
...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...
...—28 Agustus 1238—...
"Saya mendengar jika Yang Mulia sedang berada dalam kesibukan yang sangat berat. Untuk membantu meringankan pekerjaan Anda, saya—"
"Tunggu." Kata-kata Ann terhenti akibat Ares menyela dengan sedikit mengangkat tangannya.
"Apakah ada sesuatu yang salah, Yang Mulia?" Ann bertanya khawatir, raut wajahnya terlihat sulit.
Tidak sekalipun Ann mengkhawatirkan sesuatu yang dihendaki Ares, justru dia sangat bimbang jika saja dia tidak berhasil membuat Fiona sebagai ajudan Ares.
"Kamu memiliki tujuan tertentu, bukan?" Ares menyipitkan kedua matanya, menginvestigasi dan berhati-hati terhadap niat buruk teman dekatnya di Akademi tersebut.
Fiona—yang sedari tadi hanya duduk terdiam sembari memiliki kepala yang sedikit tertunduk—seketika gemetar kecil. Meski terlihat sangat samar, namun Ares dapat mengetahuinya.
Ann menunjukkan senyuman lembut, "Tidak sekalipun saya bermaksud meragukan kemampuan Anda, Yang Mulia. Namun, saya sangat khawatir dengan kesehatan diri Anda. Bukankah jika Anda jatuh sakit, urusan negara dapat menjadi lebih kacau?" Ann memoles kata-katanya, berusaha agar tujuannya untuk menjual adik kandungnya tersebut dapat tercapai.
"Niat tulus saya sebagai istri Perdana Menteri murni hanya untuk mendukung negara ini, Yang Mulia," sambung Ann, terasa lembut dan penuh ketenangan.
"Begitu..." Ares memejamkan kedua matanya, menghela napas berat, "Karena terlalu mengkhawatirkan Clarice yang mungkin tidak dapat menikahi Raze di masa depan, kamu menjual adikmu sendiri untuk menjadi istri keduaku, bukankah begitu, Ann?"
"Eh?" Fiona tercengang, menunjukkan wajah takjub.
Bagi Fiona, yang baru saja lulus dari Akademi serta menginjak usia dewasa, ia sangat tercengang karena Ares dapat menebak niat keduanya dengan benar.
Dunia bangsawan yang rumit adalah sesuatu hal yang baru bagi Fiona. Terlebih, berbeda dengan perkataan teman-temannya jika mereka tidak setuju, anak-anak bangsawan tersebut selalu menghindar tanpa sedikitpun mengungkapkan perasaannya, tidak seperti Ares yang mengatakan hal tersebut secara terus terang.
Pun demikian dengan Ann, yang hanya dapat tersenyum rumit. Niat busuknya telah diketahui. Walau mungkin benar jika pekerjaan Ares sangatlah berat hingga menyebabkan perasaan Ann terbagi antara kepedulian dengan keuntungan, Ann tetaplah condong kepada keuntungan rumahnya.
Kejadian Excel beberapa hari yang lalu sangat membuat perasaan Ann khawatir. Kesimpulan yang ia dapat, Ann tidak mungkin memaksakan pertunangan putrinya, Clarice, dengan Raze, Pangeran Pertama. Kesimpulan dimana dia mendekatkan putrinya tersebut kepada Sang Pangeran telah ia dapatkan bahkan sebelum Warren memikirkannya.
Ann tersenyum paksa, kedutan juga dapat terlihat dari salah satu kelopak matanya, "Itu tidaklah benar, Yang Mulia."
Kata-kata Ann terhenti. Dia melihat tatapan Ares tertuju kepada kedua pahanya, perlahan naik hingga terfokus pada dada bulatnya yang terlihat sedikit menonjol di balik gaun putihnya.
"A—ada apa, Yang Mulia?" Ann menutupi kedua buah dadanya, merasa malu meskipun dia berusaha menahannya.
"Tidak." Ares membalas lugas.
Pikiran-pikiran aneh berlarian di dalam benaknya. Bahkan sekalipun, Ann tahu jika Ares tidak sedikitpun menunjukkan ketertarikan kepada adik kandungnya tersebut. Hanya sebuah tatapan penilaian yang Ares tunjukkan kepada Fiona disaat dia memasuki kantor pribadi Sang Kaisar.
Hanya berprasangka buruk, Ares tidaklah berpikir demikian yang dapat menyebabkan dia berpikir sesuatu yang tidak senonoh kepada Ann.
Meskipun begitu, Ares tidaklah menampik jika dia memiliki ketertarikan kepada tubuh Ann, walau Ares hanya melakukannya secara naluriah karena dirinya yang merupakan seorang pria yang memiliki kehidupan seksual yang sehat.
"A—apa kamu tertarik dengan tubuhku, Ares?!" Merasa sangat panik akibat tatapan Ares, Ann mengabaikan norma kesopanannya, menutup panik dadanya yang hanya sedikit menonjol.
"Heh?!" Tidak hanya Ares, bahkan Fiona tanpa sadar membuka mulutnya karena sangat tercengang.
Ann sangat mengingat pesta tehnya bersama Kristin dan Excel yang mereka lakukan beberapa bulan yang lalu. Meskipun tidak secara terbuka, beberapa kali ucapan Excel terdengar longgar. Tanpa sengaja membuka kegiatan malamnya bersama dengan suaminya walau terdengar sangat implisit.
Membandingkan dengan suaminya, Ann mengerti jika pria yang kini duduk di hadapannya memiliki stamina dan ukuran yang melebihi Warren menurut penilaiannya dari perkataan Excel.
Terlebih lagi, karena kedekatannya dengan Ares dimana Ann mengenal pribadinya yang tenang dan lembut di masa lalu, sebagai wanita yang memiliki keinginan besar untuk mendominasi, sedikit perasaan menyukai Ares pun muncul di dalam hatinya, walau dia telah bertunangan dengan Warren pada masa sekolahnya dahulu.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?" Ares berkata heran, sedikit terkejut dengan sisi lain Ann yang menyukai hal tabu seperti itu.
Ann berwajah malu, Ares tidak menanggapi kesediaannya dengan serius, menyebabkan dia menutupi kulit wajahnya yang memerah dengan salah satu tangannya.
"Lagipula, tidak perlu mengkhawatirkan Raze dan Clarice, mereka baru berumur 2 tahun, kau tahu?" ungkap Ares sembari merebahkan tubuhnya di atas sandaran sofa.
"T—tapi... kudengar... Pangeran Lucas dan Putri Katherine telah bertunangan tepat setelah keduanya lahir..." Merasa sangat khawatir, terlebih dengan kesempatan besar rumah asal suaminya yang dapat memiliki pengaruh sangat besar di negara yang memiliki lebih dari setengah wilayah benua barat, Ann mengutarakan banyak pertunangan para royalti bahkan dapat dilakukan tepat setelah mereka terlahir seperti yang terjadi kepada Pasangan Pangeran dan Putri Duke Kerajaan Rowling pada masa lampau.
Ares menghela napas berat. Meski dia menilai Ann sangat tenang, lembut, dan penuh perhitungan, Ares merasa sebal dengan sisi Ann yang lebih mengutamakan keuntungan rumahnya dibanding dengan hal lainnya.
"Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan istriku jika aku melakukan itu." Ares sejenak mengambil napas, "Tidak perlu khawatir, kedekatan seorang anak dengan anak lainnya hingga mereka dewasa dapat membuat mereka saling menyukai..." Ares mengecilkan suaranya, "Jika Clarice tidak masuk ke dalam zona pertemanan Raze."
"Maaf?" Ann memiringkan kepalanya, tidak mendengar kalimat terakhir yang Ares ungkapkan, yang serupa dengan Fiona.
"Tidak apa-apa. Lagipula, bukankah kamu akan menekan putrimu sendiri saat ia dewasa untuk menikah dengan putraku?" ujar Ares.
"Jika begitu, saya dapat memiliki ketenangan hati untuk saat ini..." Ann kembali menghentikan ucapannya, merasa sangat malu untuk mengungkapkannya.
Tatapan kedua mata Ann samar terarah menuju wajah Ares, menilai penampilannya dengan seksama.
"Ada apa?" tanya Ares yang heran dengan perilaku Ann.
"Tidak!" Ann tanpa sadar sedikit menaikkan nada suaranya, sangat terkejut dengan Ares yang membuyarkan lamunannya. Mengambil napas untuk menenangkan diri, Ann segera menundukkan kepalanya untuk berpamitan, "Mohon maaf telah mengganggu waktu Anda, Yang Mulia. Jika Anda membutuhkan diri saya, saya akan segera datang kepada Anda."
Keinginannya tidak berhenti hanya di situ, Ann memberikan tanda bila dia sedikit mengharapkan untuk menjalin sebuah hubungan gelap bersama Ares.
"Ah, ya..." Ares hanya dapat membalas bingung, tidak mengerti apa yang Ann katakan.
"Mohon permisi. Ayo, Fiona!" Menggapai tangan adik kandungnya, Ann bangkit dan pergi menuju pintu dengan cepat.
"Eh? Kakak?!" Fiona secara refleks terkejut, bingung dengan tingkah laku yang Ann tunjukkan.
Memandang pintu yang baru saja tertutup, Ares menghela napas berat, merasa bingung dengan kalimat terakhir yang Ann utarakan kepadanya.
Membutuhkan dia?
Untuk apa?
Aku benar-benar tidak mengerti.
...----------------...