Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 50 : Penggandaan



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—16 Januari 1239—...


"Jadi, apakah kami dapat mengetahui sesuatu yang ingin Anda tuju, Yang Mulia?" Berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang tampak seperti orang mengantuk, tatapan mata Victor tajam, seolah tidak ingin melewatkan satupun tindakan yang Ares akan lakukan.


Tidak hanya berasal dari Victor, Ares dikelilingi oleh tatapan tajam. Demikian juga berasal dari adik tirinya, Elsa. Mendengar mengenai rencana penggandaan uang, Elsa sejenak terperangah, kedua gendang telinganya seolah tidak mempercayai sesuatu yang baru saja kakaknya ucapkan.


Tentu, sengitnya sikap Elsa berasal dari kepeduliannya terhadap Ares. Kekhawatiran mengenai situasi "chaos" yang sangat mungkin terjadi pada Arestia apabila rencana kakaknya terpeleset, meski Elsa tidak benar-benar memahami jalan pemikiran kakaknya, begitupula dengan Victor, Duke Alein, Mantan Ratu Nevia, bahkan hingga Sang Gubernur Bank Sentral, Loic.


Tidak seperti apa yang Ares pikirkan, semua tamu menganggap jika kakak tiri Elsa berkehendak untuk menginvasi tambang logam mulia yang lain, yang dipastikan akan bersinggungan dengan Kekaisaran Suci Alven.


Sesuatu yang baru pasti akan diwaspadai orang-orang yang nyaman dengan sistem lama... khususnya pada generasi dewasa.


Tidak jauh berbeda dengan sejarah bumi dimana orang-orang tua sangatlah merepotkan karena pikiran mereka yang sempit.


Lagipula... aku hidup di abad ke-13, meskipun kala itu China sudah menggunakan uang kartal terlebih dahulu, masih terlalu dini bagi dunia yang berbudaya eropa seperti dunia ini untuk melakukan transaksi dengan uang kertas.


Bukankah itu berarti aku adalah Marco Polo bagi dunia ini?


"Sesuatu yang ingin aku tuju... kah?" Ares memutuskan memberi proyeksi. Dari sakunya, dua koin emas yang masing-masing bernilai 1.000 G berada diantara dua celah jemarinya, saling menggelinding hingga keduanya menabrak satu sama lain.


Ting.


Berada tepat di hadapan Elsa dan Victor, kedua koin saling berputar, sejenak sisi-sisi mereka menyentuh permukaan meja hingga benar-benar terjatuh.


"Marquis Villiers, Elsa, ambillah masing-masing koin yang ada di depan kalian." Elsa dan Victor sejenak saling memandang, melukiskan ekspresi bingung.


Rasa penasaran tinggi membuat keduanya menurut, menggenggam masing-masing koin tersebut di tangan kanan mereka.


Ares mengangguk ringan, "Tolong berikan dua buah sendok makan kepada Loic."


Seorang pelayan tingkat tinggi membungkuk dalam, melangkah mendekat kepada Loic dan menyerahkan dua sendok besi yang terlihat mewah dengan ukirannya.


Menerimanya, dahinya mengernyit, Loic hanya dapat mengekspresikan kebingungannya, dengan sabar menunggu kata-kata yang akan Ares ungkapkan selanjutnya.


"Sekarang, Loic, bagaimana kamu akan membeli seekor kuda perang yang bernilai satu koin emas dengan sendok di tanganmu?" Dengan tangan kiri, Ares menahan wajahnya sembari tersenyum masam ke arah Loic.


"Bukankah itu mustahil, Yang Mulia?" Nevia dengan bingung sedikit memiringkan kepalanya. Pikirannya yang penuh pengalaman serta telah memasuki usia pertengahan kepala tiga juga tidak dapat mencerna hal tersebut dapat terealisasikan, begitupula dengan suami sekaligus kakak tirinya, Duke Alein.


"Itu mungkin, Duchess." Ares berkata senyaring mungkin, bertujuan agar wanita paruh baya berambut putih panjang yang memberi tatapan bingung kepadanya agar dapat memikirkannya kembali dengan lebih kritis.


Meski telah memasuki usia kepala tiga, raut wajah dewasa Nieve, yang bahkan dua puluh tahun yang lalu telah melahirkan Pangeran Kedua Kerajaan Rowling, tetap terlihat muda, tidak nampak adanya garis tanda penuaan.


"Tolong katakan saja kepada kami, Yang Mulia." Victor tidak kuasa untuk menahan rasa penasarannya. Melihat ekspresi masam Ares juga membuatnya bertambah kesal, teringat saat dirinya disudutkan oleh Sang Kaisar di masa lampau hanya karena sebuah permainan kata.


"Loic, berperanlah sebagai Bank." Ares berbicara dengan tetap mempertahankan ekspresi masamnya, seolah berniat untuk menggoda Victor. Memalingkan wajah, Ares secara bergiliran menatap Loic, Victor, dan Elsa, "Dan kalian berdua, jadilah seorang pedagang."


"Untuk apa?" Victor bertanya heran, salah satu alisnya terangkat.


"Anggap bila Marquis Villiers dan Elsa adalah dua perusahaan dagang yang berafiliasi dengan Guild Pedagang. Itu berarti, kalian memiliki uang yang tersimpan di Bank, bukan?" ujar Ares, tidak sedikitpun menggubris pertanyaan Victor.


"Itu... benar," balas Elsa.


"Jadi, berikanlah koin emas yang kini kalian genggam kepada Loic." Ares memberi perintah, menyandarkan punggungnya agar bersikap rileks sembari menatap interaksi diantara tiga orang yang duduk melingkar pada meja bundar bersamanya.


Menerima dua koin emas, Loic hanya dapat menatap bingung secara bergiliran kepada dua sendok di tangan kirinya serta koin emas di tangan kanannya.


"Lalu?" tanya Duke Alein.


Sejenak, pada secarik kertas kecil, Ares menggoreskan pena bulunya, memperlihatkan apa yang dia tulis kepada semua lawan bicaranya.


"Dekrit," adalah apa yang tertulis pada kertas yang ditunjukkan.


"Dengan ini, aku—Kaisar Arestia, Ares I—menyatakan bahwa sendok yang hanya dikeluarkan oleh Loic menjadi alat tukar yang sah, selama dipergunakan di dalam Zona Perdagangan Bebas serta Kota Hauzen secara khusus."


Mata semua orang perlahan terbuka, sangat tidak mempercayai sesuatu yang baru saja Ares ucapkan.


Kekuatan, posisi, pengaruh, hingga jaringan. Meski Kaisar Renacles juga memiliki hal yang serupa dengan Ares, namun dia tidaklah memiliki jaringan yang dapat dikenal oleh khalayak, operasinya terlalu berkutat pada transaksi ilegal, yang tentu saja tidak mungkin dia ungkapkan.


Loic, yang hanya dapat tercengang, tanpa sadar genggamannya terlihat gemetar kecil, sesuatu yang keji baru merasuk ke dalam alam pikirannya.


Demikian dengan Victor serta Duke Alein, seseorang yang telah memakan asam garam kehidupan selama lebih dari dua puluh tahun perjalanannya menjadi seorang bangsawan.


Tindakan Ares yang sangat berani memiliki resiko tinggi, hingga kemungkinan kepailitan yang dapat menimpa keuangan negara, bahkan setelah menjual semua asetnya.


"Hanya dengan dua tembaga kecil... aku dapat memiliki satu koin emas... yang nilainya melebihi hampir seribu kali lipatnya," tambah Ares.


"Ta—tapi, a—apa yang hendak Anda lakukan dengan uang yang tersimpan? Apakah Anda berniat untuk benar-benar mengamankannya?" Elsa mengungkap pemikirannya.


Walau Ares telah memberinya umpan, namun dia belum dapat menarik ikannya, yang sangat wajar karena Elsa—yang notabene merupakan masyarakat asli dengan kebudayaan abad pertengahan—tidak dapat membuat sebuah pengandaian dengan baik.


"Apa yang kamu katakan, Nona Lenoir? Tentu saja, pendanaan perang," balas Ares sembari tersenyum kecut.


"La—lalu, bagaimana jika Bank Sentral mengalami krisis kepercayaan, Yang Mulia?!" Elsa memberi peringatan, nadanya terkesan panik, menganggap jika saudara tirinya telah melewati batasan yang seharusnya tidak dia lewati.


"Kenapa kamu begitu khawatir? Kita memiliki perjanjian dengan para pedagang. Seburuk-buruknya, jika para pedagang meminta untuk melihat bentuk fisik dari uang yang mereka simpan, aku tetap akan meninggalkan 1 milyar G di dalam bank. Tidak mungkin mereka akan mengecek 4 milyar G yang tersisa." Meski terdengar santai, Elsa dapat merasakan intimidasi dari nada kakaknya.


Ares memberi pengetahuan, pengalaman, hingga prediksi seorang veteran keuangan, seolah Elsa diperintahkan untuk diam dan mengamati.


"Sejujurnya, jika itu Anda, Yang Mulia, segila apapun ide yang akan Anda eksekusi, saya tidak sedikitpun merasakan kekhawatiran akan kegagalan." Victor memberi penilaiannya, tangan kanannya mencatat hal-hal yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang mengenai uang kertas, "Tapi tetap saja... apakah pada masa yang akan datang, nilai ekstrinsik dari media pengganti emas ini akan tetap berada pada posisi yang stabil?"


"Aku akan menjaminnya, serta nilai ekstrinsik uang yang aku keluarkan nilainya disamakan dengan satu koin emas. Tidak mungkin nilainya akan sejatuh itu," jawab Ares lugas.


"Tolong berikan saya satu hal, Yang Mulia," timpal Victor bersikukuh.


"Katakan," perintah Ares.


"Apakah Yang Mulia Perdana Menteri mengetahui hal ini?" tanya Victor.


"Jika tidak, dia tidak akan mengolok-olokku sebagai 'Raja Iblis yang bangkit.'" Teringat pertemuan empat mata dengan Warren, Ares hanya dapat membalas yang disertai senyuman masam.


Hingga beberapa saat mereka bertukar pembicaraan secara serius, mengenai langkah-langkah antisipasi yang akan diambil serta strategi untuk melawan langkah balasan yang dilakukan negara lain.


Setelah melihat kepergian Victor, Elsa dan Loic berdiri dan membungkuk, melakukan penghormatan sebesar-besarnya kepada Sang Kaisar.


"Aku sangat menantikan keponakanku." Harapan yang sarat akan desakan dan sindiran menggores gendang telinga Loic, membuatnya tidak nyaman karena segan kepada Ares, meski keduanya menampakkan wajah merah karena malu.


Tentu, selepas menikah, Loic dan Elsa telah sering melakukannya, walau hingga kini keduanya belum berhasil mendapatkan buah hati.


"Ba—baik, Yang Mulia!" balas Loic panik.


"Te—terima kasih atas harapan Anda, Yang Mulia!" balas Elsa, sarat akan ketidaknyamanan.


Dengan cepat, keduanya pergi meninggalkan ruangan. Hanya tiga orang yang tersisa, yang sebelumnya terlibat dalam perseteruan, dapat berkumpul kembali sebagai rekan.


Aku mungkin sudah berlebihan menekan mereka. Ayo minta maaf nanti.


Sekarang...


Dari pintu dimana semua pelayan dan ksatria baru saja pergi meninggalkan ruangan, Ares kembali menoleh, menuju pasangan yang telah menyembunyikan segala kabar dan aktivitas mereka selama lebih dari dua tahun terakhir.


Kurasa, Duke telah menyembunyikan banyak hal dariku selama dua tahun ini.


Semoga, hal buruk yang aku pikiran benar-benar belum terjadi.


...----------------...


Note :


Nilai intrinsik pada uang \= nilai bahan baku uang.


Nilai ekstrinsik pada uang \= nilai dan kemampuan uang dalam bertransaksi.


...----------------...