"My Little Angel"

"My Little Angel"
Twenty Three



Suasana malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Ku lihat jam dinding sudah beranjak malam tapi belum ada tanda-tanda kepulangannya. Aku sangat khawatir karena ini baru pertama kali kejadian seperti ini terjadi. Berkali-kali ku hubungi tapi tidak ada jawaban sama sekali.


'Mas, apa kau tega membiarkan Hana menunggumu' akhirnya ku kirimkan pesan singkat padanya.


Tak berselang lama.


Ceklek


Suara pintu terbuka, sungguh lega hatiku ternyata Irham sudah kembali. Ia pun menghampiriku.


"Dimana Hana?" tanya Irham padaku menanyakan keberadaan Hana.


"Dia masih tertidur di sofa" jawabku seraya menunjuk ke arah Hana yang masih tertidur pulas. "Kau darimana saja Mas, kau tahu aku sangat khawatir" tanyaku padanya, ku perhatikan wajah sendunya. Mungkin dia sangat menyesal melakukan itu pada Brian, tapi bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur.


"Aku dari tadi di halaman belakang" jawabnya santai.


Astaga dari tadi aku mondar mandir, pikiran ku pun sudah melanglang entah kemana takut Irham khilaf, ternyata dia masih disekitar sini.


"Kenapa kamu tidak membawanya ke kamar?" tanyanya lagi padaku.


"Mas coba kau lihat putrimu sudah sebesar apa, mana kuat aku membawanya ke kamar sendiri, lagi pula tadi dia meminta untuk menunggumu disini, siapa suruh kamu baru kembali sekarang" jawabku kesal


"Oh aku pikir istriku samsonwati, soalnya tadi dia bilang katanya mau mematahkan tanganku, bahkan ukuran tangannya saja sangat jauh dari tanganku." ucap Irham sambil menggerak-gerakkan tangannya. Hiisss bilang saja mau menyindirku, tanpa sadar bibirku mengerucut begitu saja mendengar sindirannya.


Irham pun membawa Hana ke kamarnya. Tak berselang lama dia pun keluar kembali, ku perhatikan langkahnya ternyata dia masuk ke kamar Brian. Hampir satu jam ku tunggu dia di kamar tapi tak kunjung datang. Entah apa yang dia lakukan di kamar Brian karena setelah tadi aku menenangkan Brian, tidak lama kemudian dia tertidur. Karena terlalu lelah aku pun memutuskan untuk istirahat terlebih dulu tanpa menunggunya.


Toookkk..toookkk...tookkkk


Suara ketukan pintu terdengar dari luar dan tidak lama kemudian ku dengar suara langkah kaki menuju ke sini.


"Pagi mba, pagi Mas" sapa Andi ku lihat dibelakangnya ada Sarah dan Arya. Andi adalah adikku satu-satunya, dia pun sudah berkeluarga, Sarah adalah istrinya dan Arya adalah putra satu-satunya. Sekarang mereka tinggal di luar kota karena tugasnya sebagai aparat negara.


"Tumben sekali kalian datang pagi-pagi sekali" tanya Irham pada keluarga Andi, ya bisa dibilang kejutan memang melihat mereka di sini apalagi datang pagi-pagi seperti ini.


"Mas, mba, mumpung masih di Jakarta kebetulan Arya ingin sekali liburan ke pantai, kalau boleh bisakah aku mengajak Hana ikut?" tanya Andi pada kami. Aku tahu tujuan Andi mengajak Hana pergi karena kemarin aku sempat menghubunginya untuk menanyakan keberadaan Irham dan menceritakan kejadian kemarin.


"Ajaklah Di, tapi itu juga kalau Hana mau yah" jawab Irham, aku pun tak menyangka karena ku lihat tanpa berpikir lagi Irham mengiyakan ajakan Andi. Aku pun berlalu meninggalkan mereka menuju kamar Hana. Ku tanyakan perihal ajakan Andi ke Hana, mendengar ajakan itu Hana pun senang sekali.


"Tapi Mommy tidak ikut ya Nak, nanti kamu sama Uncle Andi, Aunty Sarah dan Arya di sana." terangku pada Hana, sesaat raut bingung terlihat di wajahnya tetapi itu hanya sebentar karena berganti dengan senyum mengembang di wajahnya, Hana pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang aku ucapkan.


Orang-orang pasti bertanya kami tinggal di Indonesia bukan di luar negeri, kenapa kami menggunakan panggilan yang kata orang itu sok ke bule-bulean. Memang suamiku itu blasteran, makanya sudah bisa dilihat kan kenapa Brian menjadi incaran para gadis, Irham tinggal di Indonesia juga baru belasan tahun. Karena dia bingung dengan sebutan di sini, jadi dia menggunakan bahasanya sendiri untuk panggilan itu


Hana sudah rapi beserta perlengkapannya untuk di pantai nanti. Kami pun menghampiri mereka di bawah.


"Di, ingat ya jangan sampai Hana terlalu lelah bermain, Hana jangan sampai telat makan, terus" terangku pada Andi tapi belum selesai aku bicara Andi menyela ucapanku.


"Mba tenang saja, Andi tahu apa yang mba maksud, mba jangan khawatir, kaya Hana pergi sama siapa saja sih" ucap Andi yang berusaha meyakinkanku kalau Hana nanti baik-baik saja disana. Aku pun tersenyum mengingat ucapanku pada Andi, bukannya sengaja aku membiarkan Hana sendirian pergi sebenarnya aku ingin sekali menemaninya. Tapi inilah kesempatan kami untuk berbicara dengan Brian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=