"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fiveteen



Suasana pagi ini sudah terdengar ramai sekali, terdengar tawa dari bawah sana tepatnya berasal dari ruang keluarga. Jelas sekali ramai, ternyata Daddy sedang berkumpul dengan beberapa keluarganya yang lain dan Mommy sedang memasak di dapur dengan aunty Sisil. Tujuan mereka berkumpul hari ini karena bertepatan dengan ulang tahun dia. Entah tanggal dapat dari mana orangtuaku menyebutkannya hari ini sebagai hari ulang tahunnya. Aku pun melanjutkan tidurku kembali.


Toookkk..ttoookkk....


Terdengar suara ketukan pintu kamarku. Dengan rasa malas aku membukanya, ternyata mba Sri.


"Den, dipanggil Tuan di bawah" ucap mba Sri


"Baik mba, nanti aku menyusul" jawabku singkat


Akupun menyusul Daddy di ruang keluarga, ku lihat dekorasi sudah tertata rapi, entah kapan ini dikerjakan karena semalam belum seperti ini.


"Mommy..mommy" panggil dia, kulihat pipinya basah mungkin dia habis menangis. Dia pun terus berlari ke arah mommy dan seketika itu juga berpapasan denganku karena tidak ada Mommy dan Daddy di sini, ini kesempatanku.


"Bisakah kau tidak berteriak-teriak di dalam rumah, kamu pikir ini hutan" bentakku seketika itu juga tangisnya berhenti dan berganti dengan isakkan kecil yang lolos dari bibir mungilnya. Ku lihat wajah pucatnya, pikirku mungkin karena dia takut padaku. Dia pun hanya mematung di depanku. Akupun merasakan aura tidak menyenangkan mengelilingiku. Dan benar saja.


"Brian, apa yang kau lakukan pada adikmu" tanya Daddy padaku."Kau sudah besar kenapa kau terus mengganggu adikmu" ucap Daddy padaku lagi. Lagi-lagi aku yang disalahkan harusnya mereka bersyukur karena aku mendiamkannya. Tapi ku lihat wajah Daddy menampakkan gurat khawatir di wajahnya, sekilas aku pun bingung masa cuma ini saja ia sampai sepanik ini apalagi nanti kalau aku membuatnya tambah menangis, mungkin aku akan digantung Daddy. Oh nasib beginilah nasib anak buangan.


Daddy pun membawa dia entah kemana. Daripada aku tidak jelas di sini, aku juga memutuskan untuk kembali ke kamar karena sang Daddy yang memanggilku pun sedang bersama anak kesayangannya.


Irham POV


Saat kami sedang asik mengobrol dengan adik iparku, sayup-sayup kudengar suara tangisan Hana.


"Aku tinggal sebentar ya, sepertinya Hana nenangis" ucapku pada adik iparku. Aku pun mencari asal suara itu dan aku menemukannya dia sedang mencari Mommynya. Tapi ku hentikan langkahku saat melihat putraku sedang memperhatikan Hana juga, tetapi harapanku salah, Brian memang mendiamkan adik kecilnya itu tetapi ku lihat dari kejauhan wajah Hana menjadi pucat. Dengan cepat aku menghampiri Hana ku peluk tubuh kecilnya yang bergetar.


"Brian, apa yang kau lakukan pada adikmu" bentakku pada Brian. Brian pun hanya tertegun melihatku membentaknya. Akupun berlalu, berusaha untuk menenangkan Hana. Sejauh mungkin ku jauhkan dari pandangan Mira agar dia tidak panik melihat putrinya seperti itu.


Oh ya, sepertinya aku belum bercerita tentang apa yang terjadi dengan Hana dan yang membuatku panik setiap melihat wajah pucatnya.


Kalian masih ingat kejadian lima tahun yang lalu?


Tepatnya malam itu. Menurut dokter anak yang menanganinya sebenarnya kesempatan hidup Hana hanya tiga puluh persen. Dikarenakan pada saat Hana dilahirkan, dia terlahir secara prematur yang menyebabkan organ tubuh lainnya belum terbentuk sempurna itulah yang membuat Mira memaksaku untuk merawat Hana, karena dengan keadaan yang seperti itu kemungkinan besar tidak akan ada yang mau merawat Hana. Keajaiban sungguh benar-benar terjadi saat itu, tidak perlu menunggu waktu lama Hana pun pulih dengan cepat dan hanya satu yang tidak bisa dihilangkan, yaitu jantung Hana ternyata lemah dan itu berlangsung sampai dengan sekarang walau menurut ilmu yang ku pelajari dan menurut dokter spesialisnya bahwa Hana bisa saja sembuh dengan perawatan rutin.


Kamipun merawat Hana sesuai anjuran dokternya, berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat Hana stres dan panik, menjaga Hana agar tidak menangis karena dengan menangis bisa saja membawa Hana pada kematian. Seperti halnya hari ini dalam tangis diamnya Hana yang dikarenakan Brian. Entah harus bagaimana lagi aku harus membujuk Brian agar dia menyayangi adiknya itu.