Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Alternation 1 : Misi Lean



...—Distrik Pertambangan Field, Kerajaan Lethiel—...


...—18 November 1238—...


Sinar bulan menyinari kegelapan hutan penghujan yang berada di perbatasan Wilayah Kerajaan Lethiel dengan bekas Wilayah Kerajaan Natrehn.


Dini hari, udara terasa sangat segar. Terdengar beberapa lolongan serigala dan burung hantu dari kedalaman hutan.


Meskipun begitu, suara-suara aktivitas manusia dapat terdengar. Berada di dalam kaki pegunungan, banyak manusia yang sedang mengarahkan cangkul serta beberapa alat berat lain untuk menggali semakin dalam.


Leher-leher mereka terdapat kalung hitam, sangat ketat hingga terasa mencekik jika mereka terlalu banyak bergerak. Tidak hanya itu, disertai dengan beban berat yang merantai masing-masing kaki kiri mereka, rantai-rantai panjang menghubungkan kalung hitam tersebut dari satu kepada orang lainnya, seolah mereka terhubung satu sama lain.


Budak kriminal.


Ares memerintahkan penggalian beberapa urat bijih agar dilakukan oleh para budak yang telah melakukan tindakan kriminal, entah itu dari dalam atau luar negaranya.


Bahkan, beberapa diantara mereka dapat dianggap sebagai budak ilegal karena telah memasuki Kekaisaran Arestia—dalam Kerajaan Lethiel—tanpa sedikitpun diperiksa oleh seorang ksatria resmi yang keluarganya telah diakui oleh negara.


Meskipun begitu, melalui transaksi pasar gelap, Ares tentu telah mengetahuinya. Bukan hanya bisa dimiliki dengan mudah, harga beli mereka sangatlah rendah. Terlebih, Ares tidak merasa perlu untuk memberi para budak kriminal tersebut kebaikan seperti makanan yang cukup bagi mereka.


Hanya sepotong roti basi serta segelas air dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan harian mereka. Tidak hanya itu, kecelakaan tambang memiliki kemungkinan tinggi menimpa mereka.


Ares memutuskan hal tersebut bukan tanpa alasan. Bagi Ares, perlakuan buruk tersebut berfungsi sebagai balasan setimpal atas perilaku keji yang telah mereka lakukan di masa lalu.


Beberapa diantara mereka merupakan anggota guild gelap yang organisasinya telah dihancurkan. Beberapa yang lain merupakan orang-orang yang menculik anak-anak sebuah desa dan menjual mereka sebagai budak.


Bahkan, meskipun merupakan minoritas yang sangat kecil, beberapa diantaranya merupakan pemutilasi serta orang-orang gila yang telah melakukan berbagai tindak kriminal yang bahkan tidak pernah sekalipun terbesit dalam benak Sang Kaisar.


Hanya dibantu oleh pencahayaan minim lentera redup, salah seorang pria besar kekar mengeruk. Tidak berbeda dengan tubuh setinggi lebih dari 2 meternya, raut wajahnya dipenuhi oleh bekas luka sayatan besar.


Kedua matanya terkesan melotot, benar-benar mengintimidasi jika orang biasa bertemu dengannya.


KRAK!


Apa itu?


Sekali lagi mengeruk, ujung cangkulnya terasa mengenai sebuah benda keras. Pria kekar tersebut mendekatkan wajahnya menuju sumber suara, menatap dengan seksama asal penyebabnya setelah memastikan apabila para pengawas tidak memberi perhatian kepadanya.


Para pekerja tambang lain tidak sekalipun memberi perhatian kepada pria tersebut. Mereka tentu telah merasakan, hingga tusukan besi panas akan mengenai tubuh-tubuh telanjang mereka jika mereka berhenti bergerak.


Mengarahkan ujung cangkul sedikit lebih jauh, pria tersebut berhasil mengeruk sebuah bongkahan kekuningan yang cukup besar, berdiameter sekitar 8 hingga 11 cm.


Kedua sudut bibirnya perlahan terangkat. Melihat bahwa terdapat kilauan yang terpancar dari logam tersebut, hatinya seketika dipenuhi kesenangan besar.


Mengintip, melirik menuju sekeliling, penjagaan pengawas yang selalu ketat entah mengapa terasa kosong. Bahkan, beberapa tempat dimana para pengawas biasa berjaga, tidak terdapat satupun dari mereka.


Apakah mereka sedang istirahat?


Jika begitu, ini saatnya bagiku untuk kabur!


"Apa yang ingin kau lakukan, Idiot?!" Salah seorang budak lain mempertanyakan perbuatannya dengan teriakan keras.


Kedua tangan pria kekar tersebut telah menggenggam kuat kalung yang mengekang dirinya bersama para budak kriminal lain, mencoba untuk merusak kalung hingga hancur agar dirinya dapat kabur dan membawa serta bongkahan emas yang dirasa sangat besar di hadapannya.


"Aku sudah tidak tahan lagi berada di sini, Bodoh!" Pria kekar tersebut membalas kesal, tidak sedikitpun mengacuhkan budak tersebut dengan tetap menarik paksa kalung di lehernya.


"Sialan! Jika kau mencoba mencari masalah, tidak hanya kau yang akan mati!" Budak kriminal lain yang mencangkul tepat di sampingnya memberi peringatan, kedua tangannya telah terlepas dari pekerjaannya dan mencoba memukul kepala pria kekar tersebut.


Bukan karena mereka yang tidak dapat merusak kalung dan rantai yang mengikat leher mereka, namun hukuman atas perbuatan tersebut adalah sesuatu yang mereka takutkan.


Budak-budak yang telah bekerja lebih dari sebulan tentu mengetahui kengerian malam itu, dimana para budak yang menentang aturan tambang dilemparkan ke dalam kandang serigala yang kelaparan tepat di depan mata para budak kriminal yang lain.


Tentu, tidak hanya hukuman-hukuman tersebut yang telah menanti mereka. Peti dengan ratusan paku yang akan menghujam orang di dalamnya, menjadi santapan ratusan tikus hitam, hingga serangga-serangga seperti kecoa hingga lipan yang akan dimasukkan secara paksa ke dalam mulut mereka.


KRAK!


Kalung budak telah hancur, leher pria kekar tersebut kini terbebaskan, membuat para budak lain berusaha segera menahannya agar pria tersebut tidak melancarkan aksinya.


Namun, beban berat yang mengikat kaki kiri masing-masing dari para budak menyebabkan mereka tidak mampu untuk mengejar.


"Biarkan saja anak baru itu." Seorang pria tua dengan wajah yang terkesan lusuh berambut hitam keriting menatap malas pada para budak lainnya, "Cepat sambungkan rantai yang terputus sebelum pengawas melihat ini."


"Oke."


"Benar."


Menyetujui usulan pria tua tersebut, masing-masing para budak bahu-membahu membantu menyatukan kedua ujung rantai yang telah terputus dan menyamarkan kalung budak yang telah rusak tersebut.


Pemandangan hutan yang terlihat lebih cerah kini berada dalam pandangan, kebanggaan memenuhi perasaan akibat keberhasilan pria tersebut menaklukkan tambang.


Ekspresinya cerah, tidak menyangka kedua kulit kakinya sekali lagi dapat merasakan rerumputan yang tidak ia injak selama sepekan terakhir.


JLEB!


Perlahan, pandangannya semakin terasa kabur. Panas akibat rasa sakit segera menjalar dari balik punggungnya.


Tangan kanannya terulur, mencari sebab rasa sakit yang menyerangnya. Pria kekar tersebut menemukan sebuah anak panah—berlumur racun meski ia tidak mengetahuinya—yang telah menancap kuat pada kulitnya.


BRUK!


Hanya beberapa saat, pria kekar tersebut terhuyung, terjatuh dengan keras dan terbaring di atas tanah. Tidak lagi sadarkan diri.


Tap.


Tap.


Tap.


Dari kedalaman hutan, sosok pemuda berambut abu-abu yang terkesan berantakan melangkah mendekat. Mengenakan pakaian santai, sorot kedua mata abu-abunya yang biasa saja, tidak sedikitpun memberikan kesan seorang pembunuh terbaik ketiga yang dimiliki oleh Klan Cornwall.


"Busur ini... benar-benar luar biasa..." Meski telah menggunakannya lebih dari satu bulan, Lean sekali lagi memandang kagum kepada busur yang berada dalam genggamannya.


Berbeda dengan Zarrex Bow—busur penghancur kelas Arcana—yang biasa Lean gunakan, busur yang Lean gunakan saat ini merupakan busur biasa—kelas Common—meski dibuat oleh pengrajin terbaik di Ibukota Excelia.


Namun, letak perbedaan tersebut bukanlah sesuatu yang menyebabkan kemampuan menembak busur tersebut meningkat, busur yang berada dalam genggamannya merupakan busur jenis baru, busur panjang yang terinspirasi dari "Welsh's Longbow" dari Inggris Abad Pertengahan.


"Nah, saatnya mengambil uang saku." Lean melangkah, mendekati pria kekar yang baru saja ditembaknya.


BAK!


Kepada tubuh yang tidak sadarkan diri, Lean dengan acuh tak acuh menendang perutnya, menyebabkan pakaian bawahnya yang menyingkap bongkahan emas terbuka.


Memandang bongkahan emas besar yang berada dalam genggaman, Lean mendengar suara samar tapak langkah bergerak mendekatinya. Meski ia terkesan tidak melakukan apapun, Lean siap untuk memberi serangan balasan cepat kepadanya jika orang tersebut datang menyerangnya.


"Lean, kau benar-benar hina." Ungkapan kesal Gale membuat Lean menurunkan kewaspadaannya.


Lean berbalik, menatap penuh heran kepada Gale sembari memasukkan bongkahan emas tersebut ke dalam tas kecilnya, "Apa maksudmu, Gale?"


"Disaat aku kesulitan menyelesaikan misi, kau bersenang-senang dan merampok tambang! Juga, bukankah emas yang baru saja kau pungut merupakan milik Yang Mulia?!" Gale mengungkap kekesalannya.


"Hm? Yang Mulia hanya memerintahkan aku untuk mengeliminasi siapapun yang mencurigakan dan membebaskanku untuk mengambil harta bendanya, kau tahu?" Lean membela diri, nadanya terkesan malas.


"Tap—tapi, kau seharusnya melakukan itu kepada para penyusup!" timpal Gale kesal.


"Hm?" Melirik ekspresi Gale yang wajahnya kesal memerah, Lean menghela napas ringan, mengambil kembali bongkahan emas yang baru saja dipungutnya, "Apa kau ingin?"


Sejenak terdiam karena merasa malu, Gale mengungkap keinginannya, "I—iya..."


Pak.


Lean melemparkan emas di tangannya, yang segera Gale tangkap dan memasukkannya ke dalam tas kulitnya.


"Terima kasih..." Gale menahan malu, wajahnya memerah, sangat berkesan seperti seorang gadis.


"Tidak masalah, aku memiliki emas sebanyak 4 tas kulit besar," timpal Lean, bergerak kembali memasuki hutan.


"Heh?!" Gale tercengang, kedua matanya tanpa sadar melotot, "Ba—bagaimana kau mendapatkannya?!"


"Hm? Seperti ini." Lean menunjuk pada pria kekar yang terbaring tersebut.


"Celaka kau, Lean! Bukankah dia adalah budak tambang ini?!" timpal Gale.


"Eh? Tidak." Lean berpura-pura tidak mengetahuinya, mengalihkan wajahnya ke arah lain karena rasa bersalahnya, "Kau tidak menemukan apapun seperti kalung dan rantai pada dirinya, kan?"


Mendengar jawaban yang sangat tidak bertanggung jawab tersebut, salah satu kelopak Gale berkedut, "Lagipula, bukankah aneh seorang budak tambang bisa lolos dari pengawas begitu saja?!"


"Ah..." Lean teringat sesuatu, "Sepertinya, aku harus memberi Kepala Tambang ini setengah bagianku sebagai rasa terima kasih."


"Eh? Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Gale, sedikit bingung dengan kata-kata Lean.


Dengan senyuman kecut yang terlihat sedikit takut, Lean menoleh kepada Gale, "Memalsukan tanda tangannya agar para pengawas tidak berjaga di pintu ini."


...----------------...