"My Little Angel"

"My Little Angel"
Thirty Four



"Maafkan aku, karena aku telah merebut kasih sayang Daddy dan Mommy dari kakak, karena aku juga memisahkan kakak dari mereka, andai saja kalau aku tidak ada, pasti kakak tidak akan kehilangan perhatian dari mereka " ucapnya padaku, ku lihat raut wajahnya yang berubah sendu bahkan airmatanya dapat ku lihat di kedua kelopak matanya.


"Bisakah kau bicara tanpa menggunakan kata itu?" pintaku padanya. "Lihat aku" ku tangkup wajahnya dengan kedua tanganku.


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu karena kehadiranmu sudah memberikan warna baru dalam kehidupan kita, karena kamu juga ku lihat Mommy lebih bersemangat menjalani hidupnya, karena kamu juga Daddy tidak seseram yang dulu" terangku padanya. Ku lihat wajahnya menimbulkan raut kebingungan.


'Apa ada yang salah dengan kata-kataku?'


"Seram?" tanyanya padaku. Oh jadi kata itu.


"Iya seram, dulu Daddy itu terlalu kaku bahkan padaku, untuk berbicara dengan Daddy saja sebenarnya aku takut apalagi kalau sedang ada masalah di rumah sakit pasti muka seramnya akan sampai di rumah, apa kau pernah merasakannya?" tanya ku padanya dan dia pun menggelengkan kepalanya. Berarti diriku saja yang tidak beruntung ya.


Kami pun menghabiskan waktu sambil berbincang-bincang dan diselingi canda tawa, ternyata anak ini bisa bicara juga. Tapi memang anak ini terkadang tiba-tiba diam begitu saja. Tidak mungkinkan anak ini kesambet?


Waktu pun sudah beranjak sore, sebelum ada alarm dari sang pawang lebih baik aku membawanya kembali pulang. Entah aku merasakan seperti aku membawa kabur anak gadis orang, malah aku lebih takut membawa keluar adikku sendiri dibandingkan membawa kekasihku pergi.


Selama diperjalanan ku dengar nada dering dari ponselku. Ku lihat nama Hans tertera di layar itu.


"Ya Hans" jawabku padanya.


"Ya aku ada dirumah tapi sekarang aku masih di jalan mungkin lima belas menit lagi aku sampai di rumah " jawabku lagi panggilan pun terputus.


Tidak seperti biasanya jalanan hari ini macet


Hampir satu jam akhirnya aku sampai di rumah, ku lihat mobil Hans sudah terparkir di halaman rumah. Aku dan Hana pun bergegas masuk ke dalam dan ternyata Hans sudah menunggu di ruang tamu, ku lihat tatapan Hans sedikit terlihat aneh, apa yang sedang diperhatikannya. Ku telusuri arah pandangnya, ternyata dia sedang memperhatikan Hana.


"Hai sob" sapanya padaku seraya menghampiriku, "calon pacar baru?" bisiknya di telingaku.


Setika itupun tanganku melayang di kepalanya.


"aawwww" ringisnya


" Ini Hana, adikku, Hana kamu masih ingatkah dengan Hans?" aku pun mengenalkannya kembali barang kali Hans amnesia atau memang dia terpukau melihat Hana yang sekarang. Hana pun tersenyum pada Hans yang menandakan dia masih mengingat Hans, mudah-mudahan hanya ingat wajahnya saja tidak ingat kelakuannya. Mungkin itu yang diharapkan seorang Hans.


Hana pun berpamitan pada kami, memang dia tidak boleh terlalu lelah ditambah lagi kami baru saja kembali jadi aku menyarankannya untuk segera beristirahat. Aku pun melanjutkan obrolan dengan Hans, kedatangannya kali ini meminta bantuanku untuk menemaninya menjenguk Pamannya yang sedang sakit. Karena pamannya tidak mau berobat makanya dia membawa ku ikut bersamanya.


Walaupun aku masih berstatus mahasiswa tapi jangan ragukan kemampuanku, aku belajar langsung dari Daddy. Walaupun awalnya dia hanya memintaku untuk menemaninya bertugas tetapi lama kelamaan secara tidak langsung Daddy malah mengajarkanku untuk terjun langsung menangani pasien. Jadi seperti inilah aku sekarang.