"My Little Angel"

"My Little Angel"
Fourty Two



*Satu minggu..


Dua minggu..


Dan tibalah diminggu ke tiga*..


Minggu dimana aku akan bertemu dengan pujaan hatiku. Oh bahagianya aku.


Saat ini aku sedang berada di bandara untuk menjemputnya karena dia mengabari kalau dia akan pulang sendiri sedangkan orangtuanya akan tinggal beberapa hari lagi di sana. Ku lihat dia sudah berjalan ke arahku, ku sambut dia dengan pelukkan hangat tubuhku, bisakah waktu berhenti sebentar saja, rasanya aku tidak ingin melewatkan saat-saat seperti ini, ku hirup aroma tubuhnya, aroma yang selalu membuatku merindukkannya.


"Bagaimana kabarmu?" tanyaku padanya.


"Aku baik-baik saja, tetapi tidak dengan ini" jawabnya sambil menunjuk arah dadanya. Aku terkejut melihatnya, seketika aku teringat apa yang terjadi dengan Hana mengenai jantungnya, apa dia sakit parah sebaiknya aku membawanya ke rumah sakit, ku tarik tangannya tanpa menanyakannya lebih lanjut. Saat ini aku sangat mengkhawatirkan keadaannya.


"Tunggu Brian, kita akan kemana? Pelan-pelan saja aku bisa terjatuh" pintanya padaku seketika ku balikkan arah tubuhku menghadapnya.


"Kita harus segera ke rumah sakit. Kita harus memeriksakannya Fika" tegasku padanya dan ku lihat raut wajah bingung menghampiri wajahnya.


"Ok jelaskan padaku siapa yang sakit Brian? Bisakah kita tidak terlalu panik seperti ini" tanyanya padaku. dan aku pun menjawabnya.


"Kamu" jawabku singkat yang membuat matanya melotot.


"Astaga, aku baik-baik saja, aku tidak sakit Brian" jelasnya padaku. Aku pun bingung dengan ucapannya.


"Tadi kamu bilang bagian dadamu sakit Fika, bisa saja terjadi sesuatu dengan jantungmu, sudah jangan banyak bicara cepat ikut aku" terangku padanya dan aku pun kembali menuntun tangannya seketika itu juga dia menghempaskan tanganku.


"Brian kau tahu? Aku sakit di sini karena aku sangat merindukanmu, aku sangat sakit bila aku ingat kamu" terangnya padaku. Jangan kalian tanya bagaimana perasaanku. Bahwa saat ini aku benar-benar bahagia.


Kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju rumahnya. Tiba-tiba terdengar dering ponselku.


"Hallo Dad, ada apa?" ternyata itu Daddy dan ku tanyakan tujuan Daddy meneleponku.


" Nak tolong antarkan adikmu mencari buku ya soalnya mang Soleh hari ini mengantarkan kami pergi" pinta Daddy padaku. Ku lirik Fika yang sedang mengamatiku dengan raut wajah penasarannya.


"Tidak bisa besok saja Dad, aku sedang diluar mungkin akan pulang sedikit terlambat" pintaku padanya.


"Brian, Daddy dan Mommy kemungkinan akan menginap, jadi kalau bisa kamu jangan pulang terlalu malam, tadi Hana bilang akan pergi dengan temannya tapi Daddy larang, Daddy khawatir kalau dia pergi sendiri. Atau Hana ikut kamu saja bagaimana? " pintanya kembali. Aku sungguh dilema yang satu kekasihku yang satunya lagi adikku.


"Fika?" baru satu kata aku menyebut namanya tiba-tiba dia menghela perkataanku.


"Antarkan aku pulang saja, aku juga lelah ingin istirahat saja dulu" jawabnya acuh, aku tahu dia kecewa tapi aku harus bagaimana lagi. Akhirnya aku mengantarkan Fika pulang terlebih dahulu setelah itu baru mengantar Hana ke tempat tujuannya.


Setibanya aku di rumah, rumah terasa sepi karena memang tidak ada Mommy tapi aku pun tidak melihat Hana. Ku lihat mba Sri sedang berjalan ke arahku dan ku tanyakan keberadaan Hana. Ketika aku mendengar jawaban dari mba Sri emosiku memuncak seketika.


Satu kali..dua kali...tiga kali tidak ada jawaban, dan di dering yang keempat.


"Hallo kak?"


Akhirnya.