Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 39 : Saudara Jauh



...—Dataran Eora, Republik Ecasia—...


...—17 September 1238—...


Langit petang membentang, sinar merah mentari yang akan terbenam sekali lagi menghujam sebuah kota dengan aktivitas perekonomian terpadat di dataran Eora.


Ibukota Dorssels, salah satu dari sekian banyak kota yang berada di Daerah Administrasi Ibukota Republik Ecasia, sebuah wilayah netral tanpa dipengaruhi oleh satupun keluarga dari lima keluarga besar yang menjadi pemimpin Republik Ecasia secara bergantian setiap 6 tahun sekali.


Tak jauh dari istana besar yang menjulang megah di tengah kota, ketegangan menghiasi sebuah kamar di salah satu mansion besar bercat putih dengan tirai terbuka yang menampilkan cerahnya pencahayaan lentera.


Seorang pemuda berusia sekitar 21 tahun berambut biru laut ikal menatap penuh keengganan kepada sosok pria paruh baya dengan ciri fisik yang hampir sama yang terduduk di hadapannya.


Keduanya berpakaian kemeja putih yang terkesan rapi, sepatu kulit mewah berwarna kecoklatan juga menghangatkan masing-masing telapak kaki mereka, sarat akan kemewahan penampilan yang dimiliki oleh seorang pejabat negara.


Hector de Levene, Kepala Keluarga Levene sekaligus Hakim Agung Republik Ecasia.


Andres Levene, pewaris sah Keluarga Levene serta seorang atase militer Republik Ecasia.


Arah pembicaraan terasa semakin runyam, Andres baru saja mendapat kabar dari ayahnya apabila dirinya memiliki seorang sepupu, seorang pemimpin negara besar yang baru saja bangkit, Ares I.


Jika hanya hal tersebut, Andres tidak akan mengungkap keberatannya meski dia baru mengetahui bibinya—adik perempuan ayahnya—menikah dengan seorang pria bangsawan dari negara lain.


Akar permasalahan keduanya berasal dari hubungan mereka dengan Lourentz. Bahkan untuk Andres, yang juga memiliki seorang adik sepupu perempuan dalam keluarga tersebut, dia tidak akan pernah melepaskan sedikitpun penjagaannya terhadap sesuatu yang akan Lourentz lakukan.


Telah menjadi rahasia umum di tengah kalangan pejabat negara bila Keluarga Lourentz adalah seekor rubah, semua tindakan serta langkah politik yang akan keluarga tersebut ambil selalu terkesan licik, hanya menguntungkan bagi diri mereka sendiri.


"Ayah, apa kau benar-benar akan bekerja sama dengan Lourentz?!" Andres menghilangkan nada penghormatan kepada ayahnya, seolah tidak mempercayai apa yang menusuk kedua gendang telinganya.


"Ya." Hector menjawab tegas, tidak menerima sedikitpun penolakan.


"Tapi, jika kau—"


"Andres." Panggilan Hector yang terkesan tegas membuat Andres sejenak terdiam, "Aku sudah tidak lagi memiliki hubungan dengan Keluarga Rueter semenjak bibimu telah meninggal di masa lalu. Meskipun Kaisar Arestia juga merupakan keponakanku, sangat riskan untuk mengawali suatu hubungan dengannya. Juga, kita tidak mengerti bagaimana tabiat asli yang dia miliki."


Hector kembali mengingat kenangan masa lalunya. Ayahnya, Pendahulu Kepala Keluarga Levene, merupakan seseorang yang sering ditimpa banyak penyakit yang berbeda-beda.


Berbagai tabib serta ahli pengobatan telah mereka datangkan, hampir dari seluruh penjuru dunia demi membaiknya kesehatan Sang Ayah. Tetap saja, ranjang yang menjadi tempatnya terbaring sakit seolah tidak pernah puas untuk menemani kesehariannya.


Hanya memiliki seorang putra yang menjadi anak sulung serta dua orang putri, suksesi House of Levene telah diputuskan dengan jelas bahkan tanpa adanya satupun pertentangan di dalam hati para penerusnya bila pendahulu mereka pergi meninggalkan dunia.


Seluruh anggota keluarga House of Levene yang kala itu telah pupus akan harapan atas keselamatan Sang Kepala Keluarga, mendengar apabila di seberang lautan terdapat wilayah kaya yang memiliki berbagai macam obat serta tabib yang hebat, Hector bersama adik perempuan termudanya pergi, menuju Wilayah Rueter demi membaiknya kesehatan ayah yang darahnya juga mengalir di dalam nadi mereka.


Beberapa pekan, Sang Kepala Keluarga menjalani pengobatan hingga berangsur-angsur membaik, meski dia tetap hanya dapat duduk dan berbaring di atas ranjangnya. Meskipun begitu, hal tersebut telah dirasa cukup untuk memanjangkan umurnya, hanya sekedar untuk memuaskan hati anak-anak yang sangat menyayanginya.


Pun demikian dengan Sang Pendahulu, dia merasa jika membuat suatu hubungan baik dengan House of Rueter sangatlah penting bagi keluarganya. Dia benar-benar tidak menginginkan apabila anak dan keturunannya menderita seperti halnya dengan dirinya yang sering kali mengalami sakit keras.


Sang Pendahulu memberikan putri bungsunya untuk Gido nikahi, berharap agar kedua keluarga dapat saling berhubungan apabila salah satu diantara mereka tertimpa sebuah musibah besar.


Gido kembali bersama Sang Putri Bungsu, tetap berhubungan dengan pendahulu Levene hingga ajalnya menjemput beberapa bulan setelah putrinya menikah.


Mendengar kabar bila adiknya telah meninggal tepat setelah keponakannya terlahir, Hector hanya dapat mengirimkan surat dan duka cita kepada saudara iparnya, sangat sibuk untuk mengurus negaranya yang kala itu sedang dilanda kekacauan politik enam tahunan karena akan terjadi pergantian kepala negara.


Berpuluh tahun telah berselang, tanpa mengirimkan satupun surat untuk komunikasi, Hector mendengar bila kekacauan besar sedang melanda tanah di seberang laut. Dia sangat berharap apabila keponakannya dapat terselamatkan, berpikir bila Ares akan pergi meninggalkan wilayahnya dan mencari suaka kepada Keluarga Levene.


Bertentangan dengan harapannya, Hector tidak mengira jika sumber kekacauan benua di seberang laut berasal dari keponakannya, yang bahkan beberapa waktu lalu negara kelima telah ditaklukkan dan kini berada di bawah kedua kaki keponakannya, menyebabkan Hector menjadi sangat mewaspadainya.


Sebuah surat datang dari adik kandungnya yang kini telah menjadi istri Kepala Keluarga Lourentz, meminta Hector bekerja sama untuk sekali lagi membuka hubungan dengan keponakan mereka setelah mendapat proposal penawaran dari Kerajaan Gardom untuk mengikuti konferensi dua negara tersebut.


Andres mengigit bibirnya, tangan kanannya mengepal erat, tidak dapat membantah perkataan ayahnya.


Tidak berbeda dengan sifat Ares pada masa lampau sebelum terjadinya transmigrasi jiwa, Andres merupakan seorang anak yang penurut. Seseorang yang lebih Hector sayangi dibandingkan saudara perempuannya yang kini telah berubah licik, mengikuti tabiat buruk suaminya.


"Saya mengerti." Dengan perasaan berat, Andres sedikit menundukkan kepalanya, patuh atas keputusan yang telah ayahnya buat.


"Dinginkan kepalamu," perintah Hector.


"Permisi." Tanpa mengiyakan, Andres pergi meninggalkan ruangan dengan langkah berat.


Memandang kepada pintu yang telah tertutup, Hector menghela napas berat, merasa lelah karena masalah yang terus menerus datang kepadanya.


Tak jauh dari Mansion Keluarga Levene, dengan beberapa ksatria dan pelayan yang mengikuti, seorang gadis berambut coklat panjang dengan hiasan di dekat telinganya melangkah menapaki lorong terbuka yang diterangi sinar bulan, menampilkan senyuman yang terkesan menakutkan.


Mata tajam berwarna kekuningan, perawakan tubuh yang tidak terlalu tinggi maupun rendah, terlihat seperti seorang gadis remaja normal. Meskipun begitu, semua orang mengerti, gadis tersebut adalah seseorang yang harus diwaspadai.


Bukan karena kemampuan bertarungnya, bukan pula karena pengaruh yang dia miliki, namun karena sifat licik seperti rubah serta kepribadiannya yang tidak mempedulikan satupun nyawa seseorang demi tercapainya sesuatu yang menjadi tujuannya.


Aku benar-benar menantikan pertemuan denganmu, Saudara Jauhku.


...----------------...