
Waktu pun terus berlalu, tahun pun telah berganti.
Hari ini adalah hari kedua masa orientasi siswa pertamaku sebelum sekolah dimulai. Saat ini aku baru memasuki sekolah menengah atas. Sejujurnya aku sangat tidak menyukai kegiatan itu, kalian tahu setiap kegiatan itu pasti saja ada drama-drama berlebihan dari gadis-gadis sekolah itu. Padahal aku pun sama anak baru yang sedang di uji untuk meminta tanda tangan kakak kelas tetapi kenapa malah aku yang dikejar-kejar untuk dimintai tanda tangan dan sudah pasti tugas ku pun tidak terselesaikan, belum lagi para kakak kelas yang sengaja mengerjaiku karena aku tidak berhasil mengumpulkan dengan lengkap tanda tangan itu.
Tetapi nasib baik masih berpihak padaku. Ternyata masih ada yang mengasihaniku, padahal sejujurnya aku sangat benci dikasihani, tapi apa boleh buat ini satu-satunya kesempatan ku.
"Hei, sudah cukup, hentikan ulah kalian, jangan ganggu adikku" ucap orang itu pada teman-temannya. Dia pun datang menghampiriku dan merangkul bahuku. Dia adalah Frans, kakak dari Hans salah satu teman baikku. Dia adalah ketua osis di sekolah ini. Sayangnya Hans sekarang tidak satu sekolah denganku karena sekolahku salah satu sekolah terfavorit, rata-rata yang masuk di sekolah ini melalui program beasiswa. Jadi tidak sembarang orang bisa sekolah disini. Yang membuat aku tertarik di sekolah ini adalah di sini tidak memandang kaya atau miskin yang penting mereka pintar sudah menjadi syarat utama untuk berada di sekolah ini karena semua biaya sudah ditanggung oleh pihak yayasan pemilik sekolah ini. Oh iya, di yayasan ini juga merupakan jalan untuk masuk ke Universitas Negeri yang aku impikan jadi tinggal selangkah lagi aku bisa masuk kesana asalkan semangat belajar ku tidak menurun maka itu tidak masalah untuk nilai-nilaiku.
"Brian, apa kabarmu, jangan tersinggung dengan sikap mereka ya. Cuma beberapa hari saja mereka akan seperti itu, tapi kamu jangan khawatir sekarang ada aku, maaf kemarin aku tidak bisa membantumu karena kamu tahu sendiri kan bagaimana Hans, dia cukup kerepotan untuk menyiapkan kebutuhan MOSnya." terang Frans padaku. Ya aku tahu sekali sifat Hans, pasti semua orang rumahnya stres untuk membantunya.
Senja pun sudah tiba, kegiatan hari ini berakhir sempurna. MOS di sekolah ini pun telah berakhir karena pihak sekolah hanya memberikan dua hari saja untuk pelaksanaannya. Kami pun bersiap-siap untuk kembali pulang. Ku lihat Daddy sudah menungguku di parkiran.
"Daddy, ayo kita pulang, aku sudah lelah" rengekku pada Daddy, bagaimana aku tidak lelah sudah hampir satu jam aku menunggu Daddy di dalam mobil, tapi aku tak melihat pergerakkannya untuk menyudahi obrolannya itu. Ku hentakkan kaki ku satu persatu untuk mengusir rasa bosan saat ini.
"Kalau tahu akan seperti ini lebih baik tadi aku pulang dengan kak Frans saja, mungkin sudah sampai rumah" racauku sendiri di dalam mobil. Tidak lama kemudian Daddy pun masuk dan langsung menjalankan mobilnya.
Disepanjang jalan Daddy terus bercerita tentang orang yang ditemuinya tadi, ternyata itu adalah teman Daddy waktu sekolah pantas saja mereka sampai lupa waktu sekalian saja mereka tidak membuat reuni dadakan pakai acara gala dinner dan tukar kado.
Eiitttsss harusnya kan aku yang bercerita panjang lebar mengenai kegiatan MOS ku bukannya aku yang malah mendengar cerita Daddy. Sungguh Daddy ku ini ayah yang luar biasa bukan?