
...—Ibukota Windfield, Kerajaan Gardom—...
...—29 Agustus 1238—...
"Apakah itu benar, Leticia?" Florentia bertanya dengan tenang, namun setiap orang merasakan kegelisahan yang terkandung di dalam nadanya.
Berada di dalam ruangan besar dengan banyak lentera yang meneranginya, sinar mentari terik juga dapat merasuk melalui jendela-jendela besar yang terbuka.
Kebimbangan serta kebingungan dapat dirasakan oleh para bangsawan tingkat tinggi yang duduk membentuk huruf U dengan Ratu Florentia sebagai pemimpin rapatnya.
Leticia—yang duduk di salah satu sisi meja tersebut—sejenak terdiam. Dia tahu jika Florentia telah diberikan laporan oleh Olfrey dimana Ares memiliki kemungkinan yang sangat tinggi apabila dia memiliki organisasi "hitam" yang sangat elit.
Baru saja, Leticia mengungkapkan apabila surat yang ditulis oleh Florentia menyebabkan Excel sejenak kehilangan kendali atas emosinya, meski dia tidak yakin apakah itu merupakan sesuatu yang benar ataupun tidak.
Tujuan Gardom yang berkeinginan untuk memanfaatkan Arestia mungkin saja sirna. Jika saja kata-kata ajudannya adalah hal yang benar, mungkin saja perang kedua negara dapat tersulut.
Meskipun Florentia meyakini jika militernya dapat menang melawan Arestia, namun keyakinan tersebut hanyalah sebesar 70%.
Terlebih, setelah peperangan usai, besar kemungkinan jika kedua negara lain yang tergabung dalam aliansi—Kerajaan Roland dan Kerajaan Valmes—akan memanfaatkan situasi militer Kerajaan Gardom yang melemah dengan menyerang Wilayah Gardom.
"Silakan, Yang Mulia." Leticia diam tidak menjawab, melanjutkan percakapan dengan menggeser surat balasan yang mengatasnamakan Keluarga Aubert.
Salah seorang ksatria mengambil gulungan perkamen tersebut. Langkahnya sedikit gugup karena dia merasakan jika suasana yang menyelimuti ruang rapat sangatlah runyam.
Menerima gulungan perkamen berisi surat balasan tersebut, Florentia sedikit menarik napas, mempersiapkan dirinya untuk menghadapi situasi negaranya di masa yang akan datang.
Gulungan perkamen perlahan terbuka, Florentia memeriksa isinya dengan seksama, tidak melewatkan sepatah kata apapun darinya.
Salah satu sudut bibirnya perlahan naik, Florentia dapat merasakan ketenangan hati untuk sementara. Namun, kalimat terakhir dari surat tersebut membuat kebahagiaannya berakhir pupus.
Ya, permintaan untuk melakukan konferensi tingkat tinggi antar dua negara untuk pembicaraan lebih lanjut.
Singkatnya, Florentia diharapkan untuk melawan Ares secara langsung, yang benar-benar ingin dia hindari.
Bukan berarti merasa takut, bukan pula karena merasa terancam, hanya saja Florentia tahu keuntungan yang dimilikinya menurun secara signifikan. Dia benar-benar sadar jika teknologi militer serta birokrasi Arestia yang lebih baik dibandingkan negaranya, walau negara lawan baru saja berdiri kurang dari 2 tahun yang lalu.
Tidak hanya hal tersebut, Florentia sangat mewaspadai sosok yang telah menyeret empat negara—atau lima menurut apa yang baru saja didengarnya—ke bawah kakinya.
"Bolehkah kami mengetahui apa yang terjadi... Yang Mulia?" Leticia memberikan pertanyaan khawatir, memahami dari perubahan raut wajah Sang Ratu.
Florentia menampilkan senyuman lemah, menggeleng-gelengkan ringan kepalanya, "Tidak perlu khawatir. Hanya saja, aku harus memperkuat penjagaanku agar tidak lengah saat melawannya."
"Melawannya?" Seorang bangsawan pria botak bertubuh kekar dengan beberapa luka pada wajahnya bertanya heran.
Berto el Nozo, Menteri Perang dan Militer sekaligus merupakan bangsawan berperingkat Marquis.
"Ya, pihak lain meminta kita untuk melakukan konferensi di perbatasan pada akhir tahun nanti, Berto." Florentia menjawab, nadanya terdengar sedikit kagum dengan surat balasan yang melimpahkan semua keputusan kepada Ares secara langsung.
"Hmm..." Berto berpikir berat, menahan dagunya dengan tangan kirinya yang menyiku permukaan meja.
Leticia mengerti, semua perencanaan hubungan luar negeri Kerajaan Gardom dengan Kekaisaran Arestia telah berubah total. Meskipun begitu, dia tidak ingin membuang semua hal yang telah mereka persiapkan.
"Apakah kamu masih bersikeras untuk memanfaatkan militer mereka, Leticia? Kukira, rencana ini dapat berhasil jika Excel terpengaruh, namun hal yang terjadi bertentangan dengan harapanku." Florentia mengungkap keberatannya.
"Tidak, Yang Mulia." Leticia menggeleng ringan, "Bahkan jika Anda melawan Ares, Anda masih memiliki keuntungan yang tinggi."
"Apa yang kamu maksud, Leticia?" Kerutan dapat terlihat di atas kening Florentia, memandang aneh kepada ajudan yang sangat dipercayai olehnya.
"Hubungan luar negeri Kerajaan Gardom dengan salah satu Keluarga Besar Republik Ecasia." Leticia mengungkap pendapatnya.
"Keluarga Lourentz?" Ada keberatan yang terkandung dalam nada Florentia, "Apa yang ingin kamu tawarkan kepada mereka?"
Bagi Florentia, berhubungan dengan rubah-rubah Lourentz sangatlah membuatnya tidak nyaman. Meskipun Florentia juga menganggap jika dirinya adalah seseorang yang licik, namun dia juga mempertimbangkan keuntungan yang dapat diperoleh pihak lawan, sangat berbeda dengan Lourentz yang akan mengeruk lawannya hingga tidak lagi bersisa.
"Tidak perlu, Yang Mulia." Leticia mengangkat kedua sudut bibirnya, "Mengabarkan jika mereka dapat menemui langsung Sang Kaisar merupakan daya tarik tersendiri bagi mereka."
"Countess Rodomea, saya berharap jika Anda benar-benar dapat menjaga hubungan baik dengan mereka." Berto berkata tajam, seolah terasa mencekik.
Hubungan luar negeri Kerajaan Gardom dengan Republik Ecasia tidak lain merupakan kerjasama distribusi barang ekspor.
Tidak lain dan tidak bukan, Ecasia merupakan negara dengan jaringan perdagangan terluas, posisinya yang berada di tengah dunia serta merupakan titik transit menjadikannya negara yang harus dikunjungi saat akan bepergian melalui jalur laut dari barat ke timur dan sebaliknya.
Terlebih, Gardom tidak menginginkan Kerajaan Roland—salah satu negara aliansi—mendapatkan devisa dari barang ekspor Gardom, membuat mereka hanya bergantung kepada Republic Ecasia.
"Tidak perlu khawatir, Marquis." Leticia menjawab penuh percaya diri, "Kami tidak akan membuka suatu pembicaraan dengan mereka."
"Hmm..." Florentia sejenak termenung, memikirkan berbagai hal yang masuk ke dalam kepalanya.
"Apakah Ares akan menyetujuinya?" Suara Florentia memecah keheningan, terdengar sedikit tidak yakin karena dia menganggap jika Ares sedang berfokus terhadap urusan dalam negerinya.
"Besar kemungkinan... ya, Yang Mulia. Setelah mendapatkan wilayah Kerajaan Forbrenne di wilayah timur, saya yakin jika Ares memiliki tangan ekstra untuk membangun hubungan luar negerinya," jawab Leticia terdengar semakin meyakinkan.
"Saya juga menganggap jika proposal tersebut bukan merupakan suatu hal yang buruk, Yang Mulia." Berto mengungkap persetujuannya.
"Begitu. Terima kasih, aku akan memikirkan pendapat yang kalian utarakan dengan baik. Pertemuan akan dilanjutkan besok pagi, sekian." Florentia bangkit, beberapa pelayan di belakangnya mengambil dokumen-dokumen yang berada di atas mejanya dan mengikuti kepergian Florentia.
Para bangsawan pun bangkit, menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan kepada Sang Ratu yang akan meninggalkan ruangan.
Kehadiran Florentia kini tidak lagi dapat dirasakan. Berto mengalihkan pandangannya kepada Leticia dengan kening yang berkerut, "Countess, bagaimana kau bisa yakin jika Keluarga Besar Ecasia yang lain tidak akan ikut campur?"
"Tidak, Marquis... Tidak." Leticia tidak sekalipun menatap Berto, hanya berfokus kepada pintu yang baru saja ditinggalkan Florentia, "Mereka pasti akan ikut campur."
Dengan kening yang semakin berkerut, Berto hanya dapat menatap tajam kepada Leticia, "Kuharap, kau tidak akan merusak hubungan kita dengan Ares, Countess."
"Ya, pasti." Leticia menjawab yakin, telapak tangan kanannya mengepal, menunjukkan keyakinan apabila semua rencananya dapat berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan.
...----------------...