
...—Basilika Our Lady of Noven-Belle, Wilayah Otorita Gereja—...
...—22 Januari 1239—...
Bulir-bulir kecil keputihan sekali lagi bertebaran, menghujani sebuah kota yang memiliki ciri khas arsitektur romawi hingga menyebabkan tidak ada satupun atap bangunan di dalamnya yang tidak terselimuti oleh lembutnya salju musim dingin.
Tidak berada pada kondisi yang sangat ekstrim seperti bagian paling utara dunia, semua penduduk kota setidaknya dapat beraktivitas di luar ruangan meski harus membalut tubuhnya dengan pakaian bulu yang tebal.
Meskipun begitu, tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengeluh. Semua orang menapakkan kakinya melewati dinginnya salju. Entah berasal dari apapun latar belakang, entah seorang pendeta hingga seorang rakyat jelata biasa, semua langkah hanya tertuju ke sebuah bangunan berwarna keemasan yang menjulang megah di tengah kota.
Basilika Our Lady of Noven-Belle, bangunan megah berarsitektur roma dengan banyak pilar putih besar sebagai penyangga, hampir di setiap sudut bangunannya terdapat lukisan-lukisan yang memproyeksikan berbagai kejadian di dalam kitab suci.
Basilika yang dibangun sebagai penghormatan dan kecintaan kepada Saint Noven dari Kota Belle—yang kini telah berubah namanya menjadi Noven-Belle—tepat setelah Otoritas Gereja Arafant memutuskan untuk mengubah tanah yang disucikan akibat dari kehancuran Kekaisaran Suci Regulus pada masa lampau serta menganggap apabila tanah suci sebelumnya telah tercemar.
Hari ini adalah hari agung, hampir dari setiap penduduk kota berbondong-bondong menuju pelataran utama yang berada di luar basilika, hanya untuk mendengar kalimat-kalimat yang akan orang suci sampaikan.
Terbukti, perkataan seorang Saint adalah kebenaran—yang sebenarnya diakibatkan oleh efek dari game, membuat semua orang menunggu Sang Saint untuk sekali lagi melakukan ceramahnya.
Hingga matahari sedikit meninggi, semua orang telah menunggu kehadiran orang suci, siapapun baik orang-orang berkasta tinggi di dalam basilika maupun para rakyat jelata yang hanya dapat mendengarkan dari luar bangunan. Keamanan sangat ketat pun dijaga oleh ratusan ksatria suci yang berjaga di setiap sudut area basilika.
"Yang Mulia Saint... waktu Anda telah tiba. Mohon untuk mengikuti saya." Seorang ksatria suci muda yang sedikit menunduk untuk menahan matanya akibat kecantikan wanita di depannya memberi peringatan.
"Terima kasih."
Gadis cantik dengan rambut pirang panjang mendatarkan ekspresinya, bergerak mengikuti bimbingan salah satu ksatria pengawalnya.
Mengenakan gaun putih rahib yang menyapu lantai, kerudung putih panjang yang ia kenakan menutupi seluruh rambut hingga sebagian wajahnya, sangat memberikan kesan suci yang sulit untuk didekati.
Saint Jeanne, seorang wanita pewaris Noven yang dikabarkan telah menerima kata-kata Tuhan. Menapaki tangga panggung dimana ceramah akan dilakukan, Jeanne tahu, semua kardinal tidaklah menyukainya terkecuali seorang kardinal yang telah merawatnya semenjak kecil seperti ayahnya sendiri.
Para kardinal serta petinggi gereja hanya menampakkan senyum, seolah hal tersebut hanyalah sekedar formalitas semata.
Di atas altar agung, pidato Jeanne terasa sangat sejuk mencerahkan. Semua mata memandang tertuju kepadanya, mengira bahwa Sang Saint sedang menampakkan sebuah senyuman. Namun tidak ada yang mengetahui, Jeanne bersikap tanpa ekspresi di balik wajah samarnya yang tertutup kerudung, pun demikian dengan mata biru turkishnya yang tidak lagi memancarkan cahaya, meski ia tidak sekalipun pernah menunjukkannya kepada orang lain sebelumnya.
Keempat kardinal duduk pada balkon dalam ruangan yang juga menghadap kepada Jeanne. Terkecuali Kardinal Copet—pria bertubuh besar gemuk besar dengan rambut uban yang hanya tumbuh mengelilingi kepalanya, serta seseorang yang telah merawat Jeanne sejak belia seperti anak kandungnya sendiri—tiga kardinal lain memandang Sang Saint dengan tatapan rendah.
Kardinal Julia, wanita tua dengan wajah keriput yang memiliki rambut panjang penuh uban, pakaian putih memanjang hingga lantai hampir menutupi seluruh tubuhnya, sangat menunjukkan kebesaran salah satu petinggi gereja.
Kardinal Jirgis, seorang pria paruh baya berambut coklat pendek berjenggot tidak panjang yang memberikan kesan licik, telah menjadi rahasia umum apabila kekuatan serta pengaruh yang dia miliki berada tepat di bawah Perdana Menteri Kekaisaran Renacles, membuat hampir semua bangsawan akan tunduk dan patuh kepadanya.
Kardinal Aulus, pria paruh baya berambut putih cepak dengan wajah mengintimidasi yang mengenakan jubah putih kebesaran dengan banyak dekorasi glamor duduk terdiam, tatapannya terasa keruh saat melihat Jeanne menyampaikan pidato sejuknya.
Ekonomi serta hubungan luar negeri, para pendeta serta rohaniwan tingkat tinggi, hingga militer yang diwakili Ksatria Suci, tiga kardinal secara berurutan mewakili tiga pilar besar yang menjadi pondasi otoritas gereja.
Paus Constantine XIV, pemimpin tertinggi Agama Arafant.
Berbeda dengan keempat kardinal, dimana hanya Copet yang sangat berpihak kepada Jeanne baik di depan maupun di balik layar, Constantine mengambil sikap pertengahan, selayaknya seorang pembesar agama yang sangat bijaksana, meski dia telah memiliki nama kuat untuk menjadi penggantinya setelah kematiannya.
Pidato telah usai, Jeanne kembali melangkah turun, menuju kedalaman bangunan dengan pengawalan ksatria suci elitnya.
"Saint Jeanne." Di tengah lorong, panggilan bernada berat menghentikan langkah, Jeanne sangat mengenal suara tersebut, membuatnya serta para ksatria berbalik, bersikap hormat kepada Constantine serta keempat kardinal yang berjalan mengikutinya.
Jeanne menunduk, bersikap hormat layaknya seorang hamba, meski seharusnya posisi Sang Saint lebih tinggi jika dibandingkan seorang paus—karena Jeanne dapat mendengar suara Tuhan. Begitupun para ksatria suci yang segera menepi, menundukkan dalam kepalanya sebagai penghormatan tertinggi kepada Constantine.
Melirik kecil kepada tiga kardinal di belakang Paus, sekujur tubuh Jeanne tanpa sadar gemetar kecil—yang tidak disadari oleh siapapun.
Beberapa tekanan telah Jeanne terima dari ketiga kardinal yang sangat rakus terhadap posisi paus selanjutnya. Tekanan berupa penurunan derajat, hingga ancaman pembunuhan telah ia terima, walau tidak secara langsung mengatasnamakan ketiga kardinal, Jeanne serta Copet tidaklah sebodoh itu, keduanya sangat mengerti apabila dalang sebenarnya adalah ketiga kardinal yang sedang terancam kehilangan posisinya.
"Bagaimana persiapanmu?" Constantine berhadapan secara langsung dengan Jeanne.
Meski Jeanne memiliki tinggi yang berkisar pada 160 cm, keduanya sangat jauh apabila dibandingkan, dimana tubuh besar Sang Paus hampir memiliki ketinggian mendekati angka 220 cm.
Jeanne memalingkan pandangannya, terfokus kepada Constantine yang berbicara kepadanya, "Saya sangat berterima kasih karena Anda telah meluangkan waktu untuk memberi perhatian kepada saya, Yang Mulia Paus... Karena Tuhan memberikan kemudahan kepada kita, kami dapat mempersiapkan segala hal dengan baik dan tepat pada waktunya."
"Begitu." Constantine sejenak menutup kedua matanya, "Aku mendengar kabar apabila Kaisar Arestia memiliki perseteruan dengan Ecasia dan Renacles."
Jeanne sejenak terkejut, tanpa sadar terdiam. Meskipun kejadian tersebut telah berlalu lebih dari satu bulan penuh, kabar serta berita pada era abad pertengahan sulit untuk menyebar, terkecuali pihak-pihak tersebut memiliki jaringan mata-mata dan informasi. Tentu, Paus dan ketiga kardinal yang beroposisi dengan Jeanne memiliki informan tersendiri, mereka telah mengetahui kabar tersebut sejak beberapa hari yang telah berlalu.
"Ditambah dengan ancaman kelompok sesat, perjalananmu menuju barat dipastikan sukar untuk dilalui." Constantine memberikan peringatannya dengan nada berat yang terkesan tegas.
"Terima kasih atas nasihat yang telah Anda berikan kepada saya, Yang Mulia Paus." Jeanne menunduk dalam.
"Semoga perlindungan Tuhan selalu menyertaimu." Constantine kembali melangkah, meninggalkan Jeanne dengan bersisian menuju arah yang berbeda dengannya.
Berbeda dengan ketiga kardinal lain, yang tidak sekalipun mempedulikan Jeanne bahkan untuk ekspresi mengejek, Kardinal Copet merengut saat berpapasan dengannya, terlihat sedih karena tidak dapat melakukan apapun dengan keamanan ekstra untuk Jeanne. Walau Copet merupakan salah satu kardinal, ia memiliki suara lemah, selalu terhalang oleh kepentingan tiga kardinal yang lain.
Setelah merasakan kepergian para petinggi gereja, Jeanne kembali mengangkat kepalanya, melangkah kembali menuju arah yang berbeda dengan mereka dengan kepala yang sedikit tertunduk.
Tanpa disadari oleh seorangpun ksatria suci elit yang mengawal, setetes air mata sekali lagi terjatuh, akibat tanggung jawab serta tugas yang sangat sulit, hatinya terdistorsi, seolah tidak kuasa lagi untuk mengemban gelar "Saint" di atas kedua pundaknya.
Meskipun aku tidak ingin mengungkapkannya... aku... sangat merindukan kehidupanku di panti asuhan dahulu, Ayah.
...----------------...