
Suasana di dalam sini terasa begitu hidup, ku dengar canda tawa kami memenuhi isi ruangan ini. Ku lihat Dika yang sedang mencari perhatian Hana dan Hana pun sepertinya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Dika. Hatiku pun terasa bahagia tidak seperti semalam, bahkan akupun enggan untuk mengingat kejadian semalam. Hubunganku pun membaik semalam tapi kenapa tidak dengan hatiku, hatiku masih terasa sakit mengingat keputusanku.
Kupejamkan mata ini, ku tarik nafas dalam-dalam.
Brruuukkkk
Muka ku seperti tertampar sesuatu,
Bantal
Siapa lagi kalau bukan ulah Hans yang sangat usil kepadaku.
Bisakah dia melihatku tenang sebentar saja?
Suara canda tawa kami terhenti ketika dokter dan beberapa perawat memasukki ruangan ini.
"Dokter Irham, Hana sudah bisa beristirahat di rumah hari ini, saya lihat perkembangannya juga bagus dan sudah tidak ada keluhan lagi. Kami permisi dulu Dok." pamit dokter itu pada Daddy.
Kami pun langsung membereskan pakaian Hana yang tersimpan di sini untuk di bawa pulang. Hans dan Dika tidak ikut kami pulang ke rumah karena mereka ingin Hana langsung beristirahat saja supaya lekas pulih.
Kami pun berjalan menuju lobby rumah sakit sedangkan Hana masih perlu memakai kursi roda untuk mengantisipasi agar perutnya tidak kram lagi. Setelah kami tiba di lobby ku lihat mang Soleh sudah menunggu kami. Daddy, Mommy dan Hana menaiki mobil itu sedangkan aku membawa mobil sendiri.
Sebelum tiba di rumah, aku mampir dulu ke toko kue untuk membelikan Fika beberapa potong kue. Semenjak kejadian semalam, aku memang berusaha untuk lebih memperhatikan Fika, apalagi orangtuanya belum kembali dari luar kota.
Tidak butuh waktu yang lama aku pun tiba dirumahya. Seperti biasa pak Rohman selalu membukakan pintu gerbang untukku tapi ketika ingin ku sapa dia, dia sudah lebih dulu berbicara padaku.
Apa aku ikut Hans dan Dika saja ya? daripada di rumah pun aku tidak ada kegiatan. Akhirnya aku menghubungi mereka dan mereka pun memberitahukan posisi mereka sekarang.
Tibalah aku di tempat tujuanku, rupanya mereka ini sepasang sandal jepit, tidak dimana-mana selalu saja berdua, si Dika bagaimana mau mendapat pasangan kalau selalu saja berdua dengan Hans.
"Hai sob, sudah pesan?" tanyaku padanya karena aku lihat tidak ada makanan atau minuman di mejanya, tidak lama yang ku tanyakan datang. Beruntunglah aku kalau aku yang memesannya sudah pasti aku yang bayar.
Kami pun menghabiskan waktu kami di sini, karena sudah lama juga kami tidak berkumpul lagipula untuk team basket kami pun sedikit demi sedikit sudah beralih ke junior kami.
Hampir tiga jam kami di sini dan kami pun akhirnya memutuskan pulang. Sesaat ada yang aneh, ingin rasanya ku menoleh, rasa itu semakin kuat dan ku alihkan pandanganku. Ternyata rasa itu benar, pandangan mataku baru saja menangkap sosok yang sejak tadi ingin ku lihat. Sosok Fika sedang berada tepat di depanku, tapi dia tidak melihatku. Ingin aku menghampirinya tapi ku urungkan.
Ku ambil ponsel ku.
"*Sedang apa sayang?"
- send* -
Ku kirimkan pesan singkat padanya, ku lihat dia pun melihat ponselnya dan terlihat sedang mengetikkan sesuatu.
- inbox -
" aku sedang beristirahat di rumah sayang"
Deg