
...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...
...—28 Agustus 1238—...
"Duduklah." Dengan sebuah senyuman lembut, Ares mengulurkan tangannya, menunjuk dengan kelima jarinya ke arah kursi yang berada di hadapannya yang terpisahkan hanya dengan sebuah meja kerja.
"Um..." Loic cukup gugup. Ia tahu jika Ares tidak lagi merupakan bangsawan tingkat tinggi, namun seseorang yang kini berada di puncak negara, sangat berbeda dengan kasta rakyat jelata yang tidak memiliki apapun seperti dirinya.
"Duduk saja, tidak perlu merasa khawatir." Dari kursinya, Ares bangkit, menuju sebuah meja yang diatasnya memiliki sebuah panci dengan isi yang samar terlihat mengepul.
"Baik..." Dengan sedikit gugup, Loic duduk di atas kursi yang ditunjukkan Ares sebelumnya.
Hanya dapat terdiam, Loic melirik Ares yang hanya menampakkan punggung kepadanya. Entah apa yang Ares lakukan, suara adukan ringan samar terdengar memenuhi ruangan.
Ares berbalik, mengampiri Loic dengan kedua tangannya yang masing-masing memegang piring cangkir yang memiliki kepulan yang terlihat samar dari isi kedua cangkir tersebut.
Puk.
"Teh hangat." Ares meletakkan cangkir dengan piring alasnya tepat di hadapan Loic.
"Eh?! Ya—Yang Muli—" Loic sangat terkejut, tidak menyangka apabila Ares—seorang bangsawan tulen—akan begitu memuliakan dirinya yang hanyalah seorang rakyat jelata.
Terlebih, Loic sadar jika ia sangat berbeda dibandingkan dengan dirinya pada masa lampau, yang kini tidak memiliki pengaruh sekecil apapun.
"Minumlah dan berikan penilaianmu." Ares menyela Loic, duduk berhadapan dengannya sembari menampilkan senyuman masam.
"Ba—baik, Yang Mulia. Terima kasih." Sejenak menunduk dalam, Loic berkata gugup dan mengambil cangkir teh hangat tersebut dengan kedua tangannya.
"Ah, benar. Jika kamu tidak mampu meminumnya, tunggu dingin. Jangan meniupnya," ungkap Ares memperingatkan Loic.
"Baik..." Sedikit tidak mengerti alasan dibaliknya, Loic memutuskan mematuhi dan tetap diam atasnya.
Perlahan, jarak bibir cangkir dengan mulut Loic semakin dekat. Dia menjulurkan kecil lidahnya dan segera menyesapnya.
"Eh?" Hanya satu kata yang dapat dikatakan Loic tepat setelah meneguknya. Tatapan Loic tertuju kepada Ares yang menampilkan senyuman masam kepadanya, terasa bingung, penasaran, hingga takjub.
"Bagaimana rasanya?" Ares bertanya, nadanya penuh akan rasa penasaran.
"Enak... tidak, ini adalah teh terbaik yang pernah aku rasakan..." Loic menimpali takjub, tatapannya teralihkan untuk menatap teh hijau di hadapannya.
Loic—yang telah merasakan banyak teh yang dihidangkan oleh para bangsawan serta teh terbaik hampir di setiap tempat yang pernah dia kunjungi—bahkan menganggap jika teh yang berada tepat di hadapannya sangat mampu untuk melawan keunggulan teh Renacles.
Terlebih lagi, satu hal sangat berbeda dapat dirasakan oleh lidah Loic saat dia menyesapnya.
Manis...
Tapi... bagaimana Yang Mulia dapat menakar gula yang bahkan pelayan terbaikku tidak bisa?
Loic tidak mengerti. Gula yang disajikan sangatlah berbeda dengan apa yang digunakan perusahaannya. Gula pasir yang Ares gunakan sangatlah lembut; tidak memiliki tekstur besar seperti gula pada umumnya; lebih manis karena kandungannya yang lebih tinggi; dan berwarna putih yang terlihat sangat memikat, sangat kontras dengan gula yang digunakan oleh Kepala Pelayan Keluarga Coulent.
Loic menunjukkan kebingungan. Tatapan kedua matanya teralihkan kembali kepada Ares, yang masih tersenyum masam kepadanya.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" tanya Ares.
"Um... bukankah gula adalah komoditas yang sangat mahal? Mengapa Anda menyajikan gula yang begitu banyak kepada saya yang hanya seorang rakyat jelata biasa, Yang Mulia?" jawab Loic.
"Mahal, kah?" Sebuah senyum kecut sekali lagi terukir, Ares mengambil sebuah kain lebar yang menutupi beberapa kotak yang berada di sisi lain kedua cangkir di atas meja.
Perhatian Loic mengikuti. Kedua matanya tertuju pada sesuatu yang dikenalnya di balik kain tersebut, meski salah satu diantaranya merupakan hal yang asing baginya.
"Gula?" Tepat setelah menyelesaikan kata-katanya, Loic tersadar. Gula yang berada di salah satu kotak tersebut memiliki tekstur yang sangat bagus. Tidak kasar dan yang paling penting, sangat putih.
"Ya—Yang Muli—"
"Hei Loic." Panggilan Ares menyela kata-kata Loic, "Dengan ketiga benda ini, kamu dapat membalas dendam kepada Kaisar Renacles, kau tahu?"
"Eh?" Kata-kata Ares sangat membuatnya terkejut, ia mengalihkan pandangannya untuk menatap isi ketiga kotak tersebut dengan seksama.
Loic sadar jika kedua hal tersebut merupakan gula dan garam yang berkualitas sangat baik yang bahkan harganya dapat meningkat berkali-kali lipat daripada yang beredar di pasaran, namun dia tidak mengerti sebuah lembaran putih yang berada di dalam kotak lainnya.
"Ambillah kertas itu, gunakan sebagai media menulismu." Ares memberikan sebuah pena bulu bersama dengan tinta dari sakunya, meletakkannya tepat di hadapan Loic.
"Kertas?" Loic bertanya heran, tidak mengerti apa yang Ares katakan.
"Ya, benda itu bernama kertas. Sesuatu yang akan menggantikan media menulis saat ini meski ketahanannya tidak sekuat perkamen." Melihat Loic mengambil tinta, Ares menampilkan senyuman masam.
"Luar biasa..." Kedua mata Loic terbuka, nada yang ia tunjukkan terasa sangat kagum.
Memiliki perasaan menulis yang sangat berbeda. Tidak serupa dengan perkamen yang memiliki kesulitan yang sangat tinggi dalam menulis karena lembarannya yang begitu tebal, kertas yang Loic gunakan sebagai media menulis sangatlah mudah digunakan, tidak membutuhkan kekuatan ekstra hanya untuk menggoreskan tinta di atasnya, meski tidak memiliki kualitas sebaik kertas di era modern.
"Harga kertas itu hanya seperduapuluh dari selembar perkamen," timpal Ares yang menatap penuh penilaian terhadap reaksi Loic.
"Eh?" Sekali lagi, Loic tercengang, tidak dapat berkata-kata karena mendengar sesuatu yang baginya sangat menakjubkan.
Tidak hanya lebih mudah untuk digunakan, namun juga memiliki harga yang lebih rendah.
Berbeda dengan lembaran perkamen yang menulisnya tidak mengizinkan kesalahan akibat harganya yang terlampau mahal, jika para pembantu bangsawan menggunakannya, mereka tidak perlu khawatir dengan biaya penggantian yang mahal hanya karena masalah kesalahan dalam penulisan.
"Ya—Yang Mulia..." Loic bertanya dengan penuh kegugupan.
"Ya?" timpal Ares.
"A—apa bahan baku dari kertas ini?" Sedikit sulit karena merasa sangat lancang, namun rasa penasaran Loic tidak membuatnya mengurungkan kalimatnya.
"Serat kayu." Sekali lagi, Loic hanya dapat tercengang atas jawaban yang Ares lontarkan.
Kelangkaan perkamen merupakan sesuatu yang sering terjadi. Berbahan dari kulit hewan, harga selembar perkamen akan meningkat tajam apabila tidak ada seekor domba, sapi, kerbau, atau bahan kulit hewan lain yang dapat dipanen.
Pikiran Loic berpacu hingga dia tersadar, apapun yang dia pikirkan akan selalu berakhir pada pemikiran kertas tersebut dapat menyebabkan kekacauan besar di pasar hingga merubah gaya hidup umat manusia.
"Bagaimana pendapatmu tentang adik tiriku?" Ares membuyarkan lamunan Loic.
"I—itu..." Loic kesulitan untuk menjawab, ia tahu kemana arah pembicaraan akan berakhir. Berbeda dengan dua tahun yang lalu, kini Loic tidaklah memiliki nilai sebesar itu, bahkan para bangsawan yang dahulu memiliki hubungan erat dengannya tidak lagi sedikitpun mengacuhkannya.
Bukannya Loic tidak memiliki perasaan terhadap Elsa, adik tiri Ares, saat pertemuan terakhir mereka, terlebih dia mengerti jika Elsa jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya.
"Jika kamu ingin, aku akan membuatmu menjadi Gubernur Bank Sentral yang saat ini masih berada di bawah tanggung jawabku." Ares tidak membiarkan Loic menolak.
Sejak beberapa bulan terakhir, Ares sering mendapat kiriman surat kekhawatiran Elsa atas keadaan Loic, yang bahkan beberapa kali menggunakan perantaraan burung. Tidak hanya puluhan, mungkin mencapai bilangan ratusan jika menghitung dari bulan-bulan sebelumnya, sangat membuat Ares kesal dan berkeinginan untuk segera menutup mulut adik tirinya dengan menikahkannya dengan Loic setelah dia tiba.
"Ta—tapi, saya hanya seorang rakyat jel—"
"Gelar Viscount dalam tiga tahun. Dan juga, seluruh Wilayah Rueter tidak termasuk Kawasan Ekonomi Bebas akan kuberikan jika kamu menikah dengan Elsa." Sekali lagi, Ares tidak membiarkan Loic menolak terhadap tawaran yang dia ajukan.
Ares mengerti mengenai rasa inferior para rakyat jelata terhadap golongan bangsawan dan ksatria, yang tentu Loic juga rasakan.
Air mata perlahan jatuh menetes, semakin deras hingga Loic menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Mengapa... mengapa Anda sangat baik kepada seorang rakyat jelata seperti saya?" Perasaan Loic kacau, setelah ditimpa oleh penyiksaan yang begitu berat, banyak kebahagiaan ditimpakan kepadanya, seolah dunia membalas kesulitannya di masa lalu dengan dengan kebaikan yang berlimpah.
Agar aku dapat menyumpal mulut Elsa, mungkin?
Yah, tidak mungkin aku akan menjawabnya seperti itu.
"Buat dia bahagia." Ares bangkit, melangkah menuju pintu.
Kata-kata Ares tidak menghendaki sedikitpun rasa keberatan Loic.
Harapan besar ditimpakan kepadanya, Loic sadar jika Ares mengharapkan dirinya untuk memanfaatkan pengalamannya yang berlimpah untuk menjual ketiga produk yang diperkenalkan kepadanya beberapa saat lalu.
Terima kasih... Yang Mulia...
Saya berjanji akan membuatnya bahagia dan menjadi sosok yang dapat Anda harapkan.
...----------------...