
...—Kota Perbatasan Suretz, Kerajaan Gardom—...
...—18 Desember 1238—...
"Berhenti! Siapa kau?!" Seorang ksatria yang berjaga di gerbang mansion berteriak keras.
Suasana remang, hanya sedikit lentera-lentera jalanan yang masih menyala, para ksatria penjaga mansion sangat mewaspadai seseorang yang berlari dengan sangat cepat mendekati mereka.
"Kaisar Arestia, Ares I! Katakan dimana Florentia!" Ares membalas keras, pengejaran para pembunuh dari Bloodytears serta Dark Hand belum berakhir.
"Jangan bohong, Idiot!" Para ksatria mencurigai sosok Ares, sangat tidak wajar jika Ares kemari tanpa sedikitpun penjagaan. Terlebih, karena mereka baru saja bertemu dengan Ares, tidak seorangpun yang menghafal raut wajahnya, di samping alasan suasana yang gelap.
Para ksatria mengangkat senjatanya, menghunuskannya kepada Ares yang berlari kepada mereka.
"Ck!" Ares mendecakkan lidah, merasa sia-sia melakukan perlawanan.
Hawa membunuh ringan terasa dari balik kepalanya, sebuah belati yang terlempar ringan hampir mengenai pakaian hitam militernya. Meskipun begitu, Ares tidak sekalipun merasakan niat membunuh dari penyerang.
Ares mengadah, tatapan mata segera bertemu dengan Mata Sang Ratu Gardom, Olfrey, yang memberikan tanda dari gang kecil diantara dua bangunan lain di dekat mansion Sang Baron.
Memahami, Ares segera bertolak menuju Olfrey dengan kecepatan penuh, berlari berdampingan dengannya.
"Yang Mulia Ratu telah aman di tempat lain." Olfrey berkata lugas, pancaran keringat juga deras membasahi kulit wajah dengan tudung hitam yang yang tersingkap.
"Siapa?!" timpal Ares, berteriak keras.
"Apa maksud Anda?" Olfrey bertanya bingung, mempertahankan kecepatan pelariannya.
TRANG!
Sebuah panah terlempar dari gang kecil yang keduanya lewati. Tanpa penundaan, Olfrey menghalaunya, bahkan tanpa menolehkan wajahnya.
"Siapa orang yang menemani Florentia saat ini?!" tanya Ares, kata-katanya yang terasa diliputi amarah membuat Olfrey semakin kebingungan.
Olfrey mengetahui jika jawaban atas pertanyaan Ares adalah sesuatu yang seharusnya dirahasiakan. Meskipun begitu, kebimbangan merasuk dalam benak, Olfrey bertanya-tanya mengapa Ares tidak mempertanyakan keberadaan Florentia, namun seseorang yang menemaninya.
Bagi Olfrey, keamanan Florentia adalah hal yang utama, membuatnya sejenak bungkam.
"Cepat katakan, Idiot!" paksa Ares.
Menilai bahwa informasi yang akan dia berikan tidak terlalu berpengaruh terhadap keamanan Florentia, di samping Olfrey yang menganggap jika Ares merupakan politikus yang "bersih," dia memutuskan untuk membuka kedua bibirnya.
"Marquis Nozo." Olfrey menjawab lirih.
"Hah?!" Terkejut dengan jawaban yang diberikan, Ares menjadi sangat panik, "Bawa aku ke sana!"
Alarm dalam naluri berdentang, Ares entah mengapa merasakan bahwa Marquis Nozo, Berto, yang seharusnya juga merupakan salah satu orang kepercayaan Florentia, adalah sosok yang berbahaya.
Hanya satu kali pengalaman Ares melawan Nozo pada saat dunia ini masih berupa game semata. Ia mengingat, saat ia melakukan penggempuran Kerajaan Normadia dari selatan, Ares merasakan bahwa Nozo sangatlah berbeda, seolah memiliki sesuatu yang tersembunyi di balik telapak tangannya, walau karakter Ares pada saat itu telah membunuhnya tepat di tengah medan pertempuran.
Kening Olfrey berkerut, tidak hanya heran, dirinya juga mencurigai perilaku Ares. Meskipun begitu, dengan Rapier—yang bagi Olfrey hanyalah tampak seperti pedang biasa—yang masih tersarung serta kota yang tengah diliputi kekacauan masif, Olfrey menganggap jika dirinya dapat "menangani" Ares apabila dia melakukan sesuatu yang mencurigakan.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Olfrey tajam.
"Cepatlah, kepalaku jaminannya!" Sembari menyerahkan Rapier, Ares berkata penuh keyakinan. Tangan kirinya menarik garis pada lehernya, seolah Olfrey dipersilakan untuk menebas kepala Ares jika dirinya melakukan sesuatu yang mencurigakan.
"Ck, ikuti aku!" Membalas sebal, Olfrey tidaklah mengambil Rapier dan meningkatkan kecepatannya. Melihat keseriusan yang Ares ungkapkan, Olfrey menyerah, memutuskan untuk membawa pria di sampingnya kepada Sang Ratu.
Kecepatan Ares perlahan meningkat. Mengikuti Olfrey sembari mencari rute lain untuk menghalau para pembunuh yang mengejar mereka.
Tak jauh dari kepanikan yang melanda pusat kota, Florentia bersama Leticia mengambil suaka di dekat pelabuhan untuk mengamankan diri mereka. Para ksatria yang berasal dari dua negara sedang berjaga, memastikan tidak ada satupun yang dapat menerobos penjagaan mereka.
Tatapan mata tertuju pemandangan laut malam dengan banyak kapal-kapal besar yang memiliki pencahayaan lentera, Florentia serta Leticia berada dalam suasana hening, hanya merasakan angin yang berhembus ke arah keduanya.
"Apakah yang aku lakukan... sudah benar?" Florentia berkata lirih, meratapi beberapa kejadian dalam beberapa waktu terakhir yang baginya sangat tidak mengenakkan.
Leticia hanya terdiam, kedua tangannya tanpa sadar mengepal, merasa tidak mampu untuk menjawab. Meski semenjak ia diangkat menjadi tangan kanan Sang Ratu semua rencananya dapat dikatakan berhasil, namun hal tersebut tidak lagi terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
"Yang Mulia, sudah saatnya." Panggilan Berto, Marquis Nozo, membuat mereka berbalik, menemukan Berto serta para ksatria Gardom bersenjata lengkap siap untuk tugas pengawalan.
Ada alasan mengapa Florentia mengambil uluran tangan Republik Ecasia. Di samping telah terjadi hubungan kerjasama diantara dua negara sejak puluhan tahun lalu, melihat dari sejarah yang ada, Keluarga Morgan sebagai pemimpin Republik Ecasia dapat dikatakan tidak pernah ingkar dalam perjanjian, membuat Florentia lebih mempercayainya dibandingkan dengan Ares.
Meski Gardom memiliki lebih dari 20.000 prajurit yang berjaga di dalam dan persekitaran kota, Florentia lebih memilih untuk memprioritaskan kestabilan keadaan kota, di samping dia yang memiliki kekhawatiran atas keselamatan nyawanya jika Florentia serta para petinggi Gardom kembali melalui jalur darat.
"Bagaimana keadaan para delegasi republik?" Florentia bertanya lugas.
"Operasi pencarian atas mereka sedang dilaksanakan, Yang Mulia. Saya berharap agar seluruh Delegasi Ecasia dapat terselamatkan." Berto menjawab tegas.
"Begitu, aku akan menunggumu di ibukota," timpal Florentia.
"Baik, Yang Mulia!" balas Berto tegas.
Memandangi pengawalan para ksatria yang menemani kepergian Florentia, hanya senyuman masam yang dapat terukir di atas wajah Berto.
Sedikit lagi...
Keberhasilanku akan terjamin dalam 10 langkah lagi...
Tapak langkah Florentia serta Leticia telah mencapai geladak, senyuman serta lambaian tangan kepada Berto serta para petinggi Gardom yang hanya Sang Ratu dapat lakukan, menunggu hingga kapal menambah kelajuannya.
"Jangan menaikinya, Ratu Gardom!"
Teriakan seseorang yang Berto anggap sebagai faktor tidak menentu segera merusak ekspresi wajah yang dia tampakkan.
Perhatian semua orang berpaling, memandangi dengan kebingungan kepada Ares serta Olfrey yang menerobos masuk melalui penghadangan yang dilakukan para ksatria dengan memukuli mereka.
Demikian dengan Leticia, Florentia hanya dapat menatap bingung, tidak mengerti apa yang ingin Ares lakukan.
Kedua tangan Florentia yang berpegangan pada pembatas kapal bergetar, tanda apabila kapal perlahan meningkatkan kecepatannya, tidak lagi dapat menuruti apa yang Ares katakan tepat setelah meninggalkan bibir dermaga.
"Jangan dengarkan dia, Yang Mulia! Dia hanyalah penguasa kelas teri! Lanjutkan perjalanan Anda kembali ke ibukota!" Berto berteriak keras, kepanikan dapat terasa dari ekspresi wajahnya.
Akibat dari nada Berto, Olfrey yang memahami psikologis manusia, segera memahami sesuatu yang Ares ingin tuju. Meskipun begitu, tapak langkah kaki Olfrey tidaklah dapat mencapai, Berto—yang khawatir rencananya untuk menjadikan Florentia sebagai sandera tidak tercapai—dengan panik memberikan perintah, memutuskan untuk melakukan rencana lain yang sebenarnya tidaklah dia ingin lakukan.
"Tembak!"
Moncong-moncong meriam beberapa kapal perang Republik Ecasia yang tersamar oleh gelapnya malam sejenak berwarna merah, mengeluarkan percikan api, tanda apabila bola meriam baru saja ditembakkan.
Tidak berada jauh dari kapal-kapal perang besar Ecasia yang juga berada di dekat bibir pantai, hantaman puluhan meriam kapal perang Ecasia dengan pasti mengenai.
Bersamaan dengannya, empat ksatria yang mengawal Florentia serta Leticia mengambil pisau yang tersembunyi dalam lengan pakaian mereka, menghunuskan masing-masing senjata tersebut kepada Sang Ratu. Beberapa ksatria pengawal lain segera mengambil posisi, bersiap menghalau saat seseorang mencoba untuk menghalangi apa yang mereka lakukan.
Sebelum rencana penyanderaan Florentia dimulai, Berto telah mengantongi dukungan hampir separuh dari bangsawan Gardom serta kerjasama yang Kepala Keluarga Morgan tawarkan, membuatnya dapat memutuskan hal tersebut tanpa berpikir panjang, selain dari kepanikan yang sebelumnya telah melanda pikirannya.
JRASH!
"Urgh!" Tidak hanya dada, namun punggung hingga perut Florentia merasakan sakit, panas yang luar biasa.
Kejadian yang sangat tiba-tiba, tatapan mata Leticia seketika kosong. Seseorang yang dirinya idolakan, seseorang yang kepadanya kesetiaan penuh telah ia berikan, terbunuh tepat di depan matanya sendiri.
BOOM!
BOOM!
BOOM!
Tembakan meriam seketika mengguncang kapal dengan hebat. Tidak hanya Leticia, para ksatria secara naluriah terjatuh akibat guncangan.
Namun, sebuah belati dari arah lain telah terhunus ke arah Leticia. Merasakan Leticia yang masih berada dalam keadaan syok hebat, Florentia menggunakan tubuhnya, yang telah bersimbah darah.
JRASH!
"Ukh!" Sejenak terhuyung, Florentia memfokuskan pikirannya, mengambil belati yang menancap di tubuhnya dan mengembalikannya kepada ksatria yang baru saja menyerang Leticia.
JRASH!
Dengan sekuat tenaga, Florentia mengangkat tubuh Leticia yang dapat terbilang ringan, berusaha untuk melemparnya menuju laut.
Bidang pandangnya berubah, Leticia segera sadar atas situasi buruk yang terjadi kepadanya, "Yang Mulia! Yang Mulia!"
Kedua tangannya menahan tubuh, Leticia kini bergelantungan kepada sandaran geladak, "Apa yang Anda lakukan, Yang Mulia?!"
Meskipun Leticia mempertanyakan tindakannya, Florentia hanya membalas dengan senyuman, merasa bahagia karena setidaknya dia dapat menyelamatkan satu nyawa bawahannya.
"Aku... telah membalas hutang budiku kepada mendiang ayahmu... Ukh..."
"Yang Mulia!" Leticia berusaha untuk kembali menaiki kapal, namun tertahan oleh posisi kapal yang telah miring serta kedua tangan Florentia.
"Terima kasih... karena selama ini telah berada di sampingku..."
"Jangan katakan omong kosong, Yang Mulia!" Leticia menimpali keras.
Tidak sedikitpun mengindahkan perkataan Leticia, Florentia hanya dapat tersenyum, merasakan kesadarannya perlahan memudar.
Leticia kehilangan kekuatan atas kedua tangannya. Paksaan Florentia telah membuatnya jatuh ke dalam lautan. Meskipun begitu, sebelum dirinya jatuh pingsan tepat setelah memasuki tabir perairan, sebuah kalimat yang akan sangat dirinya kenang terucap dari seseorang yang sangat dia banggakan.
"Tolong... jagalah putriku dan semua penduduk Gardom... karena mereka... tidaklah mengemban dosa yang telah kulakukan."
...----------------...