"My Little Angel"

"My Little Angel"
Twenty Two



Tanpa banyak bicara, Irham meninggalkan ku begitu saja, aku tahu arah tujuannya kemana. Dan benar saja.


"Mas, tunggu Mas" pinta ku pada Irham sambil ku tarik lengannya. Tetapi dia menghempaskan kasar tanganku.


"Diam kau di sini, jangan ikut campur urusanku!" bentak Irham padaku. Ya tuhan sudah belasan tahun aku mengarungi bahtera rumah tangga dengannya, baru kali ini aku lihat kemarahannya. Bahkan sosokku sudah tertutupi oleh emosinya.


Ku kejar Irham, tapi sayang sekali langkah kakiku masih kalah lebar dengan langkah kaki milikknya dan tidak butuh waktu lama dia sudah sampai di depan kamar Brian. Tanpa basa basi lagi Irham pun melayangkan tangannya


Buuukk..bbuukkk.bbukkk.


Suara pukulan pintu pun terdengar keras.


"Buka pintunya sekarang atau Daddy dobrak sekarang" ucap Irham yang sedang dilanda emosi. Tanpa butuh waktu lama pintu itu pun terbuka.


Ceklek


Dilihatnya wajah sang anak, yang aku yakini kondisi psikisnya juga tidak baik, aku berusaha berjalan cepat untuk mencegah Irham melakukan yang tidak-tidak pada Brian.


"Apa yang kamu lakukan pada ibu dan adikmu HAH? tanya Irham setengah berteriak pada Brian, Brian pun terkesiap melihat kemarahan Daddynya. Kali ini aku tidak berjalan melainkan berlari agar cepat sampai disana.


"Sampai kapan kau berhenti menyakiti perasaan ibumu? Apa salah adikmu? adikmu tidak tahu apa-apa Brian, sekarang apa maumu? Jawab!" tanya Irham dengan tegas.


"Aku tidak pernah menyakiti perasaan Mommy yang ada kalian yang menyakiti perasaan ku, apa kalian pernah peduli dengan perasaanku? aku tidak salah kenapa selalu aku yang disalahkan? semua karena Dia, karena Dia kalian semua berubah padaku." jawab Brian sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah Hana yang sedang tertidur. Seketika itu rasanya tubuhku bagai tersambar petir mendengar jawaban Brian, sebegitu tidak pekakah aku sebagai ibunya yang tidak mengetahui perasaan anaknya. Dan yang lebih mengagetkan lagi tiba-tiba terdengar suara keras ditelingaku


Suara sebuah tamparan menyadarkanku dari keadaan saat ini. Oh Tuhan itu anakku, apa yang sudah dilakukan suamiku?


"Cuuukkuuppp" teriakku kencang ku hampiri tubuh putraku yang sedang terduduk karena kerasnya tamparan Irham, ku lihat sudut bibirnya mengeluarkan darah, hatiku semakin teriris melihatnya.


" Jangan kau sentuh anakku, jika kau berani meletakkan tanganmu di tubuhnya lagi aku tak segan-segan akan mematahkan tanganmu" sautku pada Irham. "Jika aku tidak bisa mematahkan tanganmu sebagai gantinya kau bunuh saja aku, jangan biarkan aku melihat anak-anakku terluka olehmu? Sadarlah Mas!" ucapku kembali berusaha menyadarkan Irham.


'Maafkan Daddy Nak dengan cara ini Daddy lakukan walaupun itu menyakiti mu itu sama saja menyakiti hati Daddy, bagus Nak, ini yang Daddy harapkan, keluarkan semua yang ada dipikiranmu agar kami tahu apa yang kamu rasakan' batin Irham.


Ku lihat Irham meninggalkan kami sendiri, entahlah dia pergi kemana, biarkan dia menenangkan dirinya. Ku belai lembut wajah putraku yang terluka , perlahan-lahan ku obati lukanya, sesekali dia meringis merasakan sakit. Sayup-sayup terdengar suara.


"Maaf Mom" ucap Brian yang tertunduk menahan tangisnya, kubawa dia dalam pelukkan eratku, ku kecup pucuk kepalanya. Hanya ini yang bisa aku salurkan untukknya saat ini.


"Sayang maukah kamu mendengar alasan Mommy?" tanyaku padanya, ia pun menganggukkan kepalanya.


"Nak. kalian semua anak Mommy, apa pernah Mommy membedakan kalian?" tanyaku yang dijawab dengan gelengan kepala Brian. "Mommy berusaha untuk selalu adil terhadap anak-anak Mommy, kau iri pada Hana?" tanyaku kembali yang kemudian dijawab oleh anggukkan Brian. "Coba kau ingat ulang, saat kau masih kecil saat kau seusia Hana, seperti itukah perlakuan yang Mommy berikan padamu seperti Mommy memberikan perhatian pada Hana yang sekarang?" tanyaku kembali, ku lihat Brian sedang berpikir karena tidak ada jawaban dari mulut ataupun gerakkannya.


"Semua ada masanya sayang dan tidak mungkin juga kan Mommy memperlakukan kamu seperti Mommy memperlakukan Hana, yang ada nanti gadis-gadis didekatmu akan menghindar perlahan karena melihat sang pujaan hati ternyata masih anak manja" godaku pada Brian yang seketika itu ku lihat bibirnya mengerucut tanda protes terhadap perkataanku.


Beginilah caraku menenangkan setiap anak-anakku, tidak menggunakan emosi ataupun kekerasan fisik, cukup ku peluk erat tubuh mereka, kusalurkan rasa kasih sayang pada mereka. Aku yakin mereka pun akan mengerti semua itu. Oleh karena itu diperlukannya sebuah alasan.