"My Little Angel"

"My Little Angel"
Sixty Four



Tak terasa airmata ku menetes dikala aku mengingat kebersamaanku dengannya, tapi sebersih apapun kita mencuci pakaian yang telah ternoda tetap saja tidak akan hilang sepenuhnya noda itu. Begitu juga dengan luka, sekali saja tubuhmu terluka, luka itu akan sembuh tetapi tetap meninggalkan bekasnya.


Itu lah yang hatiku rasakan saat ini, memang sakit. Tapi akan lebih menyakitkan untuknya bila ku lanjutkan hubungan ini bila aku terus mengingat kesalahannya.


Akhirnya setelah tiga tahun ini aku menulis lembaran hatiku walaupun tidak ku tutup dengan akhir manis cerita cintaku tetapi ku tutup lembaran ini sebagai cerita pengalaman cintaku.


-------------------------------------------------


Pagi pun telah berganti siang,


Setelah berakhirnya percakapanku dengannya. Aku memutuskan untuk tidak kembali ke rumah sakit dan aku pun berencana menjemput Hana di sekolahnya walaupun masih ada beberapa waktu lagi tapi lebih baik aku menunggunya saja di sekolah.


Hampir setengah jam aku menunggunya di halaman parkir. Ku lihat seperti bayangan Hana sedang mengintip di sebuah lorong sekolahnya sambil mengedarkan pandangannya dan seketika matanya tertuju ke arah mobilku, dia pun berlari menuju mobil, ku lihat dari arah belakangnya ada seseorang yang sedang mengejarnya, tetapi saat Hana masuk ke dalam mobil orang itu berhenti. Orang itu adalah Pria itu.


Seketika itu juga ku buka pintu mobilku dan aku pun menghampiri orang itu, tanpa banyak kata aku secara reflex mengayunkan pukulanku tepat di wajahnya, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Bahkan tanpa perlawanan.


"Apa yang kau lakukan pada adikku brengsek?" tanyaku kasar kepadanya, karena memang saat ini emosiku sangat tidak stabil sedari tadi, ditambah melihat Hana yang seperti itu.


"Tunggu biar aku jelaskan" jawabnya padaku, tapi aku tidak mengindahkan ucapannya.


"Kakak berhenti, apa yang kau lakukan?" tanyanya padaku sambil berteriak, dia pun menghampiri pria itu untuk melihat keadaannya.


"Aku tidak apa-apa" jawabnya kepada Hana. Ku lihat raut wajah Hana sangat khawatir dengan orang itu, kalau dia takut padanya kenapa dia berusaha menolong orang itu.


Ku lihat disekelilingku sudah dipenuhi oleh orang-orang yang penasaran untuk melihat kejadian ini. Tak lama suara peluit terdengar nyaring di telingaku, Hana pun berusaha meleraiku tapi dia kalah tenaga denganku. Akhirnya aksiku dapat dilerai juga setelah salah seorang petugas keamanan dan beberapa guru memegang tubuhku. Sedangkan Hana hanya menangis melihat kejadian itu.


Akhirnya kami pun di bawa ke salah satu ruangan di sekolah itu. Dan ku dengar mereka menghubungi orangtuaku.


Rasanya sepertinya aku merasakan lagi horornya ruang BK.


Tak lama kemudian ku dengar suara derap kaki menghampiri kami, ku lihat raut wajah Daddy yang sedang menahan amarahnya mendengar kelakuanku sampai aku hatus disidang diruangan ini sedangkan Hana langsung memeluk tubuh Mommy dan meluapkan tangisannya di pelukan Mommy. Saat ini dia sangat ketakutan.


"Kau mau jadi jagoan Brian?" sarkas Daddy padaku.


Daddy tidak tahu apa yang selama ini terjadi dengan Hana karena mereka baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya. Aku yakin bila mereka tahu, mereka pun akan melakukan hal yang sama denganku.