
Suasana pagi ini pun cukup cerah, secerah suasana hati Mira dan Irham, bagaimana tidak cerah karena pagi ini Brian memberikan izin orangtuanya untuk mengasuh sang bayi.
"Mas, aku sangat bahagia karena Brian mengizinkan kita untuk merawatnya" ucap Mira yang tidak henti-hentinya tersenyum. "Bolehkah aku yang memberinya nama?" tanya Mira penuh harap.
"Tentu saja Sayang, berikanlah nama yang bagus untuk Putri kecil kita" jawab Irham seraya membelai lembut kepala sang istri. Ya, bayi mungil itu seorang putri kecil yang baru saja terlahir ke dunia ini.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit tidak henti-hentinya ke dua pasangan ini membicarakan tentang putri kecilnya itu. Sudah banyak bayangan-bayangan manis yang akan mereka lakukan nanti setelah bayi itu tiba di kediaman mereka.
"Mas aku ingin memberinya nama Hana, pokoknya hanya itu selebihnya kamu yang melanjutkan" saut Mira sambil tertawa geli saat menyebut nama sang putri.
"Kenapa bisa seperti itu, kenapa kau tidak sekalian saja yang memberinya nama lengkap?" tanya Irham dengan raut wajah bingung karena dia pikir istrinya akan memberikan keseluruhan nama tapi hanya satu kata itu saja yang disebutkan yaitu Hana.
"Kamu tahu Mas?" jawab dan tanya Mira sekaligus, seketika wajahnya pun berubah sendu. "Nama itu selalu terngiang-ngiang di kepalaku, dulu aku selalu membayangkan ketika nanti aku mempunyai seorang putri, aku akan memberikannya nama itu, panggilan sayang untuk putriku" lanjut Mira. "Tetapi Tuhan tidak mengabulkan keinginanku Mas, kenapa Tuhan mengambil hartaku satu-satunya yang ku miliki, harta yang tidak bisa tergantikan dengan apapun." lanjut Mira lagi, kali ini diiringi dengan isakkan kecil yang terdengar dari bibir manisnya.
Seketika itu juga Irham menepikan mobilnya.
"Hei, jangan kau tuduh Tuhan sudah jahat padamu, kau lihat sekarang? Tuhan sangat menyayangimu, buktinya sudah ada malaikat kecil di kehidupan kita, walau dia bukan terlahir dari rahimmu tetapi dia ada untukmu, entah apa rencana indah Tuhan untuk kita nanti sampai Dia mengirimkan malaikat kecil itu untuk kita. Jangan bersedih, jadikan airmata ini menjadi airmata kebahagianmu." ucap Irham seraya menenangkan sang istri.
Mira pun berhambur kepelukan suaminya, ia peluk erat tubuh suaminya, sungguh sangat bersyukur Tuhan memberikan Irham sebagai suaminya. "Iya Mas, terima kasih kamu telah hadir dihidupku, terima kasih karena kau menerima semua kekuranganku, terima kasih karena kamu memberikan keluarga kecil untukku" ucap Mira tanpa melepaskan pelukannya ke Irham.
"Sudahkah tangisan dan pelukanmu?" tanya Irham sesekali melirik sang istri."Kau lihat tatapan orang-orang di luar sana, mungkin mereka pikir kita pasangan yang sedang bertengkar dan aku seperti seorang suami yang jahat karena membuat istrinya menangis." ucap Irham dengan terkekeh.
-------------------------------------------------------
"Mas, aku ingin yang ini" pinta Mira sambil menunjuk sebuah tempat tidur kecil yang akan digunakan putrinya nanti. Mira pun gelap mata sudah berapa banyak yang sudah ia beli bahkan hampir dari setengah pakaian perempuan dari toko ini. Irham pun hanya bisa menggelengkan kepalanya mengikuti sang istri.
"Sudah sayang, kalau kita di sini terus kapan kita akan membawa pulang Hana?" tanya Irham pada Mira, padahal sebenarnya Irham sudah cukup lelah mengikuti istrinya itu.
"Oh iya, aku lupa, maaf ya Mas" kekeh Mira dengan wajah polosnya.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit dan beruntungnya mereka karena tidak dipersulit untuk pengurusan dokumen kepulangan Hana. Walau itu rumah sakit miliknya, Irham pun tetap mengikuti prosedur yang berlaku apalagi mengingat kasus ini pernah sampai kepada pihak kepolisian, ia tidak ingin bertindak gegabah untuk ke depannya.
‐-------------------------------------------------------
Sungguh hal yang tidak disangka oleh mereka, bahwa mereka bisa merasakan lagi adanya tangisan dan tawa bayi di kediamannya. Mobil Irham sudah memasuki perkarangan rumah mereka. Merekapun menurunkan perlengkapan bayi yang tadi mereka beli saat perjalanan menuju rumah sakit.
Dari kejauhan Brian pun melihat kepulangan ke dua orangtuanya beserta seorang bayi digendongan ibunya dengan senyum yang terus mengembang di wajah orangtuanya. Tatapan yang tidak bisa diartikan pun ditunjukkan oleh Brian
'Awas saja kalau sampai perhatian Mom dan Dad berkurang untukku, aku takkan membiarkannya' batin Brian
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tatapan apa yang diberikan oleh Brian 🤔?