"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fifty Four



Sepertinya sudah habis rasa kesabaranku kali ini. Dua orang yang sama-sama berarti denganku terlibat pertengkaran memalukan di depan umum.


Astaga mimpi apa aku semalam


Kerumunan pun semakin ramai, tak hentinya mereka membicarakan kejadian ini, karena ku lihat Fika sepertinya lebih membutuhkan pertolonganku dibanding Hana, karena Hana terlihat baik-baik saja, aku pun mencoba membantunya berdiri tetapi berkali-kali aku mencoba membantunya dia selalu terjatuh, sepertinya ada yang salah dengan kakinya dan benar saja kalau kakinya terkilir mungkin dikarenakan sandal yang dipakainya, kenapa juga dia harus memakai sandal setinggi itu, memangnya dia mau Fashion Show apa. Kenapa penampilannya juga berbeda kali ini. Penampilan tidak seperti sedang denganku.


"Apa yang kamu lakukan? dimana sopan santunmu? kalau kamu tidak menyukainya jangan seperti ini" tegasku padanya.


"Kamu, lebih baik pulang terlebih dahulu menggunakan taksi, atau kamu minta antar temanmu, tunggu aku di rumah, aku akan membuat perhitungan denganmu" ucapku lagi pada Hana dengan suara yang sedikit kencang, tatapannya sungguh membuat hatiku mengiba, tapi aku harus segera menolong Fika dan kemudian aku pun berlalu meninggalkan dia.


Dalam perjalanan ke rumah sakit tidak henti-hentinya Fika mengeluarkan kata-kata buruk tentang Hana. Saat ini aku hanya bisa mengelus dada, walaupun saat ini aku sedang kesal dengannya tapi aku tidak bisa menerima kata-kata kasar terhadap adikku. Kenapa Hana bisa sekasar itu padanya? padahal dia itu seperti reinkarnasinya Mommy yang memiliki hati yang lembut bahkan untuk berbicara kasar pun tidak pernah ku dengar, tapi kenapa kata-kata Fika bertolak belakang dengan sifat Hana yang ku tahu. Ini aneh.


Aku pun mengkhawatirkan keadaan Hana saat ini karena aku meninggalkannya begitu saja di sana. Seketika pikiranku mengingat nama Dika dan saat itu juga aku menghubunginya.


"Dik, masih bisakah kamu membantuku?" tanyaku setelah terdengar suara dari seberang sana.


"Tentu sob, kenapa?" tanyanya kembali padaku


"Bisakah kamu menjemput Hana, tadi waktu aku meninggalkannya dia ada di depan toko buku dekat kedai kopi yang biasa kita berkumpul" jelasku padanya, setelah ku dengar jawaban darinya, ku sudahi panggilan ini.


Kami pun sudah tiba di rumah sakit beberapa waktu yang lalu, untungnya luka Fika tidak terlalu parah, hanya terkilir sedikit.


"Tadi aku sedang menunggu temanku, karena hari ini rencananya kami mau menonton bioskop" jawabnya ragu.


Sepertinya dia sudah pandai berbohong padaku.


Setelah mengantar Fika kembali ke rumahnya, aku pun segera memutuskan untuk kembali melihat Hana karena saat aku menghubungi Dika dan Hana tidak ada satupun yang menjawab panggilanku.


Saat aku sedang memakirkan kendaraanku, ku dengar dering ponselku berbunyi.


'dari rumah?' tanyaku


"Ya mba?" tanyaku pada si penelepon


"Den, Non Hana baru saja sampai di rumah tapi, sepertinya dia menangis, saya tanya tapi Nona tidak menjawabnya Den, mba khawatir karena tidak pernah Non Hana seperti ini" ucap mba Sri dengan nada khawatirnya.


Seketika itu aku langsung kembali melajukan mobilku. Tapi sepertinya jalanan hari ini sangat tidak bersahabat denganku, aku penasaran dengan apa yang terjadi dengan Hana, ku coba untuk menghubungi Dika kembali, tapi lagi-lagi tidak ada jawaban darinya.


Astaga, ada apa ini? kenapa dengan orang-orang ini?