
...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...
...—18 Desember 1238—...
Cplak.
Tepat setelah membuka gerbang istana kekaisaran, Code : 9 melangkah dengan penuh kepercayaan diri. Tepat di sekelilingnya, puluhan ksatria elit Arestia telah jatuh terkapar, tidak ada lagi seorangpun diantara mereka yang masih mempertahankan kesadarannya.
Beberapa terlihat memiliki tubuh bersimbah darah, beberapa telah kehilangan alat gerak tubuh, beberapa ksatria lain bahkan memiliki tubuh yang terkoyak akibat sayatan cepat dan dalam Carnwennan.
Amarah dan kekesalan telah menguasai diri, kesombongan Code : 9 semakin meningkat tajam karena tidak terdapat seorangpun yang dapat menyentuh kulitnya, bahkan untuk para anggota Klan Cornwall yang ditugaskan untuk menjaga para royalti, membuat Code : 9 tidak lagi menyerang dengan prosedur yang seorang pembunuh akan lakukan.
Tapak langkah Code : 9 tidak sedikitpun terdengar, seolah menyublim dengan kerasnya deru hantaman air hujan. Semua ksatria elit yang mengelilinginya hanya dapat mewaspadai gerakan Code : 9.
Mereka bingung, merasakan takut yang teramat sangat, tidak ada seorangpun bahkan untuk seorang ksatria elit yang tidak gemetar disaat melihat rekan-rekannya dibantai secara sadis dengan kedua mata kepala mereka sendiri.
"Mundur."
Suara feminim seorang wanita membuat para ksatria seketika berpaling. Pun demikian dengan Code : 9, yang kini tanpa sadar mengangkat salah satu sudut bibirnya, sangat meremehkan gadis yang telah berdiri berhadap-hadapan dengannya.
Kedua matanya berwarna kental seperti darah, rambut putih yang tergerai panjang membuat semua pasang mata yang memandang akan menilainya sangat cantik dengan wajah yang dia miliki, seragam hitam militer yang ia kenakan menandakan bahwa dirinya merupakan salah satu orang dengan peringkat tertinggi dalam kemiliteran.
Mendengar perintah tersebut, para ksatria segera melangkah mundur. Mayoritas dari para ksatria merasa terselamatkan, mereka tidak mungkin melangkah mundur karena sumpah setia serta kebanggaan diri dan garis keturunan mereka, namun melawan juga tidak dimungkinkan akibat kemampuan Code : 9 yang terlampau tinggi.
"Selamat malam... senang bertemu dengan Anda, Yang Mulia Excel Aubert." Code : 9 membuka tudung hitamnya, tanpa sedikitpun membungkuk yang seharusnya dia lakukan sebagai penghormatannya kepada Excel.
Seorang pemuda biasa berambut hitam pendek dengan mata tajam, hanya itu yang dapat Excel nilai sebelum dirinya memandang pembantaian para ksatria yang Code : 9 baru saja dia lakukan.
Penilaian Excel semakin meningkat, membuatnya sangat mewaspadai gerakan Code : 9 yang teramat cepat.
Excel dengan wajah datar hanya mengangguk kecil, merasa tidak pantas jika pria di hadapannya mendapat sebuah kesan baik.
"Bangsawan sombong," ejek Code : 9.
Hingga beberapa saat hingga terdengar gemuruh guntur, Excel hanya bungkam, membuat Code : 9 semakin kesal.
JGLAR!
Dengan tanda suara sambaran petir, keduanya saling menerjang, saling menghunus senjata mereka. Berbeda dengan Code : 9 yang menggunakan Belati Carnwennan, Excel menggunakan senjata terkuatnya.
Ruberion Sword, pedang dengan bilah yang memancarkan aura merah, yang dimiliki Excel saat perjalanannya mencari hadiah pernikahan bersama Ares pada masa lampau.
BWOSSHH!
Kedua bilah senjata kelas Phantasmal saling bersilangan, menyebabkan hempasan angin kuat kepada area sekitar. Tanah yang keduanya pijak juga sedikit terpendam, tidak kuasa menahan beban pertemuan dari dua senjata terkuat di dunia.
Demikian juga dengan para ksatria, beberapa secara tiba-tiba terlempar, banyak dari mereka yang terjatuh akibat kehilangan keseimbangan dengan begitu tiba-tiba.
"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu bertemu dengan salah satu dari tiga senjata terkuat lainnya?"
Kalimat tersebut sekali lagi terngiang di dalam benak, Excel tanpa sadar teringat kembali pembicaraannya dengan suaminya tepat setelah keduanya membaca sebuah buku tua yang tertulis sejarah dunia padanya di dalam ruang bawah tanah kastil Kota Ereth.
"Jika musuh memiliki kemampuan yang lebih tinggi darimu, larilah. Kamu tidak mungkin menang melawannya sendirian."
"Jika kamu mati, apa yang harus aku lakukan dengan Raze dan Orcian?"
Kata-kata suaminya tersebut terasa datar, namun entah mengapa Excel merasakan kesedihan yang mendalam, membuatnya hanya dapat bungkam. Meskipun begitu, Ares tentu memahami jika suatu saat akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya, bahkan setelah dia menyusun strategi dengan sangat cermat yang tidak sedikitpun disertai adanya celah.
Meski Ares dan Excel benar-benar tidak ingin melakukannya, meski keduanya benar-benar menginginkan kehidupan yang tenang dan damai untuknya, namun keterpaksaan akibat keadaan membuat keduanya dengan tangan dingin untuk membuka salah satu kartu pilihan terakhir mereka, "Joker."
Sepasang mata merah dan kuning muncul tepat di belakang Code : 9 berdiri, terlihat memancarkan cahaya redup di tengah suasana gelap halaman istana kekaisaran. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman, seolah benar-benar ingin bermain-main dengan lawan yang akan dia hadapi.
Tanpa sadar, bulu kuduk Code : 9 berdiri, mengeluarkan keringat dingin. Dia berbalik, memutar tubuhnya untuk memeriksa sesuatu yang sangat mengganggu perasaannya.
BLAR!
Code : 9 secara naluriah terhempas. Tangkisan Carnwennan dengan statistik di luar nalar yang dirinya miliki tidak mampu menahan kuatnya tebasan yang menyerangnya dari belakang, membuatnya menghantam salah satu tembok bangunan istana hingga hancur berkeping-keping.
Gadis berambut putih berseragam militer berwarna hijau kembali tersenyum, mengangkat kembali pedang dua mata dengan kelas Ancient—yang merupakan pemberian Excel—dengan gerakan elegan.
Esther dengan pengaruh "Alter." Excel dengan sengaja memperlihatkan hancurnya kota serta pembantaian yang Code : 9 lakukan kepada para ksatria. Teringat kembali kenangan pada masa lampau, kondisi dimana "alter" dapat terbangkitkan adalah saat mental Esther tidaklah lagi berada dalam kestabilannya.
Pikirannya kacau, beberapa bisikan jahat Excel lakukan membuatnya terpengaruh. Hal tersebut Excel lakukan semata-mata karena dirinya telah menyadari bila Code : 9 lebih kuat darinya, meski dia tidaklah benar-benar ingin mengakuinya.
Alasan mengapa Esther dikatakan "Kartu Joker" akibat tindakannya yang tidak lagi dapat terprediksi, yang bahkan Ares menilai bahwa itu dapat merugikannya. Untuk itu, Excel memiliki tugas untuk membuatnya pingsan, atau jika tidak mungkin maka membunuhnya adalah satu-satunya pilihan terakhir setelah kekuatan Esther telah melemah.
Mengapa...
Mengapa keturunan murni ada di sini?!
Bagaimana bisa Ares menyembunyikan keberadaannya?!
Dari dalam timbunan puing-puing, satu tangan perlahan keluar, Code : 9 mengangkat tubuhnya untuk keluar darinya. Hal yang menakjubkan bagi semua mata memandang—termasuk Excel—adalah tubuh Code : 9 yang tidak dapat dikatakan benar-benar terluka, hanya beberapa luka gores serta ruam kecil yang dapat terlihat dari tubuhnya yang kini dibalut oleh jubah gelap sobek.
"Selamat malam... senang bertemu denganmu, Kakak."
Memandang kepada Esther, yang tersenyum seolah bersenang-senang, Code : 9 sejenak tercengang, semakin merasakan ketakutan besar, tidak pernah menyangka bila dirinya akan bertemu dengan seseorang yang memiliki warna mata berbeda.
Setidaknya, aku harus membunuh permaisuri dalam tiga detik itu.
Code : 9 bangkit, menghilangkan dirinya dengan efek khusus Carnwennan untuk membunuh Excel. Meskipun begitu, bilah pedang Esther sekali lagi menghempaskannya saat dia hanya berjarak kurang dari 2 meter darinya.
Sial!
BLAR!
"Apakah kamu ingin bermain petak umpet denganku, Kakak?"
Sekali lagi, Code : 9 dengan terhuyung mencoba bangkit setelah punggungnya menabrak tembok istana. Tidak lagi dapat mempedulikan rasa sakit hebat yang dirasakan tubuhnya, pikiran Code : 9 berputar cepat, berpikir agar setidaknya dia dapat kembali menghadap tidak dalam keadaan tangan kosong.
Ck, ayo gunakan rencana itu.
...----------------...