"My Little Angel"

"My Little Angel"
Seventy Two



Ketika ketakutan bukanlah solusi utama untuk terus menutup diri dari kenyataan. Karena ketakutan akan membuatmu semakin masuk ke dalam kesesatan. Itu yang selalu Daddy terapkan ke anak-anaknya bahkan orang lain sekalipun termasuk Dika.


"Walaupun kelakuanmu telah melukai hati kami, kau ingat kata-kataku? sejak dulu kamu Om anggap seperti anak Om sendiri, Om tahu kamu orang baik, untuk menjadi orang baik itu godaannya besar tetapi menjadi orang yang bijaksana itu lebih besar lagi godaannya, tapi om cukup bangga padamu. Kamu sudah berani mengakui kesalahanmu langsung pada kami, walaupun mungkin orang-orang mengira kami sebagai orangtua yang aneh karena menerima begitu saja seseorang yang telah menyakiti keluarganya. Tetapi percayalah selama kita mendendam kita tidak akan tenang. Begitu Hana?" ucapnya panjang lebar padanya dan Hana, Hana pun mengiyakan pertanyaan-pertanyaannya.


Sungguh pemandangan yang menyejukkan. Ku lihat dia langsung mendekap erat tubuh Daddy dan tak lama terdengar isakkan terlepas dari bibirnya. Kami di sini yang melihat itu pun sungguh terbawa suasana.


"Jangan pernah takut untuk kembali ke rumah ini" ucap Daddy lagi padanya karena dia merasakan sendiri bukan sebentar dia mengenal Dika.


Malah Daddy dulu sangat bersyukur dengan kehadiran Dika dan Hans dalam kehidupanku, Karena selama orangtuaku tidak ada, merekalah yang selalu menemaniku.


Setelah mendengar kata-kata emas Daddy, Dika pun memeluk kami satu persatu kecuali Hana karena memang walaupun Hana sudah memaafkannya tapi mungkin rasa trauma itu tetap ada, ku lihat raut wajah menyesal Dika, menyesal karena perbuatannya yang membuat Hana semakin menjauh darinya dan setelah itu dia pun bergegas pamit karena harus kembali ke luar kota hari ini juga.


Ternyata saat ini dia sedang menggantikan Papinya untuk mengelola usahanya, bukan karena pikiran-pikiran buruk kami alasan dia ke sana.


Banyak pembelajaran yang kami petik hari ini. apalagi sikap bijaksananya Daddy dan sifat lembutnya Hana dalam menyikapi masalah ini. Mereka tidak ingin berlarut dalam kubangan kesedihan.


Dad, Mom anak kandung kalian aku tetapi kalian hanya menurunkan sifat itu hanya ke putrimu.


"Aku jadi ingin dipeluk juga" pintanya tiba-tiba pada kami.


"Kakak mau pergi juga? pergi kemana?" tanya Hana dengan polosnya ke Hans dan Hans yang ditanya pun hanya tertegun mendengar pertanyaan Hana.


"Aku tidak kemana-mana" jawabnya juga dengan polosnya.


Mendengar tanya jawab mereka kami pun tertawa dengan puasnya, aduh apa mungkin karena ini masih pagi, nyawa mereka belum kumpul sepenuhnya atau memang mereka yang kelewat bodoh.


Setelah drama pagi ini kami pun memutuskan untuk sarapan bersama, sayangnya Dika tidak ikut sarapan bersama kami kali ini.


"Hans, lain kali kalau mau jadi jagoan jangan bawa-bawa kami ya" sindir Daddy pada Hans yang melakukan tindakan kekerasan pada Dika.


"Kalian boleh marah, kalian boleh pukul tapi kalian harus ingat tidak semuanya itu dilakukan dengan kekerasan yang membabi buta" ucapnya Daddy lagi pada kami.


Ya, hari ini kami sudah banyak mendapat ceramah pagi. bahkan sepertinya untuk sarapann pun cukup dengan mendengar kata-kata Daddy saja sudah membuat kami kenyang.