Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 27 : Untuk Masa Depan



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—24 Agustus 1238—...


Di dalam kamar pribadi Ares yang hampir sekalipun tidak pernah dia gunakan—karena tanpa sengaja tertidur di dalam ruang kantor atau bersama para wanitanya, Milly beserta seluruh gundik Ares yang lain duduk melingkar, terlihat santai karena tidak terasa sedikitpun keformalan dalam suasana tersebut.


Milly von Vienna, sepupu Ares dari paman yang merupakan anak gundik kakeknya sekaligus merupakan selir yang kini memiliki gelar kebangsawanan Baron, yang merupakan ibu dari Wilma.


Amalia Verett, seorang wanita berusia 19 tahun yang berumur sama dengan Ares. Rambut hitam lurus panjangnya tergerai, tinggi tubuhnya cukup normal seperti wanita pada umumnya—sekitar 160 cm—kulitnya yang sedikit kuning terawat halus, serta ibu dari Putri Pertama Ares, Lia Verett.


Merupakan seorang rakyat jelata yang sebelumnya telah diperkosa Ares sebelum bertransmigrasi jiwa, Ares—individu baru yang baru saja jiwanya berpindah—merasa harus bertanggung jawab atas perbuatan orang lain.


Terlebih, sebagai seorang pria yang telah hidup di era modern, mendengar bahwa dirinya telah membunuh tunangan Amalia membuat perasaan bersalahnya semakin menjadi.


Sebagai balasan atas perbuatan keji yang Ares lakukan dahulu, tidak hanya Amalia, bahkan setiap wanita yang telah mengandung diangkat menjadi keluarga ksatria yang memiliki jabatan tertentu di House of Rueter pada masa lampau serta istana kekaisaran pada masa kini.


Ody Mars, seorang pelayan yang sebelumnya bekerja di Kastil Kota Ereth—Ibukota Wilayah Rueter—juga tidak luput menjadi korban pemerkosaan.


Rambut hijau cerah yang terikat, setiap orang yang memandangnya akan menyetujui jika Ody memiliki wajah imut. Setelah diperkosa oleh Ares, Ody melahirkan seorang bayi laki-laki, Leon Mars, salah satu putra Ares yang sedikit cengeng.


Saat ini, Ares menempatkan Ody sebagai salah satu birokrat pembantu pekerjaan Sang Kaisar.


Sena Ecard, sosok pelayan wanita berambut coklat panjang sebahu yang memiliki tubuh sensual dengan dada yang sangat besar, meski ia menyembunyikan lekuk tubuhnya di balik seragam pelayannya serta merupakan ibu dari Nina, Putri Ketiga Ares setelah Wilma.


Sena merupakan mantan rakyat jelata yang diambil secara paksa oleh para bawahan Ares di masa lampau dan dihadiahkan kepadanya sebagai wanita eksklusif Sang Margrave.


Kini, tidak berbeda dengan Ody, Sena menjadi salah satu pejabat yang membantu tugas Sang Kaisar.


Mia Orient, pelayan tingkat tinggi yang kini mengurus segala kebutuhan Excel dan kedua anaknya.


Rambut pirang panjang ikal, wajah ovalnya terlihat sangat dewasa. Pun demikian dengan umurnya yang terpaut tujuh tahun lebih tua dari Ares.


Tidak berbeda dengan Sena, Mia juga memiliki tubuh serupa dengannya, meski dadanya sedikit lebih kecil namun tetap dapat dikatakan besar.


Meskipun begitu, terdapat satu gadis yang merupakan mantan budak. Dibeli oleh para bawahan Ares dan ditujukan untuk dihidangkan kepadanya, Ares memperlakukan gadis tersebut serupa dengan korban pemerkosaan lainnya.


Ivy, gadis berambut hitam dengan wajah kecil yang berusia 3 tahun lebih muda dibandingkan dengan Ares.


Tidak berbeda dengan wajahnya, perawakan Ivy seperti seorang gadis kecil yang tingginya hanya berkisar 150 cm dan kini merupakan pejabat tinggi yang mengurus Wilayah Rueter, bekas wilayahnya dahulu, serta bertugas membantu adik tiri dari gundik mendiang ayah Ares, Elsa Lenoir.


Lebih dari 2 tahun Ares telah menyentuhnya dan membebaskannya dari status budak, namun Ivy tidak kunjung dikaruniai seorang anak, menyebabkan ia sangat sedih.


Tidak seperti orang yang hidup di era modern dimana Childfree merupakan kebebasan dan sebuah pilihan. Orang-orang yang hidup di abad pertengahan sangatlah mendambakan seorang anak.


Tidak hanya dapat membantu pekerjaan mereka yang terbilang berat—bertani, beternak, hingga nelayan—jika para orang tua rakyat jelata dapat membuat anak-anak perempuannya menjadi selir para bangsawan, kehidupan keduanya hingga masa tua serta keluarga besar mereka dipastikan telah terjamin.


Sebenarnya, terdapat satu gadis lain yang kini sedang menjaga para anak-anak Ares di kamar tepat di samping kamar pribadi Ares.


Esther, seorang anak yang Ares selamatkan dahulu dan kini menjadi ksatria pribadinya yang masih dalam tahapan magang.


Tidak berbeda dengan Ivy, Esther, yang baru saja genap memasuki usia kedewasaan, 15 tahun, memiliki perawakan tubuh yang mungil dengan rambut putih yang sangat mirip dengan Excel.


Mengenakan sebuah penutup mata untuk menutupi salah satu matanya karena terjadi heterochromia pada warna kedua matanya, Esther tidaklah lagi ditakuti dan dijuluki sebagai seorang anak terkutuk.


Ares telah memberikan perlindungan ekstra kepada Esther. Bagi siapapun yang mencoba membuka penutup matanya secara paksa, maka orang tersebut akan dihukum mati.


Secara berjajar melingkar, Milly serta para gundik yang lain terduduk berhadapan dengan Ares. Di tengah-tengah mereka, terdapat sebuah meja kayu bundar yang cukup kecil, hanya berdiameter sekitar 1 meter.


Ares perlahan melirikkan kedua matanya, menatap para gundik dan selirnya. Samar, tidak diketahui oleh mereka, tatapan Ares sebenarnya tertuju kepada masing-masing buah dada para wanita di depannya, menunjukkan bahwa Ares juga merupakan seorang pria yang juga memiliki ***** cukup besar.


Keadilan.


Dan juga, kualitas premium.


Sebuah senyuman masam terukir. Para wanita di hadapannya hanya menatap aneh pada perilaku yang tanpa sadar Tuan serta pasangan mereka lakukan tersebut.


Mengusir jauh pemikirannya yang telah menyimpang, Ares mengeluarkan sebuah lembaran perkamen yang cukup besar dari tas besar yang dia sandarkan di sampingnya.


"Ares, apa itu?" Milly bertanya, penasaran dengan isi perkamen. Jika di ruang privat, Milly tidak segan mengutarakan kedekatannya dengan Ares, tidak berbeda dengan para wanitanya yang lain.


"Peta bekas Wilayah Rowling." Melebarkan lembar perkamen tersebut, Ares menempatkan agar Wilayah Rueter—wilayah pribadi Ares yang terletak di ujung barat daya kekaisaran—dapat terlihat oleh mereka semua, "Aku ingin membahas bagaimana masa depan anak-anak kita."


Suasana berubah tegang.


Tidak ada diantara para gadis tersebut yang berkeinginan meminta sedikitpun wilayah untuk diperintah maupun jabatan untuk anak-anak mereka kepada Ares, meski beberapa diantara mereka juga mengharapkannya.


Kasta sosial sangatlah berbeda. Bahkan, bagi para gundik seperti Amalia dan Sena yang merupakan mantan rakyat jelata dan kini menyandang gelar ksatria, gelar "Baron" atau bangsawan tingkat paling rendah bagi mereka hanyalah sebuah angan.


Meski mereka merupakan wanita yang dirawat dengan penuh kasih sayang dan dicintai oleh Ares, status mereka hanyalah seorang gundik, wanita simpanan bangsawan yang anak-anak mereka tidak sekalipun memiliki hak untuk menjadi seorang pewaris.


Singkatnya, mereka hanya memiliki posisi yang sedikit lebih tinggi daripada budak pemuas ***** para bangsawan karena mereka merupakan individu yang merdeka.


Berbeda dengan para bangsawan lain memperlakukan para gundiknya, Ares sangatlah memberi perhatian tidak hanya kepada diri mereka dan anak-anaknya, namun juga kepada kedua orang tua serta keluarga besar mereka.


Bahkan saat ini, karena bantuan Ares, keluarga Sena yang sebelumnya hanya memiliki satu bangunan penginapan kumuh, bisnis mereka meningkat tajam dan kini telah menjadi keluarga pemilik jaringan penginapan mewah yang tersebar di beberapa kota besar dan kota kecil Kekaisaran Arestia.


Harapan agar anak-anak mereka mapan tentu tetaplah ada. Ares tidaklah menampik jika dia juga menginginkan agar anak-anaknya menjadi sukses, bahkan jika anaknya terlahir dari seseorang yang pernah menjadi budak seperti Ivy.


Memandang reaksi para gadis, Ares menampilkan senyuman lembut, "Jangan khawatir. Sebagai seorang ayah, aku juga ingin mereka menjadi orang yang terpandang... terlepas dari apapun status sosial yang ibu anak-anakku miliki."


"Yang Mu—Ares..." Ody mendapat senyuman penuh arti dari Ares, segera mengubah panggilannya menjadi lebih intim.


"Ya?" timpal Ares lembut.


"Um... mengapa kamu menunjukkan peta ini kepada kami?" tanya Ody.


"Sejujurnya, aku ingin memberikan Leon dan Zack beberapa wilayah di sekitar Wilayah Rueter setelah mereka dewasa karena beberapa wilayah tersebut merupakan wilayah tanpa tuan setelah kudeta." Ares sejenak menghentikan kata-katanya, memandang para gadis untuk memeriksa reaksi mereka sembari menunjuk pada wilayah yang dimaksud.


Hanya mendapati keterkejutan, senyuman masam segera terukir di atas raut wajah Ares, "Jika itu Wilayah Rueter dan tidak termasuk Zona Perdagangan Bebas, aku ingin memberikan wilayah tersebut secara penuh kepada Elsa... maaf."


"Ti—tidak perlu meminta maaf, Tuan! Kami telah merasa sangat cukup dengan keadaan yang kami miliki saat ini!" Mia menimpali panik, tidak menyangka putranya akan diberikan kekuasaan yang begitu besar.


"I—itu benar, Ares! Kami merasa sangat cukup hanya dengan ini!" timpal Amalia panik.


Sangat kontras dengan para gadis lain, Milly menampilkan wajah tenang. Harapan yang ia dambakan telah menjadi kenyataan.


Berbeda dengan para gadis lain yang memiliki latar belakang seorang rakyat jelata, Milly merupakan gadis yang murni dididik dengan ajaran keluarga ksatria, membuat Milly merasa jika Wilma pantas mendapatkan hal tersebut.


Meski bukan pada tingkat yang sangat tinggi, hanya merupakan seorang pejabat istana berpangkat viscount, Milly menganggap jika itu sangatlah cukup untuk diberikan kepada Wilma.


Ares mengubah wajahnya menjadi hangat, berusaha menenangkan keadaan ruangan yang panas, "Tidak perlu khawatir. Itu hanya pilihan terakhir jika mereka tidak ingin menjadi pejabat istana atau atase militer."


"Jadi... tolong pikirkan baik-baik." Ares menghentikan kata-katanya, perlahan menundukkan kepalanya dan bersikap memohon. Bukan karena gelar "kaisar," namun karena gelar "ayah" yang melekat pada dirinya, "Setidaknya, aku benar-benar berharap apabila anak-anakku yang lain dapat membantu Raze dan Orcian di masa yang akan datang..."


Memandang Tuan sekaligus suami mereka, para gadis hanya dapat melukiskan ekspresi rumit. Meskipun begitu, sebuah kesepakatan dalam diam pun terukir diantara mereka.


Kami pasti akan mendidik mereka dengan baik, Yang Mulia.


...----------------...