"My Little Angel"

"My Little Angel"
Twenty Eight



Setibanya aku di rumah, ku lihat ke sekeliling rumah tampak sepi. Ini sudah hampir malam sepertinya mereka belum kembali.


"Den makan malam dulu ya" saut mba Sri dari arah dapur. Untung aku tidak jantungan tiba-tiba ada suara yang entah darimana. Ku berjalan ke arah ruang makan tak ada orang, hanya makanan saja yang sudah tertata rapi dimeja.


'Apa aku yang pulang terlalu malam' pikirku, kulihat jam di tanganku baru menunjukkan pukul delapan masih terlalu dini untuk beristirahat.


"Mba, Mommy dan Daddy belum kembali?" tanyaku pada mba Sri. Mba Sri pun mengiyakan pertanyaanku. Karena tubuhku yang terasa lelah sekali, aku pun tidak memperpanjang pertanyaanku.


Setelah aku membersihkan diri, tidak butuh waktu lama aku pun terlelap dalam tidurku.


----------------------------------------------------


Toookkk..ttoookkkk...


"Den waktunya berangkat sekolah" ucap mba Sri dari luar kamarku. Suara ketukan pintu membangunkan ku dari tidurku. Ku lihat sudah jam enam pagi dan kenapa juga mba Sri yang membangunkanku, kemana Mommy?


Aku pun selesai berpakaian dan menuju ke ruang makan, aku mendengar suara yang tidak asing di telingaku.


"Kau sudah mau berangkat nak, kita sarapan dulu nanti Daddy akan mengantarmu" ucap Daddy, ku perhatikan wajah Daddy terlihat lelah dan pakaian yang dipakainya pun itu seperti pakaian yang digunakan kemarin, apa sebenarnya mereka tidak pulang semalam?


Pertanyaan-pertanyaan itu bersarang di kepalaku.


"Dad, apa kalian menginap semalam" akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.


"Iya, semalam kami terpaksa menginap di rumah sakit karena menunggu hasil tes kesehatan Hana keluar" terang Daddy padaku. Oh ternyata anak kecil itu sakitnya parah sampai harus di rawat inap.


Kami pun sudah menyelesaikan sarapan kami, rasanya aku tidak tega membuat Daddy mengantarku ke sekolah.


"Dad, hari ini kan aku sudah tidak ada pelajaran lagi di sekolah rencananya aku akan berkumpul dengan team basketku, bolehkah aku membawa kendaraanku sendiri saja, Daddy tidak usah mengantarku?" pintaku padanya, memang nanti sepulang sekolah rencananya team kami akan berkumpul untuk membahas pertandingan berikutnya.


Setibanya di sekolah


"Tunggu" panggil seseorang padaku


Aku pun menoleh ke asal suara itu. Ternyata gadis itu lagi, kenapa sih dia tidak ada lelahnya mengejarku. Aku pun berlalu begitu saja karena bagiku sangat tidak penting meladeni orang-orang seperti itu hanya membuang waktuku saja.


Bel sekolah sudah berbunyi, kami pun masuk ke kelas masing-masing.


"Selamat pagi" sapa seorang guru yang baru saja masuk kelas pada kami.


"Pagi pak" jawab kami serentak.


Kalian tahu? Hari ini adalah hari penentuan kelulusan kami. Dan kedatangan pak guru inilah yang kami tunggu, tiba-tiba terjadi keheningan di dalam kelas kami. Detik-detik yang menegangkan, pak guru pun sudah membagikan surat-surat itu pada kami. Aku pun gemetar memegang surat itu, sebenarnya aku yakin pasti akan lulus tetapi yang membuatku gugup adalah untuk melihat hasil tesku, apakah aku mempunyai nilai yang cukup untuk mencapai universitas yang aku impikan atau tidak. Walaupun sebenarnya Daddy memberikan ku pilihan untuk belajar di dalam atau di luar negeri. Karena bagiku sama saja untuk sekolah dimanapun kalau kitanya rajin pasti akan membuahkan hasil. Tapi kalau aku tidak dapat di universitas itu maka aku harus menuruti kemauan Daddy untuk melanjutkan sekolahku di Jerman.


"Baiklah sebelum kalian membuka lembaran itu, Bapak harap apapun hasilnya kalian tidak boleh berkecil hati bila tidak sesuai dengan keinginan kalian dan bila itu sesuai dengan ekspetasi kalian, Bapak harap kalian harus lebih maju lagi dari sekarang. Sekarang waktunya kita buka" ucap pak guru pada kami, kami pun memulai berhitung yang merupakan tanda aba-aba untuk membuka lembaran kertas itu.


Satu


Dua


Tiga


Dibukalah lembaran kertas itu serentak. Suara riuh kembali memenuhi ruangan kelas ini. Syukurlah kami sekelas akhirnya lulus dengan hasil yang memuaskan.


"Sudah cukup bersenang-senangnya, jangan lupa untuk memberitahukan orangtua kalian untuk pelaksanaan acara wisuda yang akan diadakan satu minggu lagi." terangnya kembali pada kami dan pak guru pun berlalu meninggalkan kelas kami.


Akhirnya kegiatan di sekolah pun telah usai, seperti kataku pagi ini, aku pun bergegas untuk berkumpul dengan team basketku.