Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 10 : Awal Peperangan



...—Ibukota Latva, Kerajaan Forbrenne—...


...—24 Juli 1238—...


Di bawah sinar terik mentari, Ruon memandang pasukan pemberontak dengan kening yang berkerut di atas dinding pertahanan ibukota, besar keyakinan di dalam hatinya apabila para tentaranya tidak dapat memenangkan perang yang akan terjadi di depan mata.


"Dimana Felipe?" Kepada seorang ksatria kepercayaannya yang menyandang pangkat jenderal, Ruon bertanya, tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari musuh.


"Saat ini, Yang Mulia Pangeran Ketiga berada di tempat yang telah Anda perintahkan, Yang Mulia," ksatria tersebut menjawab tegas.


"Begitu. Itu bagus." Sedikit kesedihan terkandung dalam nada, Ruon tidak menampik apabila dirinya memiliki rasa kasih sayang terhadap adik tirinya, walau keduanya terlibat pertempuran suksesi tahta sebelumnya.


Mendengar hal tersebut, beberapa atase militer yang bersamanya hanya dapat terdiam, mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar.


Mereka tahu, bahkan untuk seorang saudara yang sangat dibenci, seorang manusia normal tetaplah memiliki perasaan kasih sayang kepada saudaranya yang lain, membuat mereka menahan kedua bibirnya untuk tidak terbuka.


"Siapkan ketapel!" Para pemberontak rakyat jelata telah membentuk formasi, memiliki puluhan ketapel batu yang siap untuk ditembak kapan saja, membuat Ruon memberi perintah.


"Ya, Yang Mulia!" Beberapa atase militer segera membungkuk hormat, pergi dengan langkah tegas meninggalkan beberapa jenderal serta pengawal pribadi Ruon.


Beberapa saat berselang, hingga matahari naik dan berada di atas puncak. Sebuah ketapel batu pun menembak, yang segera diikuti oleh puluhan batu besar lain di belakangnya.


"Tembak!"


Perintah jenderal tentara garnisun ibukota terdengar keras. Hanya beberapa detik berselang, banyak bongkahan batu besar ditembakkan dari atas dinding ibukota.


BAM!


BAM!


BAM!


BLAR!


BLAR!


Guncangan dahsyat menggerakkan dinding perlindungan Ibukota Latva, membuat Ruon sejenak terhuyung, walau ia mampu mempertahankan posisinya.


Beberapa batu saling bertumbuk, hancur di udara. Beberapa batu yang lain menghancurkan tanah yang mengelilingi ibukota, beberapa yang lain berhasil menabrak serta menghancurkan dinding ibukota.


"Yang Mulia! Harap berlindung!" Salah satu ksatria memperingatkan Ruon, khawatir dengan keselamatannya yang sewaktu-waktu dapat tertimpa oleh bongkahan batu raksasa.


"Apa kau bodoh?! Jika aku mundur, para budak juga akan kabur! Memangnya siapa yang akan mempertahankan ibukota?!" Ruon berteriak keras, harga dirinya telah tercabik-cabik hanya karena teriakan kekhawatiran ksatria pengawalnya.


Kebanggan, kehormatan, dan martabat. Semua hal tersebut sangat ingin Ruon jaga. Dia benar-benar ingin membuktikan bahwa dia lebih baik dari ketiga saudaranya, terlebih dengan kakak tiri sulungnya, Pangeran Pertama, yang telah melarikan diri dari ibukota hanya karena khawatir terhadap keselamatan dirinya.


"Ji—jika begitu, Yang Mulia Pangera—" timpal ksatria pengawal tersebut.


"Kau gila! Kau memerintahkan Felipe untuk berperang di medan perang yang merugikan ini?!" Ruon tanpa sadar menarik kerah zirah perak ksatria pengawalnya, sangat kesal dengan sesuatu yang ia lontarkan, "Jika seperti itu, negara ini pasti akan hancur! Semua anak dan istri kalian pasti akan diperkosa musuh!"


Ksatria pengawal menggigit bibirnya, ia sangat menyetujui perkataan Ruon di dalam benaknya.


Kesal, Ruon membuang ksatria pengawalnya dan segera menarik pedang dengan bilah yang memiliki dua mata, "Aku akan maju setelah persediaan batu mereka habis. Persiapkan pasukan!"


"Ta—tapi!"


"Ya—Yang Mulia, bagaimana dengan keselamatan Anda?!"


"Yang Mulia! Mohon pikirkan kembali!"


Suara protes berdatangan kepada Ruon, yang ia tidak sedikitpun acuhkan dengan berjalan mendekati tangga untuk menuruni dinding.


"Tembak!"


BAM!


BAM!


BAM!


BLAR!


BLAR!


"Awas!" Sebuah peringatan berbunyi di dalam benak, Ruon, beserta ksatria pengawalnya yang telah mengejarnya, seketika melompat, menjauhi dinding yang berada tepat di sampingnya.


BLAR!


Merasakan kematian yang baru saja "melewati" dirinya, jantung Ruon berdegup kencang, tubuhnya basah akibat keringat yang bercucuran deras dari tubuhnya.


Keadaan di sekitarnya sangat kacau, pecahan kecil batuan dinding beserta kepulan debu tersebar, beberapa diantaranya menghantam tubuh Ruon dan para ksatria pengawalnya.


Memandang sebuah batu besar yang telah menghancurkan dinding yang sebelumnya berada tepat di samping Ruon berpijak, Ruon tersadar, persenjataan militer mereka satu atau dua langkah lebih baik dibandingkan dengan milik militer mereka jika melihat ukuran batu yang dilemparkan.


"Sialaan!" Ruon mengumpat, berteriak keras karena sangat kesal dan berlari cepat menuruni tangga, yang segera diikuti oleh para ksatria pengawalnya dengan langkah panik.


Setelah tiba di bagian dalam, Ruon mengambil tali kekang kudanya, "Oi, kau!" Menunjuk seorang ksatria yang berada di dekatnya, Ruon melukiskan ekspresi kesal, "Bagaimana persiapan para prajurit, wajib militer, dan para budak?!"


"Ka—kami akan siap beberapa saat lagi, Yang Mulia!" timpal ksatria tersebut dengan ketakutan.


"Cepatlah! Ibukota akan hancur!" teriak Ruon.


"Baik, Yang Mulia!" Membungkuk hormat dengan balasan keras, ksatria tersebut pergi meninggalkan Ruon dengan cepat.


BAM!


BAM!


BAM!


Sekali lagi, tanah berguncang, dampak dari serangan para pemberontak, membuat Ruon serta para ksatria berlindung dari serpihan dinding yang jatuh dari atas mereka di bawah sebuah pos jaga.


"Berapa banyak batu yang mereka miliki?!" Ruon diliputi kebingungan. Di dalam benaknya, ia tidak pernah menyangka bila agen musuh—atau Kerajaan Gardom seperti yang ia yakini—akan memberikan dukungan finansial yang sangat luar biasa kepada para pemberontak.


"Me—menilik kembali dari serangan pertama, mungkin mereka memiliki lebih dari seratus bongkahan batu raksasa, Yang Mulia!" jawab ksatria pengawal Ruon dengan gelisah.


"Ck." Ruon mendecakkan lidahnya, "Panggil semua jenderal, kita akan maju setelah mereka berhenti menggempur dinding!"


"Baik, Yang Mulia!" Para ksatria beserta para jenderal telah memutuskan, hidup dan mati mereka menggambarkan perjalanan hidup, hingga harga diri beserta martabat mereka sebagai seorang pembesar negara.


Beberapa jenderal di bawah Ruon menyebar, mengumpulkan para tentara di satu titik di dekat gerbang.


Ruon menaiki kuda perangnya, menarik tali kekangnya dan mendekati barak ksatria yang berada di dekat gerbang dinding pertahanan ibukota, yang tentu dibersamai oleh para ksatria pengawalnya untuk mempersiapkan diri mereka.


Berada tidak jauh dari tempat Ruon berada, sosok pria berpenampilan feminim, bertubuh pendek yang memiliki rambut bob oranye dengan wajah yang menyerupai sosok wanita yang sangat imut, memandang kepergian Sang Pangeran Kedua Forbrenne dengan ekspresi datar.


Gale, salah satu anggota Klan Cornwall yang menjadi bawahan langsung Kaisar Arestia, Ares Aubert, yang juga merupakan pembunuh Pangeran Ketiga Kerajaan Forbrenne di dalam kamarnya.


"Dia, kah?" Mencocokkan detail di dalam lembaran perkamen kecil yang berada di tangan kanannya, Gale memperhatikan Ruon dengan penuh seksama, "Tapi, jika dia ingin berperang, lebih baik aku segera pergi ke target berikutnya."


Gale bangkit, mengenakan jubah putihnya yang memiliki lambang Keluarga Kerajaan Forbrenne kembali dan sejenak memandang langit, meski deru bongkahan batu raksasa yang bertabrakan sekali lagi menusuk kedua gendang telinganya, "Lean, aku benar-benar iri dengan tugasmu."


...----------------...