"My Little Angel"

"My Little Angel"
Sixteen



Entah harus bagaimana lagi aku harus membujuk Brian agar dia menyayangi adiknya itu.


Selama ini kami memang belum memberitahukan kondisi Hana padanya. Bukannya kami menyembunyikannya tetapi karena Brian memang tidak mau mendengar sedikitpun cerita tentang Hana. Brian memang keras kepala tapi tidak dengan hatinya, sebenarnya Brian sangat lembut hati tetapi kenapa dengan Hana hatinya sekeras batu.


Toookkk..tookkk..


"Masuk" ucap seseorang dari dalam sana.


"Bisa saya ganggu sebentar Dr. Nisa?" tanyaku ke dokter tersebut. Dia adalah Dr. Nisa, dokter yang selama ini menangani Hana.


"Tentu saja Dokter, silahkan masuk" jawab Nisa.


Kamipun mulai berbincang dari sekedar obrolan ringan sampai dengan obrolan berat, yang dimaksud berat disini saat kami membahas masalah kesehatan Hana, sudah lama memang Hana tidak kontrol langsung ke rumah sakit, selama ini hanya aku yang memantau perkembangannya langsung dan memang Hana baik-baik saja. Hanya karena kejadian kemarin, rasa takutku kembali muncul, sudah lama aku tidak melihat Hana seperti itu, apa sebegitu takutkah dia dengan Brian? memang selama ini Hana tidak pernah berinteraksi langsung dengan Brian tanpa kami dampingi karena Brian pun tidak mau bersama Hana berdua saja kalau bukan kami yang memaksanya.


Huh, helaan nafas panjang pun ku buang setiap aku memikirkan itu.


"Sudah lama ya Hana tidak kontrol, kalau ada waktu luang bawa saja Hana ke sini Dokter" ucap Nisa padaku.


Benar apa yang dikatakan Nisa, untuk memastikan kondisinya aku harus membawanya kontrol ke sini.


Kalian tahu? Hana dan Brian seperti jantung kami, jangan tanyakan rasa kasih sayang kami ke mereka apakah kami membeda-bedakan mereka?


Dan tibalah aku di rumah.


"Sayang, besok kita bawa Hana check up ya." pintaku pada Mira. Seketika itu wajah Mira terlihat khawatir.


"Apa yang terjadi dengan Hana Mas?" tanya Mira dengan wajah sendunya. Inilah yang aku tidak suka saat aku menyampaikan kabar ini ke Mira, pasti dia akan menampilkan reaksi mengejutkannya dan berakhir dengan deraian airmata miliknya.


"Tidak ada apa-apa sayang, kita kan sudah lama tidak membawa Hana check up, tadi aku bertemu Nisa dan dia menyarankan itu. Bukankah itu baik?" jawabku berusaha menenangkan Mira dan Mira pun menyetujui permintaanku untuk membawanya ke rumah sakit.


Akupun keluar menuju halaman belakang rumah, ku lihat Hana sedang bermain dengan pengasuhnya. Walaupun Mira bersikeras tidak mau menggunakan pengasuh tapi aku tetap memaksanya agar memakai jasanya. Aku memang mencari pengasuh yang sudah berpengalaman walaupun bukan yang sudah paruh baya juga karena tidak mungkin kan dia ikut berlari mengejar anaknya, apalagi untuk kondisi Hana yang seperti ini. Tidak semua pengasuh memiliki kesabaran dalam menghadapi anak kecil dan kesabaran itu dimiliki mba Asih.


Mendengar canda tawa Hana membuat hatiku terasa tenang karena menandakan bahwa ia baik-baik saja.


"Daddy" panggil Hana yang membuyarkan lamunanku.


"Apakah putri Daddy ini senang bermainnya sampai tertawa seperti itu?" tanyaku pada Hana, ia pun menganggukkan kepalanya. "Apa masih mau lanjut mainnya?" tanyaku lagi yang memastikan dia masih ingin bermain atau tidak karena sesekali ia menengok ke arah mba Asih dan dia pun menganggukkan kepalanya kembali, ya anakku yang satu ini memang sangat irit untuk berbicara sangat berbeda sewaktu masih balita. Aku memang membatasi kegiatan Hana termasuk bermain yang membuatnya lelah, beruntung mba Asih mengerti akan itu semua.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=