang telinganya. Hatinya tercabik-cabik, Ares berusaha menahan agar kedua matanya sekali lagi tidak menumpahkan sedikitpun air mata.


Sejenak menghirup udara sejuk dari angin yang berhembus, Ares menampakkan sebuah senyuman, berusaha terlihat tetap tegar di hadapan putrinya.


"Sampai urusannya selesai, Wilma." Kata-kata Ares menyebabkan Wilma membuat wajah kuyu, seolah akan menangis karena beberapa anggapan buruk menghantui pikirannya.


"Apakah mama tidak segera pulang karena membenci Wilma, Ayah?" Wilma tidak sedikitpun mempedulikan orang-orang yang berada di sekitarnya, hanya terfokus pada ayahnya, sangat berharap jika Ares memberinya jawaban yang sangat ia nantikan.


"Tidak... mama sangat menyayangimu. Begitu juga dengan ayah." Ares memeluk erat Wilma, menutupi wajahnya di dalam dekapannya.


Semua orang yang mendengar tahu, nada Ares sedikit bergetar pada awalnya, yang segera berubah seperti biasanya, bak seseorang yang tidak memiliki masalah apapun sebelumnya.


"Ta—"


"Wilma... mama pasti akan pulang... Maka dari itu... jadilah anak yang baik agar mama cepat kembali..." ujar Ares, sedikit menyederhanakan nadanya agar Wilma dapat mengerti.


"Ayah janji?" tanya Wilma, ekspresi wajahnya menunjukkan harapan besar.


Dengan perasaan yang sulit, meski dengan hati yang tengah tercabik-cabik, Ares tetap menampakkan senyuman ketenangan, membelai ubun-ubun putrinya dengan penuh kasih sayang, "Ayah... berjanji."


Wilma memberikan kelingkingnya, janji yang Ares lakukan dengan anak-anaknya. Saling menautkan jemari kelingking, Wilma segera memberikan wajah riang, "Yeay!"


Merasakan pendekatan seorang pelayan—yang dikarenakan memahami hati tuannya yang terluka—Ares membuat wajah lembut, "Jadilah anak yang baik, ayah akan bermain denganmu nanti."


"Booo!" Wilma memberikan wajah mengejek saat Ares menyerahkannya kepada pelayan wanita yang mendatanginya, hanya sebuah senyuman kecut yang dapat Ares lukiskan sebagai balasan kepada putrinya yang kini tidak lagi memiliki seorang ibu kandung.


Lebih dari sepuluh hari telah berlalu semenjak bencana besar melanda ibukota kekaisaran. Kepada dua sepupunya yang berasal dari Republik Ecasia—Eleanor dan Andres—serta Leticia dan pengikut setia Sang Ratu Gardom, Ares memberikan suaka demi terjaminnya keselamatan mereka.


Para loyalis Florentia yang berada di Ibukota Gardom telah dikirimkan surat cepat oleh Leticia, memberitakan bahwa Berto, Marquis Nozo, telah melakukan pemberontakan serta perintah untuk membawa putri semata wayang Sang Ratu sekaligus Putri Mahkota Kerajaan Gardom menuju kekaisaran demi keselamatannya.


Namun, tidak ada diantara mereka yang tidak terkejut disaat mereka tiba di Ibukota Excelia. Ratusan bangunan hancur lebur, kantor-kantor pemerintahan juga hampir tidak berbeda dengannya, seolah ibukota baru saja ditimpa gempa yang sangat dahsyat.


Memandang ibukota dari salah satu balkon besar istana, Ares hanya diam termenung, tidak mengerti apa yang harus dirinya lakukan untuk saat ini. Tidak menampik, perasaannya dipenuhi dendam, amarah yang begitu besar serta memiliki ambisi untuk membalas Sang Putri Kekaisaran Renacles, Sophia.


Meskipun begitu, Ares sangat mengerti, dia tidak dapat bertindak gegabah, karena bisa saja anggota keluarganya yang lain juga turut menjadi korban.


Tidak hanya Milly, gundik Ares beserta anaknya yang lain, Amalia dan Lia; serta Ody dan Leon, juga telah ditemukan tewas terbunuh. Dia benar-benar sangat tidak menginginkan apabila seorang saja dari anggota keluarganya sekali lagi pergi meninggalkannya.


"Yang Mulia." Dari balik punggung, Eleanor berjalan mendekat, berhenti tepat beberapa langkah dari Ares yang berdiri di pinggiran balkon.


Ares tidak sedikitpun bergeming, Eleanor tidak mendapatkan jawaban hingga beberapa saat, membuat dia melanjutkan perkataannya karena menilai diamnya Ares sebagai kesediaannya untuk mendengar.


Eleanor tidak mengatakan hal tersebut tanpa adanya dasar. Meski dia tidak menampik adanya cinta dan kasih sayang kepada keluarga, sebagai seorang penguasa, Eleanor menilai Ares secara berlebihan menyayangi keluarganya, yang seharusnya tidak sepatutnya dilakukan seorang kaisar yang memiliki kekuasaan besar.


Udara sejuk pagi seketika memanas, namun tidak ada seorangpun yang tidak merasa kebingungan setelah mendengar balasan Ares terhadap kata-kata Eleanor.


"Aku tidak akan menyangkalnya." Ares tersenyum masam, sejenak memandangi ibukota yang sedang berada dalam revitalisasi dan segera berbalik untuk saling berhadapan dengan sepupu perempuannya tersebut.


"Hanya sebuah kata dari seseorang yang mengenakan mahkota... dapat mengorbankan hingga jutaan nyawa manusia. Hanya sebuah kata dari seseorang yang mengenakan mahkota... dapat menyebabkan jutaan manusia merasakan kepedihan dan penderitaan." Sejenak, Ares terdiam, menunggu respon dari siapa saja yang hendak menyangkalnya.


Suasana tetap hening, begitupula dengan Eleanor, tidak ada seorangpun yang merespon, menunggu Ares untuk melanjutkan perkataannya, "Bagaimana mungkin sebuah besi tua yang berkarat dapat memiliki kekuatan sebesar itu?"


Ada rasa ketidaksetujuan, beberapa orang mulai menunjukkan ekspresi penyangkalannya. Saat Eleanor hendak membuka mulutnya, Ares kembali berucap, berniat untuk segera membungkamnya, "Jadi, mana yang akan kamu pilih?"


"Apa yang kamu maksud, Yang Mulia?" tanya Eleanor.


"Apakah kamu benar-benar ingin menjadi seorang raja? Ataukah hanya boneka yang tunduk patuh kepada sebuah besi tua di atas kepalanya?" Ares perlahan berbalik, kembali menatap langit ibukota tanpa sedikitpun mengacuhkan orang-orang di belakangnya, "Apakah menurutmu jika aku menginginkan sebuah keluarga selayaknya keluarga biasa... adalah kesalahan?"


Eleanor menggigit bibirnya, beberapa bangsawan yang masuk ke dalam jajaran tinggi birokrasi kekaisaran pun hanya tertunduk, tidak ada seorangpun yang dapat membalas pertanyaan yang Ares lontarkan. Meskipun pada kenyataannya kehidupan berjalan demikian, namun mereka tahu, itu adalah sesuatu yang tidak benar, hati nurani mereka akan menyangkal jika mereka menyetujui pertanyaan tersebut.


Kicauan burung-burung terdengar beriringan, menghiasi langit cerah serta sejuknya udara pagi. Menghirup napas dalam, sedikit ketenangan hati dapat Ares rasakan.


"Apakah diantara kalian... ada yang pernah mendengar tentang istilah kuno 'Mainland' dan 'Overland'?" tanya Ares.


"'Mainland,' daratan yang menjadi kekuasaan pusat Kekaisaran Suci Regulus, sedangkan 'Overland' adalah tanah kekuasaan mereka yang berada di seberang laut..." Mendapati Ares kembali berbalik dengan sebuah senyuman, Ann, istri Warren, seketika membuka lebar kedua matanya, "Jangan katakan..."


"Ya, aku menginginkan 'Overland' untuk negara ini. Tidak hanya Daratan Eora yang dikuasai oleh Ecasia, namun hingga ujung dunia dimana Kekaisaran Renacles berada."


Udara bergetar, beberapa ksatria yang mengabdi kepada Ares sejak dirinya hanyalah seorang Earl, hingga Warren, Sang Perdana Menteri, dapat merasakan gairah serta ambisi luar biasa yang tercermin dari kata-katanya.


Ketakutan atas ambisi, amarah serta dendam atas pembalasan, semua bercampur aduk di satu tempat.


Pesan tersirat berhasil tersampaikan, membuat Eleanor kini mengerti. Tindakannya yang selama ini hanya bermain di balik punggung kedua orang tuanya tidaklah dapat dibandingkan dengan sepupu yang berdiri tepat di hadapannya.


Angin kembali berhembus dengan membawa beberapa hijaunya daun kecil. Memandang ke arah langit, Ares mengepalkan tangan kanannya, menguatkan kembali tekadnya demi terbalasnya dendam atas perbuatan salah satu lawan terakhirnya di dalam permainan.


Aku akan menunggumu di medan perang, Sophia.


...----------------...


Note :


Arc ketiga, "Perang Dagang : Cinta dan Kekuasaan" akhirnya berakhir! Setelah satu chapter interlude, satu chapter Extra, dan satu intermission, kita akan masuk ke arc 4, "Perang Dagang : Gold, Glory, and Gospel."


Terima kasih banyak atas dukungannya selama ini!


...----------------...