
...—Kota Perbatasan Suretz, Kerajaan Gardom—...
...—18 Desember 1238—...
Satu malam lagi.
Suasana remang, Ares menatap pada jendela kamar penginapan termewah yang berada dekat dengan mansion baron penguasa wilayah yang menampilkan gemerlap kota dengan latar belakang puluhan asap api unggun yang mengepul dari luar tembok kota.
Masih berada dalam hari-hari festival, para warga kota tidaklah berperilaku boros dalam penggunaan alat pencahayaan seperti obor dan lentera. Telah menjadi kebiasaan untuk tinggal di tengah gelapnya malam, meskipun itu hanya dilakukan oleh rumah-rumah penduduk serta sudut-sudut kota yang tidak sekalipun terjangkau oleh mata para bangsawan dan ksatria.
Bersama dengan rombongan utama, Delegasi Kekaisaran Arestia membawa serta 10.000 tentara reguler, bermaksud menunjukkan apabila mereka dapat dengan mudah menggerakkan lebih dari lima digit kekuatan militernya, yang kini ditempatkan untuk berkemah di luar tembok kota.
"Yang Mulia." Suara feminim tanpa nada bergaung, menusuk kedua telinga Ares yang masih saja terdiam pada tempatnya.
"Ada apa, Rea?" Tanpa berbalik, Ares merasakan sosok berjubah hitam dengan dua pedang pendek yang tersarung pada kedua pinggulnya perlahan tampak dari sudut ruangan.
"Kehadiran mendekat," jawab Rea.
"Begitu." Ares membalas acuh tak acuh.
Tok.
Tok.
Hingga beberapa saat, ketukan pintu terdengar. Ares sekali lagi sedikit terkagum dengan kemampuan penginderaan serta intuisi yang Rea miliki.
"Yang Mulia, kami mendapat tamu yang berkeinginan untuk bertemu dengan Anda." Salah satu ksatria tingkat tinggi berkata tegas dari balik pintu.
"Siapa?" Kening Ares sedikit berkerut. Sangat tidak sopan untuk memulai pembicaraan pada malam hari walau bahkan untuk Ratu Gardom, terlebih dengan posisi Ares yang juga seorang kepala negara.
"Keluarga Levene dan Lourentz." Sejenak terdiam, ksatria tersebut dengan sulit mengungkapkan penyesalannya, "Permohonan maaf terdalam kami karena tidak mampu menolak permintaan pihak lain."
Cklek.
Pintu perlahan terbuka, dua ksatria yang berada di sisi lain pintu sedikit terkejut dengan tindakan Ares yang tanpa mengandalkan pelayan tersebut. Meskipun telah beberapa kali mendapati tindakan Ares yang dikatakan "menyimpang" dari kebanyakan bangsawan lain, tetap saja keduanya akan sedikit memiliki perasaan yang tidak pada tempatnya jika melihat Ares melakukannya.
"Mustahil kalian dapat menolaknya, jadi tidak perlu meminta maaf." Ares tersenyum masam, menepuk salah satu bahu dari masing-masing ksatria dan melangkah keluar.
Merasa sedikit tersentuh dengan kedekatan tersebut, sangat berbeda dengan tindakan para bangsawan lain. Keduanya sejenak terdiam, sangat terkejut dan segera mengejar Ares yang telah melangkah pergi.
"Ah, benar. Dimana Perdana Menteri? Aku tidak mendengar keberadaannya sejak tadi." Tetap melangkah, Ares teringat dengan temannya yang seolah hilang tanpa kabar.
Meskipun begitu, berbeda dengan Ares, Warren pasti akan membawa paling sedikit empat ksatria elit kemanapun ia akan pergi sebagai pengawalnya, membuat Ares tidak sedikitpun memiliki perasaan khawatir kepadanya.
"Itu..." Wajah kedua ksatria menjadi sulit, tidak dapat menyampaikan keberadaan Warren kepada Ares.
"Katakan sa—" Perlahan mendekati kamar Warren yang berada di lantai yang sama dengan kamarnya, Ares segera menutup rapat kedua bibirnya.
Sebuah suara yang sangat lirih terdengar menusuk kedua gendang telinganya dari kamar Warren, Ares mengetahui alunan yang sangat dikenalnya tersebut.
Dua ksatria penjaga yang berdiri di kedua sisi ruangan dengan jenis kelamin yang berbeda membuat wajah sulit, mereka tidak yakin apa yang harus dilakukan jika Ares memanggil Warren untuk keluar dari kamarnya.
"Dengan siapa?" tanya Ares lirih.
"Um... Yang Mulia..." Ksatria wanita penjaga dengan berat membalas.
"Apa?" tanya Ares kembali.
"Tuan Warren melakukan ini... semata-mata demi memperbaiki kehidupan mereka..." timpal Ksatria Wanita sulit.
Begitu, membebaskan dan memberi banyak uang untuk masa depan mereka... kah?
"Aku masuk." Salah satu tangan Ares dengan cepat mendorong pintu.
Nasi telah menjadi bubur. Ares telah memasuki ruangan dan menemukan pemandangan Warren beserta dua budak wanita dengan kalung budak pada masing-masing leher mereka.
Namun, saat menatap wajah dua wanita tersebut, tidak seorangpun dari mereka yang wajahnya terlukis keterpaksaan, membuat Ares sedikit heran dengan apa yang Warren janjikan kepada mereka.
"Ap—apa yang kau lakukan?!" Warren serta kedua budak wanita segera berpaling, terkejut saat melihat Ares memasuki ruangan dan segera menutupi tubuh mereka dengan selimut.
"Pelankan suaramu, Bodoh! Dindingnya sangat tipis!" Muak, Ares berbalik, melangkah untuk keluar dari ruangan.
Sejenak, tepat sebelum keluar, Ares menghentikan langkah kakinya, "Aku mendapat undangan makan malam dari Ecasia, cepat kenakan pakaianmu."
"Hah?! Tidak! Aku sama sekali belum keluar!" protes Warren.
BAM!
Mendapati jawaban yang sangat egois, Ares pergi dengan langkah yang terlihat kesal, membanting pintu dengan sedikit keras, "Akan kulaporkan pada istrimu."
"Tunggu! Apapun selain itu! Kumohon jangan—"
Tidak lagi mendengar teriakan Warren, Ares bersama beberapa ksatria pengawalnya segera turun, menuju ruangan yang telah disediakan untuk para tamu Ecasia menunggu.
Harapannya tidaklah berakhir tepat, hanya seorang gadis dengan rambut coklat panjang yang menunggunya di balik pintu ruangan.
Warna mata kekuningan yang sangat selaras dengan Ares. Mengenakan atasan putih, blazer berwarna hitam yang membalut tubuhnya menambah kesan kesederhanaannya, seolah penampilannya dapat menipu mata para bangsawan yang memandangnya.
Anggapan bila dia merupakan bangsawan kelas rendah akan terukir di dalam benak para bangsawan awam. Meskipun begitu, Ares tahu, jika gadis yang berkunjung ke penginapan delegasi Arestia merupakan anggota keluarga petinggi Republik Ecasia dari permata hijau pada kerah pakaiannya.
Aku sedikit tidak percaya, kehidupan keduaku akan bersepupu dengan wanita licik sepertimu, Eleanor...
Memandang Ares yang telah memasuki ruangan, Eleanor bangkit, melukiskan senyuman sembari membungkukkan tubuh dan mengangkat kedua ujung pakaiannya.
"Selamat malam, permohonan maaf terdalam saya karena mengunjungi Anda setelah matahari terbenam, Yang Mulia." Eleanor kembali bangkit, tetap melukiskan senyuman di atas wajahnya, "Saya menjadi bersemangat dan sangat menantikan pertemuan dengan Anda setelah beberapa waktu lalu mengetahui apabila saya memiliki seorang saudara jauh dari ayah dan ibu."
Begitu, jika Gardom tidak mengundang mereka, bukankah sejak awal Ecasia tidak berniat membuka jalur diplomasi secara kekeluargaan denganku?
"Saya juga turut bersuka cita dengan kabar bahagia ini..." Ares sengaja menghentikan gerak bibirnya, bersikap tinggi agar pihak lain memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
"Ah, mohon maafkan saya, Yang Mulia." Eleanor menyesal, sedikit membungkukkan badannya, "Perkenalkan, saya adalah Putri Pertama Keluarga Lourentz, Eleanor Nodenne de Lourentz."
"Kaisar Pertama Arestia, Ares Aubert." Ares menekankan nama keluarganya, bukan lagi merupakan satu persekutuan karena hubungan darah, membatasi gerak Eleanor agar tahu dimana tempatnya berdiri.
"Begitu..." Eleanor tampak menyesal, ia mengerti pesan yang disampaikan kepadanya. Meskipun begitu, bukan tujuannya datang ke tempat ini hanya untuk mencari sebuah masalah dengan Sang Kaisar.
Setelah keduanya duduk secara berhadap-hadapan pada sofa yang berada di tengah ruangan dan bercakap-cakap ringan, Eleanor membuka tujuannya datang kemari, "Yang Mulia, apakah Anda tidak berkeinginan untuk membuka kembali hubungan diantara kita yang sejak dahulu telah renggang? Saya hanya berniat mengajak Anda untuk menikmati malam di kota kecil ini bersama dengan saudara sepupu kita yang lain yang masih saja gugup di luar penginapan."
Andres... kah?
Ares berhak untuk menolak, terlebih dengan sikap Eleanor yang dapat dikatakan sangat tidak sopan. Meskipun begitu, terdapat intuisi di dalam benak jika Eleanor memiliki tujuan lain, yang dapat dikatakan tidak sejalan dengan langkah politik Sang Ayah, Kepala Keluarga Lourentz.
Senyuman masam pun tampak, Ares segera bangkit dan mengulurkan tangan kanannya kepada Eleanor seolah akan menjemputnya, "Tentu, mengapa tidak?"
...----------------...
Note :
Update selanjutnya, 22/12!
...----------------...