Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Extra : The Commoner's Diary



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—8 Januari 1239—...


Aku... tidak akan pernah melupakan kejadian pada malam itu.


Seorang anak berusia sekitar 8 tahun dengan rambut hitam dan perawakan kecil yang terlihat sangat lusuh mengadahkan kepalanya ke langit, menatap langit cerah kebiruan yang sekali lagi menaungi aktivitas penduduk ibukota kekaisaran.


Pakaian yang dia kenakan dipenuhi lubang dan robekan, tidak luput darinya noda-noda kehitaman akibat telah digunakan selama beberapa pekan tanpa berganti.


Semua orang mengerti hanya dari pandangan mata, Claude merupakan anak terlantar, atau berasal dari distrik kumuh—meski Ares telah melakukan revitalisasi pada distrik tersebut sehingga dapat dikatakan pemukiman di dalamnya layak untuk ditinggali.


Claude mengingat dengan sangat jelas kebrutalan pertarungan yang melibatkan dua wanita berambut putih melawan seseorang yang mengenakan jubah gelap. Rumah-rumah serta pertokoan seketika hancur berkeping-keping, tanah-tanah juga tidak luput dari kehancuran, demikian dengan banyak pohon-pohon yang tumbang serta fasilitas umum lain yang rusak berat akibat dari pertarungan tersebut.


Tentu, ingatan tersebut berakar kuat karena Claude tertimpa dinding bangunan runtuh saat dia terlelap di sudut jalanan ibukota. Beruntung, Claude dapat selamat tanpa mengalami luka berat karena naluri bertahan hidup yang kuat terhadap bahaya telah membangunkannya.


Kryuukk!


"Ugh." Suara perut sekali lagi menusuk kedua gendang telinganya, secara naluriah Claude menggunakan kedua tangannya untuk menahan perut sembari sedikit membungkukkan punggungnya.


Meskipun Claude benar-benar tidak menginginkan, keterpaksaan akibat kelaparan membuat kedua kakinya bergerak, menuju tempat dimana ribuan transaksi sedang dilakukan.


Melewati beberapa bangunan yang sedang dibangun kembali, Claude melangkah mengendap-endap agar wajahnya tidak dapat tampak secara jelas, sangat mewaspadai orang-orang di sekitarnya agar tidak dapat mengenalinya karena dia telah beberapa kali didapati melakukan pencurian makanan.


Tak beberapa lama, perjalanannya menuju pasar yang berada di sudut ibukota berjalan mulus. Tentu, Claude tidak akan mendatangi sudut pasar dimana dia terakhir kali didapati telah mencuri.


Sengaja membelakangi seseorang dan berjalan di tengah padatnya lautan manusia, Claude secara cerdik menyelipkan tangan, untuk menggapai sebuah roti gandum berukuran sedang di atas kios pedagang yang terletak di pinggir jalanan.


GREP!


Lengan Claude tergapai, membuat hatinya seketika menjadi panik dan berusaha dengan sekuat tenaga melepaskannya.


"Apa yang ingin kau lakukan, Anak Kecil?" Lelaki paruh baya pedagang dengan rambut kecoklatan berbadan tegap berteriak, menarik kuat lengan Claude agar tidak lepas dari genggamannya, menyebabkan semua orang di sekitar segera memusatkan perhatian.


Dengan tangannya yang lain, Claude menggapai apapun yang dapat ia gapai. Menemukan batang besi, Claude secara naluriah melemparnya ke arah pedagang paruh baya, dengan cepat melarikan diri dari tempat kejadian setelah pria paruh baya tanpa sadar melepaskan lengan Claude demi melindungi wajah dari besi yang terlontar kearahnya.


"Jangan kabur kau, pencuri sialan!" Pedagang paruh baya dengan cepat meninggalkan kiosnya, mengejar Claude dengan membelah lautan manusia yang ada di hadapannya.


Tidak hanya pedagang paruh baya tersebut, beberapa pedagang juga ikut mengejar karena rasa kekeluargaan mereka, di samping terdapat beberapa pedagang yang juga menjadi korban pencurian Claude sebelumnya.


"Jangan kabur kau, Bocah Tengik!"


Umpatan, hinaan, makian, semua kata-kata kasar terlontar dari mulut para pedagang. Namun, usaha Claude harus berakhir dengan sia-sia, tak jauh di depannya terdapat beberapa pedagang yang bergerak untuk mengepungnya.


Kekacauan melanda pikirannya, Claude tidak lagi dapat berpikir jernih, keletihan serta rasa lapar yang luar biasa membuatnya sedikit terhuyung saat dia berlari.


BRUGH!


Meski tidak menabrak secara langsung dari depan, tetap saja Claude menyenggol bahu seorang pemuda bertopi koboi yang berpapasan dengannya. Tidak lagi kuasa menahan letih, Claude tanpa sengaja terjatuh.


"Apakah kamu baik-baik saja, Nak?" Pemuda bertopi koboi mengulurkan tangan kanannya, menatap Claude dengan khawatir.


Claude mengintip pemuda di belakangnya. Pakaian formal berwarna putih yang dia kenakan berkualitas tinggi, semua orang di sekitar segera bergerak menjauh, menilai bahwa pemuda tersebut merupakan seorang ksatria elit yang menyebabkan tidak ada seorangpun diantara mereka yang ingin memiliki masalah dengannya.


Demikian dengan para pedagang yang mengejar, mereka memutuskan untuk diam menunggu, memutuskan untuk melihat situasi terlebih dahulu sebelum bertindak.


"Aku... aku..." Claude menjawab takut, dirinya terlihat merengut, sangat ketakutan apabila hukuman yang bahkan berujung pada perbudakan menimpa dirinya.


Kurasa, aku tidak akan pernah menyamar sebagai seorang ksatria lagi.


Hanya ditanggapi oleh ketakutan, Ares tersenyum kecut, merasa penyamarannya sebagai ksatria elit merupakan sebuah kesalahan. Tanpa penundaan, Ares menarik paksa Claude untuk bangkit, sedikit menopang tubuhnya karena Claude yang terlihat tidak kuasa untuk berdiri.


Tentu, jauh sebelum Claude hendak menyenggol Ares, para ksatria dan intelejen yang bersembunyi di sudut-sudut yang tak terlihat telah mempersiapkan anak panah, yang Ares hentikan karena dia tidak menginginkan keributan yang tidak perlu.


Pemandangan aneh, bahkan anggapan tersebut berlaku untuk Dia—bibi Ares sekaligus ibu Milly yang menjadi Kepala Ksatria Pengawal—serta para bawahannya. Akal sehat masyarakat telah berlaku umum apabila seorang ksatria tingkat tinggi memiliki kebanggaan dan kehormatan layaknya seorang bangsawan rendah, membuat mereka tidak ingin berinteraksi dengan masyarakat di kasta yang paling rendah seperti budak dan orang terlantar.


"Apakah kamu sudah makan?" Melirik pada roti yang terjatuh dan dipenuhi debu, rasa bersalah Ares muncul.


Claude teringat dengan makanannya, segera mengambilnya dan bergerak untuk menjauhi Ares untuk melindungi diri sembari menyantap roti penuh debu dengan rakus.


Meskipun aku telah memerintahkan para ksatria untuk mengumpulkan anak-anak terlantar sepertinya agar mereka menghadiri sekolah dasar... penyerapan program tersebut ternyata masih sangat buruk...


Ares menghela napas ringan, menjernihkan pikirannya yang telah berlarian ke hal yang lain, "Siapa namamu, Nak?"


Claude semakin ketakutan, membisu tidak mampu untuk menjawab pertanyaan.


Ares mendekati Claude dengan ramah disertai senyuman cerah, walau Claude hanya semakin terduduk ketakutan menelungkupkan tubuhnya.


"Ikutlah denganku." Ares menarik paksa bahu Claude, membuatnya berjalan berdampingan secara erat, meski Claude hanya dapat gemetar ketakutan.


"Tu—Tuan! Kemana Anda akan pergi membawanya?!" Melihat kepergian Ares, pedagang yang paling merugi akibat tindak pencurian terpaksa membuka suaranya.


Sejenak, langkah Ares bersama Claude terhenti, segera berbalik kepada para pedagang, "Apa yang telah dia lakukan pada kalian?"


"Bocah itu mencuri dagangan kami! Kami ingin—"


"Datanglah ke barak ksatria, aku akan mengganti semua kerugianmu dan para pedagang lainnya di sana." Ares menyela, tidak ingin membuang waktunya terlalu banyak dengan segera berbalik untuk melanjutkan langkahnya.


Para pedagang sangat tercengang atas keputusan yang sangat cepat tersebut, bahkan Ares tidak memeriksa terlebih dahulu nominal kerugian mereka. Demikian dengan para ksatria, yang hanya dapat menutup rapat mulut mereka dan segera mengikuti kepergian Ares.


"Siapa namamu?" Beberapa langkah berjalan, Ares mengeratkan rangkulannya, seolah tidak sedikitpun mempedulikan kondisi Claude yang lusuh, kotor, dan sangat bau.


"C—C—Claude... Tu—Tuan..." jawab Claude ketakutan.


"Dimana tempat tinggalmu saat ini?" tanya Ares kembali.


"Begitu." Bagi Ares, satu jawaban tersebut telah menjawab semua pertanyaannya, baik informasi mengenai orang tua, pekerjaan, asal, hingga apa saja yang telah dia lalui sejak belia.


Anak yang berada dalam rangkulannya memiliki nama, menjawab bahwa dia adalah seorang anak yang telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya baik atas kematian maupun karena kemiskinan jika ditilik dari tindakan yang telah Claude lakukan sebelumnya.


Ares tidaklah membutuhkan semua informasi mendetail mengenai Claude, hanya persangkaan yang mendekati kebenaran tentu sudah cukup baginya. Setelah memberinya "ikan," Ares tidak mungkin akan melepas Claude kembali karena tanggung jawabnya sebagai kepala negara, setidaknya dia akan memberi Claude "umpan" agar dapat hidup mandiri dengan benar.


Dia—yang berjalan selangkah di belakang keponakannya—memandang Ares dengan sedih. Meski Dia dan suaminya—Albert yang terlahir dari Canaria, selir kakek Ares—telah merelakan kepergian putrinya, namun tidak dengan keponakannya. Dapat dirasakan bahwa Ares menutupi kesedihannya dengan tindakan-tindakan memuaskan diri seperti yang saat ini dia lakukan sejak beberapa hari terakhir.


Ares membawa Claude menuju bar—yang kini telah menjadi restoran—milik Mehera dimana dia bertemu dengan Eyes of The Gardom's Queen beberapa bulan lalu. Dengan pakaian elit seorang ksatria yang terdapat lambang Keluarga Aubert, tidak ada seorangpun diantara pelanggan yang berani memprotes seorang anak yang bersama mereka, yang terkesan lusuh, kotor, dan sangat bau.


"Selamat datang... kembali... Yang—Tuan..." Mehera mendatangi meja Ares, nada keras segera melemah saat dia mengetahui bila Ares merupakan pelanggan yang duduk.


"Apakah kamu masih melayani pelanggan? Bukankah kamu adalah pemilik bar ini?" Ares bertanya heran sembari membolak-balik papan kayu tipis berisi menu bergambar—yang juga merupakan saran Ares mengingat tingkat buta huruf masyarakat yang tinggi—yang baru saja Mehera serahkan kepadanya.


"Itu..." Mehera berwajah merah, kesulitan menjawab, "Salah satu pramuniaga kami sedang jatuh sakit..."


"Begitukah? Jika kau jujur dan mengatakan, 'Aku hanya ingin memamerkan bentuk tubuhku,' aku juga tidak akan peduli, kau tahu?" timpal Ares acuh tak acuh.


Mehera tersenyum sulit, jawaban Ares adalah kebenaran mutlak karena strategi tersebut merupakan strategi andalan untuk menarik pelanggannya.


"Aku pesan semuanya," balas Ares cepat.


"Baik!" Mehera tersenyum senang, berlari kembali memasuki dapur dengan cepat karena tidak ingin berhadapan dengan Ares mengingat wajah menakutkan Sang Permaisuri.


"Ada apa? Kenapa kamu masih berdiri?" Menoleh kepada Claude yang sangat takut untuk duduk berhadapan dengannya, Ares sedikit mengerutkan keningnya.


"Ta—tapi... kursi ini sangat bagus... Tuan..." timpal Claude sangat rendah diri.


"Duduk saja," jawab Ares memaksa.


Ketakutan dengan jawaban memerintah, Claude dengan cepat menurut, duduk dengan tegang sembari melirik-lirik kecil ke arah sudut aula makan restoran.


Puluhan piring yang berisi makanan mahal dan lezat telah tersaji tepat di hadapan Claude. Tanpa sadar, beberapa tetes air liur keluar dari salah satu sudut Claude, walaupun ketakutan kepada Ares lebih besar hingga membuatnya tidak berani untuk meminta.


"Apa yang kamu tunggu? Makanlah." Ares tersenyum kecut.


"B—bo—bolehkah, Tuan?" timpal Claude seolah sangat tidak mempercayai Ares.


"Tentu, kenapa tidak?" timpal Ares.


"Te—terima kasih banyak, Tuan!" Dengan lahap, Claude mengambil apapun yang kedua tangannya dapat gapai.


Tidak hanya Ares, Mehera, serta beberapa pramusaji lain yang memandang Claude, beberapa ksatria serta pelanggan lain juga menaruh senyum kepada tingkah laku Claude, yang melahap makanan seperti seseorang yang lebih dari satu pekan tidak menyentuh makanan.


Hingga beberapa saat, Ares memecah keheningan sembari menunjuk Mehera dengan salah satu ibu jarinya, "Mulai saat ini, maid ini akan mengurus hidupmu dan mengajarimu beberapa resep makanan hingga kamu dapat mandiri."


"Eh?" Mehera membelalakkan kedua matanya kepada Ares, tidak mempercayai sesuatu yang baru saja dia dengar, "Ta—tapi—"


"Tidak perlu khawatir, aku akan menambah akomodasimu." Sontak, selaan Ares membuat Mehera hendak melompat kegirangan—yang segera dirinya tahan karena mendapat tatapan tajam dari Dia serta para ksatria pengawal lain.


Jumlah akomodasi yang Ares berikan kepada Mehera dalam satu bulan bukanlah angka yang dapat diremehkan. Selain Ares yang telah mengatakan bahwa dia akan membantu restoran Mehera, seorang budak lain yang kala itu dihajar hingga babak belur oleh banyak orang di sudut bar, kini Mehera rawat dan sedang bekerja bersamanya.


Tanpa sadar, beberapa tetes air mata mengalir dari keempat sudut mata Claude, sangat tidak mempercayai terdapat seseorang yang membantunya tanpa pamrih.


Sejenak, Claude meletakkan kembali kedua tangannya yang kotor akibat makanan, "Mengapa... Anda melakukan ini... kepada saya... Tuan?"


Hanya senyuman serta belaian lembut yang dapat Claude terima sebagai balasan. Segera bangkit, Ares kembali menatap Claude sembari menunjuk Mehera kembali, "Hadirilah sekolah dasar. Jika kamu tidak mengerti, tanyalah kepada wanita ini."


"Ba—baik, Tuan!" timpal Claude tergesa-gesa.


"Dan juga, pada satu pekan yang akan datang, festival pemulihan akan dilaksanakan. Aku ingin melihatmu menjual sesuatu di sana dengan kedua mataku sendiri," sambung Ares.


"Baik, Tuan!" Claude membalas keras sembari sedikit menundukkan kepalanya.


Sejenak, Ares membelai lembut kepala Claude dan segera pergi meninggalkan restoran dengan memerintahkan seorang ksatria untuk membayar tagihan Claude.


Melihat Ares yang hendak keluar dari restoran, Claude mengingat sesuatu, membuatnya berteriak keras, "Tu—Tuan! Bolehkah saya mengetahui nama Anda?!"


Ares sejenak menghentikan kedua kakinya, namun dia tidak membalas, hanya senyuman serta lambaian tangan tanpa berbalik yang hanya dapat Claude terima sebelum Ares meninggalkan aula makan.


"Apakah kamu penasaran dengannya?" Melihat Claude tetap menatap pintu hingga beberapa saat setelah para ksatria meninggalkan restoran, Mehera memberikan peringatan bernada rendah kepadanya, "Lebih baik, kamu tidak mengulik informasi tentang dirinya lebih dalam demi keselamatanmu."


"Maaf..." Claude sedikit tertunduk, merasa bersalah.


Mehera kembali membalas senyuman, "Jangan terlalu dipikirkan. Nikmati makananmu, aku akan menunggumu di lantai dua."


"Baik!" timpal Claude.


Melihat kepergian Mehera, Claude kembali memalingkan pandangannya ke arah pintu keluar dengan tatapan khawatir, merasa terdapat sesuatu yang tidak pada tempatnya saat melihat perawakan orang yang telah menyelamatkannya.


Entah mengapa... aku merasa tuan itu sedang mengalami masalah yang berat...


Semoga... Tuhan membalasmu dengan kebaikan yang lebih dari kebaikan yang telah kamu lakukan kepadaku, Tuan.


...----------------...


Note :


Siapakah Claude sebenarnya? Mengapa dia memanjatkan doa kepada Tuhan disaat kebanyakan masyarakat Arestia sangat jauh dari agama karena pengaruh yang sangat kuat dari para bangsawan?


Tapi, Claude hanya sekedar tokoh sampingan. Terdapat beberapa tindak kriminal yang telah dilakukan oleh kegelapan gereja.


...----------------...