
Senja pun terasa malam, entah kenapa terasa gelap sekali sore ini.
Saat Hana menyebut nama Dika, hatiku langsung memanas seketika. Sahabat yang dekat denganku, yang aku percayai untuk dekat dengan Hana tetapi merusak kepercayaanku dengan kelakuannya
"Dika sahabatmu itu Brian?" tanya Daddy padaku. Daddy memang mengenal Dika, karena memang kami bersahabat sudah lama. Aku pun mengiyakan pertanyaannya.
"Hana, apa kamu bisu?" kali ini pertanyaan Daddy sangat menyeramkan dengan raut wajah memerah dan tangan mengepal. Ku lihat wajah Hana semakin memucat, tubuhnya bergetar. Kami yang melihatnya pun sungguh terkejut, ini seperti dejavu, seperti sepuluh tahun yang lalu.
"Daddy" teriakku bersamaan dengan Mommy
Tidak lama dari itu tumbuh Hana pun tumbang, dengan tubuh yang dingin dan airmata yang terus mengalir dari kedua pelupuk matanya bahkan saat itu matanya terpejam. Sungguh miris aku melihat keadaannya saat ini.
Bahkan sampai saat ini kami pun tidak tahu apa yang sudah diperbuat oleh Dika sampai Hana tidak ingin menceritakan semua kelakuannya terhadap dirinya. Kami ingin membawa masalah ini ke pihak kepolisian tapi kami tidak mempunyai bukti sama sekali untuk menjeratnya.
Kami pun segera membawa Hana ke kamar tamu yang kebetulan dekat dengan ruang keluarga, dibaringkannya tubuh Hana. Bahkan Daddy yang merupakan dokter yang berpengalaman pun, saat ini tidak bisa memeriksa keadaan Hana, karena Hana tumbang seperti ini setelah mendengar bentakkan Daddy padanya dan Daddy merasa sangat terpukul melihat keadaannya. Akhirnya aku mengambil alih pemeriksaan ini, untunglah Hana hanya shock saja dan jantungnya baik-baik saja, tapi aku tidak menjamin bila Hana mengalami ini lagi apa bisa jantungnya nanti akan baik-baik saja.
Setelah aku memeriksanya, tanpa banyak bicara lagi aku bergegas pergi meninggalkan mereka, ku dengar mereka meneriakkan namaku tapi tidak ku hiraukan. Kembali aku menyalakan mesin mobilku dan aku pun berlalu untuk mencari keberadaan Dika.
Setiap tempat yang biasa dia datangi aku datangi tetapi nihil keberadaannya. Aku pun meminta bantuan Hans untuk mencari keberadaannya.
"Tentu saja, apa yang bisa aku bantu" jawabnya santai padaku dan aku pun menjelaskan semua peristiwa aneh yang menurutku melibatkan Dika. Seketika itu juga ku dengar nada amarah dari dirinya.
"Benar dia melakukan itu pada adikmu? sungguh aku tak menyangka, pria lembut seperti dia berperilaku seperti binatang, kamu tenang saja aku akan membantumu" ucapnya dengan emosi dan syukurlah Hans mau membantuku. Setelah menghubungi Hans aku pun melanjutkan kembali tujuanku untuk mencari Dika.
Sekian lama aku mencarinya sampai aku berhenti tepatnya di sisi jalan ini. Tak lama ponselku pun berdering, ku lihat nama Hans yang memanggilku.
"Bagaimana Hans?" tanyaku padanya
"Sepertinya dugaanku benar, ku dengar dari keluarganya katanya dia pergi keluar kota sejak semalam, sebenarnya ada yang aku takutkan di sini Brian, lebih baik kamu menjaga adikmu baik-baik jangan sampai kamu lengah, kita tahu Dika adalah seseorang yang pintar dalam membuat strategi" ucapnya lagi berusaha meyakinkanku.
Setelah kami cukup memberikan informasi yang kami tahu. Kami pun mengakhiri panggilan ini.
Pikiran buruk ini terlintas seketika di benakku.
Apa jangan-jangan tujuan Dika datang ke sekolah Hana untuk membawanya?
Siapa kira-kira yang bisa membuat Hana untuk bicara tentang Dika?