"My Little Angel"

"My Little Angel"
Twenty Seven



Waktu pun sudah menunjukkan pukul tiga sore. Aku sudah bersiap-siap untuk pergi tak lupa aku membawa bola kesayanganku karena menurut teman-temanku bola yang ku punya sangat nyaman bila dimainkan. Oleh karena itu, kalau kami bermain bersama selalu bola ku yang dipakai.


Ku dengar suara deru mobil. Pikirku mungkin ada tamu Mommy karena kalau tamu Daddy, Daddy kan belum waktunya pulang. Aku pun keluar menuruni tangga untuk menemui Mommy dan ku lihat siapa yang memasukki rumah karena memang saat ini pintu rumah tidak terkunci.


Dan ternyata itu Daddy, aku dapat melihat wajah khawatirnya.


"Hai nak, ada pertandingankah?" tanya Daddy padaku, memang saat ini aku sudah memakai pakaian khas pemain basket. "Dimana Mommymu?" tanya Daddy kembali. Aku pun mencari keberadaan Mommy karena sejak tadi selesai makan siang aku belum melihatnya lagi.


"Aku baru saja mau menemui Mommy, Dad." jawabku. Daddy pun berlalu meninggalkanku sendiri, ku lihat Daddy menuju ke kamar Hana dengan tergesa-gesa.


Tanpa mengetuk pintu lagi Daddy langsung masuk ke dalam dan tidak lupa aku mengekori Daddy dibelakangnya. Ku lihat Hana yang sedang tertidur di temani Mommy.


"Bersiaplah, kita bawa Hana ke rumah sakit sekarang" ucap Daddy pada Mommy yang memecah keheningan saat ini.


" Separah itukah " batinku.


Tidak lama dering ponsel ku berbunyi tanda ada panggilan masuk. Ku lihat nama Hans yang tertera di layar ponselku. Karena ini sudah waktunya untukku berangkat, aku pun meninggalkan mereka dengan berbagai pertanyaan dibenakku.


--------------------------------------------------


Aku pun sudah tiba di lapangan.


"Bro, tumben sekali baru datang?" tanya Hans padaku. Walaupun aku dan Hans sudah tidak satu sekolah tetapi kami bergabung di dalam satu team basket yang sama maka dari itu aku tidak kehilangan satu sosok sahabatku ini.


"Iya tadi ada iklan pas mau berangkat" jawabku terkekeh.


Prrriiiitttttt


Suara peluit pun berbunyi nyaring menandakan kami harus segera bersiap untuk memulai pertandingan. Tapi tiba-tiba Hans menarik lenganku.


'Ada apa dengan arah jam tujuh?' pikir ku.


Seketika ku rasakan pukulan mendarat di kepalaku walaupun tidak kencang.


Aaawwww


"Aduh sob makanya belajar itu jangan keterlaluan, sekali-kali bergaul dengan orang-orang jangan hanya sama buku-bukumu saja" protes Hans padaku. Memang kalau bukan karena latihan dan tanding basket, aku tidak pernah keluar rumah bahkan untuk hang out bersama Hans pun terbilang bisa dihitung dengan jari itupun hanya untuk mencari buku. Kuper bukan diriku?


Hans pun menjelaskan apa yang dimaksud dengan arah jam tujuhnya. Ternyata ada seorang gadis yang dimaksud Hans, dia sedang menatap ke arah kami. Aku pun hanya ber oh ria sambil berjalan masuk ke arah lapangan. Ku dengar Hans berdecih padaku, aku pun hanya tersenyum meilhat tingkah laku sahabatku ini.


Pertandingan pun dimulai, ini bisa dibilang pertandingan yang sulit karena di team kami kekurangan personel dikarenakan dua orang di dalam teamku cedera pada lututnya, kami pun berusaha semampunya untuk menyeimbangkan score. Ya, posisi kami saat ini tertinggal cukup jauh sedangkan hanya tinggal tersisa satu babak lagi.


Kami pun istirahat sejenak sampai waktu istirahat habis tak lupa pelatih pun memberikan siasat-siasatnya untuk memenangkan pertandingan ini. Tiba-tiba saja ada sebotol minuman melayang di sisiku, ku lihat secara perlahan ke arah minuman itu, syukurlah itu bukan hantu.


Ternyata gadis yang Hans lihat tadi sedang menyodorkan minumannya kepadaku sambil tersipu malu.


Peluit pun kembali berbunyi, tanpa ku pedulikan gadis itu, kami pun bergegas kembali ke lapangan.


Saat ini nasib baik tidak berpihak pada kami, kami pun kalah telak. Mau diapakan lagi, lagipula kami sudah terlalu lelah menghadapi lawan kali ini.


Aku pun bersiap untuk kembali ke rumah, ku tinggalkan mereka yang masih berkumpul sambil berbincang-bincang ringan. Ada alasan kenapa aku ingin pulang segera, daritadi dipikiranku terngiang ucapan Daddy.


Kenapa Daddy sepanik ini padahal yang ku lihat tadi keadaannya sudah membaik.


Ah, aku baru ingat beginilah sikap Daddy dan Mommy saat putri kesayangannya sakit. Dan aku sudah terlanjur pamit dengan mereka, aku pun melanjutkan perjalananku untuk kembali ke rumah.


'Kenapa sepi sekali'