"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fifty Three



Hanya keheningan senja yang ada saat ini, di sepanjang perjalanan ini tidak ada satu pun yang bersuara. Ku perhatikan raut wajahnya seperti sedang memikirkan banyak persoalan yang ada dalam benaknya. Sudahlah biarkan saja dia merenungi kesalahannya saat ini.


Kurang lebih tiga puluh menit kami tiba di rumah, sesampainya di halaman rumah dia berlalu begitu saja masuk ke dalam. Yang seharusnya marah kan aku bukannya dia.


"Den tadi nyonya telepon katanya Den Brian nanti telepon kembali nyonya!" ucapnya padaku. Paling juga menanyakan anak kesayangannya itu. Baiklah kita hubungi dulu Mommy.


"Yes Mom" ucapku pada Mommy


"Bagaimana kabar kalian Nak?" tanya Mommy, sepertinya ada yang dia khawatirkan karena terdengar dari nada suaranya.


"Kami baik-baik saja Mom tidak usah khawatir. Aku baru saja kembali menjemput anakmu" ledekku pada Mommy untuk mencairkan suasana hatinya.


Tidak banyak yang kami bicarakan, hanya saling bertukar kabar dan mungkin mereka akan memperpanjang masa tinggalnya di sana karena urusan Daddy belum selesai. Pasti anak kecil itu akan merengek kalau tahu orangtuanya tidak akan kembali dalam waktu dekat.


------------------------------------------------


Setelah kejadian beberapa hari lalu, aku belum mendengar kabar dari Fika sepertinya sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan sifatnya yang seperti ini, biarlah nanti kalau dia rindu juga pasti akan membutuhkanku.


Ku dengar sayup-sayup seseorang sedang berbicara tapi hanya suaranya saja sendiri yang terdengar, ku ikuti arah suara itu, ternyata Hana sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


" Sepertinya aku tidak bisa ikut kali ini, nanti aku titip saja ya bukunya, bolehkan?" pintanya pada orang itu. Tapi ku lihat raut wajahnya tidak sesuai dengan ucapannya itu. Mau kemana memangnya dia?


Beberapa hari ini dia memang menutup diri padaku bahkan menghindar.


Kami pun bersiap untuk pergi ke sana, kemana lagi kalo bukan ke mall X, karena toko buku itu paling lengkap yang ada di kota ini. Hana saat ini sedang memasuki masa akhir sekolah menengah atasnya, makanya Mommy dan Daddy tidak mengajaknya untuk ikut bersama mereka.


Kami pun tiba beberapa saat kemudian, ku lihat kali ini sudah ada beberapa temannya yang sudah tiba.


"Kakak tunggu di sana saja ya, nanti kalau sudah selesai hubungi kakak saja" pintaku padanya sambil menunjuk ke arah kedai kopi yang berada dalam mall. Dia pun mengiyakannya.


Setelah beberapa temannya berkumpul, akhirnya mereka pun memulai perburuannya. Aku heran dengan adikku yang satu ini, biasanya untuk anak-anak seusia dia seharusnya ini kesempatan bagi mereka untuk menikmati masa mudanya dengan berkumpul bebas dengan teman-temannya tanpa ada anggota keluarga yang menemani, tapi dia sungguh terbalik dia lebih nyaman bila ditemani salah satu dari kami, bahkan pada saat ini.


Sudah hampir satu jam aku menghabiskan waktuku di sini sambil membaca beberapa artikel kesehatan yang ada di ponsel ku. Ku dengar suara keributan di luar sana, aku pikir mungkin itu pasangan selingkuh yang ketahuan selingkuh, aku pun melanjutkan kembali kegiatanku. Tapi kenapa ada suara yang ku kenal diantara orang-orang itu. Akhirnya aku menyudahi kegiatanku dan bergegas keluar unuk melihat keadaan di sana.


Benar saja itu suara Fika, ku lihat dia sedang terduduk di lantai dan diantara kerumunan orang-orang itu terdapat beberapa teman-teman Hana dan dirinya sendiri.


"Menjauh kau dariku jangan berpura-pura baik setelah kamu melakukan ini padaku" ucapnya marah pada Hana, ku hampiri mereka berdua, ku lihat raut wajah bersalah Hana dan raut ketakutan itu terlihat jelas diwajahnya. Kulihat gerakannya saat temannya itu ingin bicara dia melarangnya.


"Brian, kenapa kamu ada di sini? lihat adikmu karena dia aku jadi seperti ini, mungkin adikmu tidak menyukaiku" adunya padaku dan diapun bertanya mengenai keberadaanku. Harusnya aku yang bertanya padanya kenapa bisa dia ada di sini.


Kalau dia menanyakan aku, kenapa aku ada di sini.


Apa dia sudah lupa dimana ada Hana disitulah ada aku.