
Ku buka perlahan kedua mataku, ku hirup dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan-lahan nafasku. Ku cubit pipiku.
aaaawwww
Ternyata sakit. Ternyata ini bukan mimpi, ini nyata. Tanpa ku perhatikan lagi penampilan ku, ku berlari mencari keberadaan Mommy.
"Mommy...Mommy.." teriakku tanpa henti sampai yang empunya nama kutemukan.
Heeeiiiiii
Teriakkan seseorang menghentikan teriakkan dan langkahku. Ku lihat dia sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ku lihat lagi ke sekeliling tidak ada apa-apa terus apa yang dia takuti?
Ku dengar suara derap kaki ke arah kami. Itu Mommy dan Daddy yang terkejut mendengar teriakkan kami.
"Apa yang terjadi?" tanya Daddy dengan raut wajah khawatirnya.
"Brian apa yang kau lakukan? jangan bilang kau akan melakukan sesuatu terhadap Hana" teriak Mommy padaku sambil menunjukkan telunjuknya ke arah bawahku. Ku ikuti arah tunjuk Mommy dan aku berlari begitu saja ke dalam kamarku. Ku kunci rapat-rapat pintu kamarku.
"Lihat anakmu Mas, sudah berumur juga kelakuannya masih seperti itu" ucap Mommy pada Daddy mereka pun tertawa melihat kelakuanku.
Astaga rusak sudah semua image tampanku. Ku lihat pantulan diriku dicermin hanya ada seseorang yang hanya memakai celana boxer dengan dada telanjang disertai rambut acak-acakkan. Oh tidak, bolehkah aku menghilang sekarang?
Seharusnya pagi ini harus menjadi pagi yang berkesan untukku tapi karena aku juga, aku menghancurkan semua itu. Akhirnya ku putuskan untuk mandi lebih pagi padahal ini weekend yang biasanya ku habiskan hanya untuk lebih banyak tidur. Jangan tanya apakah aku tidak berkencan? karena sudah ku jelaskan di awal.
Aku pun kembali ke lantai bawah, ku lihat mereka sudah berkumpul di ruang makan. Ini lah yang kurindukan, ini semua terasa mimpi setelah sekian lama akhirnya aku merasakan ini kembali.
"Nah begitu dong, sudah tampan" sindir Mommy padaku dan akupun menampilkan senyuman terbaikku.
"Kau tidak kemana-mana Nak? ini kan weekend" tanya Daddy padaku yang ku jawab dengan gelengan kepalaku karena saat ini mulutku sudah penuh dengan makanan. Aku tahu ini weekend terus kenapa? Ingin rasanya ku jawab seperti itu tapi tidak bisa.
Kenapa Hana seperti orang lain? Sikapnya jauh lebih pendiam dari sebelumnya apa mungkin karena kami baru bertemu jadi dia masih canggung terhadapku.
"Dad, bolehkah Brian mengajak Hana keluar" tanyaku pada Daddy. Si empunya nama pun melotot terkejut padaku dan begitu juga kedua orangtuaku. Kenapa jadi horror begini sih suasananya.
" Boleh saja kalau Hana mau, kamu mau pergi bersama kakakmu Nak?" jawab dan tanya Daddy, ku pikir Daddy akan menelanku mentah-mentah.
"Bolehkah?" jawabnya dan diangguki olehku.
Ku lihat senyum diwajahnya, setelah sekian lama akhirnya aku melihat senyuman itu lagi.
Setelah sarapan kami pun bersiap untuk pergi ke suatu tempat.
Tidak membutuhkan waktu lama kami pun sampai di tujuan kami. Kami hanya berkunjung ke pantai.
"Kak, bisakah kita mencari tempat yang lebih teduh" pintanya padaku memang saat ini cuaca sangat cerah makanya aku mengajaknya ke pantai. "Maaf kalau aku merepotkan kakak" ucapnya kembali dan ku lihat wajah bersalahnya.
"Hana" panggilku
"Apa kau masih menanggapku orang lain?" tanyaku padanya sepertinya dia terkejut dengan perkataanku. Ku lihat dia menggelengkan kepalanya, syukurlah.
"Terus kenapa kau selalu bersikap seperti itu saat bersama ku?" tanyaku lagi padanya. Itulah tujuanku sebenarnya mengajak Hana keluar. Aku ingin meluruskan semua ini.
"Maaf" ucapnya lagi.
Kata itu lagi, apa pembendaharaan katanya hanya itu saja yang ada di otaknya.