
...—Ibukota Latva, Kerajaan Forbrenne—...
...—24 Juli 1238—...
"Kukira, mereka dapat melakukan sesuatu yang lebih baik dibandingkan dengan ini." Nada Rea terdengar datar, tidak menunjukkan sedikitpun emosi, namun kekecewaan dapat dirasakan dari kata-kata yang ia lontarkan.
Di atas tembok pertahanan ibukota yang tidak terlihat adanya seorangpun prajurit Forbrenne, dua wanita yang mengenakan jubah hitam saling memandang, tidak mengacuhkan sedikitpun suasana mencekam di luar tembok ibukota dimana banyak bongkahan batu raksasa menghancurkan pasukan pemberontak.
Tatapan Rea tertuju kepada seorang wanita tua berambut panjang sebahu yang keseluruhannya telah memutih.
Eina—Kepala Biro Intelejen Kekaisaran Arestia—hanya dapat tersenyum masam, "Kami tidak bergerak seperti halnya dengan kalian. Kami harus mempertimbangkan dampak-dampak yang muncul agar dapat terlihat senatural mungkin. Yah, meskipun Pangeran itu dapat bertindak melebihi ekspektasiku."
"Jika pangeran itu semakin bertindak tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, aku akan menanganinya sendiri." Rea menutup wajahnya yang tertutup topeng dan kepalanya dengan tudung jubah hitamnya.
Berbalik, Rea melompat jauh, menapak atap gedung yang berada di dekat dinding pertahanan ibukota dan pergi menjauh.
"Sungguh, gadis yang tidak sabaran." Eina tersenyum masam, menutup kepalanya dengan tudungnya dan berjalan menjauh dengan langkah yang terlihat tenang, "Yah, kurasa... itu dapat dimaklumi mengingat usianya yang masih terbilang muda."
Jauh dari tempat Eina berada, Treor menatap pemandangan mengerikan tepat di hadapannya dengan tatapan tidak percaya, seolah kejadian di hadapannya adalah suatu hal yang mustahil untuk terjadi.
Berbeda dengan Rutz serta beberapa pemimpin pemberontak lain yang telah menggerakkan pasukan elit mereka, Treor tidaklah memiliki perasaan yang mantap untuk membantai para penduduk ibukota, membuat dia dan kelompoknya terselamatkan karena masih berada di garis belakang pasukan pemberontak.
Tubuh Treor terlihat gemetaran, keringat dingin deras bercucuran dari sekujur tubuhnya. Pun tidak berbeda dengan ekspresinya yang melukiskan ketakutan yang mendalam.
Baginya—serta para pemimpin pemberontak yang lain—mereka tidaklah memiliki satupun pengalaman menggerakkan pasukan dalam skala ribuan seperti seorang bangsawan. Walau pikirannya menolak, Treor mengerti, pasukan pemberontak telah kehilangan moralnya.
BLAR!
BLAR!
BLAR!
"Kabur!"
"Lari!"
"Argh! Tanganku! Tanganku!"
"Aaaaaarrrghh!
Walau hanya beberapa bongkahan batu raksasa yang ditembakkan dalam satu kali lemparan, para pemberontak panik ketakutan, berlari tunggang langgang mencari perlindungan dan keselamatan.
Kegelapan malam kini telah menyelimuti. Berbeda disaat mentari masih menyinari, psikologis seorang manusia dalam mengontrol emosinya tidaklah sebaik pada siang hari.
Ketakutan yang diakibatkan suara-suara rintihan serta teriakan akibat rasa sakit menyebabkan moral para pemberontak turun secara drastis. Terlebih, kegelapan malam membuat mereka menjadi semakin panik.
Berada di tengah lautan manusia, para pemberontak saling bertabrakan, saling menginjak-injak seseorang yang seharusnya menjadi rekan mereka bertempur, tanpa sengaja saling membunuh meski para penduduk ibukota juga tidak luput menjadi korban.
"Bos, apa yang harus kita lakukan?!" Seorang bawahan Treor bertanya panik.
Menyaksikan formasi para pemberontak yang telah kacau serta telah kabur dan tewas terinjak, pikiran Treor hanya dapat memikirkan hal negatif. Terlebih, saat ini perasaannya hanya dilanda oleh ketakutan akan kematian.
"Ki—kita mundur! Ayo tinggalkan tempat in—"
JRASH!
Kata-kata Treor terputus. Sebuah tebasan pedang pendek beracun memotong lehernya secara tiba-tiba, menyebabkan kepala Treor terjatuh.
Para bawahan Treor terkejut, segera menghunuskan masing-masing senjata mereka.
"Jangan macam-macam!" Salah seorang penombak berlari, menyerang Rea dengan mengarahkan ujung tombak pendeknya.
JRASH!
JRASH!
JRASH!
Rea berlari, memanfaatkan statistik tubuh dan kelincahannya yang tinggi untuk mengitari penombak tersebut dengan menggorok leher para bawahan Treor yang lain.
"Eh?" Merasakan bilah dingin pedang Rea telah menyentuh kulit lehernya, Penombak tersebut hanya dapat terdiam, mematung karena keterkejutannya.
"Sejujurnya, aku telah bersikap skeptis terhadap rencana Eina yang berbelit-belit." Suara Rea bernada datar, meski ia mengajukan sebuah keberatan, "Meskipun begitu, aku sadar bila kita tetap membutuhkannya, demi menjaga nama baik Yang Mulia Kaisar."
"Hah?!" Mendengar jika mereka didukung oleh Arestia, penombak tersebut sangat terkejut, walau kepalanya segera terjatuh karena Rea menebas lehernya dengan kuat.
JRASH!
Setelah membersihkan bilah pedangnya yang bernoda darah dengan mengayunkannya, Rea kembali menyarungkan pedang pendeknya.
"Jika saja Yang Mulia dapat berkeliling dan membantai siapapun yang menjadi musuhnya, kurasa itu akan sangat menyenangkan." Dengan kening yang berkerut, Rea sejenak memandang langit gelap yang kini terdapat bulan yang bersinar padanya, "Aku... sangat membenci bagaimana kompleksnya dunia ini bekerja."
Berada di hadapan gerbang tembok yang membatasi ibukota, Ruon dan para ksatria pengawal elitnya menunggang kuda dengan cepat, kembali memasuki gerbang untuk beristirahat.
Meski terlihat kelelahan dengan banyak keringat yang mengucur dari kulit wajahnya, ekspresi Ruon terkesan cerah, seolah baru saja melewati salah satu masalah terberatnya.
Ruon dan para ksatria pengawalnya bergerak mendekati barak, melewati beberapa penduduk yang bersorak kepadanya dengan dikelilingi oleh pengawalan ketat.
"Kirimkan pesan untuk Felipe. Katakan padanya untuk mengeliminasi siapapun yang terlihat mencurigakan." Gerbang barak ksatria telah berada dalam bidang pandang Ruon. Kepada para ksatrianya, Ruon memerintahkan mereka tanpa memperlihatkan sedikitpun keletihannya.
"Ya, Yang Mulia!" Dua ksatria pengawal membungkuk di atas tunggangannya, masing-masing dari mereka menarik tali kekang kudanya dan bergerak ke arah lain, meninggalkan Ruon dengan penjagaan 12 ksatria.
Setelah melewati gerbang, salah satu ksatria pria pengawal mendekati Ruon, yang berkuda pada posisi paling depan, "Apakah Anda hendak beristirahat, Yang Mulia? Kami akan mempersiapkan makan malam serta beberapa budak wanita di tempat tidur Anda."
Tidak berbeda dengan budaya di dunia Ares sebelumnya, peperangan sangat identik dengan praktik prostitusi serta minuman keras.
Begitu pula para bangsawan, mayoritas dari mereka bahkan akan mengambil wanita-wanita cantik entah mereka lajang atau bahkan memiliki suami yang masih hidup demi kepuasan mereka selama masa peperangan.
"Tidak." Ruon menolak tegas.
Ruon teringat dengan keadaan istana yang tidak lagi aman. Terlebih, dengan terbunuhnya Pangeran Ketiga, Ruon memutuskan untuk tidak mendekati seorangpun wanita demi keselamatan dirinya, merasa bahwa musuh dapat menyamar sebagai seorang budak untuk membunuhnya.
"Namun—" ungkap ksatria tersebut yang keberatan.
"Bukannya aku meragukan kalian, tapi aku tidak akan menyentuh wanita dan alkohol selama kekacauan ini belum berakhir." Ruon membalas tegas, menghentikan sejenak gerakan kudanya.
Ksatria pengawal tersebut sejenak samar mengangkat kedua sudut bibirnya, "Saya benar-benar bersyukur atas kewaspadaan Anda, Yang Mulia. Namun, jika Anda tidak dapat menahannya, harap untuk menghubungi kami."
"Ya." Ruon menjawab singkat, ia turun dan menyerahkan tali kekang kudanya kepada seorang ksatria yang menjaga gerbang.
Sejenak memandang kuda perang berwarna coklat yang baru saja dibawa pergi oleh ksatria tersebut, Ruon menghela napas berat.
Kuharap, masa-masa melelahkan ini dapat segera berakhir.
...----------------...