
...—Ibukota Latva, Kerajaan Forbrenne—...
...—23 Juli 1238—...
"Sial." Pangeran Kedua Kerajaan Forbrenne, Ruon, mengepalkan erat telapak tangan kanannya, sangat kesal setelah mendengar para pemberontak mulai mempersiapkan persenjataan militer berat mereka di luar tembok ibukota.
Berada tepat beberapa langkah darinya, Filipe mengerutkan keningnya, tidak menyangka apabila situasi yang baginya sangat mustahil, dapat terjadi.
Bukan tanpa alasan. Rakyat jelata di abad pertengahan sangatlah patuh kepada para penguasa, termasuk para penduduk Forbrenne kepada Ruon dan Filipe bertahun-tahun sebelumnya.
Dengan alasan yang berbeda-beda, entah itu karena rasa kagum atau bahkan rasa takut, akan sangat aneh apabila para rakyat jelata dapat mengangkat senjata terlalu cepat, yang mana keduanya anggap terdapat agen musuh diantara para pemimpin pemberontak.
Berada di dalam salah satu kantor yang dimiliki Ruon di dalam istana, suasana ruangan tersebut seketika menjadi panas, hanya karena apa yang baru saja diungkapkan oleh seorang ksatria yang sedang berlutut dengan gemetaran, khawatir dengan keselamatan hidupnya.
Terlebih, kekesalan Ruon tidak hanya berakar hanya dari masalah tersebut. Kedua Pangeran Kerajaan Forbrenne yang lain, Pangeran Pertama serta Pangeran Ketiga, menolak aliansi sementara, walau mereka sangat memahami jika keadaan telah menjadi sangat genting.
Tidak hanya karena gengsi, namun kedua pangeran tersebut memiliki ibu berasal dari keluarga yang lebih terpandang, sangat berbeda dengan ibu Ruon yang berasal dari keluarga berperingkat Earl serta ibu Felipe yang berasal dari keluarga Viscount.
Apa yang harus aku lakukan hanya dengan 15.000 tentara?!
Sikap kedua idiot itu sangat membuatku sakit kepala!
Secara total, pasukan para bangsawan yang tergabung dalam ketentaraan Kerajaan Forbrenne berkisar pada angka 45.000 orang, yang sebagian besar terdiri atas para budak. Tentu saja, semakin tinggi posisi sosial seorang pangeran, maka pengaruh yang dimilikinya untuk mengendalikan gerakan pasukan juga semakin besar.
Pangeran Pertama Kerajaan Forbrenne membawahi banyak bangsawan yang memiliki kekuatan militer yang besar, menjadikan ia mengontrol 20.000 tentara dari pasukan. Sama halnya dengan pangeran ketiga, yang memiliki kontrol atas 10.000 tentara.
Ruon mengalihkan tatapannya dengan ekspresi kesal, "Oi, bagaimana operasi sabotase di dalam pasukan pemberontak?! Sudah lebih dari tiga hari aku tidak mendapat laporan mereka!"
"Ka—kami juga demikian, Yang Mulia!" Panik, ksatria pelapor berkeringat deras, sangat khawatir dengan keselamatan dirinya, merasa dapat dibunuh kapan saja.
"Begitu, itu jelas gagal." Felipe mengangkat tangan kanannya, sejenak menahan keningnya sembari menutup kedua matanya karena merasa sakit kepala dengan masalah yang menimpa dirinya, "Kurasa, benar jika kita menganggap terdapat seorang agen musuh di dalam pasukan pemberontak."
Tok.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu yang sangat cepat memenuhi ruangan, membuat seisi ruangan mengalihkan perhatiannya kepada sumber suara.
"Yang Mulia! Yang Mulia! Berita buruk!" Suara keras seorang ksatria penjaga terdengar dari balik pintu.
"Masuk." Ruon memberi perintah.
Cklek.
Dengan penuh kepanikan, ksatria penjaga yang berada di luar ruangan serta satu orang ksatria lain memasuki ruangan, mereka berlutut dengan kepala yang tertunduk dalam tepat setelah berada beberapa langkah dari meja Ruon.
"Yang Mulia Pangeran Pertama melarikan diri!" lapor ksatria yang bersama ksatria penjaga.
"Sialan! Idiot itu!" Ruon seketika kesal, tangan kanannya yang mengepal erat memukul meja kerjanya.
"D—dan juga, Yang Mulia Pangeran Ketiga telah ditemukan tewas terbunuh di dalam kamar beliau!" sambung ksatria tersebut.
Sejenak, tidak ada satupun yang dapat memproses informasi yang bagi mereka sangat mengejutkan.
"Mustahil..." Felipe memecah keheningan, nadanya terkesan sangat tidak mempercayai kabar yang baru saja diterima olehnya.
Pikiran Ruon seketika berputar cepat. Ia segera memahami bila kontrol situasi sudah tidak lagi berada dalam genggamannya. Terlebih lagi, dengan kabar terbunuhnya salah satu saudara tirinya yang memiliki keamanan terketat, Ruon sadar jika istana kerajaan atau bahkan ibukota tidak lagi aman bagi dirinya.
Namun, ia tidak dapat mengesampingkan pembunuhan yang terjadi kepada saudara tirinya. Bagi keluarga royalti, sekecil apapun wilayah yang mereka perintah, sangat mencoreng martabat mereka apabila mereka tidak mengambil tindakan kepada sang pembunuh.
"Bagaimana keadaannya saat terbunuh?" tanya Ruon, sangat mengintimidasi bagi banyak orang di sekitarnya.
"Ba—baik, Yang Mulia! Sebuah pisau yang diduga telah dilumuri racun menusuk dada Yang Mulia Pangeran Ketiga disaat beliau tertidur!" jawab ksatria pelapor.
"Apakah ada saksi mengenai kejadian ini?" tanya Ruon.
"Beberapa pelayan yang bertugas mengurus kamar Yang Mulia Pangeran Ketiga memasuki kamar tersebut setelah beberapa lama tidak mendengar jawaban dari beliau! Mereka menemukan Yang Mulia telah tewas terbunuh!" timpal ksatria pelapor.
"Hmm..." Ruon sedikit tertunduk, memandang beberapa laporan perkamen di atas meja kerjanya, walau tatapan kedua matanya tidaklah terfokus pada lembaran tersebut.
"Apakah Kakak segera kabur setelah mendengar kabar ini?" Felipe bertanya, mencurigai saudaranya.
"Tidak, Yang Mulia! Beliau telah meninggalkan istana jauh sebelum para pelayan mengetahui kabar Pangeran Ketiga!" timpal ksatria pelapor.
"Begitu, jadi dia—" Filipe tersela.
"Tidak. Jangan terburu-buru dalam mengambil sebuah kesimpulan," sela Ruon.
"Tapi, jika kita tidak melakukannya, kita tidak memiliki tangan ekstra untuk mengurus pemberontak." Felipe memprotes, ia memahami dampak kekacauan internal istana.
"Bukan hal itu yang aku maksud." Ruon keberatan, "Sebagai informasi yang akan kita sebarkan kepada publik, kita akan menuduh kakak sebagai tersangka utama. Namun, kita tidak dapat menyimpulkan hal itu sebagai jawaban kita. Bukankah kau tahu jika diantara para pimpinan pemberontak terdapat agen dari negara lain?"
"Begitu, aku mengerti." Felipe mengangguk ringan, ekspresinya penuh keseriusan.
"Mulai saat ini, jangan memakan makanan kecuali itu berasal dari ksatria kepercayaanmu. Kita tidak tahu bagaimana musuh dapat bertindak. Terlebih lagi, hampir keseluruhan Wilayah Kerajaan Forbrenne tidak lagi berada dalam genggaman keluarga kerajaan." Ruon menyarankan, mengambil sebuah gulungan perkamen yang terdapat di atas meja kerjanya dan memberikannya kepada Felipe.
"Apa ini?" tanya Felipe, mengerutkan keningnya.
"Jika keselamatanmu tidak lagi terjamin, kaburlah." Ruon menatap kuat pada Felipe, hingga membuatnya terkejut.
"Apa yang kau maksud, Kakak? Apa kau berencana untuk mati di kota ini?!" tanya Felipe, mengerutkan keningnya.
"Benar. Setidaknya, namaku akan tercatat dalam sejarah sebagai anggota royalti yang bertanggung jawab." Ruon tersenyum tipis, ketetapan kuat terukir pada matanya.
"Hah?! Jika seperti itu, aku—" Felipe membalas panik, walau Ruon sekali lagi menyelanya.
"Jangan bodoh. Jika kau juga terbunuh, darah murni Keluarga Kerajaan Forbrenne akan hancur." Ruon menatap kuat pada Felipe, "Aku benar-benar berharap jika kau dapat membangun kembali kejayaan Forbrenne, meski itu dimulai di tanah lain."
Tepat setelah kata-katanya berakhir, Ruon mengambil pedang kesayangannya, berjalan keluar dengan acuh tak acuh walau mendapat banyak tentangan dari para ksatrianya. Namun, langkahnya terhenti tepat sebelum ia meninggalkan ruangan.
"Jangan khawatir, aku akan memerintahkan sebagian pengawalku untuk melindungimu." Ruon mengatakannya tanpa menatap Felipe dan segera kembali menapakkan kedua kakinya meninggalkan ruangan.
Di tengah kebisingan akibat kepanikan para ksatria yang melanda kantor Ruon, Felipe sedikit tertunduk lemah, menahan kedua matanya yang tanpa sadar telah berkaca-kaca sembari membuat suara yang sangat lirih, "Idiot."
...----------------...