Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Interlude : Awal



...—Kekaisaran Arestia—...


...—8 Januari 1239—...


Kabar mengenai penyerangan ibukota serta kota perbatasan yang menjadi tempat konferensi antar tiga negara telah menyebar luas. Tidak hanya para bangsawan, pendeta, dan ksatria, maupun para pedagang serta para pelancong, bahkan seorang petani yang tinggal di sebuah kota kecil pun mengetahui berita tersebut.


Kebenaran serta penyebab kejadian tersebut tidaklah terpampang secara jelas, tidak ada satupun kepala negara yang memberikan sepatah kata atas kejadian tersebut. Baik itu sebuah pernyataan perang, hingga hanya sekedar ucapan penyesalan maupun dukacita terhadap kesedihan yang dialami oleh empat keluarga royalti, Arestia; Gardom; Lourentz; dan Levene.


Masing-masing telah memiliki kelompok kekuatan tersendiri, baik di benua timur dimana pengaruh Kekaisaran Renacles berakar kuat, pada wilayah sentral dimana Kekaisaran Suci Alven serta Agama Arafant mendominasi, hingga Ecasia yang mengatur sebagian besar distribusi barang serta lalu lintas laut karena wilayahnya yang menghubungkan timur dan barat dunia.


Semua orang telah menyadari, imbas dari kejadian beberapa waktu lalu, blok keempat dunia telah muncul, memperkuat posisinya sebagai pihak yang beroposisi dengan timur dan sentral. Pun demikian dengan para kepala negara, mereka memperkuat intelejennya terhadap semua hal yang akan Ares lakukan, di samping mewaspadai lawan-lawan yang sejak dahulu telah berseteru dengan mereka.


"Bos! Bos! Apa yang akan kau lakukan dengan ini?!" Sosok berperawakan besar dengan rambut serta jenggot tebal mendatangi pria besar yang duduk di atas kursi besar dengan langkah kesal.


Thorgils dari Suku Barat, mantan salah satu kepala suku yang kini tergabung dalam Dewan Pertimbangan Negara Bagian Utara, salah satu negara vassal Kekaisaran Arestia yang pemerintahannya dijalankan oleh para pemimpin suku-suku utara.


Tidak berbeda dengan jenggot lebatnya, rambut merahnya yang panjang memberikan kesan kekar, mirip seperti dengan seseorang bertabiat "viking" di dunia Ares sebelumnya. Meskipun begitu, pakaiannya terlihat indah, perawakannya rapi, wewangian pun dapat tercium jika tidak berada jauh darinya, sangat jauh dari kesan "kotor" seperti seorang viking seperti pada kisah-kisah yang diceritakan.


Thorgils mengambil lembaran kertas yang diserahkan kepadanya. Segel tidak menunjukkan lambang keluarga kekaisaran, membuat Thorgils sedikit berkerut saat mengetahui bahwa yang berkirim surat kepadanya merupakan Keluarga Francois.


Kening Thorgils sedikit berkerut, merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Tidak seperti perkamen yang tebal, kertas sangatlah tipis, Thorgils sangat berhati-hati dalam membaca surat tersebut.


Perlahan, kedua tatapan Thorgils bergerak, semakin cepat hingga dasar dimana kata terakhir berada.


"Apa yang terjadi, Paman?" Sosok wanita berambut putih ekor kuda yang duduk tidak jauh darinya bertanya, kekhawatiran nampak jelas dari wajahnya yang sedikit liar.


Astrid, salah satu petinggi pemerintahan sekaligus keponakan Thorgils yang kini menjadi istri kepala negara bagian, Alfr, seorang pria yang Ares selamatkan dahulu setelah seluruh penduduk desanya dibantai oleh salah satu dari tiga jenderal besar Natrehn, Zelhard.


Thorgils seketika berdiri dari kursinya. Pakaian militer kebesarannya sedikit mengayun, tampak ekspresi kekesalan terlukis pada raut wajahnya.


"Kita akan berperang." Semua orang sejenak terpana akibat kata-kata Thorgils, tak luput dengan ekspresi Alfr—seorang pria berambut hitam berwajah cerdas yang juga merupakan cucu Kepala Biro Intelejen, Eina—yang baru saja memasuki kantor karena mendengar Warren mengirimkan surat kepadanya.


"Tung—"


"Hah?! Apa yang telah terjadi, Paman?!" Astrid menyela kata-kata suaminya.


"Ibukota Excelia diserang para bedebah timur, beberapa anggota keluarga kepala suku kita telah dibantai habis." Perkataan Thorgils menyebabkan reaksi kemarahan dari orang-orang yang mendengarnya.


Beberapa terlihat segera bangkit dari kursinya, beberapa hanya menunjukkan ekspresi yang tidak berbeda dengan Thorgils. Bukan tanpa alasan, Ares telah memberi banyak hal kepada mereka, terlebih Ares yang tidak mengharapkan sedikitpun imbalan atas semua usahanya dalam meningkatkan taraf hidup para barbarian, baik dalam segi perekonomian, ilmu pengetahuan, hingga kesehatan.


Di belahan benua utara dimana para suku-suku barbarian hidup, sebuah kota besar dengan banyak bangunan megah telah berada dalam tahap pembangunan yang dapat dikatakan hampir usai.


Dengan mengandalkan jumlah serta kekuatan yang dimiliki para barbarian, ditambah dengan pendanaan yang seolah dapat dikatakan tidak terbatas, membangun sebuah kota metropolitan abad pertengahan dalam waktu kurang dari tiga tahun bukanlah omong kosong belaka.


Rumah-rumah megah serta gedung pemerintahan telah berdiri kokoh di pusat kota, fasilitas-fasilitas publik seperti rumah sakit serta sekolah dasar yang para fasilitatornya didatangkan dari kota-kota besar Arestia juga tidak luput dari perhatian, taman-taman indah dengan rancangan danau dan sungai kecil juga menjadi tempat dimana para barbarian dapat menghabiskan waktu, meskipun secara fungsi hampir seluruh fasilitas publik belum dapat difungsikan secara optimal karena kendala cuaca serta kegiatan pembangunan masif.


Mendengar hal tersebut, Alfr—seseorang dengan penilaian terbaik serta orang tercerdas diantara mereka—juga menampakkan sedikit ekspresi kekesalan. Meskipun begitu, Alfr tidak ingin bertindak terburu-buru, Alfr sangat meyakini jika kabar yang diterima Thorgils hanyalah sebagai tanda untuk persiapan perang, yang kemungkinan besar akan dilakukan dalam waktu satu hingga dua tahun ke depan.


"Tunggu! Kita belum mendapatkan perintah untuk berperang!" ungkap Alfr keberatan.


Termasuk istrinya, semua orang memalingkan wajah kepada Alfr dengan ekspresi jelek, seolah memandang seonggok kotoran di sudut jalan.


"Apa yang kau katakan, Pemimpin?!"


"Kita harus membalas dendam kepala suku!"


"Apakah kau tidak tahu apa itu 'balas budi'?!"


"Apa yang kau takutkan, Pemimpin?! Orang barbar dari timur hanyalah sekumpulan tikus di bawah telapak kaki kita!"


Cacian, hinaan, ungkapan keberatan, semua kata buruk terlontar kepada Alfr, yang hanya dapat melihat para petinggi negara bagian dengan ekspresi sulit.


"Ternyata ayah dari putriku hanyalah seorang pengecut." Astrid mencemooh suaminya, memandang Alfr dengan hina.


"Diam!" Teriakan Thorgils menghentikan cacian yang menerpa Alfr.


Thorgils melangkah berat, mendekati Alfr dengan penuh intimidasi, ekspresi tajam yang dia tunjukkan seolah tidak membiarkan Alfr untuk melarikan diri.


"Katakan sesuatu yang ada di dalam pikiranmu, Suami Keponakanku." Thorgils tidak memanggil Alfr "Pemimpin," sengaja untuk merendahkan martabatnya serta menempatkan posisinya lebih rendah.


Alfr sejenak menghirup napas dalam, menenangkan diri agar tidak terpancing emosi, "Perhatikan, ini bukan lagi perang dalam skala kesukuan seperti beberapa tahun lalu, tapi dalam skala negara. Kita pasti akan menggunakan senjata-senjata canggih itu dan jumlah musuh berkisar pada angka ratusan ribu. Aku sangat yakin jika maksud tersirat Yang Mulia di surat tersebut adalah perintah untuk bersiap dalam waktu satu tahun."


"Bersiap? Beraninya kau menyebut kita tidak siap berperang," balas Thorgils sembari mendengus kesal.


"Bukan itu yang aku maksud!" Alfr mengeraskan suaranya, "Lebih mudahnya, Yang Mulia sedang menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan!"


"Benar!"


"Wooohh! Balaskan dendam kepala suku!"


"Ayo perang! Remukkan tengkorak mereka!"


Teriakan, sorakan keras, suasana ruangan seketika berapi-api. Alam bawah sadar mereka telah mempengaruhi, para barbarian sebenarnya telah jenuh dalam pembangunan, meskipun mereka tetap bersemangat melakukannya karena merupakan hal baru serta menyangkut kehidupan masa depan mereka.


"Persiapkan diri kalian! Setelah matahari terbit esok, kita akan berangkat ke selatan!" ungkap Thorgils berapi-api.


"Woooooohhh!"


Semua orang bangkit, meninggalkan ruangan dengan Alfr yang hanya dapat berdiri dengan tercengang.


Maafkan aku, Yang Mulia! Ribuan orang bodoh pembuat onar akan bergerak menuju ibukota!


Dalam kesendirian, Alfr hanya dapat menyesali tindakannya, yang tidak mampu untuk menahan kebodohan para bawahannya.


Di dalam sebuah istana megah yang jauh dari sisi utara benua, Ruon—Raja Forbrenne—memandang tumpukan kertas di hadapannya dengan ekspresi wajah berat, seolah sedang mengalami stres tingkat akut.


"Yang Mulia, sebuah surat datang dari ibukota." Panggilan Lara—seorang wanita tua kepercayaan Ruon yang kini menjadi kepala pelayan istana—membuyarkan konsentrasinya.


Sejenak, Ruon terdiam, memproses pikirannya yang tiba-tiba terhenti, "Hah?"


"Silakan." Lara meletakkan surat di atas meja Ruon dan membungkuk dalam sebelum kembali menuju tempatnya di sudut ruangan.


Dengan sedikit takut, Ruon memberanikan diri membuka kertas bersegel lambang Keluarga Francois, berharap agar beban pekerjaan yang ditimpakan dari ibukota tidak lagi menambah penderitaannya.


Dengan cermat serta bacaan cepat, arah pandangan Ruon bergerak, kedua matanya seketika terbuka lebar saat mencapai akhir kalimat.


Bukankah kabar ini adalah tanda untuk mempersiapkan perang?!


Bu—bukankah ini adalah kesempatanku untuk berlibur dari pekerjaan sialan ini?!


Meskipun aku merasa sedikit bersalah karena senang saat mendengar kabar kematian anak-anak Yang Mulia, aku harus memanfaatkan kesempatan ini!


"Hahahaha!" Ekspresi seketika cerah, Ruon mengadahkan kepalanya dan tertawa lepas sembari merentangkan kedua tangannya seperti orang gila, "Lara, aku akan pergi ke ibukota tiga hari dari sekarang!"


"Eh?" Tidak hanya Lara, para pejabat, ksatria, semua pendengar sangat terkejut atas pernyataan spontan Ruon.


"A—adakah sesuatu hal yang telah terjadi, Yang Mulia?" Lara bertanya gugup, menilai sikap Ruon sangat tidak wajar.


BRAK!


Ruon bangkit, menggebrak mejanya dengan keras karena sangat lega dapat meninggalkan pekerjaannya, "Tidak apa-apa, aku hanya harus menunjukkan wajahku kepada Yang Mulia agar aku dapat membalas budi kepadanya."


"Jika seperti itu... saya turut bahagia dapat mendengarnya, Yang Mulia," timpal Lara, menahan dadanya dengan wajah lega.


Saat itu, tidak ada seorangpun di dalam ruangan yang akan menyangka apabila tuan mereka akan membuat permintaan kepada Ares untuk menginvasi Kerajaan Gardom.


Tidak berbeda dengan keadaan heboh yang menimpa para bangsawan yang berada di kota-kota besar di seluruh penjuru negeri, Kota Perdagangan Hauzen pun berada dalam keadaan demikian.


Loic, yang duduk berdampingan dengan Elsa, menatap surat yang datang kepadanya dengan rumit. Bukan tanpa alasan, surat bersegel House of Francois tersebut berisi tidak hanya kabar mengenai kematian Milly yang juga menjadi sepupu Elsa, namun juga rencana jangka menengah dan panjang yang akan Ares lakukan dalam beberapa tahun mendatang.


Uang kartal.


Dengan kepemilikan tambang emas serta simpanan emas dan perak di dalam sakunya, Ares dan Warren menilai bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk melakukan ekspansi produk mata uang yang akan menggantikan emas sebagai alat tukar utama.


Sebagai seorang gubernur bank, Loic diharuskan untuk mengetahui rencana tersebut. Meskipun begitu, Loic dan istrinya tersebut tidak memahami alasan atas tindakan yang akan Ares lakukan.


"Apa yang kamu pikirkan mengenai ini?" Elsa menatap suaminya dengan khawatir.


"Sejujurnya... aku belum memahami ini dengan baik. Hanya saja..." balas Loic.


"Hanya saja?" timpal Elsa.


"Mengganti alat tukar dengan sesuatu yang lain adalah hal yang terlampau sulit... terlebih jika melibatkan transaksi berskala internasional dimana negara lain belum tentu mengakui ini sebagai sebuah alat tukar yang sah..." Perhatian Loic tetap tertuju kepada kertas di hadapannya, besar kekhawatiran yang dia miliki hingga membuat keningnya berkerut.


Elsa mengaitkan kedua tangannya, menggenggam erat satu sama lain seraya berharap, "Kuharap... kakak tidak membuat pilihan yang salah."


...----------------...