Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 11 : Perang Saudara



...—Ibukota Latva, Kerajaan Forbrenne—...


...—24 Juli 1238—...


"Di balik dinding ini, para pemberontak telah menggempur kalian! Tidak sedikitpun peduli dan memberi perhatian atas keselamatan keluarga dan harta kalian!" Kepada para penduduk ibukota, para tentara, hingga para budak, Ruon berpidato dengan tangan kanannya mengangkat pedang, terdengar sangat berapi-api.


Mendengar banyak wajib militer serta para budak yang berada dalam keadaan ketakutan dan berperang hanya karena keterpaksaan, Ruon tidak memiliki pilihan lain, terpaksa untuk berbaur dengan mereka untuk menumbuhkan rasa percaya diri serta semangat mereka, walau di dalam hati Ruon sangat jijik dengan perbuatan yang dia lakukan.


Ruon perlahan menumbuhkan semangat para wajib militer, membuat para penduduk merasa memiliki kota dimana mereka dilahirkan.


Terlebih, dengan feodalisme kuat di tengah masyarakat, pidato Ruon sangat disambut, yang mana tidak pernah seorangpun dari anggota royalti Kerajaan Forbrenne bersinggungan secara langsung dengan para rakyat jelata sebelumnya, hingga membuat para penduduk dan wajib militer memiliki semangat yang berkobar.


"Meskipun mereka juga merupakan saudara-saudara kalian, juga berasal dari tanah air yang sama dengan kalian, mereka adalah kelompok pemberontak! Mereka menyerang pemerintahan yang sah, para bangsawan yang telah menanggung hidup dan kehidupan kalian! Apakah kalian ingin harta benda, istri-istri, anak-anak, dan kehidupan kalian terenggut begitu saja?!" sambung Ruon.


"Tidak!"


"Pemberontak bodoh!"


"Aku pasti akan melindungi putriku!"


Cacian, hinaan, semua ungkapan buruk terlontar dari mulut para penduduk, membuat perasaan Ruon menjadi positif, walau ia tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang penuh keseriusan.


"Lindungi keluarga dan harta benda kalian! Lindungi martabat dan kehormatan kalian! Angkat senjata kalian! Penggal mereka yang memberontak dan membahayakan keselamatan kalian!" Ruon sekali lagi mengarahkan ujung pedangnya ke atas, membuat para penduduk dapat melihat dengan jelas semangatnya yang berkobar.


Krieeettt.


"Ooooohhhhh!"


Bersamaan dengan teriakan para penduduk, di bawah sinar mentari senja, gerbang tembok ibukota perlahan terbuka, menyebabkan bala tentara Kerajaan Forbrenne yang terdiri atas beberapa golongan dari tingkat yang berbeda menyerbu musuh karena diketahui penyerangan dengan ketapel batu telah berakhir.


Ruon berada di garis terdepan bersama para ksatria pengawalnya, menyebabkan moral para tentaranya meningkat drastis.


Ruon tidaklah sama dengan Ares, yang mengetahui seluk beluk mengenai psikologis peperangan. Berbeda dengannya, Ruon melakukan hal tersebut murni berasal dari spontanitasnya, yang mana karena ia telah merasa terpojok dengan ibukota yang tidak lagi dapat terselamatkan jika moral tentaranya sangat rendah.


Para prajurit, wajib militer, para penduduk biasa, hingga para budak, mengangkat senjata mereka, apapun yang mereka miliki.


Kini, secara keseluruhan, Ruon memegang kendali atas jalannya peperangan. Para pemberontak yang diperkirakan mencapai sekitar 20.000 orang, harus melawan tentara yang berada di bawah Ruon dan para penduduk ibukota yang melebihi 30.000 orang.


Tidak hanya itu, para pemberontak tidaklah memiliki pengetahuan mengenai peperangan. Banyak dari mereka hidup sebagai seorang buruh tani, penggembala ternak, dan berbagai pekerjaan kasar lainnya, menjadikan pasukan pemberontak tidaklah berada dalam koordinasi gerak dan komando yang lebih baik dibandingkan dengan Tentara Ruon.


Terlebih, berbeda dengan Tentara Kerajaan Forbrenne yang masih menyimpan pasokan cadangan makanan di dalam lumbung ibukota, pasukan pemberontak tidak lagi memiliki cadangan makanan, menyebabkan moral mereka tidaklah sebaik para tentara kerajaan.


Dari atas tunggangannya, Ruon menghunus pedangnya, menerjang pasukan musuh pada barisan terdepan bersama para ksatria pengawalnya.


"Heaaaaaa!" Ruon berteriak keras, menebas beberapa pemberontak yang baru saja dia lewati.


JRASH!


JRASH!


JRASH!


Unit Ruon terlihat seperti kilat, menerjang banyak musuh dengan cepat dan segera bergerak ke arah lain untuk mengeliminasi para pemberontak lainnya.


Tentu, bukan berarti Tentara Kerajaan Forbrenne serta para wajib militer lepas dari formasi dan komando begitu saja. Ruon mengirim beberapa jenderalnya ke beberapa titik medan perang untuk mengatur pasukan secara langsung, meninggalkan beberapa diantaranya sebagai komandan garnisun pertahanan serta komandan untuk melakukan penarikan pasukan jika keadaan tidak lagi berada dalam harapan.


Tak jauh dari tempat Ruon berada, Rutz—bersama pimpinan para pemberontak yang lain—memandang jalannya pertempuran dengan tenang. Mereka tentu tidaklah menyadari jika musuh memiliki keuntungan yang lebih banyak dibandingkan pasukan pemberontak, menyebabkan keseluruhan dari mereka skeptis, hanya bertujuan untuk mengalahkan musuh serta menjarah ibukota.


Telah menggempur dinding pertahanan ibukota hingga menyebabkan beberapa titik berlubang, Rutz, Treor, serta para pimpinan yang lain sangat meyakini jika mereka dapat segera menaklukkan ibukota setelah matahari terbit.


Hingga beberapa saat berlalu, Treor melirik ke arah matahari yang kini telah memancarkan sinar kemerahan, tanda bila hari akan berganti malam, "Sebarkan pasukan! Kita akan menggempur mereka di semua sisi tembok!"


Beberapa pimpinan—termasuk Rutz—menyebar, menuju pasukan yang masing-masing mereka pimpin. Rutz mengangkat tinggi pedangnya, "Seraaaaang!"


"Oooohhhhh!"


Bersama sekitar 5.000 pejuangnya, Rutz menerjang, bergerak cepat dengan menunggangi kuda perangnya membantai para tentara musuh dan penduduk ibukota dengan mempertahankan hatinya yang sekeras batu.


JRASH!


JRASH!


JRASH!


Beberapa leher, dada, hingga bahu telah Rutz tebas. Tatapannya terfokus hanya untuk mencari unit-unit musuh yang terlihat kuat karena ia sadar, dirinya bersama mantan anggota kelompoknya dahulu—yang kini bergerak bersamanya—adalah salah satu dari sekian sosok terkuat di dalam pasukan pemberontak.


Pandangan Rutz dan Ruon tanpa sengaja bertemu. Pikiran keduanya terkoneksi, masing-masing dari mereka menganggap pihak lain adalah sosok yang kuat.


Segera, keduanya saling memacu tunggangannya, melewati banyak medan pertarungan, mendekati satu sama lain untuk bersilang senjata.


"Heaaaaa!" Rutz menendang perut kudanya, memacunya agar berlari hingga mencapai batas kecepatan tertingginya.


Hanya beberapa langkah tapak kuda sebelum keduanya bertemu, Ruon sedikit mengangkat salah satu sudut bibirnya. Segera, Ruon dan para ksatrianya berpencar menuju dua arah berbeda, membuat Rutz sejenak berada dalam kebingungan.


"Oi, jangan kabur!" Rutz—bersama kelompoknya—memutuskan melakukan pengejaran terhadap Ruon karena menganggapnya sebagai pemimpin tertinggi para tentara kerajaan—yang dapat dilihat dari baju besi perak berjubahnya yang sangat mewah.


Hingga akan keluar dari zona pertempuran, tanah yang ia pijak kini telah terselimuti oleh gelapnya malam. Ruon memberi tanda kepada salah satu ksatrianya untuk meninggalkan kelompok, memberi tanda kepada para tentara garnisun dan para jenderal untuk menarik mundur pasukan mereka.


Mengerti, ksatria tersebut mengangguk, menarik tali kekang kudanya dan berbelok tajam meninggalkan kelompok Ruon.


Karena gerakan yang sangat tiba-tiba, Rutz dan kelompoknya tetap memutuskan untuk mengejar Ruon, sembari mengolok-oloknya dengan makian kasar.


Sebuah panah api terbang ke angkasa, para jenderal serta jenderal garnisun segera mengerti, rencana dapat segera dilaksanakan.


Bukan tanpa persiapan. Setelah melihat sosok Rutz, yang Ruon nilai merupakan salah satu pimpinan para pemberontak, Ruon memutuskan untuk memulai rencananya, walau terjadi lebih cepat dari yang ia harapkan.


"Mundur!"


"Kembali ke tembok!"


"Laksanakan perintah!"


Banyak jenderal Forbrenne berteriak keras. Nada yang mereka tunjukkan tidak sedikitpun mengandung ketakutan dan kekalahan, menyebabkan para tentara mundur dengan baik, sesuai dengan apa yang telah diinstruksikan kepada mereka sebelumnya.


Rutz memahami jika kudanya dan kuda perang Ruon telah berada pada batasnya. Meskipun begitu, Rutz semakin memacu kudanya, menganggap kesempatan yang ia miliki untuk membunuh Ruon hanya dapat terjadi saat ini atau tidak sama sekali.


BWOSH!


BWOSH!


"Eh?" Tidak berbeda dengan para pemberontak lain, Rutz mendengar suara aneh, suara tembakan batu yang terdengar serentak dari atas dinding ibukota.


Ruon telah bertaruh, besar kemungkinan bongkahan batu yang ditembakkan tersebut membunuh dirinya dan para ksatrianya. Meski mendapat banyak tentangan keras dari para ksatrianya, Ruon telah meyakinkan mereka jika hanya tersisa sebuah cara untuk dapat mengakhiri perang dengan cepat.


Rutz tanpa sadar mengalihkan pandangannya ke samping. Berada dalam bidang pandangnya, sinar bulan yang sejak tadi menyinarinya kini telah tertutup akibat sebuah bongkahan batu raksasa yang tepat berada di sampingnya.


Saat itu, Rutz baru saja menyadari bahwa pada malam itu, dia telah mengambil keputusan yang salah.


...----------------...