Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 4 : Budak Penguasa



...—Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—5 Juli 1238—...


Demokrasi hanyalah omong kosong.


Bahkan untuk negara besar di era modern, meskipun secara kenyataan kekuasaan benar-benar berasal dari rakyat, mereka tidak lepas dari kekuatan oligarki yang menguasai negara dari balik bayang-bayang.


Sebagai manusia yang pernah hidup dan merasakan kehidupan bernegara dengan sistem demokrasi, Ares memiliki pendapat demikian, yang mana pemikiran tersebut tentu tidak sedikitpun dipengaruhi oleh mahkota yang berada di atas kepalanya.


Apa yang terjadi apabila setiap orang dari setiap kalangan berhak atas kekuasaan negara?


Tidak perlu dikatakan, kehancuran negara.


Bahkan untuk Republik Ecasia—satu-satunya negara di dunia yang memiliki kata "republik" sebagai nama resminya—mereka bergerak dengan politik oligarki, kekuasaan negara berada dalam genggaman beberapa keluarga besar yang akan berganti setiap 6 tahun melalui sebuah pungutan suara.


Satu tahun pengalamannya menjadi seorang kaisar membuat Ares harus segera bertindak. Tidak membiarkan seorang bangsawan memberontak serta terlalu mengekang rakyatnya dengan menunjukkan kepada mereka kekuatan militer Kaisar Arestia serta revolusi yang dapat dilakukan oleh rakyat.


Tentu, Ares telah memikirkannya dengan seksama, ia tidak dapat berlepas tangan pada revolusi rakyat yang juga dapat menjadi penyebab hancurnya kekuasaan anak serta keturunannya.


Sejarah akan tercatat. Rakyat hanya akan melakukan sebuah revolusi jika para bangsawan melakukan penindasan disaat kekuatan militer negara serta kesetiaan para ksatria tidak lagi ada, atau penyebab lain dimana terdapat intervensi dari negara lain—seperti yang akan dilakukan Ares—sebagai pembelajaran bagi anak serta keturunannya.


"Apakah Anda... benar-benar akan melakukannya?" Seorang pemuda berambut pirang tidak rapi, berpakaian glamor yang sangat menarik perhatian, berkata takjub kepada Ares di hadapannya yang terduduk di atas kursi dengan meja bundar bersamanya.


Teman dekat Ares di Akademi sekaligus pewaris Margrave Francois, Warren von Francois, mengangkat salah satu alisnya, sangat takjub dengan niat Ares yang ingin melakukan sebuah kampanye militer.


Walau tirai jendela dibuka, walau cahaya mentari merasuk hingga ruangan terasa cerah, lentera-lentera tetap menyala sebagai sumber pencahayaan bagi rapat kenegaraan yang dihadiri para bangsawan tingkat tinggi.


Menteri Pendidikan sekaligus Kepala Akademi, Joergen von Kolvich. Kakek tua berwajah keriput dengan rambut putih yang keluarganya diangkat menjadi marquis, sangat menunjukkan bahwa ia merupakan seorang tetua sekaligus pembesar bagi negara.


Menteri Keuangan—yang dahulu juga merupakan Menteri Keuangan Kerajaan Rowling yang berpangkat Marquis—Victor von Villiers. Pria paruh baya yang memiliki wajah lelah berambut pirang klimis dengan postur tubuh sedikit gemuk, mencerminkan bahwa ia tidak sedikitpun memiliki andil terhadap negara. Bertentangan dengan hal tersebut, beban pekerjaannya satu tingkat lebih rendah dibandingkan dengan Sang Kaisar, yang diketahui hampir tidak pernah tidur.


Sekertaris Negara, Claire von Lethiel. Adik kandung Raja Kerajaan Lethiel—salah satu negara vassal Kekaisaran Arestia—yang berperan membantu Ares dalam menyusun rancangan pembangunan negara dalam jangka pendek hingga panjang; menyeleksi laporan-laporan yang matang sehingga dapat diteruskan kepada Sang Kaisar; hingga waktu pribadi Ares.


Kursi Menteri Pertahanan dan Perang, Menteri Pertanian, Menteri Kehakiman, hingga Perdana Menteri masihlah kosong, terlebih dengan Ares yang berniat menambah jumlah kursi menterinya seperti Menteri Perdagangan, Menteri Kependudukan dan Pertanahan, hingga Menteri Kesehatan demi kemajuan peradaban Kekaisaran Arestia.


Satu tahun terakhir, Ares hanya berfokus untuk mendirikan House of Lords, sebuah majelis para bangsawan untuk menentukan undang-undang negara yang akan diajukan kepada Ares, Sang Kaisar.


Ares telah membujuk Duke Alein serta Margrave Francois untuk menjadi seorang menteri, yang keduanya menolak secara tegas karena benar-benar menginginkan untuk menikmati hidup sebagai bangsawan teritorial, jauh dari pertikaian di ibukota.


Berbeda dengan Margrave Francois yang telah berumur, Duke Alein benar-benar menginginkan menikmati waktunya bersama adik tirinya, Ratu Nevia, yang sangat nembuat Ares sangat sakit kepala.


"Tentu. Lagipula, aku membutuhkan banyak orang karena tanganku tidak lagi dapat dikatakan 'cukup.'" Menjawab pertanyaan Warren, Ares tersenyum masam.


Banyak pasang mata para bangsawan terbuka lebar, beberapa diantara mereka tetap tidak mengubah ekspresinya. Namun mereka tahu, Ares akan mengangkat banyak bangsawan menjadi birokrat tingkat tinggi sebagai hadiah dari prestasi militer di Kerajaan Forbrenne, di samping tujuan utamanya yang berniat mengancam para bangsawan dengan kekuatan militernya.


Terlebih lagi, mengingat banyak wilayah tanpa tuan—yang untuk sementara menjadi tanggung jawab Keluarga Kekaisaran—Ares benar-benar membutuhkan banyak bangsawan baru yang diangkat dari kalangan ksatria atau bahkan rakyat jelata—meskipun itu sangat sulit—dengan cepat.


Tidak mungkin Ares mengandalkan para barbarian, mengingat mereka tidaklah semampu para bangsawan dalam menjalankan birokrasi negara walau mereka telah berada dalam tahap pembelajaran oleh beberapa ksatria yang diutus Ares, di samping Wilayah Utara yang saat ini berada dalam pembangunan besar-besaran.


"Kursi Perdana Menteri..." Ares menghentikan kata-katanya, perhatiannya teralihkan menuju sekeliling.


Mendapat tatapan Ares, banyak bangsawan menggeleng cepat. Beberapa diantaranya mengadahkan kepala, berharap agar tidak terpilih, beberapa bangsawan yang lain menutup kedua matanya, benar-benar tidak menginginkannya.


Mayoritas para bangsawan tidaklah menolak apabila menjadi birokrat di bawah menteri, yang bahkan beberapa diantaranya sangat berharap atasnya. Namun, berbeda dengan kursi menteri, terlebih dengan Perdana Menteri.


Para bangsawan tahu, seseorang yang mengisi kursi tersebut akan memiliki beban berat karena pemerintahan Ares yang sangat berbeda dengan pemerintahan Rowling dan Natrehn di masa lalu, yang mana sangat terasa longgar bagi seseorang yang menduduki jabatan tersebut.


Victor menempelkan dahinya di atas meja disaat tatapan Ares tertuju kepadanya, seolah bersujud agar Sang Kaisar tidak menambah beban kerjanya. Baginya, mengurus anggaran tahunan kekaisaran yang berkisar lebih dari empat kali lipat dibandingkan anggaran tahunan Kerajaan Rowling di masa lampau sangatlah melelahkan.


Terlebih lagi, Ares sangat sering menganggarkan banyak program baru, walau Victor mengetahui bahwa hal tersebut akan menambah penerimaan negara di masa depan.


"Warren. Besok datanglah ke ruang tahta." Ares tersenyum lebar.


Bersamaan dengan kata-katanya, banyak wajah menampilkan ekspresi kelegaan dan kebahagiaan, berbeda dengan Warren yang menjadi sangat panik.


"Me—mengapa—" Warren segera menyadari alasan Ares memilihnya, membuatnya mengubah kata-katanya, "Bukan Margrave Ginnes saja?!"


Bukan tanpa alasan, Kekaisaran Arestia berdiri dengan lima keluarga bangsawan besar utama yang bersumpah setia kepada Keluarga Aubert. Tidak mungkin Ares akan memilih seorang perdana menteri yang tidak berasal dari House of Francois, House of Ginnes, House of Alein, House of Kolvich—yang bertindak sebagai pemimpin faksi netral Kerajaan Rowling—serta House of Lethiel.


"Jika itu kursi menteri, saya tidak sedikitpun memiliki keberatan. Namun perdana menteri adalah apa yang Yang Mulia tawarkan..." Kristin beralasan, secara halus menolak, "Lagipula, saya telah menjabat sebagai Gubernur Utara."


"Oh?" Ares mengangkat salah satu alisnya, memunculkan sebuah senyuman penuh arti, "Jika begitu, Margrave Ginnes, datanglah ke ruang tahta besok pagi."


"Eh?!" Sangat terkejut, Kristin mengubah wajahnya menjadi panik, "Mo—mohon tunggu, Yang Mulia! Saya baru saja mendapatkan tambahan wilayah dari Anda!"


Terhadap teriakan tidak sopan Kristin, Ares menutup kedua telinganya dengan jari telunjuk. Merasakan kebisingan telah mereda, Ares kembali menurunkan kedua tangannya, "Aku akan mengerahkan 20.000 prajurit dari ibukota. Keberangkatan akan dilaksanakan di awal pekan depan. Selama aku pergi, Warren bertanggung jawab penuh atas ibukota dan negara. Sekian, rapat berakhir."


Dengan acuh tak acuh, Ares bangkit, pergi meninggalkan para bangsawan yang mayoritas tercengang dan segera diikuti oleh para ksatria pengawalnya.


"Yang Mulia."


Panggilan sebuah suara feminim menghentikan langkah kaki Ares. Gadis berambut pirang panjang yang tergerai lurus, mengenakan gaun kerja berwana kombinasi biru putih yang sangat cocok dengan wajahnya yang cantik, Lucy mendekati Ares yang telah berbalik dengan langkah yang terlihat bahagia.


"Apakah kamu membutuhkan sesuatu, Lucy?" tanya Ares dengan tersenyum lembut.


Dalam setahun terakhir, mental Lucy—merupakan mantan tunangan Pangeran Kedua Kerajaan Rowling—berangsur-angsur membaik.


Meskipun tidak dapat memiliki pria yang dicintainya karena merasa tubuhnya telah kotor, namun hubungan dalam jarak seperti ini dengan Ares sangatlah membuatnya nyaman, walau terdapat penyesalan di dalam hatinya kepada Ares.


Lucy menunjukkan buku tebal yang berisi kaitan perkamen yang tersembunyi di balik punggungnya, "Aku berhasil menyelesaikannya!"


"Begitu... kerja bagus." Kedua mata Lucy perlahan tertutup, ia sangat menikmati belaian tangan Ares di atas rambut panjangnya.


Dia—bibi Ares sekaligus pengawal pribadinya—serta para pengawal lain hanya dapat terdiam, mereka tahu bahwa interaksi keduanya sangatlah rumit. Meskipun begitu, rasa kekaguman tetap muncul diantara para ksatria karena keberhasilan Ares dalam mengobati trauma psikologis yang dialami Lucy selama setahun terakhir.


"Mungkin dalam beberapa hari lagi, aku akan pergi..." Nada Ares semakin lirih.


"Eh?" Kedua matanya terbuka lebar, Lucy segera menunjukkan ekspresi sedih.


"Jangan khawatir, aku akan segera kembali." Ares tersenyum menenangkan.


"Benarkah..." timpal Lucy, terdengar sangat sedih.


"Aku berjanji." Kata-kata Ares membuat Lucy kembali tersenyum, walau tetesan samar air mata telah terjatuh dari salah satu sudut matanya.


"Dan juga... apakah kamu ingin menjadi seorang menteri, Lucy? Kupikir, tidak apa-apa bagimu, putri dari keluarga berpangkat marquis, untuk menjadi seorang menteri," ujar Ares.


"Tidak perlu meminta, Yang Mulia." Kelegaan, kebahagiaan, perasaan Lucy seketika menjadi cerah karena Ares meminta dirinya untuk pertama kalinya, hingga terpancar di atas wajahnya yang tersenyum, "Aku pasti akan selalu berada di sisimu, bahkan jika aku diharuskan menjadi seorang budak."


"Begitu." Ares mendekap Lucy, interaksi yang biasa keduanya lakukan, walau Lucy tidaklah membalas dekapannya karena perasaan sangat rendah diri dan tidak pantas, "Terima kasih..."


Hingga beberapa saat berlalu, Lucy tetap tidak membalas perkataannya, membuat Ares melepaskan dekapannya, "Aku akan pergi terlebih dahulu. Tolong nikmati waktu pribadimu."


"Terima kasih... Yang Mulia." Mendapat senyuman cerah Lucy, Ares kembali melangkah, menuju sebuah kamar di istana bagian dalam dimana Excel berada.


"Sayang."


Tepat setelah melewati persimpangan lorong, panggilan Excel terdengar, sekali lagi membuat Ares berbalik dan mendekatinya.


Para ksatria segera menjauh, memberi ruang privasi bagi keduanya karena Excel membawa Ares menuju sebuah balkon di sudut lorong istana yang berada tidak jauh dari persimpangan lorong tersebut.


Sinar mentari menusuk kulit, keduanya berada di balkon terbuka di suatu sudut istana. Walau terlihat tanpa ada sedikitpun pengamanan, banyak dari anggota Klan Cornwall memasang mata pada lingkungan istana sebagai bentuk pengawalan Keluarga Kekaisaran.


Excel menggelembungkan pipinya, menyebabkan Ares melukiskan penyesalan di atas wajahnya, "Maaf..."


"Meski aku telah merestui hubunganmu dengan Lucy, meski aku merasakan kasih sayangmu kepadaku jauh lebih besar dibandingkan dengan wanita lainnya, bohong apabila aku tidak merasakan cemburu kepadanya." Excel mendekatkan wajahnya kepada Ares, perlahan menutup sepasang matanya sebagai isyarat untuk saling menjalin lidah.


Hingga beberapa saat berlalu, Excel melepaskan tautannya dan segera melukiskan ekspresi kemenangan, "Energiku telah terisi!"


Ares hanya dapat tersenyum masam. Sejenak bermain-main, Excel mengubah wajahnya menjadi penuh kesedihan, "Jadi... apa yang harus aku lakukan selama pria yang kucintai pergi jauh meninggalkanku?"


Pat.


"Aduh." Excel memegangi kepalanya, ekspresi wajahnya terlihat sangat kesakitan, walau Ares hanya memukul ringan ubun-ubunnya.


"Jangan mengatakannya seperti itu." Senyuman masam pun terukir, Ares segera membuka tangannya dan membelai lembut kepala istrinya.


"Hehe." Excel tertawa kecil.


"Utusan Kerajaan Gardom akan tiba, dan juga aku akan meninggalkan pemerintahan kepada Warren... seharusnya kamu tidak merasa kesulitan jika Claire membimbingmu. Terlebih lagi..." Ares melirik ke sisi lain, seekor gagak hitam terlihat terbang berputar di dekat keduanya.


Sekali lagi, Eina, bagaimana caramu melatih seekor gagak?


Jika itu merpati atau elang... mungkin aku masih dapat memahaminya.


Berbeda dengan elang pengantar pesan yang biasanya digunakan oleh para bangsawan dan ksatria, Biro Intelejen—yang dipimpin oleh salah satu mantan Jenderal Besar Natrehn, Eina, setelah dibawa paksa oleh Ares dari kematiannya—menggunakan gagak hitam sebagai perantara pesan kepada Sang Kaisar.


Excel mengikuti pandangan mata suaminya, melihat gagak yang terbang mendekat disaat Ares mengangkat tinggi tangan kanannya.


"Apakah itu berasal dari Rea?" Pertanyaan Excel tidak tepat, namun juga tidak salah.


Sebagai bentuk penyamaran agar Biro Intelejen hanya diketahui oleh Ares dan Rea—berperan sebagai jembatan koordinasi dengan Klan Cornwall—Rea juga dilatih oleh Eina agar dapat mengendalikan gagak hitam sebagai pengantar pesan, walau Rea sendiri lebih menyukai elang karena lebih tangguh dan lebih cepat dibandingkan dengan burung lain.


Ares hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan istrinya karena tidak ingin membohonginya dengan membuka sebuah tabung kecil di kaki gagak tersebut yang berisi selembar perkamen kecil yang sangat tipis.


"Semua telah berada pada masing-masing tempatnya, gerakan secara masif dapat segera dilakukan, menunggu perintah lebih lanjut." Ares kembali menatap istrinya, menemukannya tersenyum bahagia.


Excel mendekati tepian balkon, memandang langit cerah dengan taman bunga istana dimana suaminya melamarnya, "Apakah kamu mengingat kata-katamu disaat kamu meminangku?"


"Ya, dengan sangat jelas." Ares melangkah, memeluk lembut tubuh istrinya dari balik punggungnya.


"Sejujurnya, walau pikiranku berkata bahwa menggenggam dunia merupakan sebuah kemustahilan, aku telah mengatakan impian tersebut di depan makam ibuku... berharap ia akan bangga memiliki seorang putri seperti diriku..." Kedua tangan Excel membelai lengan Ares, menutup kedua punggung tangan suaminya dengan lembut.


"Begitu," timpal Ares lembut.


Excel berbalik, tersenyum penuh kebahagiaan kepada suaminya, menggenggam salah satu tangan Ares dan meletakkannya di atas dadanya.


"Entah sebanyak apapun dosa serta kesalahan yang telah dan akan kamu lakukan... tolong yakinlah... bila aku akan selalu berada di sampingmu."


...----------------...