
Sepanjang malam aku terus menemani Hana di sini. Ku lihat Mommy pun sudah terlelap di sofa kamar ini sedangkan Daddy masih termenung dipinggir ranjang Hana. Entah apa yang Daddy pikirkan saat ini. Seketika itu, kami pun beradu pandang.
"Maafkan sikap Daddy padamu Nak" ucap Daddy yang memecah kesunyian malam ini. Sebenarnya aku tidak pantas menerima maaf darinya, aku sadar ini kesalahanku sepenuhnya.
"Tidak Dad, ini salahku, aku tidak bisa menjaga Hana dengan baik" ucapku kembali padanya.
"Brian, sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan denganmu. Tapi melihat Hana yang seperti ini sekarang, Daddy jadi meragukan keputusan Daddy lagi" ucapnya kembali padaku, sebenarnya apa yang ingin Daddy bicarakan. Dari semalam kata-kata Daddy aneh.
" Rencananya dalam waktu dekat kami akan kembali ke Jerman, kurang lebih satu bulan kami akan berada di sana, ada beberapa masalah yang harus kami selesaikan di rumah sakit sana dan sebenarnya Daddy ingin menitipkan Hana padamu" jelasnya Daddy memberitahuku, ku lihat raut keraguan di wajahnya. Mungkin karena kejadian ini Daddy kembali meragukanku, bagaimana tidak ragu kalau baru ditinggal belum ada satu hari putrinya sudah seperti ini, apalagi kalau ditinggal satu bulan. Apa yang akan terjadi, mungkin itu pikirnya.
Waktu pun terus berlalu malam pun kian larut, tanpa terasa kami pun terlelap di posisi masing-masing.
-------------------------------------------------
Dddeeerrrtttt...dddeeerrrrtttt..
Getar ponsel membangunkanku dari tidurku, ku lihat Mommy sudah terbangun dan sedang berbincang dengan Daddy.
"Hallo" ku jawab panggilan itu tanpa melihat siapa yang memanggilku.
" Brian kemana saja kamu semalam terus kenapa kamu belum datang juga, aku sudah menunggumu daritadi" ucapnya panjang, itu adalah Fika yang sejak semalam aku abaikan.
Ku lihat jam di tanganku ternyata ini sudah pukul sembilan, sudah cukup terlambat untuk mengantarkannya ke kampus.
"Kenapa lagi dengan anak itu? Brian bisakah kau lebih peduli denganku dibandingkan dia? kali ini ucapannya membuat aku harus berpikir panjang untuk mengartikan kelimatnya itu. Tanpa banyak kata lagi aku mengakhiri panggilan itu.
Peduli dengannya? apa selama ini aku tidak mempedulikannya karena aku peduli dengannya aku sampai harus mengorbankan adikku sendiri untuk menemuinya.
Mommy dan Daddy pun menatap ke arahku, mungkin dia mendengar percakapanku tadi. Kurasakan ponselku terus bergetar yang ku yakini itu panggilan dari Fika.
Hari ini aku memang ada jadual ke kampus maka dari itu, semalam aku sudah berjanji pada Fika untuk berangkat bersama dengannya tetapi karena posisiku saat ini yang masih menjaga Hana aku pun memutuskan untuk ijin hari ini. Ku lihat wajah lelah dari ke dua orangtuaku.
"Mom, Dad aku akan menjaga Hana disini, lebih baik kalian istirahat saja dulu" pintaku pada mereka dan mereka pun setuju dengan pendapatku.
" Dik, hari ini tolong ijinkan aku ke pihak kampus kalau hari ini aku tidak masuk kuliah karena sedang menemani adikku yang di rawat di rumah sakit"
- Send -
Akhirnya aku mengirimkan pesan singkat itu pada Dika untuk membantuku meminta ijin, karena aku melanjutkan pendidikan itu dengan program beasiswa jadi aku tidak bisa sembarangan tidak masuk begitu saja tanpa ada alasan yang jelas.
Saat aku sedang sibuk membalas pesan dari Dika ku dengar suara yang memanggilku.
"Kak"