Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 41 : Gerakan Renacles, part 1



...—Ibukota Argen, Kekaisaran Renacles—...


...—11 Oktober 1238—...


JRASH!


"Ahahahaha!"


CRASH!


"Gahahahaha!"


Suasana remang, terasa sangat lembab, ruangan bawah tanah yang digunakan untuk penelitian organ tubuh serta kondisi psikologis manusia memiliki banyak pasien yang terbaring di atas puluhan ranjang yang berjajar dengan jarak seukuran pinggang manusia.


Beberapa benda tajam menggores, menyayat, bahkan hingga memotong organ tubuh para pasien. Meskipun begitu, tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengerang sakit, hanya tawa lepas yang dapat mereka lontarkan saat benda-benda tajam sekali lagi terhujam kepada anggota tubuh mereka.


Narkotika.


Sesuatu yang kini badan intelejen serta militer Renacles sedang kembangkan. Tidak berbeda dengan dunia Ares sebelumnya, untuk individu setiap prajurit, moral mereka memiliki kemungkinan besar akan jatuh apabila kabar kematian Sang Jenderal telah bergema di tengah medan perang atau bahkan mendengar jika rekan yang telah dikenal meraung kesakitan, meski pasukan berada dalam kondisi kemenangan.


Sangat berbeda dengan para prajurit Kekaisaran Alven serta Ksatria Suci yang beberapa diantara mereka telah merelakan diri, berharap untuk mati di medan peperangan karena janji Yang Maha Kuasa terdapat kehidupan setelah kematian, meski hanya sedikit yang memiliki kepercayaan tersebut karena hati mereka yang telah terkotori oleh dosa serta kejinya dunia.


Tentu, Kaisar Renacles dan para jenderal-jenderalnya tidaklah menginginkan hal tersebut.


Seperti halnya dengan dunia Ares sebelumnya, narkotika dikembangkan demi terciptanya euforia, lupa akan rasa sakit yang telah menerjang tubuh mereka, hingga menciptakan perasaan kebanggaan yang sangat tinggi, yakin akan kemenangan pasti diraih, membuat para prajurit yang telah memiliki candu terhadap narkotika akan menyerang tanpa memandang bulu terhadap rasa sakit mereka.


Bilah pisau yang sangat tajam sekali lagi terangkat, terarah menuju lengan salah satu pasien yang mengenakan pakaian serba putih. Pasien tersebut menampakkan ekspresi kegilaan, merasa sangat bahagia seolah akan menerima sesuatu yang dapat menyenangkannya.


JRASH!


"Ahahahahaha!"


Seorang gadis berambut putih panjang tergerai menatap heran dengan kedua mata merah kepada pasien yang baru saja kehilangan lengannya, "Kapan dia masuk ke fasilitas ini?"


"28 September 1238, Yang Mulia." Menjawab dingin, tapak langkah kaki seorang pria tua berjanggut putih tidak terawat yang tidak memiliki rambut mendekat dari balik punggung, melukiskan senyuman keji.


Gadis tersebut segera menyambar sebuah papan kayu beserta lembaran perkamen yang terkait padanya, berisi mengenai segala detail perlakuan yang telah dilakukan kepada kelinci percobaan tersebut.


Putri Pertama Kekaisaran Renacles sekaligus pewaris tahta ke-6, Sophia Alexandra Elzbert Trova-Ballack.


Sebagai negara terkuat serta memiliki sejarah terpanjang, kegelapan Kekaisaran Renacles tidak lagi dapat diukur kedalamannya. Bahkan dalam perebutan tahta, masing-masing pangeran sah yang berniat untuk duduk di atas singgasana memiliki organisasi "hitam" yang tunduk kepada mereka, sebagai senjata untuk menyerang kandidat pangeran yang lain.


Tidak berbeda dengan para saudaranya yang lain, Sophia tentu memiliki kegelapan hati yang serupa dengan mereka. Berbagai kekejian, pembunuhan hingga genosida, penculikan rakyat jelata serta pembelian budak untuk penelitian manusia, hingga ujicoba persenjataan terbaru dengan membantai desa-desa negara tetangga telah Sophia lakukan dengan hati yang dingin.


Hatinya telah mati, Sophia tidak dapat merasakan apapun saat melakukan suatu kejahatan. Bahkan, dia tidak lagi dapat menggunakan akal pikirannya untuk mengetahui hal yang benar dan salah.


Bukan berarti Sophia merupakan orang bodoh yang tidak pandai berpolitik. Segala tindakan Sophia sangat mencerminkan keuntungan serta kerugian yang akan diterima oleh negara dan dirinya, tidak sedikitpun mengindahkan hukum serta norma yang berlaku demi tercapainya tujuan yang dia miliki.


"Yang Mulia." Pria tua tersebut menampilkan senyuman penuh arti, "Kita tidak akan pernah mengetahui kesenangan apa yang akan manusia dapatkan jika kita tidak menyuntikkan dosis sebanyak itu."


Merasa sia-sia mendebat, Sophia membuang papan kayu yang baru saja dilihatnya, melangkah pergi meninggalkan ruangan dengan acuh tak acuh, "Jangan terlambat dari jadwal yang telah kita sepakati."


"Fufufu. Terima kasih, Yang Mulia." Pria tua berjas putih tersebut tersenyum bahagia, membungkuk dalam sebagai penghormatan kepada Sophia yang kini telah meninggalkan ruangan bersama beberapa ksatria pribadinya.


Sejenak, Sophia kembali teringat adik laki-lakinya yang baginya sangat lugu. Sekali lagi, senyuman pun tampak, Sophia mengubah arah tujuannya menuju salah satu ruangan istana yang terkesan megah.


Bukan aula, bukan pula ruangan kantor, namun sebuah ruangan yang diperuntukkan bagi Sang Pangeran Keempat, yang dikenal sangat berbeda dengan semua saudaranya yang lain.


Alexander Roland Wetrich Trova-Ballack, karena keadilan kuat yang tertanam di dalam hatinya, Alexander dikenal sebagai "Pangeran Delusi."


Sejak masa kecil, Alexander telah mengungkapkan hal-hal omong kosong yang sarat akan kebaikan. Pahlawan adalah sesuatu yang dirinya idam-idamkan sejak lama.


Ketiga kakaknya tidak merasakan berat jika Alexander menginginkan tahta. Karena sikap yang dia tunjukkan, membuangnya adalah perkara kecil. Semua bangsawan akan bersepakat jika Alexander mudah untuk digulingkan dan dibunuh.


Beberapa saat berjalan, Sophia tiba di salah satu pintu kembar istana yang memiliki penjagaan ketat.


Sophia mengerti, penjagaan ketat Alexander semata-mata demi mencegahnya memberontak. Singkatnya, para ksatria serta pelayan yang dikirimkan kepadanya adalah mata-mata dari saudara-saudaranya.


Bukan karena merasa takut, para saudaranya melakukan hal tersebut semata-mata demi mencegah tindakan Alexander yang tidak dapat diprediksi.


Tidak ada seorangpun dari kalangan pejabat istana yang tidak mengetahui apabila Alexander adalah sumber dari penangkapan salah satu pejabat istana yang diketahui melakukan korupsi terhadap anggaran kekaisaran, membuat Kaisar menjatuhkan hukuman mati kepada bangsawan tersebut.


"Yang Muli—"


"Menyingkir, Sampah."


Hanya satu kata, keringat deras bercucuran dari sekujur tubuh para ksatria penjaga. Demikian dengan tubuh mereka yang kini terlihat gemetaran.


Semua ksatria segera menyingkir, membuka kedua pintu kembar dan mempersilakan Sophia memasukinya.


Tak jauh dari tempatnya berada, seorang pemuda berambut hitam tampan terduduk di atas sofa. Meskipun begitu, tatapan Sophia sejenak keruh. Dia tidak mengetahui sosok pemuda berambut coklat gelap yang kini duduk berhadap-hadapan dengan Alexander.


"Adikku." Sophia tetap melangkah. Ketidaksukaan terpancar dari wajahnya yang berkerut, menilai bila pemuda tersebut bukanlah hanya seorang pemuda biasa.


Alexander menoleh pelan, seketika berwajah jelek karena Sophia sekali lagi memasuki ruangan pribadinya dengan paksa. Meskipun begitu, Alexander tetap harus memberikan penghormatan kepada kakaknya tersebut, "Selamat siang, Kakak."


Demikian dengan pemuda tersebut yang menampakkan senyuman ringan, dia bangkit dari sofa dan segera membungkuk dalam, "Mohon maaf bila terasa lancang. Senang bertemu dengan Anda, Yang Mulia Putri Sophia."


Telah berada dekat, Sophia tetap menilai pemuda tersebut tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya, "Siapa kau?"


"Putra Jenderal Terbaik dari Benua Barat, Val von Renus."


...----------------...